Dokumenter “The True Cost”, Menguak Sisi Gelap di Balik Gemerlapnya Fashion Dunia

Dunia fashion tidak sepenuhnya cantik


0

Film The True Cost merupakan film dokumenter yang menceritakan sisi gelap dari industri pakaian (fast fashion). Film ini mengangkat kenyataan kapitalisme yang menggambarkan keserakahan, ketakutan, kekuasaan, dan kemiskinan dalam sebuah industri fashion. Adanya globalisasi memberikan efek berkembangnya perekonomian dunia. Hal ini berarti suatu perusahaan akan semakin mudah melakukan kegiatan operasional di negara lain. Hilangnya batasan-batasan ini tentunya memudahkan pemasaran yang berimbas pada intensitas persaingan yang sangat tinggi. Perusahaan akan melakukan cara apapun untuk dapat memperoleh biaya yang murah termasuk biaya tenaga kerja yang seringkali mengabaikan aspek kemanusiaan kondisi para tenaga kerja.

Fast fashion atau industri pakaian retail saling bersaing untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Akibatnya biaya tenaga kerja harus ditekan secara maksimal termasuk dengan mengabaikan keselamatan para pekerja. Hal ini ditunjukan oleh berita besar di Bangladesh tentang runtuhnya gedung delapan lantai yang merupakan pusat produksi pakaian (fast fashion) yang memakan 70 korban jiwa. Runtuhnya Plaza Rana memakan korban jiwa sebesar 1229. Tidak terhitung banyaknya kecelakaan kerja yang telah terjadi dalam manufaktur fast fashion.

 Para pekerja hanya diberikan upah sebesar 2$/hari dan harus menanggung resiko yang sangat besar akibat kelalaian dan keserakahan beberapa pihak. Beberapa pekerja bahkan dibayar 10$/ bulan oleh perusahaan garmen di Bangladesh. Beberapa usaha pekerja untuk menuntut keinginan dengan membuat serikat pekerja tidak disambut baik oleh perusahaan. Mereka bahkan mendapatkan kekerasan fisik saat melakukan diskusi tuntutan hak-hak mereka. 

Beberapa komunitas masyarakat telah mencoba untuk memperbaiki ketidakadilan dalam industri ini dengan melakukan fair trade day seperti yang dilakukan oleh Swallows-People Tree. Perusahaan ini lebih mementingkan kesejahteraan pekerja  dan bahkan secara rutin mengunjungi lokasi para pekerja untuk mengetahui kondisi mereka. Fokus yang dilakukan adalah untuk memberdayakan ketimbang mengeksploitasi. 

Secara umum kekejaman industri fast fashion atau pakaian retail terjadi karena adanya sistem kapitalis. Untuk mengubah ketidakadilan ini, harus dilakukan perubahan dari setiap komponen sistem yang ada termasuk pola konsumsi dan produksi pakaian retail (fast fashion).

“Pada Akhirnya Ekonomi Dapat Menjadi Kejam Jika Diterapkan Hanya Untuk Keuntungan Semata”

Dilema Masalah

Dalam film dokumenter “The True Cost” banyak sekali pelanggaran yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan yang bergelut dibidang fast fashion industry tanpa mereka sadari. Banyak perusahaan merk terkenal yang telah masuk ke ranah fast fashion industry, yakni seperti Zara, GAP, H&M, Stradivarius,dll. Beberapa perusahaan ini telah melakukan pelanggaran dengan mempekerjakan tenaga kerja dengan biaya upah yang sangat rendah ($2/hari) dan diminta untuk memproduksi 1000 pakaian setiap harinya. Upah buruh yang sangat rendah tersebut dipicu karena rendahnya harga jual pakaian yang telah ditentukan oleh perusahaan fast fashion industry akibat dari persaingan harga yang sangat ketat. Sementara itu, perusahaan-perusahaan fast fashion industry tidak memikirkan risiko yang dialami oleh tenaga kerjanya. Buktinya, ketika Rana Plaza di Dhaka runtuh dan tidak layak untuk digunakan sebagai tempat produksi pakaian pun tetap memaksa buruh tersebut untuk bekerja dan memenuhi permintaan konsumen yang tak masuk akal jumlahnya. 

Perusahaan fast fashion industry  tak pernah memikirkan kesejahteraan dan keselamatan para buruhnya. Mereka telah mengabaikan hak buruh dan hanya menuntut kewajiban buruh untuk selalu memproduksi pakaian tanpa mengetahui bahayanya terpapar polusi jika terus menerus berada di kawasan pabrik. Bahkan, terdapat salah beberapa buruh di Bangladesh mengalami sesak napas akibat terpapar polusi udara yang mana setiap hari bahan-bahan kimia yang ada di kawasan pabrik selalu mereka hirup dan juga adanya limbah dari pabrik tersebut sampai mencemari air sungai yang biasa digunakan warga Bangladesh untuk mandi dan mencuci baju. Alhasil banyak anak kecil di Bangladesh yang mengalami penyakit kulit dan parahnya lagi terdapat warga sekitar pabrik yang mengalami kanker kulit akibat dari limbah pabrik yang tidak ditangani oleh perusahaan-perusahaan fast fashion industry tersebut.

Di daerah Punjab terkenal sekali akan pekerjaan warga sekitar dengan menanam katun yang mana hasil panen tersebut diberikan kepada pabrik yang memproduksi pakaian untuk perusahaan-perusahaan fast fashion industry ternama. Akibat terjadinya permintaan pakaian oleh konsumen, menyebabkan permintaan katun yang meningkat, hal ini menyebabkan arga Punjab memiliki cara yang mana menanam katun (genetically modified) yang mana menggunakan pestisida supaya cepat dipanen. Penggunaan pestisida ini lah yang menyebabkan pencemaran udara dan berimbas kepada penduduk sekitar di Punjab yang mengalami beberapa penyakit, seperti asma, sesak napas, cacat lahir, hingga adanya kematian. Sehingga di daerah Punjab sangat terkenal banyaknya bayi yang terlahir cacat akibat pengaruh dari penggunaan pestisida dalam penanaman katun. 

Pelanggaran-pelanggaran yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan fast fashion industry inilah yang menjadikan dilema. Di satu sisi, perusahaan harus memenuhi permintaan konsumen, yakni pilihan pakaian yang bermacam-macam namun tetap dengan harga yang terjangkau. Namun, disisi lain, untuk bisa memproduksi pakaian yang masiv dan dengan menekan  cost sekecil mungkin, maka mereka memberikan upah yang sangat kecil bagi tenaga kerja yang mana perusahaan tersebut mencari tenaga kerja yang berasal dari Tiongkok, Bangladesh, dll yang memiliki tenaga kerja yang banyak dan dapat diberi upah yang sangat minim.

Kejadian di Dunia Nyata

Film The True Cost menceritakan tentang sisi gelap dari industri fast fashion. Hal tersebut memang sungguh terjadi di dunia nyata. Dikutip dari tirto.id, banyak tenaga kerja yang menerima perlakuan tidak baik oleh perusahaan garmen H&M di negara India dan Kamboja. Selain H&M, ada perusahaan lain yang melakukan hal serupa yaitu GAP dan LSM. Para pekerja sering mengalami kekerasan fisik dan seksual selama kerja karena tidak mencapai target dan mengalami lembur paksa oleh perusahaan karena ingin mencapai target. Selain itu, para pekerja yang sedang hamil akan di PHK oleh perusahaan. Para pekerja juga sering mengalami ancaman berupa pemotongan upah dan penundaan penerimaan upah jika target tidak terpenuhi.  

Keselamatan kerja karyawan tidak terjamin oleh perusahaan. Dikutip dari BBC, Rana Plaza runtuh telah menewaskan 30 pekerja, ratusan pekerja lainnya masih tertimpa reruntuhan, dan 200 orang mengalami luka-luka di Dhaka. Bagunan delapan lantai tersebut runtuh pada saat jam kerja. Walaupun insiden bangunan runtuh bukan hal pertama yang terjadi, namun insiden Rana Plaza menjadi sorotan banyak media dunia mengenai keselamatan kerja. Keselamatan kerja masih kurang mendapat prioritas oleh perusahaan.

 


Pandangan dalam Islam

Kejadian nyata dari film The True Cost sangat menyimpang dengan ajaran islam. Hanya perusahaan saja yang diuntungkan dalam kejadian film tersebut sedangkan pekerja dan lingkungan dirugikan. Perusahaan hanya mendapat manfaat dan keuntungan dari pekerja sedangkan pekerja tidak mendapat apa-apa. Hal tersebut bertentangan dengan Hadis Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Orang-orang dari perusahaan garmen bukan termasuk golongan manusia yang baik karena merugikan pekerja dan lingkungan.

Hal yang dilakukan oleh perusahaan garmen di film The True Cost termasuk perbuatan zalim. Islam melarang dengan keras atas perbuatan zalim yang merugikan orang lain karena perbuatan tersebut adalah perbuatan orang kafir. Allah SWT telah berfirman dalam QS. An-Baqarah ayat 254:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah (2): 254).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang kafir.

Analisis Jurnal

Dalam suatu penelitian ditemukan bahwa perilaku religius memiliki korelasi negatif pada perilaku penyimpangan (Abu Rayya et al, 2016). Penyimpangan yang terjadi dalam industri fast fashion bisa saja dikarenakan kurangnya penerapan perilaku religius pada perusahaan. Oleh karena itu, yang terjadi di dalam industri fast fashion hanya berorientasi pada profit dan bahkan melakukan eksploitasi pekerja, alih-alih memberdayakannya. Eksploitasi tersebut merupakan salah satu efek dari ketidakpuasan perusahaan terhadap profit yang didapat sehingga dilakukan berbagai cara agar dapat menghasilkan profit yang lebih besar. Salah satunya dengan menekan biaya upah pekerja semaksimal mungkin. Alhasil, fenomena tersebut bisa dianggap sebagai eksploitasi pekerja karena biaya upahnya yang sangat rendah jika dibandingkan dengan apa yang dikerjakan dan waktu pengerjaannya. Dalam penelitian yang sama, ditemukan bahwa kepuasan hidup memiliki korelasi negatif pada perilaku penyimpangan  (Abu Rayya et al, 2016). Dalam kasus ini, dapat kita asumsikan bahwa kepuasan yang dirasa kurang oleh perusahaan mengakibatkan mereka memilih untuk melakukan hal penyimpangan, yaitu eksploitasi pekerja. 

Dalam agama islam, sangat penting untuk menerapkan perilaku religius islami. Selain sebagai bentuk ketaatan terhadap ajaran agama islam, perilaku religius islami juga memberikan manfaat salah satunya yaitu menjauhkan kita pada perilaku menyimpang yang mana dapat merugikan diri sendiri dan juga lingkungan sekitar kita. Alih-alih melakukan penyimpangan, sebagai seorang muslim diharapkan untuk tolong menolong dalam kebaikan, seperti firman Allah SWT dalam QS Al Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ …

“… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Solusi

Merebaknya industri fast fashion saat ini menjadi fenomena yang lumrah. Namun, sedikit yang diketahui bahwa industri tersebut tidak mempertimbangkan kesejahteraan karyawan di dalamnya. Banyak dari contoh-contoh yang disebut di atas berhubungan dengan pengeksploitasian pekerja di negara-negara berkembang yang notabene mempunyai biaya tenaga kerja lebih murah dibandingkan dengan biaya tenaga kerja di negara maju. Semua hal tersebut didorong oleh keinginan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan kesejahteraan manusia-manusia lain disekitarnya.

Menurut sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad ath-Thabrani, pemilik perusahaan ini belum menjadi sebaik-baiknya manusia karena menghasilkan mudharat lebih banyak dari manfaat yang ditimbulkan bagi sekitar. Selain itu, Firman Allah dalam QS Al-Maidah ayat 2 juga berisi tentang perintah Allah untuk saling membantu dalam hal kebaikan tapi tidak dalam hal keburukan. Kemudian ditekankan lagi bahwa barang siapa yang tidak taat pada perintah-Nya maka akan dikenai siksa yang berat. Kedua dalil tersebut merupakan dalil yang sering kita jumpai sehari-hari walau sekadar untuk mengingatkan sesama untuk berbuat kebajikan. Namun, hal-hal yang menjadi landasan kita untuk menjadi manusia yang sebaik-baiknya tidak menjadi hal penting bagi perusahaan-perusahaan tersebut sehingga mereka dengan mudahnya melalaikan kebutuhan karyawannya.

Menurut hasil dari analisis kami, penyebab utama dari permasalahan ini adalah kurangnya penerapan religiusitas dalam cara perusahaan tersebut beroperasi. Selain itu, hasil dari analisis kami juga menjelaskan bahwa peningkatan pada perilaku religius dapat menekan perilaku menyimpang. Kedua pernyataan tersebut mengantar kami pada satu solusi yaitu perusahaan disarankan untuk menerapkan perilaku yang religius dalam operasi bisnisnya sehingga perilaku-perilaku menyimpang yang disebut di atas dapat dikurangi secara berkala hingga tidak ada penyimpangan yang terjadi.

Referensi:

Al-Qur’an

Faisa, M. (2018, June 18). Nasib Buruh H&M Tak Secerah Produknya. Retrieved February 28, 2021, from https://tirto.id/nasib-buruh-hm-tak-secerah-produknya-cLRS 

BBC News. (2013, 24 April 24). Bangunan runtuh di Bangladesh, Puluhan Tewas. Retrieved February 28, 2021, from https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/04/130424_dhaka_building_collapse 

Abu Rayya et al. 2016. The Interconnection Between Islamic Religiosity and Deviancy Among Australian Muslim Youth: A Partial Mediation Role of Life Satisfaction.

Mustafa, A. (2015, July 27). Dokumenter 'the True Cost' Ungkap Seramnya Efek Fesyen Murah. Retrieved February 28, 2021, from https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150726095215-220-68164/dokumenter-the-true-cost-ungkap-seramnya-efek-fesyen-murah 


Penulis:

Diniar Rizkia

Dearidrani Islamihaniar 

Aditya Prasetya 

Sirajuddin Ahyar

Sabda Alam Teduh Nusa


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
SabdaATN

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format