Pelanggaran pada Film Dokumenter The Social Dilemma dalam perspektif Islam

Manusia kini menjadi produk dan komoditas yang dapat diperjual belikan. Bagaimana fenomena ini dalam pandangan Islam ?


0

Pelanggaran  pada Film Dokumenter The Social Dilemma dalam perspektif Islam

1. Sinopsis

The Social Dilemma merupakan film dokumenter yang disutradarai Jeff Orlowski dimana film membedah lebih dalam sisi baik dan buruknya sosial media yang kini tidak dapat lepas dari kehidupan keseharian manusia. Mulai dari bangun, beraktivitas, istirahat hingga terlelap sebagian besar waktu manusia dihabiskan dengan berselancar di sosial media baik untuk komunikasi atau menikmati konten yang diminati. The Social Dilemma menunjukkan bagaimana dampak buruk media sosial terhadap penggunanya dimana banyak kepentingan yang menjadikan manusia tidak dapat terlepas bahkan data-data pribadi yang dijadikan komoditas untuk diperjual belikan. Contoh konkrit dampak buruk sosial media yang dapat diakses oleh siapa saja melalui kecanggihan teknologi pada era sekarang yaitu dapat mudahnya berita hoax merebak, kesehatan mental pengguna, hate speech, cyberbullying maupun pemecah belah masyarakat.

Berikut link trailer dan review film tersebut :

trailer film : https://www.youtube.com/watch?v=uaaC57tcci0

review : https://www.youtube.com/watch?v=e2Tq2gvGt80 

Film tersebut juga menampilkan wawancara eksklusif dengan para penemu dan pengembang sosial media tersebut yang dimana mereka sendiri semakin khawatir dan takut dengan dampak dari media sosial  terhadap manusia. Dijelaskan pula bahwa media sosial mengembangkan algoritma tersendiri dimana menampilkan konten yang amat diminati oleh pengguna sehingga pengguna tersebut menghabiskan waktu yang lama untuk informasi yang sebenarnya tidak perlu diketahui oleh mereka. Kesimpulannya media sosial memang ditujukan untuk membuat kecanduan. Media sosial yang dapat diakses gratis oleh pengguna ternyata memiliki cost yang besar terhadap penggunanya. Setiap kali melakukan registrasi, berlama-lama menonton suatu jenis konten, mengklik rekomendasi konten, Informasi ini akan dipetakan dan dijual untuk advertisement. Sehingga manusia kini menjadi produk dan komoditas yang dapat diperjual belikan tanpa sepenuhnya sadar dengan hal tersebut. Film ini juga menampilkan distopia lainnya dan akan membuat penonton tercengang. Namun, bagaimana sudut pandang Islam dalam fenomena ini? Anda penasaran dengan ulasan selengkapnya dalam sudut pandang Islam? Simak pembahasan berikut ya!

2. Pelanggaran/masalah/dilemma

Masalah apa yang diuraikan dalam film The Social Dilemma?

  1. Break through privacy

Pengguna media sosial secara tidak langsung kehilangan privasi datanya setelah mendaftarkan diri pada media sosial. Misalnya, pada facebook, sistem algoritma facebook menampilkan rekomendasi teman berdasarkan kontak nomor yang tersimpan pada handphone. Selain itu, instagram menampilkan rekomendasi iklan yang sesuai dengan riwayat pencarian yang pernah dicari. Hal ini tentu menembus privasi pengguna karena media sosial bisa mengumpulkan dan menggunakan data pengguna dengan kepentingan monetize.

  1. Social media addiction

Tristan Harris, mantan pakar etika Google, mengatakan bahwa media sosial memang dirancang dengan sifat yang menimbulkan adiktif. Beberapa orang menyebut media sosial seperti narkoba, morfin jenis baru yang membuat banyak orang, baik muda maupun dewasa tak lepas dari jeratan media sosial. Seluruh media sosial, mulai dari facebook, instagram, twitter, reddit, Gmail, pinterest, termasuk linkedin didesain sedemikian rupa agar pengguna terus-menerus mengakses media sosial. Kemudian, perusahaan internet tersebut me-monetize dengan memasang iklan yang ditampilkan oleh pengguna.

  1. Hoax, dari era informasi menjadi era disinformasi

Teknologi, khususnya media sosial kini tidak hanya menjadikan seseorang memperoleh informasi, tetapi juga membuat seseorang terpapar informasi palsu atau hoax. Beberapa pengguna internet kesulitan membedakan mana informasi yang nyata terjadi dengan informasi palsu. Akibatnya, banyak konflik dan kerusakan yang ditimbulkan oleh menyebarnya berita palsu.

  1. Obsesi terhadap fisik dan kecantikan

Akibat media sosial, banyak remaja, khususnya remaja putri generasi Z menjadi begitu terobsesi dengan tampilan fisiknya, khususnya foto selfie mereka di media sosial. Para remaja putri menggunakan efek yang berlebihan pada foto selfie mereka agar mendapat pengakuan sosial berupa likes dan komentar pujian. Bahkan, beberapa orang ingin melakukan operasi plastik untuk memperbaiki fisik mereka seperti foto mereka yang menggunakan filter snapchat. kasus ini disebut sebagai dismorfia snapchat. 

  1. Pengaruh buruk pada mental health

Pada film The Social Dilemma dijelaskan mengenai dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental para remaja. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya angka kecelakaan self harm non fatal pada remaja putri dan meningkatnya kasus bunuh diri remaja putri di Amerika Serikat. Tristan Harris, mantan pakar etika Google, mengatakan bahwa manusia tidak berevolusi untuk menerima kritik sosial dari orang lain setiap lima menit. Artinya, media sosial memungkinkan seseorang untuk mengkritik orang lain dengan mudahnya, dan hal tersebut berdampak pada kesehatan mental seseorang.

3. Critical thinking, kritisi potensi masalah, dengan data sekunder dan undang2

Penggunaan social media yang tak pernah lepas didalam mempengaruhi kehidupan seseorang,hal ini dikarena media social mampu memberikan informasi sebanyak mungkin dan dapat menghubungkan teman dunia maya seseorang sehingga ia tidak akan merasa kesepian.Namun,masyarakat sering tidak sadar bahwa gadget yang didalamnya ada banyak berbagai social media telah mengendalikan perilaku masyarakat dengan dampak negatif yang diberikan social media.

Menurut pendapat dari Ma'ruf Amin,media sosial berisi banyaknya berita pembohongan yang nantinya akan berdampak pada kebencian dan permusuhan.Media sosial akan semakin bahaya sehingga para ulama mengeluarkan fatwa tentang media sosial.Seperti diharamkannya untuk saling fitnah antara umat,larangan untuk bullying,menyebarkan pornografi serta menyebar konten yang kebenarannya masih diragukan.

Masyarakat sering sekali mengabaikan dalam caranya berekspresi di media sosial untuk berpendapat,namun kebebasan berpendapat di media sosial juga sering melanggar etika.Oleh karena itu masyarakat harus dengan bijak mengeluarkan pendapatnya supaya tidak terjerat kasus hukum pidana Pasal 27 ayat 3 UU No.19 Tahun 2016 Jo UU No.11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berbunyi :

"Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik."

Generasi muda terutama generasi Z menjadi pengguna terbesar media sosial,mayoritas generasi muda ini tidak mampu mengendalikan waktu pengguna handphone di dalam kehidupan sehari-hari.Banyaknya keluhan dari para orang tua mengakibatkan pemerintah bertindak dalam mengatasi hal ini dengan melakukan pembatasan media sosial Fcaebook,Instagram serta Whatsapp pada aplikasi pesan walaupun tindakan ini belum mampu mengontrol penggunaan medsos namun telah menjadi alternatif menghindari provokasi.

4. Critical thinking dari sudut pandang agama islam

Dalam film ini, disebutkan bahwa sosial media memang ditujukan sebagai candu bagi penggunanya. Secara tidak langsung, hal ini mempengaruhi penggunanya secara negatif. Padahal, Allah selalu melihat apa yang manusia kerjakan dan niatkan di dalam hati.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata ‘Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah kamu dan harta kamu, akan tetapi dia melihat hati kamu dan amal kalian” [HR. Muslim No. 2564]

Tidak jarang pula perusahaan sosial media mencuri data pribadi penggunanya untuk kepentingan perusahaan. Secara umum, melakukan pencurian adalah tindakan yang dilarang.

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpahkan), dan harta kalian (untuk dirampas) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini, dan haramnya negeri ini.” [HR. Bukhari No.1742]

Dalam sosial media masa kini, marak pemberitaan palsu yang dapat menyebabkan salah sangka, persepsi negatif terhadap seseorang, hingga membuat kerugian. Celakanya, banyak berita yang memprovokasi audiens, dan timbul ketakutan dan ketidakpastian. Padahal, lewat hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW mengatakan bahwa:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar” (HR. Muslim No, 7)

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 bahwa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan kamu itu.”

Penggunaan sosial media umumnya dapat dilakukan pembuatan konten. Dalam pembuatan konten tersebut, tidak jarang pula yang melakukan perbuatan riya. 

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” [QS. Al-Luqman ayat 18]

5. Analytical thinking, menganalisis dr segi islamic religiosity (huber and huber), life satisfaction dan deviancy (abu rayya)

The Social Dilemma sebagai sebuah film dokumenter menyajikan dampak buruk dari sosial media terhadap kehidupan manusia. Dampak dari sosial media tersebut diantaranya pengaruh buruk terhadap kesehatan mental pengguna. Dalam kacamata Islam, kesehatan mental adalah suatu kemampuan diri individu untuk mengelola fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitarnya secara dinamis berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat. Gangguan mental bisa dikatakan menjadi sikap abnormal atau sikap yang menyimpang dari norma dan cara yang berlaku dimasyarakat, sikap tadi baik yang berupa pikiran, perasaan juga tindakan.

Di dalam Al-Quran surah Al-baqarah ayat 10 disebutkan 

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Artinya :

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta”.

Kesehatan mental yang terganggu tentu akan berpengaruh pada ibadah dan proses penghambaan diri terhadap tuhan. Bahkan dampak jangka panjangnya adalah berpaling dari proses penghambaan tersebut dengan melakukan berbagai perbuatan menyimpang yang bertolak belakang dengan ajaran agama itu sendiri. Selain dampak pada kesehatan mental, dampak sosial media lainnya yaitu mudahnya berita hoax merebak, hate speech, cyberbullying maupun pemecah belah masyarakat. Semua dampak ini secara tidak langsung akan berimbas pada penurunan Centrality of Religiusity Scale (CRS) seseorang.

CRS adalah pengukuran yang diciptakan untuk menentukan apakah agama penting bagi diri seseorang melalui pemusatan agama, seberapa pentingnya agama, atau yang paling menarik dari keagamaan itu sendiri. Dalam menghitung CRS seseorang digunakan lima dimensi dari religiosity seseorang, yaitu dengan dimensi intelektual yaitu dimensi yang mengukur arti penting agama bagi seseorang dengan melihat sejauh mana seseorang tersebut mempelajari, memahami dan mendalami ilmu pengetahuan dari agama yang dianut. Dimensi ideologi, mengukur sejauh mana seseorang meyakini hakikat dan kebenaran dari agama yang dianut. Dimensi public practice, mengukur seberapa taat seseorang dalam mengamalkan ibadah-ibadah yang bersifat publik seperti pelaksanaan shalat jumat bagi umat muslim dan ibadah mingguan di gereja bagi umat kritiani.  Dimensi private practice yang mengukur ibadah private seseorang seperti sejauh mana seseorang mengamalkan zikir dan doa bagi umat islam, atau yoga dan meditasi bagi umat hindu. Serta dimensi religius experience yaitu sejauh mana seseorang menaruh harapan kepada agama yang ia yakini dalam hal-hal yang konkrit semisal kesembuhan atas suatu penyakit dan lain-lain.

sumber : Journal MDPI

Dampak buruk dari sosial media dalam menurunkan tingkat religiusitas yang ditandai dengan menurunnya nilai dari CRS seseorang, akan terlihat dari penurunan masing-masing dimensi dari CRS itu sendiri. Seseorang yang kecanduan social media tentu akan mengurangi waktunya dalam mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan melalui kitab suci dari agama yang dianut, bahkan dalam jangka panjang, seseorang tidak lagi memiliki waktu untuk sekedar membaca karena disibukan oleh sosial media. Kurangnya ilmu pengetahuan dan pemahaman akan agama yang dianut ini akan berdampak pada tergerusnya keyakinan seseorang terhadap agama tertentu. Ia tidak lagi memiliki landasan filosofis untuk tetap meyakini hakikat kebenaran dari suatu agama.

Pelan-pelan, seseorang akan mulai meninggalkan ibadah pribadi seperti berdoa dan bermeditasi hingga berpuncak pada meninggalkan ibadah publik. Pada kondisi ini, tidak ada lagi alasan bagi seseorang untuk menggantungkan harapan pada agama yang dianut. Sehingga jelas, dari segi islamic religiosity dampak buruk dari sosial media ini tidak terbantahkan.

Selain dari segi islamic religiosity, sosial media juga berdampak pada tingkat kepuasan hidup seseorang dan tingkat penyimpangan yang dilakukan. Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh kecanduan sosial media antara lain dapat mudahnya berita hoax merebak, kesehatan mental pengguna, hate speech, cyberbullying maupun pemecah belah masyarakat, ini akan menurunkan tingkat kepuasan hidup seseorang sekaligus membawa mereka kepada perilaku-perilaku hidup yang menyimpang.

Padahal Allah SWT secara tegas menerangkan bahwa perilaku menyimpang adalah perbuatan yang buruk yang didasari oleh bujukan setan, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : 

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ 

Artinya : 

(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya telah sesat, pasti saya akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti saya akan datangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-A’raf: 16 – 17)

Iblis akan selalu mencari celah untuk menghalangi manusia dari jalan-Nya yang lurus. Kecanduan terhadap sosial media adalah salah satu jalan untuk menjerumuskan manusia sehingga tingkat religius seseorang akan menurun, tingkat kepuasan hidup akan menurun dan pada akhirnya seseorang akan terjerumus pada penyimpangan-penyimpang dalam kehidupan.

6. Problem solving, best practice untuk mengatasi masalah pada poin 2

Solusi 1 : Mengatasi break through privacy

Cara mengatasi permasalahan ini adalah dengan membaca ‘privacy policy’ dengan baik ketika mengunduh aplikasi ataupun membuka situs web tertentu dan hindari memberikan akses data personal. Selain itu, dapat pula menggunakan cara yaitu menghapus data penjelajahan internet secara rutin maupun dengan mengirimkan permintaan "Jangan Lacak" dengan traffic penjelajahan.

Solusi 2 : Mengatasi social media addiction

Masalah ini dapat diatasi dengan membatasi diri dengan ponsel dan media sosial. Agar efektif, dapat dibuat target diri sendiri untuk tidak menggunakan media sosial selama beberapa waktu dalam satu hari (misalnya : 7 jam dalam sehari) dan gunakan waktu tersebut untuk melakukan berbagai kegiatan lain yang dapat dilakukan sendiri ataupun bersama dengan teman atau keluarga.

Solusi 3 : Mengatasi hoax, dari era informasi menjadi era disinformasi

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyediakan beberapa cara agar terhindar dari berita hoax, diantaranya adalah dengan selalu berhati-hati terhadap judul provokatif dan cermati sumber berita apakah berasal dari alamat situs yang sudah terverifikasi atau belum. Dan yang terpenting adalah dengan selalu memeriksa fakta (bukan opini provokatif) dari setiap informasi dengan memastikannya dari berbagai sumber yang relevan.

Solusi 4 : Mengatasi obsesi terhadap fisik dan kecantikan

Permasalahan ini muncul akibat mengikuti standar kecantikan orang lain di media sosial. Nyatanya, standar kecantikan di masyarakat kita masih condong ke satu sisi, padahal makna cantik sangat luas. Seseorang dapat dikatakan cantik dengan keunikannya masing-masing. Satu-satunya cara untuk mengatasi obsesi fisik dan kecantikan adalah dengan menghargai diri sendiri dan pahami nilai yang dimiliki.

Solusi 5 : Mengatasi pengaruh buruk pada mental health

Menurut psikolog terdapat suatu metode yang dapat digunakan untuk mengubah otak dan biologis manusia secara positif serta meningkatkan kesehatan mental dan fisik. Solusi tersebut merupakan meditasi ‘mindfulness” yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu perhatian dan penerimaan. Meditasi ini membantu untuk menyadari apa yang terjadi di dalam maupun di luar diri seseorang sehingga akan lebih memahami diri sendiri dan lebih menikmati dunia.

Ditulis Oleh (Kelompok 3) :
Christian Dwi Budiman
Dinda Mayangsari
Dea Cindy Wijayanti
M Hasan Fajri
Mahestya Tasya R A
Rahmat Hidayat

Referensi

https://almanhaj.or.id/9461-allh-subhanahu-wa-taala-maha-melihat.html

https://muslim.or.id/31810-petunjuk-syariat-dalam-menerima-dan-menyebar-share-berita.html

https://muslim.or.id/43057-mencuri-adalah-dosa-besar.html 

https://asysyariah.com/perilaku-menyimpang-remaja/

https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media

Source : Media, K., 2021. Sinopsis The Social Dilemma, Ketika Media Sosial Memanipulasi Manusia Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: [Accessed 25 February 2021].

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170605173403-185-219606/haram-dan-dilarang-dilakukan-di-medsos-menurut-mui

https://nasional.kontan.co.id/news/pidana-di-uu-ite-efektif-menjerat-pengguna-medsos-hingga-oktober-ada-324-kasus

https://www.liputan6.com/tekno/read/3973754/apakah-pembatasan-whatsapp-dan-media-sosial-oleh-pemerintah-sudah-tepat

Ariadi, P. (2019). Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam. Syifa’ MEDIKA: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 3(2), 118. https://doi.org/10.32502/sm.v3i2.1433


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
dimay

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format