Sexy Killers: Mengulik Cerita Dibalik Kesuksesan Perusahaan Tambang Batubara

Mengangkat isu permasalahan lingkungan, Sexy Killers menceritakan temuan ekspedisinya mengenai dampak pertambangan batu bara serta pembangkit listrik tenaga uap.


1
1 point

Sexy Killers merupakan film dokumenter berdurasi 88 menit yang menelusuri industri pertambangan batu bara di Indonesia. Film yang diproduksi oleh rumah produksi Watchdoc merupakan film ke-12 dalam serial Ekspedisi Indonesia Biru. Mengangkat isu permasalahan lingkungan, Sexy Killers menceritakan temuan ekspedisinya mengenai dampak pertambangan batu bara serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Film dokumenter ini juga mengungkap keterlibatan elit politik di balik industri batu bara.

(sumber: Watchdoc)

Berdasarkan data hasil investigasi investigasi Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), jaringan pebisnis dan politisi tersebut terlibat secara aktif sebagai direksi, komisaris, pemilik saham dan lain sebagainya.

Film Sexy Killers pertama kali diputar di University of Melbourne pada hari Kamis, 11 April 2019. Setelah dua pekan dirilis, film dokumenter tersebut telah diputar di lebih dari 50 lokasi se-Indonesia. Film ini menjadi kritik kepada pemerintah terkait komitmennya dalam menangani permasalahan lingkungan, sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk lebih kritis dalam memilih pejabat pemerintahan.

Sexy Killers

Potensi Masalah

Film Sexy Killer menceritakan perusahaan pertambangan mineral dan batu bara yang ganjal secara politik maupun praktek operasinalnya yang ternyata menimbulkan permasalahan baik bagi masyarakat sekitar dan dampak pencemaran lingkungan. Kurang atau bahkan tidak adanya upaya pemulihan pascatambang seperti peremajaan tanah dan pengolahan limbah membuat kegiatan pertambangan sangat merusak lingkungan dan menganggu masyarakat baik dari segi kesehatan maupun kenyamanan tempat tinggal. Dampak-dampak tersebut juga bukan dalam jangka pendek tetapi juga dalam jangka panjang.

  1. Tanah bekas galian yang tidak direklamasi(sumber: bbc.com)

Tidak adanya upaya reklamasi (penimbunan kembali) dan rehabilitasi pada 3,500 bekas galian tambang yang dilakukan perusahaan menimbulkan kerugian yang bukan hanya berkaitan dengan lingkungan tetapi keselamatan warga sekitar. Bekas lahan galian tambang yang tidak di-reklamasi menjadi lahan gundul dan akan tergenang air hujan, menjadi danau yang dalam. Lokasinya sangat dekat dengan pemukiman warga dan sekolah serta tidak adanya pagar pembatas yang mengeliling genangan tersebut membuat tidak jarang terjadi kasus anak-anak tewas karena jatuh dan tenggelam. 

Dari tahun 2014-2018, tercatat 115 anak tewas tenggelam di bekas lubang galian tambang yang tergenang air. Padahal peraturan Menteri Lingkungan Hidup menyebutkan jarak minimal lubang galian dengan pemukiman warga termasuk sekolah yaitu 500 meter. Perusahaan tambang dan pemerintah setempatpun kerap tutup mata ketika terjadi laporan orang tenggelam dengan tidak menggerakkan tim penyelamat, hanya warga sekitar yang turun tangan berusaha mencari dan menyelamatkan anak yang tenggelam. Bahkan gubernur Kalimantan Timur hanya turut prihatin dan tidak menganggapnya sebagai permasalahan serius.

  1. Pencemaran sumber air(sumber: mongabay.co.id)

Saat air permukaan berkontak dengan bekas galian tambang yang dibiarkan dan terbengkalai, tidak direhebilitasi dan direklamasi, akan terjadi yang disebut dengan drainase tambang yaitu terkontaminasinya air dengan kandungan zat asam, alkali, dan logam yang terdapat di tambang. Air permukaan yang kaya dengan logam berat dan menjadi sangat asam akan bergerak dari tambang ke permukaan yang lebih rendah, mengontaminasi sumber air dan perairan seperti sungai atau danau. Meskipun asam yang tadinya pekat akan berkurang konsentrasinya ketika bercampur dengan jumlah air yang sangat banyak, akan tetapi bila dikonsumsi langsung tanpa pengolahan dalam jangka panjang akan berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan ternak, dan tumbuhan maupun mempengaruhi kesuburan tanah.

  1. Rusaknya rumah dan fasilitas umum

Lokasi penggalian tambang yang sangat dekat dengan pemukiman warga juga membuat kerusakan infrasuktur yaitu rusaknya rumah warga dan fasilitas umum seperti jalan raya. Salah satu kegiatan yang dilakukan perusahaan sebelum melakukan pengerukan yaitu meledakan tanah yang memiliki kepadatan tinggi. Kegiatan peledakan tersebut sering membuat tanah sekitar yang diatasnya dibangun rumah warga dan fasilitas umum ikut bergetar sehingga mengakibatkan kerusakan infrastruktur seperti saat terjadi gempa. Banyak rumah warga dan jalan raya yang mengalami keretakan bahkan pada bulan November tahun 2018 terdapat 5 rumah warga yang hancur, 11 rumah mengalami kerusakan parah, dan jalan raya rusak berat. 

  1. Kerugian petani dan nelayan (sumber: pantau.com)

Banyak klaim dari warga sekitar yang sebelum perusahaan tambang mulai beroperasi bermata pencaharian sebagai petani bahwa sawah milik mereka dijadikan sebagai lahan tambang meskipun tidak ada transaksi penjualan tanah. Sehingga petani yang memiliki sertifikat resmi terpaksa menyetujui untuk menjual tanah sawah mereka daripada menanggung kerugian finansial yang lebih besar. Adapun petani yang tidak memiliki sertifikat resmi ataupun kehilangan sertifikat tidak mendapatkan pembayaran atas tanah sawah yang diambil oleh perusahaan tambang. Selain itu, petani juga dirugikan akibat tanah yang lama-kelamaan kelihangan kesuburannya dikarenakan terkena air yang asam. Hasil panen mengalami penurunan bahkan tidak sedikit yang mengklaim mengalami gagal panen. Kerugian juga dialami oleh nelayan karena ikan-ikan yang tekontaminasi asam menjadi gagal bereproduksi atau cepat mati. Akibatnya ikan yang layak tangkap berkurang drastis dan nelayan tidak mendapatkan penghasilan yang cukup.

  1. Elit politik sebagai Top Management perusahaan

Upaya protes sudah sangat gencar dilakukan oleh warga sekitar dan pencinta lingkungan melalui media masa maupun langsung kepada pemerintah daerah, provinsi, dan pusat tetapi belum ada langkah konkrit yang dilakukan. Pemerintah pun kerap mengklaim bahwa perusahaan sudah melakukan rehabilitasi dan reklamasi tanah bekas galian maupun melakukan upaya sosial semaksimal mungkin dan sesuai dengan ketentuan kepada warga sekitar. Dan ketika ditilik dari struktur manajemen maupun pemilik hampir seluruh perusahaan tambang di Kalimantan, banyak elit politik yang menduduki jabatan-jabatan tinggi atau manajemen atas maupun pemilik utama perusahaan. Jadi seberapa gencar masyarakat melakukan protes atau media masa berusahan mengangkatnya sebagai isu pencemaran lingkungan nasional bahkan internasional terhadap pelanggaran yang dilakukan perusahaan tambang, pemerintah tidak akan mungkin menekan perusahaan, membatasi, dan memberhentikan operasionalnya dikarenakan memiliki kepentingan dalam perusahaan.

Ekploitasi Batu Bara dan Mengabaikan Peraturan

Berdasarkan masalah yang penulis tangkap, terdapat banyak sekali penambang, baik perusahaan legal maupun ilegal, yang tidak menjalankan bisnis sesuai aturannya. Oleh sebab itu, perusahaan tersebut telah melanggar hukum yang tertera pada UU RI sebagai berikut:

UU RI No 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

  • pasal 1 ayat (2) adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum

  • Pasal 1 ayat 28: Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. 

  • Pasal 3: menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia.

  • Pasal 69 ayat 1: melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup

Hasil galian tambang batubara tidak ditutup kembali atau reklamasi sehingga menjadi kubangan air yang kerap kali memakan korban jiwa. Hal ini tentu merusak lingkungan hidup,  mengancam keselamatan, dan kehidupan manusia. Terlebih, letak kubangan tersebut ada terdapat di dekat pemukiman warga, bahkan sekolah dasar. Dalam aturannya, jarak minimal tambang dengan pemukiman warga adalah sejauh 500 meter, namun aturan tersebut tidak digubris oleh perusahaan tambang disana. Padahal, telah dilakukan perjanjian dan kesepakatan dengan pihak terkait seperti jarak minimal dan perusahaan tambang wajib melakukan reklamasi bekas galian tambang dan terdapat sanksi jika tidak melakukannya sebagaimana yang telah diatur dalam UU sebagai berikut: 

  • UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang, perusahaan tambang wajib melakukan reklamasi lahan bekas tambang.

  • UU Nomor 3 Tahun 2020: Para pemegang IUP dan IUPK yang izin usahanya dicabut atau berakhir namun tidak melaksanakan reklamasi/pascatambang atau tidak menempatkan dana jaminan reklamasi/pascatambang dapat dipidana paling lama lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000.000 (seratus miliar rupiah).

Mengkritisi Dari Sudut Pandang Islam

Allah SWT menciptakan langit dan bumi beserta isinya untuk tempat tinggal manusia. Sebuah keharusan bagi manusia untuk menjaga pemberian Tuhan Yang Maha Esa, termasuk lingkungan sosial-ekonomi. Keseimbangan juga patut diperhatikan, segeralah memperbaiki suatu kerusakan yang telah kita perbuat, baik disengaja maupun tidak disengaja. Penjelasan tersebut terdapat pada dalil berikut,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs A Rum :41)

Sexy Killers menunjukkan bahwa banyak perusahaan tambang-legal dan ilegal- yang tidak memenuhi tanggung jawabnya dalam berbisnis. Akibatnya, terdapat banyak kubangan hasil galian tambang di dekat pemukiman warga dan sekolah yang sudah memakan ratusan jiwa. Selain membahayakan jiwa manusia, ulah mereka juga merusak bumi. Tidak ada perbaikan yang mereka lakukan, termasuk reklamasi seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Akhlak tersebut tentu tidak sama seperti yang diajarkan dalam Al-Quran, Allah telah berfirman,

وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ‌ؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al Baqarah :30)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS al-Isra’ : 36).

Kupas Tuntas Berdasarkan Syari'at Islam

Film dokumenter Sexy Killers juga menggambarkan bahwa pertambangan telah merenggut banyak korban jiwa. Sangat disayangkan hal tersebut terjadi dan dalam Islam, janganlah kita melakukan sesuatu yang membiarkan kedzoliman terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Analisis Berdasarkan Jurnal

Manusia dengan makhluk lainnya yang ada di permukaan bumi ini memiliki kedudukan yang sama. Manusia memiliki tanggung jawab lebih besar dari makhluk lainnya dalam menjaga keseimbangan alam. Namun pada kenyataannya masih banyak perilaku manusia yang mencerminkan ketidakpedulian terhadap lingkungan yang terus berlanjut (Muscat dalam Faturochman dan Himam, 1995). Dalam hal ini pertambangan batu bara ilegal menyebabkan tercemarnya lingkungan baik tanah, air, dan udara. Mereka secara apatis meraup sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masa depan. Dalam hal ini apatis merupakan ketidakpedulian terhadap permasalahan-permasalahan lingkungan, tidak memiliki perhatian dan tidak mengadakan konservasi terhadap lingkungan (Thompson dan Barton, 1994).

Indonesia memiliki penduduk yang mayoritas beragama islam. Islam mengajarkan bahwa manusia sebagai khalifah di bumi memiliki kewajiban untuk memakmurkan bumi dan menjaga kelestarian lingkungan, memanfaatkan sumber daya alam dan melestarikannya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Ari Widiyanta dalam jurnal penelitian yang berjudul “Sikap Terhadap Lingkungan dan Religiusitas” menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat religiusitas dengan sikap ekosentris terhadap lingkungan alam. Maka semakin tinggi tingkat religius.

Kesimpulan dan Solusi

Berdasarkan dari hasil analisis kami bahwa kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan merupakan sebuah perlakuan yang tidak dibenarkan oleh agama islam atau haram. Manusia sudah semestinya menjadi khalifah di bumi dan tentu hal ini menjadikan manusia harus menjaga sumber daya alam untuk anak cucu nanti. Langkah konkrit yang harus diambil dari sisi pemerintah adalah membuat payung hukum yang kuat dan memberikan sanksi tegas. Disisi lain masyarakat juga membantu mengawasi pemanfaatan sumber daya alam dan melaporkan apabila ada pelanggaran yang terjadi. Sudah semestinya sebagai khalifah di bumi menjaga alam dengan sebaik mungkin.

Menguak Solusi Sexy Killers

Referensi

Pertiwi, H. F. (2020). ANALISIS CORPORATE CITIZENSHIP DAN HAK ASASI MANUSIA TERHADAP ISU EKSPLOITASI LINGKUNGAN PADA FILM “SEXY KILLERS.” Masalah-Masalah Hukum, 49(1), 71. https://doi.org/10.14710/mmh.49.1.2020.71-79

Tuasikal, R. (2019, April 21). Film “Sexy Killers” Ungkap Elit Politik di Balik Batu Bara. VOA Indonesia. https://www.voaindonesia.com/a/film-sexy-killers-ungkap-elit-politik-di-balik-batu-bara/4884748.html

Watchdoc Image. (2019, April 13). SEXY KILLERS (Full Movie) [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=qlB7vg4I-T

Muhajir, Ansori. “Mengulas Film Dokumenter Sexy Killers dari Perspektif Islam”. https://www.academia.edu/41288936/Mengulas_Film_Dokumenter_Sexy_Killers_dari_Perspektif_Islam

Widiyanta, Ari. (2005). “Sikap Terhadap Lingkungan dan Religiusitas”.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/15718/psi-des2005-%20%285%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Author

Alfia Syahra Himmawan

Muhammad Paksi Assyafan

Prabandari Nur Fauziah

Retno Wulandari

Reyhananda Adhira Ferdyatama


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
AlfiaSyahra

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format