Produk Mainan Anak dari Cina Banjiri Pasar Indonesia, Bagaimana Nasib Produk Lokal?

Ekspor Cina ke Indonesia yang meningkat, menyebabkan meningkatnya persaingan antara produk lokal Indonesia dengan produk Cina yang ada di Indonesia


0

Ekspor Cina

Cina merupakan salah satu negara Super Power dalam perekonomian dunia. Pasar ekspor Cina kian meningkat dalam 10 tahun terakhir. Berdasarkan data dari Statista, tahun 2009 Cina menjadi largest exporting melewati Jerman, lalu sejak 2014, tidak hanya menjadi negara pengekspor terbesar, tetapi juga menjadi negara dengan trading terbesar, lalu di 2019 trade surplus Cina menyentuh nilai sekitar $422 miliar U.S dan total ekspor nya hampir $2.5 triliun U.S. Tahun 2019, ekspor utama Cina adalah dibidang data proses mesin otomatis dan komponen, lalu ada pakaian dan aksesoris nya, mobile phones, textil, dan sirkuit terintegrasi.  

Sumber : Statista

Cina juga merupakan salah satu negara pengekspor mainan anak terbesar di dunia. Menurut Laporan McKinsey Global Institute dalam Kompas.id, Cina merupakan negara dengan investasi perusahaan mainan multinasional yang berada pada urutan tiga besar di dunia. Dalam Koran The Wall Street Journal, diperkirakan bahwa 85 persen mainan anak yang diperjualkan di pasar internasional atau global adalah buatan Cina. Lalu bila ditinjau dari data ekspor Cina ke Indonesia, juga mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Dilansir oleh Trading Economics bahwa, ekspor Cina ke Indonesia itu mengalami peningkatan ke 4748900 USD THO pada Desember 2020, yang sebelum nya 3928700 USD THO pada November 2020. Ekspor Cina ke Indonesia yang meningkat, menyebabkan tingkat persaingan antara produk lokal Indonesia dengan produk Cina yang ada di Indonesia menjadi meningkat pula khusus nya dalam produk mainan anak.

Pasar Industri Mainan di Indonesia

Indonesia sendiri sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam produksi mainan anak, karena berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik atau BPS pada tahun 2018, populasi anak-anak di Indonesia yang berumur 0 – 17 tahun mencapai 30,1% atau 79,55 juta jiwa.

Sumber: Profil Anak Indonesia 2019

Dengan adanya data tersebut menunjukan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam konsumsi mainan di pasar domestik, namun kurang nya kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pasar menjadikan Indonesia banyak mengimpor produk mainan dari negara lain. Indonesia mengimpor mainan anak dari beberapa negara, seperti Cina, Singapura, Denmark, Malaysia dan Jepang, yang mana, pasar mainan impor mainan anak di Indonesia berkisar pada 65% – 70%. Berdasarkan okezone.com, produk Cina memenuhi pasar mainan di Indonesia sebesar 60%. Hal lain yang membuat Cina memfokuskan pasar nya ke Indonesia adalah karena ekonomi Indonesia yang terus tumbuh. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif serta ditambah nya dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia, secara perlahan produk lokal dapat tersaingi oleh produk Cina. Kalah bersaingnya produk lokal mainan anak Indonesia disebabkan juga karena produk mainan anak dari Cina banyak diminati oleh masyarakat Indonesia karena harganya yang relatif murah, desain yang unik dan warna yang bervariasi. Selain itu, mainan anak asal Cina juga mudah ditemui di berbagai tempat di Indonesia, baik di toko mainan, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, tempat umum seperti stasiun dan bandar udara, bahkan di pinggir-pinggir jalan atau emperan toko, yang menyebabkan mainan anak produksi Indonesia tidak terlalu mencolok di pasaran. Hal ini menjadi ancaman bagi pelaku bisnis dan UMKM mainan di Indonesia.

Usaha Pemerintah Meminimalisir Impor Produk Cina

Melihat ancaman ini, pemerintah sebenarnya secara tidak langsung telah mengupayakan pengurangan impor mainan dari Cina, yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/MDAG/PER/3/2007. Peraturan ini menjelaskan tentang Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib Terhadap Barang dan Jasa yang Diperdagangkan. Hal ini dilakukan karena banyak ditemukan produk mainan dari Cina yang terbuat dari bahan baku limbah biji plastik yang kurang aman bagi anak-anak. Dengan adanya regulasi ini, pelaku bisnis dan UMKM mainan di Indonesia memiliki kesempatan dan peluang yang lebih besar, karena tidak semua mainan dapat masuk ke pasar Indonesia. Selain itu produsen Cina juga harus mengganti bahan baku mainan yang sebelumnya terbuat dari bahan baku limbah plastik ke bahan yang lebih aman, sehingga akan meningkatkan Harga Pokok Penjualan dari produk mainan Cina, dan menjadikan produk mainan Cina lebih mahal dari yang sebelumnya.

Adanya regulasi tentang SNI barang impor ini ternyata belum cukup ampuh untuk menaikkan brand lokal mainan di Indonesia. Menurut Ferrel, Hirt, Ferrel (2019) dalam bukunya yang berjudul Business Foundations, untuk mendapatkan dan dapat bertahan di pasar, pelaku bisnis dan UMKM harus kreatif dan inovatif. Hal ini dilakukan agar dapat menambah value added produk mereka, sehingga produk mereka dapat bersaing di pasaran. Salah satu model bisnis yang dapat bertahan di pasaran adalah model bisnis sosial atau sociopreneur. 

Sociopreneur

Apa itu sociopreneur ? Menurut Bernas.id dilansir bahwa sociopreneur adalah usaha atau bisnis yang tidak hanya mengambil keuntungan semata, ada unsur sosial pula di dalamnya. Usaha yang seperti ini juga berkontribusi dalam kesejahteraan banyak orang. Produk dari bisnis  Sociopreneur ini lebih banyak diminati oleh masyarakat, karena mereka menilai bahwa produk dari bisnis dengan model Sociopreneur lebih value added daripada produk biasa. Contoh sociopreneur dalam industri mainan adalah "Batik Girl". Batik Girl adalah industri mainan boneka berbusana batik dibawah naungan Yayasan Cinderella From Indonesia yang telah didirikan sejak tahun 2011. Yayasan ini didirikan oleh seorang wanita asal Surabaya yang bernama Lusia Efriani. Dalam proses produksi, boneka Barbie ini diproduksi oleh para Narapidana di Lapas Tanjung Pinang, Batam. Jadi, selain untuk mendapatkan profit, yayasan juga memiliki misi sosial.

Mainan Edukatif

Selain kreatif dan inovatif, hal yang dapat dilakukan agar dapat bersaing dengan pasar mainan anak produksi Cina yang masuk ke Indonesia adalah dengan memproduksi mainan yang edukatif. Mainan edukatif akan memiliki nilai tambah yang lebih, karena akan menarik konsumen terutama para orang tua (parents). Tentunya para orang tua akan memilih mainan untuk anak nya yang bermanfaat untuk perkembangan anak nya. Apabila mainan yang diproduksi sudah masuk kategori mainan edukatif, maka hal selanjutnya yang perlu diperhatikan agar mainan anak produksi Indonesia dapat bersaing dengan mainan anak produksi Cina adalah dari segi marketing yaitu dalam hal promosi. 

Promosi

Promosi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menawarkan produk ke  konsumen. Berdasarkan Kontan.co.id susahnya produk lokal memasuki pasar domestik dikarenakan tidak adanya budget untuk melakukan promosi dan kurangnya agen distributor untuk memasarkan produk. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya promosi produk mainan di Indonesia. Padahal terdapat beberapa cara promosi yang tidak memakan banyak biaya seperti, pembuatan website atau toko online, endorsement, membuat vlog di Youtube, atau menggunakan sosial media. Untuk itu, para pelaku bisnis dan UMKM mainan dapat melakukan metode promosi ini secara maksimal untuk meningkatkan penjualan dan dapat bersaing di pasaran, terutama dengan produk mainan Cina yang telah mendominasi pasar.

Solusi dan Best Practice

Berdasarkan penjelasan diatas, solusi untuk masalah yang dihadapi oleh industri mainan Indonesia adalah membuat bisnis dengan model sociopreneur yang memproduksi mainan edukatif serta memaksimalkan semua media yang tidak memakan banyak biaya sebagai alat promosi. Hal ini sangat sesuai dengan Triple Bottom Line Theory, yang mana menjadikan bisnis dapat bersaing dan bertahan dalam pasar. Salah satu contoh pelaku industri mainan yang menerapkan metode ini adalah “Little Zam”. Little Zam adalah brand lokal Indonesia dengan produk mainan edukatif yang dibuat oleh para ibu-ibu rumah tangga. Bisnis ini dibangun dengan misi sosial memberdayakan para ibu-ibu rumah tangga. Selain itu, sebagian profit dari hasil penjualan digunakan untuk program sosial, pendidikan, dan kesehatan di berbagai daerah di Indonesia. Hanya dengan menggunakan sosial media dan toko online sebagai alat promosi, saat ini Little Zam memiliki banyak reseller di berbagai daerah di Indonesia dan dalam dua tahun mereka telah membangun tiga rumah dan satu masjid tahan gempa untuk korban bencana gempa di Lombok. Usaha mereka dibidang mainan anak dapat dibilang sudah cukup sukses dan mampu bersaing dengan produk Cina di pasaran.

Artikel ini telah di cek antiplagiarism via website https://www.duplichecker.com/

Nama anggota :

1. Selma Ferena

2. Muhammad Jodi Aprianda Fadhlan

Referensi

Ferrell, O.C, Hint, G.A & Ferell Linda. 2020. Business Foundations – A Changing World. 12th Edition, New York: McGraw-Hill

https://economy.okezone.com/read/2018/07/24/320/1926632/60-mainan-impor-dari-china-bagaimana-kondisi-industri-dalam-negeri

https://interaktif.kompas.id/baca/bisnis-mainan-anak-saat-pandemi/

https://tradingeconomics.com/china/exports-to-indonesia

http://www.bernas.id/amp/59518-sociopreneur-pengertian-dan-hal-hal-yang-harus-dimiliki-oleh-seorang-sociopreneur.html

https://www.statista.com/statistics/263661/export-of-goods-from-china/

https://m.liputan6.com/citizen6/read/3855319/kisah-di-balik-suksesnya-7-wanita-yang-jalani-bisnis-mainan-edukatif-anak-muslim

https://amp.kontan.co.id/news/mainan-asal-china-merajalela-industri-mainan-lokal-kalah-bersaing

https://swa.co.id/swa/headline/batik-girl-bisnis-sosial-lusia-efriani-untuk-para-napi-wanita

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Pusat Statistik. 2020. Profil Anak Indonesia 2019. https://kemenpppa.go.id/index.php/page/read/25/2545/profile-anak-indonesia-tahun-2019 diakses pada tanggal 3 Maret 2021, pukul 21.30 WIB.

Marisa, Dewi. 2013. Hubungan Perdagangan Indonesia-Cina Studi Kasus: Produk Mainan Anak Cina di Indonesia (2008-2010). Jurnal Transnasional, Vol. 4, No. 2. https://www.academia.edu/7140305/Hubungan_Perdagangan_Indonesia_Cina_Studi_Kasus_Produk_Mainan_Anak_Cina_Di_Indonesia_2008_2010  diakses pada tanggal 3 Maret 2021, pukul 22.00 WIB.

Yuliandita, Alpina. 2014. Motivasi Indonesia Menerapkan Regulasi Standar Nasional Indoneisa (SNI) Terhadap Mainan Impor (Studi Kasus: Produk Mainan Impor dari Cina. Jom FISIP Volume.1 No.2. https://www.neliti.com/publications/31418/motivasi-indonesia-menerapkan-regulasi-sni-terhadap-mainan-impor-studi-kasus-pro. diakses pada tanggal 3 Maret 2021, pukul 22.07 WIB.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Managers R Us

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format