DILEMA INDUSTRI PLASTIK, ANTARA KEBUTUHAN DAN BENCANA BARU

Kebutuhan barang berbahan dasar plastik yang sangat besar, apakah masih relevan terhadap dampak pada pencemaran lingkungan?


0

Plastik merupakan sejenis makromolekul yang diproses melalui sistem polimerasi dengan unsur utama berupa karbon dan hidrogen. Plastik merupakan suatu bahan yang banyak dijumpai baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri manufaktur. Berdasarkan penggunaanya plastik dibagi menjadi tiga yaitu platik teknik, plastik teknik khusus, dan plastik komoditas. Plastik komoditas merupakan plastik yang banyak kita jumpai di masyarakat. Plastik ini merupakan jenis plastik yang tidak tahan panas dan memiliki sifat mekanik yang tidak begitu baik. Oleh karena itu plastik jenis ini banyak ditemukan atau digunakan dalam kegiatan sehari-hari seperti contohnya kantong plastik kresek dan plastik kemasan produk seperti produk makanan dan minuman. Seiring dengan pertumbuhan industri yang makin pesat di Indonesia, konsumsi produk plastik pun kian meningkat. Namun, tingginya permintaan plastik di Indonesia membuat kuantitas stok plastik di Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada, terdapat beberapa faktor ketidakmampuan pemenuhan kebutuhan plastik ini salah satunya adalah keterbatasan bahan baku, sehngga pemerintah melakukan impor plastik. 

Dalam upaya untuk menunjang aktivitas ekspor dan impor di Indonesia pemerintah menjalin hubungan perdagangan internasional dengan berbagai negara di seluruh belahan dunia. Impor plastik yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia ini berasal dari beberapa negara seperti Tiongkok, China, dan Jepang. Terdapat beberapa faktor penentu pemilihan negara importir plastik, diantaranya adalah faktor harga dan kualitas barang serta ekpedisi atau pengiriman barang tersebut. Seperti yang diketahui, China merupakan salah satu negara  importir barang plastik terbesar di dunia. Plastik yang diimpor dari China  ke Indonesia ini meliputi plastik raw material, serta plastik bahan jadi seperti plastik yang digunakan sebagai wadah botol air minum, tempat kosmetik, dsb. 

Hal ini didukung juga dengan data yang diterbitkan oleh CNBC Indonesia pada lamannya, yang menyatakan bahwa seperempat lebih atau sekitar 28,49% dari produk non migas yang diimpor  ke Indonesia berasal dari China. Selain itu data yang diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa setiap satu dari empat barang impor non migas yang dikirim ke Indonesia berasal dari Negeri Tirai Bambu “China”. Oleh karena itu banyak dijumpai produk dengan label “Made in China” di bebagai produk plastik yang beredar di Indonesia. Maraknya label “Made in China” ini timbul akibat banyaknay kegiatan impor barang dari China ke Indonesia. 

Kegiatan impor ini memiliki beberapa efek bagi perekonomian Indonesia. Salah satu dampak positif impor plastik ini adalah dengan banyaknya beredar  produk plastik China maka keberagaman produk plastik di pasaranmeningkat. Peningkatan ini menimbulkan dorongan serta tantangan bisnis pada produk plastik lokal di Indonesia untuk terus berinovasi agar produk plastik lokal ini mampu bersaing, baik dari segi kualitas maupun variasi. Hal tersebut ditandai dengan tumbuhnya beberapa UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang memproduksi plastik. Namun tidak dapat dipungkiri juga, bahwa bahan dasar plastik ini pun diimpor dari China, karena itu harga plastik lokal sedikit lebih mahal dari produk China. Harusdiakui bahwa China selalu mampu menjual produknya dengan harga yang sangat rendah, sehingga berdampak pada daya jual plastik lokal di Indonesia. Untuk pemenuhan bahan baku plastik dan kebutuhan plastik yang kian meningkat maka impor plastik dari China ini tetap dilakukan.

Bahkan di tahun 2018 salah satu perusahaan plastik asal China mendirikan perusahaan manufaktur di Batam. Pada tahun 2018 Otoritas Kawasan Perdagangan Bebas Batam (BP Batam) memberikan izin investasi pertamanya pada PT Hong Sheng, yang menginvestasikan US $ 4 juta pada pendirian pabriknya di Batam, Kepulauan Riau. Sebelumnya PT Hong Sheng ini mendirikan pabrik di Vietnam lalu akibat kendala dalam hal ketenaga kerjaan maka dipindahkan pabrik Hong Shen ini ke Batam, Indonesia Direktur utama perusahaan, Zheng Bo, mengatakan bahwa  Batam dipilih karena faktor geografis atau jarak yang cukup dekat ke Singapura untuk mengeektifkan ongkos serta resiko pengiriman barang. Perusahaan Ini rebcananya akan mempekerjakan 190 pekerja, 150 di antaranya adalah pribumi, sedangkan sisanya akan orang China. Hal ini tentunya dilakukan oleh PT Hong Sheng dalam upaya pemenuhan peraturan tentang PMA di Indonesia UU No 25 Tahun 2007dimana setiap investor asing yang mendirikan badan usaha di Indonesia harus mengutamakan sumber daya manusia dari Indonesia. 

Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Batam mencatat bahwa Batam menyambut investasi sebesar $ 1,1 miliar sepanjang 2017. Investasi yang dilakukan oleh perusahan asing ini dianggap tidak menyingkirkan pekerja lokal yang memang membutuhkan pekerjaan. Pekerja lokal diharapkan dapat mengisi pekerjaan pada perusahaan asing khususnya pada posisi-posisi strategis sehingga ini juga akan menguntungkan bagi semua pihak. PT Hong Sheng ini berbentuk sebagai sebuah foreigncorporations atau yang biasa disebut dengan Penanaman Modal Asing (PMA) dengan menjalankan startegi bisnis multinasional. Dimana perusahaan Hong Sheng ini melakukan penyesuaian produk, promosi serta alokasi produk plastiknya, dengan mempertimbangkan budaya, teknologi, dan wilayah dalam hal ini adalah penyesuaian PT Hong Sheng dengan masyarakat dan budaya di Indonesia. Selain itu saham perusahaan ini tidak diperjual belikan di pasar saham atau bursa efek.

Dalam bidang produksi plastik pemerintah menggenjot industri plastik dalam negeri untuk meningkatkan jumlah produksinya. Di Indonesia terdpat dua produsen yaitu PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk (PT. CAP) dan PT. Lotte Chemical Titan Nusantara. PT. CAP adalah perusahaan petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia PT. Lotte Chemical Titan Nusantara (PT LCTN). merupakan anak perusahaan dari PT Titan Kimia Nusantara Tbk yang tergabung dalam kelompok usaha Lotte Chemical Corp (sebelumnya Honam Petrochemical Corp) perusahaan yang berkedudukan diKorea. Selain dipasarkan di dalam negeri, produk PE PT. LCTN juga diekspor ke berbagai negara.

            Selain sisi positif dari kegitan impor dan investor perusahaan plastik di Indonesia terdapat pula sisi negatif diantaranya adalah peningkatan jumlah limbah plastik di Indonesia. Tidak semua bahan plastik dapat didaur ulang, sedangkan proses pendestrusian sampah plastik ini memakan waktu yang lama bahkan hingga bertahun-tahun sampah plastik ini terurai. Pengolahan sampah merupakan PR terbesar bagi seluruh warga dunia, ekosistem bumi harus terus dijaga dan dilestarikan. Diketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil sampah plastik dunia. Indonesia menjadi negara terbesar kedua penghasil limbah plastik terbanyak dengan volume sampah sebanyak 65 Juta ton setiap tahunnya. Bahkan dari angka tersebut 45% sampah plastik tidak terkelola dengan baik dan banyak sampah plastik ini yang dibuang di laut. Kebijakan kantong plastik berbayar  dinilai belum efektif karene masyarakat pun lebih memilih untuk membayar dan tetap menggunakan plastik. Edukasi tentang plastik yang masih kurang, serta apresiasi pemerintah pada lembaga perseorangan pengolah sampah yang masih minim salah satu contohnya adalah Waste for Change yang merupakan pihak pengolahan sampah yang didirikan secara perorangan yang menampung sampah untuk didaur ulang. Namun karena bentuk lembaga ini non profit , maka belum banyak masyarakat yang mengikuti program ini. Selain, itu terdapat suatu organisasi yang bernama Carbon Ethics yang berfokus dalam pembatasan emisi carbon di dalam kehidupan sehari-hari serta aktif melakukan kegiatan pemilahan sampah di laut. 

Bentuk pengelolaan sampah di Indonesia telah diatue dalam Permen LHK No 75 Tahun 2019. Dalam pengelolaan sampah plastik produsen berperan aktif dalam pembatasan timbulan, pendauran ulang, dan pemanfaatan kembali. Produsen dapat membatasi timbulan sampah plastik dengan menggunakan bahan baku kemasan produk yang mudah diurai oleh proses alam sehingga timbunan sampah menjadi lebih sedikit. Salah satu cara yang juga dapat dilakukan oleh produsen adalah dengan mengoptimalkan bentuk dan bahan kemasan sehingga lebih efisien menggunakan kemasan. Salah satu inisiasi produsen plastik di Indonesia adalah dengan dibentuknya IPRO (Indonesia Packaging Recovery Organization) yang diinisiasi Unilever, Coca-Cola, Danone, Indofood, Nestlè dan Tetra Pak. IPRO bertujuan untuk memberikan edukasi serta inovasi baru dalam pengelolaan sampah serta mempercepat praktik ekonomi sirkuler di Indonesia. Seperti halnya kebijakan plastik berbayar, kegiatan ini dinilai belum efektif, pemerintah seharusnya membuat aturan tegas tentang produsen yang tidak dapat memenuhi aturan daur ulang sampah plastik. 

Kelompok AllBossesClub:

Camelia Dewi F.

Muhammad Rafa S.

Daftar Pusaka:


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format