E-commerce Diserbu China, Harus Apa?


0

Abad 21 ini merupakan masa emas perkembangan teknologi dunia. Bukan hanya dalam ranah teknologi informasi saja, namun juga menyasar pada perkembangan sector sector lain. Hal ini dibuktikan dengan adanya E-governance pada sector pemerintahan, E-Learning pada sector pendidikan, serta yang akan kita perbincangkan pada kali ini yakni tentang perkembangan teknologi dalam ranah ekonomi khususnya perkembangan E-Commerce di Indonesia.

Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mencoba mendefinisikan Electronic Commerce (E-Commerce) sebagai kegiatan jual beli barang atau jasa yang dilaksanakan melaului jaringan computer dengan metode yang dirancang secara spesifik untuk melakukan dan menerima pesanan, tetapi pembayaranga dan pengiriman barang tidak harua dilakukan secara online (Badan Pusat Statistik, 2020)Perkembangan E-Commerce di Indonesia sudah sangat menjalar dengan sangat pesat. Badam Koordinasi Penamana Modal (BKPM) menerangakan bahwa pada tahun 2018 lalu, nilai transaksi yang terjadi di E-Commerce menyentuh angka Rp. 144,1 Triliun(Badan Koordinasi Penanam Modal, n.d.).  Hal ini sejalan dengan fakta bahwa pada tahun sebelumnya terjadi kenaikan sampai menyentuh 5 kali lipat. Kedua fakta tersebut memperlihatkan bahwa fenomena E-Commerce ini memang membutuhkan perhatian lebih serta harus bisa dimanfaatkan. 

Perkembangan E-Commerce di Indonesia juga bukan hanya menjadi perhatian masyarakat domestic saja, namun juga menjadi perhatian negara negara tetangga untuk melebarkan kesempatan ekonominya di Indonesia. Salah satu negara yang sangat aktif dalam menanam investasi di Indonesia terkhusus di sector E-Commerce adalah China. Dilansir dari finance.detik.com, Wang Liping selaku Perwakilan Duta Besar China untuk Indonesia dalam wawancaranya menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki regulasi yang memudahkan dalam berbisnis, sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial investasi negaranya(Laucereno, 2018). Bukan hanya dalam sector sector mainstream investasi, namun juga sector sector yang lebih kekinian seperti E-commerce (Laucereno, 2018).  

Gambar 1 Infografik E-Commerce di Indonesia
Sumber: Glints.com

China sepertinya sangat pandai dalam melihat peluang bisnis di Indonesia. Dilansir oleh finance.detik.com, walau dunia sedang di goncang dengan pandemic Covid-19, china malah meningkatkan investasinya sebesar 9% yang awalnya jumlah investasinya adalah $ 2,2 Miliar saat ini sudah menyentuh angka $2,4 Miliar (Novika, 2020). Hal ini menjadikan China sebagai investor terbesar kedua di Indonesia.  Selain itu, menurut Djauhari Oratmangun selaku Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia menjelaskan bahwa perkembangan infrastruktur digital Indonesia seperti fintech dan E-commerce membuat china juga tertarik dengan investasi pada sector ini. Dengan adanya kecenderungan tersebut, Indonesia sudah mulai menginisiasi untuk membangun Kerjasama dengan perusahaan-perusahaan terkemuka di China yakni Meituan Inc, Jumore, JD.com, Baidu Inc, Tencent Holdings Ltd., Alibaba Ant Financial dan ByteDance. (Novika, 2020).

Investor China Penyokong E-Commerce Indonesia

Video 1 Peta Investasi China di E-commerce Indonesia
Sumber: CNBC Indonesia 

Antara Butuh dan Membunuh: Investasi China di sektor E-Commerce

Tidak bisa dipungkiri, perkembangan E-Commerce di Indonesia adalah berkat Investasi China. Beberapa unicorn e-commerce raksasa Indonesia  mendapatkan suntikan dana investasi yang besar dari perusahaan-perusahaan yang berasal dari negeri tirai bamboo ini. Namun, ternyata ditengah perkembangan yang sangat pesat dari E-commerce dan berjasanya China dalam perkembangan E-Commerce ini, banyak dilemma yang dihadapi secara ekonomi.

Map  Description automatically generated

Gambar 2 Infografik pendanaan Unicorn Start-up dan E-commerce Indonesia
Sumber: CNBC Indonesia 

Dalam ranah perekonomian negara, E-Commerce memberikan ruang baru pada perekonomian negara. Dengan kata lain dengan adanya E-commerce mempermudah perluasan pasar serta jaringan pasar yang menjadi tanpa batas negara. Baik untuk produsen maupun untuk konsumen keduanya bisa saling menjangkau dengan mudah dan cepat (Iqbal, 2017). Namun, disisi lain dengan perkembangan E-Commerce yang terlalu cepat ini membuat defisit neraca dagang atau current Account deficit menjadi parah.Peneliti INDEF Bhima Yudistira mengatakan data asosiasi e-commerce memperlihatkan bahwa barang yang berseliweran di E-Commerce 93% adalah barang impor. Dengan kata lain, barang produk local yang diperdagangkan di E-commerce saat ini tak lebih dari 7% (Anwar, 2019).

Dalam ranah ketenagakerjaan, dilansir dari CNN Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan memperkirakan dampak dari perkembangan investasi china dalam sisi E-Commerce ini membuat 52,6 juta pekerjaan hilang dikarenakan kecenderungan masyarakat memilih berbelanja di dunia digital daripada yang konvensional(Primadhyta, 2019). Namun kendati demikian, dipekirakan akan muncul 3,2 juta pekerjaan baru karena perkembangan digital ini.(Primadhyta, 2019) Sayangnya hal ini belum bisa menutupi dan tidak seimbang dari angka kehilangan pekerjaan dan pekerjaan baru yang muncul. Sebagai bukti bahwa perkembangan E-commerce yang terdekat di kehidupan kita adalah tutupnya toko-toko ritel yang konvesional, mulai dari Ramayana, Matahari dan yang lainnya.(Primadhyta, 2019) Namun perkembangan digital menjadi angin segar bagi perusahaan yang bergerak dalam jasa pengiriman logistic dan pergudangan, yang tadinya hanya ada pos Indonesia dan TIKI, hari ini banyak bermunculan perusahaan perusahaan baru yang bergerak dalam sector kurir dan pergudangan seperti JNE, AnterAja, JNT, Ninja dan yang lainnya. (Primadhyta, 2019)

Model Bisnis Baru E-Commerce untuk Mengatasi Dampak Buruk dari Serbuan Produk dan Investasi dari China

Rancangan aplikasi e-commerce yang akan penulis ajukan adalah e-commerce yang berfokus pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal daerah. E-commerce ini lebih berfokus untuk menjadi perantara antara vendor-vendor produk UMKM daerah dan pelanggan di daerah tersebut. E-commerce ini memberikan informasi akan produk-produk yang dibutuhkan konsumen tanpa konsumen harus mencari tahu secara konvensional dari toko ke toko, serta e-commerce ini pun menjadi perantara penjualan produk tersebut. Dengan begitu, selama produk yang diinginkan konsumen masih ada di area di mana konsumen tersebut berdomisili, pengiriman akan lebih cepat dan biaya pengiriman akan lebih murah. Solusi ini membantu untuk memberdayakan UMKM daerah karena pesaing-pesaing vendor produk hanyalah di ruang lingkup lokal daerah, serta meningkatnya exposure produk UMKM tersebut kepada masyarakat yang berdampak kepada kemudahan ditemukannya produk yang dibutuhkan pelanggan.

Berikut Business Model Canvas (BMC) dari aplikasi e-commerce usulan penulis, dengan menggunakan “The nine building blocks” (Osterwalder & Pigneur, 2010):

Gambar 3 BMC E-commerce usulan penulis
Sumber: Desain template BMC dari strategyzer.com, isi dari rancangan penulis

Untuk tipe kepemilikan (ownership) dari e-commerce ini, penulis memilih partnership dengan tipe limited partnership. Partnership dipilih karena pertimbangan kemudahan organisasi, kemudahan perolehan modal, serta dapat menggabungkan pengetahuan dan keterampilan antarpemilik. Sementara itu, limited partnership dipilih karena kemitraan jenis ini memungkinkan perusahaan untuk memiliki setidaknya satu mitra umum yang memiliki kewajiban tidak terbatas, dan setidaknya satu mitra terbatas yang kewajibannya terbatas pada investasinya dalam bisnis. Mitra umum dalam limited partnership juga akan menerima keuntungan yang lebih besar setelah mitra terbatas menerima uang investasinya kembali (Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, 2020).

Referensi

Anwar, M. C. (2019). Kacau! E-commerce yang Disuntik Asing Bikin CAD Makin Parah. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20190805132558-37-89896/kacau-e-commerce-yang-disuntik-asing-bikin-cad-makin-parah

Badan Koordinasi Penanam Modal. (n.d.). Perkembangan Investasi e-Commerce di Indonesia.

Badan Pusat Statistik. (2020). Statidtik E-Commerce 2020.

Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, L. (2020). BUSINESS FOUNDATIONS: A CHANGING WORLD (12th ed.). McGraw-Hill Education.

Iqbal, M. (2017). Dampak Ekspansi Alibaba Group Terhadap Perkembangan E-Commerce Di Indonesia. http://digilib.unhas.ac.id/uploaded_files/temporary/DigitalCollection/YzdmMmI0Mjg5NzAzMmU5OTg0YTMxMmQ0MmQyMjk1YmY4MzI3MDk4Mw==.pdf

Laucereno, S. F. (2018). Indonesia Jadi Sasaran Investasi China.

Novika, S. (2020). Di tengah Pandemi, Investasi China di RI Melonjak 9%. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5186772/di-tengah-pandemi-investasi-china-di-ri-melonjak-9

Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation: A Handbook for Visionaries, Game Changers, and Challengers.

Primadhyta, S. (2019). Menjawab Kekhawatiran Asing Kuasai Ekonomi Digital RI. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190228120303-92-373410/menjawab-kekhawatiran-asing-kuasai-ekonomi-digital-ri

Strategyzer. (n.d.). www.strategyzer.com

Oleh:

Fachrizal Anshori Budimansyah

Nadya Shafirah


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format