Industri Baja Indonesia dan Kepungan Baja Impor China

Peran Enterpreneur Dalam Serbuan Produk dan Investasi China Sektor Manufaktur Logam


0

Industri besi dan baja sebagai mother of industries merupakan salah satu industri yang sangat penting dan strategis dalam membangun industri nasional dalam rangka peningkatan nilai tambah perekonomian, kemandirian industri, kemandirian pertahanan, penciptaan lapangan kerja dan perwujudan kemakmuran bangsa.

Ancaman serbuan barang China di balik berkembangnya manufaktur logam

Keberadaan industri besi dan baja merupakan hal vital dalam proses pembangunan. Besi dan baja merupakan bahan utama industri manufaktur dan pembangunan infrastruktur. Salah satu indicator kuatnya suatu perekonomian negara bisa dilihat dari struktur dan kinerja industri besi dan baja yang dimiliki oleh suatu negara yang bersangkutan. Pada saat ini china adalah produsen besi dan baja terbesar di dunia, sehingga pantas pergerakan ekonomi China pada saat ini dan kedepan maju. Industri baja China merupakan ancaman bagi indsutri baja local Indoenisa, baja yang lebih murah dan lebih berkualitas dari China merupakan ancaman nyata bagi perindustrian logam Indonesia.

Profil Industri Baja Indonesia

Industri baja nasional merupakan salah satu 1 dari 10 prioritas RIPN yang masuk kedalam industry hulu, salah satu industry startegis di Indonesia. Sektor ini memainkan peran utama dalam memasok bahan-bahan baku vital untuk pembangunan di berbagai bidang mulai dari penyedian infrastruktur (gedung, jalan, jembatan, jaringan listrik dan telekomunikasi), produksi barang modal (mesin pabrik dan material pendukung serta suku cadangnya), alat transportasi (kapal laut, kereta api beserta relnya dan otomotif), hingga persenjataan.

Peran Pembangunan Industri Baja

Cakupan Industri baja sangat luas, meliputi rentang nilai yang panjang dari hulu sampai hilir. Hulunya dimulai dari proses hasil tambang berupa pasir besi menjadi bijih besi (iron ore) dan dilanjutkan menjadi pellet yang merupakan bahan baku untuk pembuatan besi baja. Selanjutnya diproses lagi pada tanur baja untuk menghasilkan produk baja antara yang menghasilkan bahan baku bagi industri hilirnya sebagai produk akhir (end product). Industri baja sendiri merupakan industri yang bersifat padat modal, padat teknologi dan memerlukan SDM yang trampil dan ahli dalam merencanakan proses produksi dan pengaturan mesin secara optimal dan efisien.

Industri Hulu

Industri Menengah

Industri Hilir

Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) disusun sebagai pelaksanaan amanat pasal 8 ayat 1, Undang-Undang No. 3 tahun 2014, dan menjadi pedoman bagi pemerintah dan pelaku Industri dalam perencanaan dan pembangunan Industri sehingga tercapai tujuan penyelenggaraan Perindustrian. RIPIN memiliki masa berlaku untuk jangka waktu 20 tahun, dan bila diperlukan dapat ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.

Sumber Daya Alam (SDA) yang digunakan dalam industri baja adalah hasil tambang berupa pasir besi (iron sand) dan bijih besi (iron ore). Indonesia memiliki potensi sumber daya pasir besi dan bijih besi yang cukup besar dengan jumlah deposit berupa sumberdaya dan cadangan sekitar 5.110 juta ton.

Sebaran Sumber Daya dan Cadangan Mineral Besi di Wilayah Indonesia

Karakteristik Utama Industri Baja

Upstream Industry

  1. High Investment
  2. High Energy Consumption
  3. High Material Consumption
  4. High Transportation

Pada saat ini indsutri besi dan baja Indonesia masih memprihatinkan. Kinerja poduktivitas baja Indonesia menempati peringkat 37 dengan indeks konsumsi yang relative rendah yakni sekitar 33 kg per kapita pertahun.

Berdasarkan data dari Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (2017), potensi sumber daya dan cadangan besi Indonesia terpusat di Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jambi, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Jumlah sumber daya dan cadangan untuk masing-masing daerah tersebut diperlihatkan pada Gambar 1. Berdasarkan penyelidikan geomagnetik di Kabupaten Katapang, Kalimantan Barat, serta pemodelan 3-D suseptibilitas, diperoleh volume magnetik 410.000 m3 atau 1.000.400 ton (Purnama dan Subarna, 2016). Potensi bijih besi di wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang beragam, baik dari segi kualitas maupun jenis mineral besi yang terkandung di dalamnya.

Kualitas bahan baku bijih besi Indonesia masih menjadi kendala dalam program pengembangan industri baja nasional berbasis bahan baku lokal. Kualitas bijih besi Indonesia masih belum dapat memenuhi kriteria kualitas yang dibutuhkan industri baja pengguna bahan baku ini. Kualitas bijih besi di Indonesia relatif mempunyai kandungan Fe tidak terlalu tinggi, meskipun di beberapa tempat ada yang kandungannya di atas 70% Fe, namun sebaran yang berupa spot-spot dengan kuantitas kecil. Rata-rata kandungan Fe untuk besi primer 47,144 %, pasir besi mempunyai kandungan Fe rata-rata 47,08% dan besi laterit mempunyai kandungan Fe rata-rata 30,26% (Usman, 2015).

Rantai Industri Baja

Rantai nilai Industri baja cukup panjang dari hulu sampai hilir. Hulunya dimulai dari proses hasil tambang berupa pasir besi dan bijih besi. Meskipun secara proses bukan dianggap sebagai bagian dari industri besi baja dan merupakan industri pemasok dalam supply chain industri baja, namun keberadaannya sangat strategis dalam menentukan daya saing industri baja suatu negara.

Berdasarkan aliran proses dan hubungan antara bahan baku dan produk tersebut, industri baja nasional tersebut dibagi dalam pengelompokan sebagai berikut:

  1. Industri Baja Hulu
  2. Industri Baja Antara
  3. Industri Baja Hilir

Industri Baja Hulu

  • Teknologi Blast Furnace

  • Teknologi Direct Reduction Iron

Industri Baja Antara

  • Crude Steel

Pig Iron atau Sponge Iron dari hasil industri baja hulu diproses lebih lanjut menjadi produk baja kasar (crude steel) berupa bloom, billet, slab dan ingot. Bloom dan billet merupakan bahan baku industri baja pengolahan long product, slab merupakan bahan baku industri pengolahan flat product, dan ingot merupakan bahan baku industri pembentukan baja lainnya.

Bagan Proses Produksi Slab dan Billet

  • Semi-Finished Product

Tahapan memproses baja kasar menjadi produk semi finished. Billet dan bloom merupakan bahan baku untuk pembuatan produk semi finished wire rod dan green pipe. Selanjutnya wire rod akan menjadi bahan baku berbagai industry pengolahan long finished product seperti paku, baut, mur, kawat las, PC wire. Sedangkan green pipe akan menjadi bahan baku industri seamless pipe (OCTG dan Line Pipe) bagi industri migas.


Hot Rolled Coil (HRC)

Hot rolled Plate (HRP)


Cold Rolled Coil (CRC)

Bagan Proses Produksi HRC


Industri Baja Hilir

Pohon Industri Baja

  • Pembuatan baja finished flat product

Kelompok ini merupakan konsumen terbesar industri baja dunia. Berbagai industri pemakai diantaranya industri konstruksi, otomotif, pipa, profil dan pelapisan. Sebagai media antara bahan baku HRC dan CRC dengan kebutuhan industri pembuatan finished product, maka dimasukkan pula dalam kelompok ini industri jasa pemotongan dan pembentukan baja lembaran (shearing/slitting lines).

  • Pembuatan baja finished long product

Kelompok ini merupakan konsumen paling bervariasi dari industri baja. Berbagai industri pemakai diantaranya industri pembuatan baja batangan, profil, baja konstruksi, kawat, paku dan mur/baut. Berdasarkan aliran proses dan hubungan antara industri baja hulu sampai industri baja hilir.

Berkembangnya Pasar Besi Baja Dunia

Produksi bijih besi dunia pada 2017 mencapai 2,380 miliar ton, turun 43 miliar dari tiga tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan China melakukan pemangkasan produksi dari 1.510 juta ton menjadi 340 juta ton. Dengan demikian yang memproduksi bijih besi terbesar di dunia adalah Australia, Brazil, masing-masing sebesar 880 juta ton dan 440 juta ton. Tingginya produksi ketiga negara tersebut, yaitu Australia, Brazil dan China didukung oleh cadangan bijih yang dimilikinya, yaitu 50 miliar ton, 23 miliar ton dan 21 miliar ton bijih besi. Meskipun dalam tahun terakhir anjok, dalam 7 tahun terakhir, rata-rata produksi bijih besi dunia meningkat sekitar 1,35%.

China bukan saja mendominasi dunia sebagai produsen tambang bijih besi, tetapi juga di industri pengolahan dengan produk besi kasar/mentah (pig iron) dan baja kasar/mentah (raw steel). Dari jumlah poduksi pig iron dunia sebesar 1,150 miliar ton, di antaranya sebesar 685 juta ton atau 59,57% diproduksi China pada 2016, sedangkan Jepang pesaing terdekatnya hanya memproduksi 81 juta ton. Selama 7 (tujuh) tahun (2009-2016) produksi pig iron dunia meningkat rata-rata 3,41% dan China meningkat sekitar 3,44% per tahun (Tabel 2). Adapun jumlah poduksi baja kasar dunia sebesar 1,600 miliar ton, di antaranya sebesar 800 juta ton atau 50,0% diproduksi China. Sedangkan Jepang hanya memproduksi 105 juta ton untuk 2016. Selama 7 (tujuh) tahun (2009-2016) produksi baja kasar dunia meningkat sekitar 3,72% dan China meningkat sekitar 6,05%

Kondisi Saat Ini

Harga bijih besi mengalami fluktuasi sepanjang tahun, berdasarkan gambar dibawah harga bijih besi mencapai titik terendah saat 2015. Hal ini terjadi karena oversupply baja sehingga menurunkan harga baja dunia. Namun trend 2021 menunjukan stagnansi karena di 3 tahun sebelumnya terjadi pertumbuhan demand iron ore yan tinggi. Stagnansi dipengaruhi oleh wabah Covid 19 sehingga banyak negara yang menerapkan lockdown.

Iron Ore Price Forecast

Harga kargo bijih besi dengan kandungan besi 63,5% untuk pengiriman ke Tianjin mendekati level tertinggi sembilan tahun di $ 175 per ton di tengah permintaan yang terus kuat dari China dan keraguan yang terus-menerus tentang pengiriman Brasil. Vale, produsen top dunia, telah berjuang untuk kembali ke produksi penuh karena menghadapi kendala hukum dan pandemi. Menambah bias sentimen bullish adalah prospek pemulihan ekonomi global yang kuat karena dorongan vaksinasi meningkat, yang, pada gilirannya, akan semakin mendorong permintaan bahan pembuatan baja.

Pertumbuhan kebutuhan baja Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, walaupun dibanding negara ASEAN lainnya konsumsi baja Indonesia (per kapita) masih yang terendah. Konsumsi baja Indonesia 13,6 juta ton (2017) naik sekitar 22.5 % per tahun, tidak linear dengan produksi baja nasional yang hanya sekitar 5.2 juta ton (2017) walaupun dibanding lima tahun sebelumnya produksi baja nasional naik sekitar 65% per tahun. Namun masih kalah jauh, misalnya dengan Vietnam dengan konsumsi baja 21.6 juta ton (2017) dan produksi bajanya mencapai 11.5 juta ton (2017) dengan kenaikan 150% setahun.

Gap antara konsumsi baja dengan produksi nasional cukup besar, dan gap ini diisi oleh produk impor dari China (sekitar 55% dari kebutuhan nasional). Sementara itu utilisasi kapasitas produksi baja nasional hanya sekitar 48%, sehingga banyak industri baja domestik yang menganggur karena produknya tidak terserap pasar. Selain karena gempuran baja impor, pertumbuhan industri baja kita juga terhalang oleh kesulitan mendapatkan bahan baku besi baja bekas impor yang dikatagorikan sebagai limbah B3 sementara bijih besi lokal diekspor, mahalnya energi primer yang digunakan, dan masih rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kebutuhan Baja

Global Steel Demand Supply

Sejak 1950, produksi baja mentah telah tumbuh 3,4% per tahun dari 188 juta ton menjadi 1,62 miliar ton pada 2015. Sektor ini mengalami pertumbuhan yang kuat dari 1950 hingga 1975; stagnasi dari tahun 1975 hingga 2000; dan ekspansi astronomis yang dipimpin oleh pertumbuhan permintaan yang kuat di China dari tahun 2000 hingga 2014. Diperkirakan industri baja global akan memasuki tahap pertumbuhan permintaan yang stagnan untuk 10-15 tahun mendatang. Alasan yang mendorong pandangan ini: 

  1. Permintaan dan produksi baja China mungkin telah mencapai puncaknya dan kemungkinan akan stabil atau menurun di tahun-tahun mendatang; 
  2. Tidak akan ada gangguan ekonomi yang menahan perlambatan di China; dan 
  3. Industri besar konsumen baja juga menghadapi masalah kelebihan kapasitas atau diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang lebih rendah. 

Dalam waktu dekat, Asosiasi Baja Dunia (WSA) memperkirakan bahwa konsumsi baja jadi global pada 2016 kemungkinan akan mencapai 1,49 miliar ton, turun 0,8% dari 2015, di atas penurunan 3% tahun lalu dari 2014. Alasan utama untuk perkiraan bearish adalah kontraksi 4% dalam konsumsi Cina.

China's steel consumption and intensity to GDP

Permasalahan yang Mulai Timbul

Saat ini produk baja impor China berkuasa di Indonesia. Besarnya importasi baja relatif dapat dipahami apabila memang terjadi kompetisi harga yang sehat antara produksi nasional dengan impor, namun pada kenyataannya terjadi persaingan yang tidak fair. Antara lain, baja impor mendapat keringanan pajak (tax rebate) dari negaranya karena untuk ekspor, sementara untuk bea masuk ke Indonesia, sebagai negara ASEAN, tidak ada hambatan dari sisi fiskal berkat adanya perjanjian China ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA).

Situasi perbajaan Indonesia bertambah buruk lagi karena adanya importasi baja dengan pengalihan nomor HS (HS Code) demi mendapatkan pembayaran bea masuk nol dengan cara mengubah unsur material produksinya, misalnya menambahkan senyawa Boron/Borax. Sehingga besi baja karbon menjadi besi alloy yang bebas bea masuk.

Kedua, masalah importasi baja dan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) yang diterapkan di Pulau Batam. Untuk menciptakan iklim kompetisi yang fair, pemerintah telah menetapkan BMAD atas produk baja hot rolled plate (HRP) dari Singapura, RRC, dan Ukraina. Namun demikian ketentuan tersebut tidak berlaku di Free Trade Zone (FTZ) Pulau Batam karena sesuai dengan PP No 10 Tahun 2012, FTZ tidak dikenakan bea masuk. Hal ini sangat memperberat kompetisi dengan baja nasional karena Pulau Batam merupakan wilayah dengan konsumsi HRP yang besar.

Ketiga, munculnya Peraturan Pemerintah No 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) menambah persoalan di industri baja nasional, sehingga daya saing produk Indonesia rendah. Pelarangan masuknya limbah baja impor (slack dan slab) ke Indonesia membuat kesempatan industri baja nasional untuk memperoleh bahan baku recycled yang murah menjadi hilang. Demikian pula dengan limbah baja lokal. Sementara di negara lain, limbah baja tidak masuk dalam katagori B3.

Keempat, untuk melindungi industri baja nasional, pemerintah mewajibkan importir baja harus memiliki Sertifikat SNI, namun kebijakan ini kurang efektif karena di lapangan mudah sekali importir memperoleh SNI melalui Lembaga Sertifikasi (LS)-Pro. Selain itu ada juga kecurangan lain yang dilakukan oleh importir dalam penggunaan Angka Pengenal Importir Produsen (API-P), namun nyatanya baja impor tidak digunakan untuk bahan produksi baja, tetapi diperdagangkan langsung di pasar. Kebijakan ini bukannya melindungi industri baja nasional, melainkan justru menghalangi perkembangan industri, misalnya dihapusnya pertimbangan teknis atas impor baja oleh API-P.

Baja impor dikenakan persyaratan atau kewajiban yang sama dengan baja dalam negeri, yaitu wajib untuk mendapatkan Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia (SPPT-SNI). Namun pada kenyataannya, SPPT-SNI importir dapat diperoleh begitu mudah melalui LS-Pro, bahkan lebih mudah dari produk domestik. Sementara untuk mendapatkan sertifikat sebagai LS-Pro dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) juga tidak terlampau sulit. Sehingga, hal yang semula ditujukan sebagai non fiscal barrier importasi baja, tidak signifikan berpengaruh terhadap pengendalian importasi baja ke pasar dalam negeri. Terdapat 57 SNI yang terkait dengan baja, 13 di antaranya merupakan SNI yang diberlakukan secara wajib.

Sementara dari sisi produksi baja nasional juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain harga bahan baku yang mahal, harga energi yang mahal, besarnya idle capacity, teknologi yang kurang efisien dan sebagainya yang pada akhirnya mengakibatkan ongkos produksi yang mahal. Akibatnya harga jual besi baja domestik menjadi mahal, sulit berkompetisi dan tidak dapat melakukan investasi.

Rendahnya konsumsi baja per kapita di Indonesia menunjukkan bahwa pada dasarnya produksi baja nasional masih sangat rendah dibanding negara lain. Industri baja sebagai industri dasar ,terlalu penting untuk diabaikan karena perannya yang sangat besar di dalam mendukung perekonomian negara. Sudah selayaknya pemerintah menetapkan kebijakan untuk mendukung perkembangan industri baja nasional tanpa merugikan industri hilirnya dan menguntungkan perekonomian nasional.

Bagaimanakah Langkah Tepat Kedepannya?

Berbagai permasalahan dari tingkat hulu yang timbul berdampak besar sampai pada tingkat hilir, yang membuat impor baja dari China semakin bertumbuh subur di Indonesia. Hal ini membuat pemerintah harus turut ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Presiden Joko Widodo dalam rapatnya dengan para menteri mengungkapkan dalam bahasannya, ada beberapa hal yang kemudian diputuskan sebagai solusi atau langkah pasti untuk menyelesaikan permasalahan industri baja nasional. 

Dikutip dari situs berita finance.detik.com dalam artikel "Biang Keladi Baja RI Kalah Saing dari Produk China", Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengungkapkan "Jadi tadi, sudah diputuskan yang pertama prinsipnya adalah bagaimana kita pemerintah hadir dalam rangka membina dan membantu industri baja nasional. Baik itu industri baja yang dimiliki oleh pemerintah (BUMN) atau industri baja lainnya yang dimiliki oleh swasta,". Hal ini berkaitan dengan meningkatnya impor bahan baku sebagai kebutuhan hilirisasi industri baja. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang juga mengatakan, perlu adanya peningkatan utilisasi dari pabrik-pabrik dan industri baja nasional. Hal ini dilakukan agar dapat memenuhi atau mensuplai kebutuhan bahan baku dari industri hilir baja.

Di Indonesia sendiri, selama ini utilisasi pabrik besi dan baja nasional hanya berkisar sebesar 50 persen. Hal itu terjadi karena perusahaan besi dan baja nasional yang tidak mampu bersaing dari sisi harga dengan produk impor. Selain hal itu, kualitas yang dimiliki oleh baja nasional juga tidak bisa bersaing dengan baja buatan impor. 

Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah berencana akan mendorong industri besi dan baja nasional baik dari BUMN ataupun swasta agar dapat meningkatkan teknologinya. Perlu adanya political will dari para industri untuk membenahi permasalahan yang berkaitan dengan teknologi yang digunakan dalam industri baja. 

Menurut data BPS tahun 2019, total nilai impor besi dan baja sepanjang 2019 lalu adalah sebesar US$ 10.39 miliar. Angka ini tumbuh sebesar 1.42 persen secara tahunan dan menyumbang presentase sebesar 6.98 persen dari total impor. Hal ini membuat impor produk besi dan baja menjadi peringkat kedua dari produk impor terbesar yang masuk ke Indonesia. Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan kalau impor baja merupakan salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan di Indonesia. Pemerintah berencana untuk mendorong kebijakan yang berkaitan dengan BMAD (Bea Masuk Anti Dumping) dan juga melakukan penerapan SNI dengan benar. 

Pada dasarnya industri nasional itu bisa saja mensuplai sampai ke 70 persen dari kebutuhan dalam negeri, kalau saja industri baja nasional dapat meningkatkan kapasitasnya. Selama ini baru 40 persen saja kebutuhan baja dapat dipenuhi, sedangkan 30 persen sisanya masih belum bisa di produksi. Belum adanya pabrikan di dalam negeri yang dapat mensuplai. Impor baja yang dilakukan selama ini sebenarnya bertujuan untuk menahan agar pasokan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi dalam porsi yang maksimal.

Model Bisnis yang Tepat

Berdasarkan permasalahan yang muncul diatas, untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya model bisnis yang tepat untuk digunakan dalam industri baja nasional. Dengan menentukan model bisnis yang tepat, maka akan mendatangan keuntungan yang lebih besar bagi suatu bisnis. Adanya beberapa manfaat yang didapatkan dari memilih model bisnis yang tepat. 

Pertama, suatu bisnis dapat lebih unggul dari kompetitornya. Dalam hal ini, suatu model bisnis yang tepat dapat memberikan kekuatan tersendiri bagi suatu usaha dalam bersaing. Terlebih jika produk yang kita hasilkan memiliki kualitas dan keunikan tersendiri yang menarik atau berbeda. 

Kedua, dapat menarik perhatian dari investor. Suatu model bisnis yang bagus, akan menarik perhatian investor untuk dapat menanamkan modalnya atau memberikan pendanaan terhadap suatu bisnis. Jika suatu model bisnis dilihat dapat memberikan keuntungan yang banyak, maka akan membuat investor tidak ragu untuk menanamkan modalnya. 

Ketiga, manajemen keuangan yang menjadi teratur. Dalam suatu model bisnis tertentu, suatu perusahaan dapat membuat anggaran yang tepat mengenai proses produksi, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, dan lainnya. Oleh karena itu, suatu bisnis atau usaha dapat lebih baik dalam mengatur keuangannya. 

Dalam hal ini melakukan model bisnis secara kerjasama (partnership) adalah langkah yang dirasa cukup tepat untuk mengatasi permasalahan impor baja yang ada. 

Berdasarkan buku Ferrel "Business : A Changing World", edisi ke-12 tahun 2020. Model bisnis secara partnership atau melakukan kerjasama secara bermitra, dapat dilakukan untuk meminimalisir kekurangan dari bentuk kepemilikan bisnis secara sole proprietorship (perseorangan). Dalam mencari keuntungan, partnership atau bermitra adalah dengan melakukan asosiasi dari dua atau lebih orang untuk menjadi co-owners dari suatu bisnis.

1. Menjaga pembagian keuntungan yang adil berdasarkan kontribusi

2. Mitra harus memiliki keahlian atau kontribusi sumber daya yang berbeda

3. Diperlukan etika dan kepatuhan

4. Harus memelihara keterampilan komunikasi yang efektif

5. Menjaga transparansi dengan pemangku kepentingan

6. Harus realistis dalam pengelolaan sumber daya dan keuangan

7. Pengalaman sebelumnya yang berhubungan dengan bisnis sangat membantu

8. Menjaga keseimbangan hidup dalam waktu yang dihabiskan untuk bisnis

9. Fokus pada kepuasan pelanggan dan kualitas produk

10. Menjaga sumber daya sejalan dengan penjualan dan ekspektasi pertumbuhan serta perencanaan

Beberapa kelebihan dari melakukan partnership atau bermitra adalah adanya kemudahan organisasi, ketersediaan modal dan kredit, pengetahuan dan keterampilan gabungan, pengambilan keputusan, serta pengaturan reguulasi. 



Kerjasama Antara Swasta dan Pemerintah

Sebagai salah satu langkah awal untuk memajukan industri baja pada tingkat hulu di Indonesia adalah dengan adanya kerjasama atau kolaborasi dalam membangun kemandirian industri baja nasional. Kolaborasi yang diharapkan adalah antara pihak pemerintah dan pihak pengusaha di dalam industri baja. 

Dalam hal ini, pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam hal pengaturan regulasi hingga melakukan peningkatan inovasi pada teknologi industri baja agar lebih efisien. Ditengah pandemi seperti ini, pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi untuk kemudahan operasional industri baja nasional. Pertama, adanya regulasi impor baja berdasar supply-demand. Kedua, dalam rangka menekan biaya produksi, pemerintah memfasilitasi harga gas bumi bagi sektor industri sebesar 6 Dolar Amerika/MMBtu. Ketiga adanya izin Operasional Mobilitas dan Kegiatan Industri (IOMKI) yang memberikan jaminan bagi industri agar tetap dapat beropasi dengan protokol kesehatan ketat sesuai dengan yang diarakan oleh pemerintah. 

Dalam rangka untuk meningkatkan kinerja industri baja, pemerintah juga terus mengupayakan adanya peningkatan demand di pasar domestik. Salah satu langkah yang dapat dilakukan pada proyeksi strategis nasional atau kontruksi nasional yang sedang dikerjakan oleh pemerintah, diharapkan dapat menggunakan bahan baku baja dalam negeri. Sebesar 51 persen produksi baja dalam negeri, telah diserap untuk kegiatan kontruksi. Dengan demikian, perlu adanya peningkatan utilitas pabrik-pabrik baja dalam negeri. Dalam hal ini, pemerintah diharapkan dapat membantu penyediaan teknologi yang efisien dalam industri baja untuk proses produksi baja nasional. 

Kerjasama juga dilakukan oleh Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Adanya program substitusi impor melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian. Hal tersebut dipercaya dapat mendorong daya saing industri logam di dalam negeri serta adanya perlindungan pasar domestik dari produk impor. Dalam upaya untuk mengembangkan dan menerapkan SNI, telah dilakukannya kerjasama antara asosiasi dan pemerintah.  Hal ini dikhususkan untuk melindungi keselamatan pemakai produk baja, menciptakan kondisi bisnis yang adil bagi pelaku industri, melindungi industri nasional dari impor produk baja, serta mendukung daya saing industri baja nasional dalam rangka pemenuhan kebutuhan di pasar domestik maupun internasional.


Kolaborasi antara PT KAI dan Krakatau Bandar Samudera

Kolaborasi lainnya yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) dan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) juga dirasa akan semakin memperkuat industri baja nasional. Hal ini dirasa cukup baik karena akan membuat logistik menjadi lebih efektif. 

Jika kerjasama ini terealisasikan, maka akan dapat mengurangi beban biaya yang dikeluarkan melalui jalan darat atau tol. Hal ini dapat memangkas biaya logistik, sehingga harga dari produk baja PT Krakatau Steel Tbk juga akan lebih bersaing dengan produk baja impor. Dengan kualitas dan harga yang murah, hal ini menjadikan produk baja PT Krakatau Steel Tbk menjadi pilihan utama yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan baja dalam negeri. 

Best Practice

Pada tahun 2017, GO-JEK dan Blue Bird melakukan kolaborasi bersama. Kerjasama GO-JEK dan Blue Bird diapresiasi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Menteri Budi meyakini dalam kasus permasalahan transportasi online dan transportasi konvensional, model kolaborasi seperti yang dilakukan kedua perusahaan dapat menjawab kebutuhan masyarakat. 

Menteri Budi mengatakan kerjasama tersebut dapat memberikan keuntungan yang besar bagi kedua perusahaan tersebut. Ia juga berharap kerja sama tersebut dapat menghilangkan dikotomi antara transportasi online dan transportasi konvensional. Menurutnya, semua moda transportasi yang ada harus membawa manfaat bagi semua pihak. Dengan cara ini, masyarakat kedepannya juga akan mendapat manfaat dari ketersediaan layanan transportasi. Terkait permasalahan yang muncul, Menteri Budi mengatakan akan mengupayakan win-win solution. Ia menegaskan, semua aspirasi yang muncul akan didengarkan oleh pemerintah agar dapat diambil jalan tengah terbaiknya.

Bluebird akan mendapat keuntungan karena bisa menarik lebih banyak penumpang. Mereka juga mendapat keuntungan karena rencana yang mereka gunakan masih bisa memberikan penghasilan dengan tarif normal. Bagi GO-JEK, keunggulannya adalah bertambahnya armada yang dapat digunakan melalui layanan GO-CAR.

Artikel ini ditulis oleh :

- Deasy Rike Rahmawati

- Ramadhian Ekaputra

(Money Magnet)

Reference

Ferrell, O. C., Hirt, G. A., & Ferrell, L. (2020). Business: A Changing World. Twelfth Edition. New York: McGraw-Hill Education

Kemenperin (2010). Profil Industri Baja

Suherman, Ijang & Saleh, Ridwan (2018). Analisis Ratai Nilai Baja di Indonesia. Bandung: Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara

Prasetyo, P. Eko (2010) Struktur dan Kinerja Industri Besi dan Baja Indonesia Tidak Sekuat dan Sekokoh Namanya. Semarang: FE Unnes

Lee, Eun Young & Dai, Addison (2016). Oversupply in the Globa Steel Sector: Challenges and Opportunities

https://finance.detik.com/industri/d-4896183/biang-keladi-baja-ri-kalah-saing-dari-produk-china

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200212144930-92-473954/menperin-akui-baja-ri-kalah-kualitas-dibanding-produk-impor

https://glints.com/id/lowongan/business-model/

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4357094/strategi-pemerintah-bangkitkan-industri-baja-di-tengah-pandemi-covid-19

https://ekbis.sindonews.com/read/351036/34/kolaborasi-pt-kai-dan-krakatau-bandar-samudera-bisa-bikin-industri-baja-mengeras-1614611027?utm_source=newsstand&utm_medium=aggregator&utm_campaign=content_aggregator

https://www.tribunnews.com/bisnis/2017/03/30/menhub-kolaborasi-go-jek-dan-blue-bird-jadi-contoh-kerjasama-perusahaan-lain

https://news.detik.com/kolom/d-4819774/persoalan-berat-industri-baja-nasional


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format