Serbuan Produk Impor Alas Kaki dari China Membuat Industri Lokal Cemas

Industri alas kaki termasuk salah satu sektor manufaktur yang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian lokal.


0

LANDSKAP INDUSTRI SEPATU INDONESIA

Industri alas kaki termasuk salah satu sektor manufaktur yang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian lokal. Hal itu terlihat dari berkembangnya unit usaha industri barang yang terbuat dari kulit. Salah satunya adalah produk sepatu yang naik secara signifikan pada tahun 2018 yang mencapai 9,42% setelah tahun sebelumnya hanya sekitar 2,22%. Pencapaian tersebut tentunya meningkatkan perekonomian lokal yang melampaui pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebesar 5,17%. Selain itu, produk sepatu juga mengalami kenaikan dalam kegiatan ekspor mencapai 4,13% sebesar USD4,91 miliar di tahun 2017 menjadi USD5,11 di tahun 2018. Secara historis, angka ekspor industri sepatu naik 2 digit setiap delapan tahun sekali.

Gambar 1. Grafik Produsen Sepatu Terbesar di Dunia (sumber: Goodnewsfromindonesia.id)

Industri alas kaki lokal semakin menunjukkan eksistensinya hingga menembus pasar global. Indonesia menduduki 4 besar produsen sepatu terbesar di dunia dibawah RRT, India, dan Vietnam. Industri alas kaki di Indonesia ikut andil dalam 4,6% dari total produksi alas kaki di dunia dan mampu memproduksi 1,2 miliar pasang sepatu di tahun 2019. Diketahui, Indonesia mampu menghasilkan 1 miliar pasang sepatu setiap tahun nya.Pada tahun 2019 ada 18.687 unit usaha industri sepatu di Indonesia. Diantaranya ada unit usaha dengan jumlah 18.091 dalam skala kecil, unit usaha dengan jumlah 441 dalam skala menengah, dan 155 unit usaha skala besar. Dan dari seluruh unit usaha tersebut mampu menampung 795.000 orang tenaga kerja.

Perdagangan bebas antara ASEAN dan RRT diberlakukan sejak adanya CAFTA (China ASEAN Free Trade Area) pada Januari 2010. Hal itu memberikan peluang yang besar bagi industri lokal di China untuk berekspansi ke negara ASEAN. Hal itu tentunya memberikan dampak bagi negara anggota ASEAN, khususnya Indonesia. CAFTA membuat produk impor dari RRT sangat mudah untuk masuk ke pasar domestik. Apalagi ditambah dengan biaya masuk 0% yang membuat RRT semakin memiliki kesempatan untuk ekspansi secara besar-besaran produk lokal nya bahkan hampir menguasai pasar Indonesia.

Serbuan produk impor dari china tersebut tentunya memberikan ancaman dan dampak negatif yang dirasakan oleh produsen sepatu lokal. Maraknya produk luar negeri khususnya yang berasal dari RRT yang beredar di dalam negeri memberi tekanan terhadap pasar lokal Indonesia. Produk china dianggap jauh lebih murah dan lebih baik dari segi kualitas dibandingkan dengan produk lokal. Hal ini membuat para pelaku usaha di dalam negeri termasuk produsen sepatu lokal mengalami kekhawatiran. 

Produk lokal cenderung lebih mahal dikarenakan bahan bakunya. Diketahui mahalnya bahan baku dikarenakan 60% dari bahan baku pembuatannya harus di impor seperti kulit sintetis, karet, dan plastik. Kementerian Perindustrian menyatakan jika bahan baku sepatu yang terbuat dari kulit memang mahal. Namun China bisa mematok harga lebih murah daripada produk lokal karena China mendapatkan pemasok bahan baku dari berbagai negara seperti Pakistan dan Timur Tengah. Walaupun harga bahan baku nya mahal namun nilai ekspor sepatu semakin meningkat karena tingginya permintaan sepatu olahraga. Harga jual untuk ekspor dinilai 5 kali lebih mahal dibandingkan dengan yang dijual di dalam negeri dan tentunya dijaminkan dengan kualitas yang bagus.

Di lain sisi, adanya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) memberikan dampak yang baik bagi Indonesia khususnya produsen alas kaki lokal. Dengan terbukanya pasar global, diharapkan dapat memberikan peluang yang lebih besar kepada produsen lokal supaya semakin terpacu untuk dapat bersaing dengan produk luar. Terutama industri produksi sepatu lokal dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik. Dengan terbukanya pasar Internasional maka akan berdampak pada penambahan devisa negara yang semakin meningkat pula. Selain itu, kesempatan kerja pun akan semakin terbuka lebar.

IMPOR SEPATU INDONESIA

Indonesia berada di peringkat 5 besar dunia, pada jajaran negara pengekspor alas kaki. Hal ini dapat terjadi dikarenakan sepatu-sepatu hasil pabrik Indonesia terbukti memiliki export quality, sehingga investor-investor asing mempercayai Indonesia sebagai produsen brand sepatu mereka. Karena sebagian produksi sepatu Indonesia diekspor, untuk memenuhi permintaan pasar sepatu domestik, Indonesia melakukan impor. 

Gambar 2. Grafik Perkembangan Nilai Impor Sepatu Indonesia (sumber: WITS World Bank, grafik buatan penulis)

Grafik di atas menunjukkan data impor sepatu berdasarkan daerah asal, dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018. Menurut data dari WITS World Bank, pada produk footwear, 5 negara dengan jumlah pengeksporan terbanyak ke Indonesia berasal dari negara RRT, dan disusul oleh Vietnam. Bukan dari data World atau East & Asia Pacific dikarenakan kategori negara tersebut terdiri dari banyak negara.

Gambar 3. Negara dengan Import Share Terbesar di Indonesia (sumber: WITS World Bank)

Sebagai gambaran tentang pasar penggunaan sepatu di Indonesia, mengutip pernyataan dari Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) pada bulan November 2020, volume alas kaki yang diimpor dalam satu tahun dengan tujuan untuk memenuhi pasar domestik berjumlah 113,8 juta pasang atau 14% dari total 801 juta pasang permintaan per tahunnya. Dari 14% tersebut, apabila kita mengacu kepada pada data tahun 2018, dengan asumsi bahwa impor sepatu Indonesia masih memiliki perilaku yang sama, maka 50%-nya adalah berasal dari RRT.

Lalu, bagaimanakah para pengusaha lokal Indonesia di bidang alas kaki harus memandang hal tersebut? Gambar di bawah merupakan pandangan penulis mengenai sepatu-sepatu yang diimpor dari RRT.

Gambar 4. Jenis-Jenis Sepatu yang Diimpor dari RRT (China) (Sumber: Milik Penulis)

Sepatu yang diimpor dari RRT dapat dikategorikan dalam beberapa 4 jenis;

1. Produk Original, Branded

Produk dengan merk ternama seperti Adidas, Nike, Underarmour, dst. memiliki juga sebagian produk yang Made-in-China. Lalu apakah barang-barang tersebut palsu atau memiliki kualitas yang buruk? Tidak. Barang-barang tersebut diproduksi dari pabrik yang memang diinvestasi oleh merk-merk di atas karena memiliki kualitas ekspor. Negara RRT, dengan labor costs yang rendah, lalu biaya raw materials yang sangat kompetitif, dapat menekan biaya produksi. Tentu dengan sukacita perusahaan-perusahaan ternama memberikan investasi di sana. 

Menurut penulis, produk-produk ini berada di segmen pasar yang berbeda dengan sepatu lokal Indonesia, dari segi kekuatan merk, ada jarak yang signifikan untuk dikejar dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk produk lokal menyamai produk-produk tersebut. Sehingga pada harga yang relatif mahal, mayoritas konsumen akan lebih condong kepada merk luar daripada merk lokal, walaupun penulis mengetahui juga bahwa ada sepatu merk lokal yang mampu bersaing dengan merk luar. 

2. Produk Original, non-branded

Dari begitu banyak merk sepatu luar yang masuk ke Indonesia, belum ada merk asli RRT yang mampu menjadi preferensi masyarakat Indonesia. Kebanyakan produk asli RRT yang mampu menembus pasar internasional adalah sepatu untuk olahraga. Contoh merk-nya, Peak (sepatu basket dengan ambassador pebasket NBA, Dwayne Wade), Anta (bersama pebasket NBA, Klay Thompson), Li-ning (olahraga badminton). Di Indonesia, merk lokal seperti Fladeo, PVRA, Yongki Komaladi, untuk alas kaki wanita, serta Brodo, Piero, League untuk alas kaki pria, merk-merk tersebut masih lebih diminati ketimbang produk brand asli RRT.

3. Produk KW, Branded

Menurut salah satu artikel yang dirilis oleh Daxue Consulting pada bulan Juni 2020, perusahaan-perusahaan di dunia mengalami kerugian sebesar 323 miliar dollar US. Jika melihat dari grafik di bawah, RRT sendiri memiliki andil sebesar lebih dari 50% sebagai asal produk-produk tiruan yang ada di dunia. Bahkan karena begitu banyaknya produk tiruan, ada perusahaan start-up di RRT yang menawarkan mobile apps untuk melakukan klasifikasi apakah barang yang di-input merupakan barang otentik atau tiruan. 

Alasan yang pertama mengapa sepatu merk tiruan menjadi lawan yang tangguh untuk pengusaha sepatu lokal di Indonesia disebabkan karena cocoknya harga sepatu tersebut dengan daya beli masyarakat. Dari harga-harga yang dipatok oleh sepatu-sepatu brand lokal, penulis menyimpulkan bahwa cukup sulit untuk masyarakat Indonesia memberikan komitmen lebih dari 800.000-1.000.000 rupiah untuk sekadar membeli alas kaki. Sepatu, seperti sneakers, selop, dengan harga tersebut dapat dikategorikan sebagai luxury goods yang artinya memang ditargetkan untuk konsumen yang mampu untuk membelinya. Sehingga dengan adanya produk tiruan, konsumen yang sebelumnya tidak masuk dalam pasar luxury goods, menjadi memiliki kesempatan untuk “menyicipi” produk-produk tersebut.

Alasan kedua, seperti yang sudah penulis paparkan di poin pertama, RRT merupakan negara yang menjadi tempat produksi dari berbagai merk luxury goods. Ternyata, ada efek sampingnya yaitu pabrik di RRT mendapatkan kemampuan membuat tiruan dari berbagai merk luxury goods juga. Produk-produk ini, saat sampai ke Indonesia, memiliki harga yang kompetitif, mirip dengan barang asli dan kualitasnya tidak jelek. 

Selain itu, cara penjualan produk tiruan semakin kreatif. Barang tiruan memiliki “grade”, seperti “replika”, “grade ori”, “KW super”. Secara umum, barang-barang tersebut memiliki desain yang mirip dengan barang original, namun dengan sedikit tweak pada bahan-bahannya, biasanya menggunakan bahan berbeda yang lebih murah. Walaupun sama-sama barang tiruan, dengan memberikan grade, saat konsumen membeli barang tiruan “grade” tinggi, konsumen tersebut akan mendapatkan cukup kepuasan yang lebih dari membeli “grade” rendah, dan penambahan kepuasan tersebut dapat dicapai dengan harga di bawah barang otentik.

Karena tipe sepatu impor jenis ini yang akan menjadi tantangan untuk pengusaha sepatu lokal di Indonesia, maka pembahasan pada artikel kali ini akan fokus kepada membangun model bisnis sepatu lokal yang dapat bersaing dengan sepatu impor tiruan yang datang dari negeri RRT.

4. Produk KW, Non-branded

Persaingan dengan model sepatu ini mungkin akan dirasakan lebih banyak oleh penjual sepatu grosiran, dikarenakan harga yang sangat murah. Sedikit persaingan soal merk atau kualitas, serta pasarnya lebih ditujukan untuk masyarakat dengan sosial ekonomi menengah ke bawah. Karena pasarnya yang terlalu volatile, penulis tidak menyarankan untuk membangun bisnis di segi pasar ini. Selain itu, jika mengingat kembali dari pernyataan Direktur Eksekutif Aprisindo, 14% dari sepatu impor yang masuk di pasar domestik Indonesia, sebagian besar sudah masuk di produk authentic branded, atau KW yang branded.

MEMBANGUN RENCANA BISNIS SEPATU DI INDONESIA

Berdasarkan dengan penjelasan di bagian artikel sebelumnya, disimpulkan bahwa untuk pengusaha yang memiliki aspirasi membangun bisnis di bidang sepatu lokal Indonesia, kompetisi terberat akan muncul dari sepatu KW impor yang memiliki harga kompetitif. Membangun brand image yang kuat serta kualitas sepatu premium, dengan memperhatikan harga menjadi poin-poin utama untuk sukses di industri alas kaki lokal.

Disclaimer: Framework yang digunakan penulis untuk menulis poin-poin business model selanjutnya, mengacu pada buku “Business: A Changing World, Appendix A” yang ditulis oleh O.C.Ferrell, Geoffrey Hirt, dan Linda Ferrell. 

BUSINESS DESCRIPTION

Tipe sepatu yang ingin diajukan oleh penulis adalah sepatu casual running, yang dapat digunakan konsumen untuk jogging di pagi hari, olahraga di pusat kebugaran, atau untuk home workout (olahraga di rumah). Semenjak pandemi Covid-19, menurut riset yang dilakukan di Mainland China (bagian dari RRT, namun tidak memasukkan Macau dan Hongkong) dan melibatkan 1033 responden, diamati bahwa ada perubahan dalam gaya hidup. Riset menemukan bahwa masyarakat di sana menjadi lebih aware terhadap kebersihan, lebih rajin olahraga, namun lebih banyak memandang layar gadget (disebabkan karena social distancing dan lockdown). 

Gambar . Lima Tren Olahraga yang Banyak Dilakukan Pada Saat Pandemi (sumber: merdeka.com)

Setelah 1 tahun masuknya virus Covid-19 ke Indonesia, dapat diperkirakan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengadopsi kebiasaan baru dalam berolahraga. Olahraga seperti basket, futsal, sepak bola, gym yang notabene adalah olahraga yang biasanya membutuhkan kontak fisik yang dekat mengalami penurunan drastis karena ketakutan masyarakat dengan resiko kontak dengan virus Covid-19. 

Minat pasar Indonesia terhadap sepatu kian meningkat, hal ini sejalan dengan data di awal artikel. Hal ini ditambah dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk hidup sehat, serta penurunan aktivitas olahraga yang biasanya ramai diminati, menjadi kesempatan tersendiri untuk sepatu lari. Hal ini dibuktikan juga dengan salah satu merk sepatu lari asal amerika yang sedang naik daun, yaitu HOKA ONE. Di saat pasar industri alas kaki turun drastis di tahun 2020, pada Q3 dan Q4 tahun 2020, HOKA mampu mencatatkan growth lebih dari 50%. 

Misi dari brand sepatu yang dikembangkan, adalah menjadi sepatu yang menjadi kepercayaan konsumen untuk membantu menuju tujuan sehatnya dan menjadi bagian dari cerita konsumen. Misi itu akan dicapai dengan value proposition seperti produk yang autentik dan berkualitas. Untuk mencapai hal itu, maka dibutuhkan riset yang kuat mengenai sepatu yang nyaman untuk berolahraga dengan santai. Dari segi desain, sepatu-sepatu merk besar tiap tahun melakukan inovasi demi inovasi pada tiap product line, namun hal itu didasari oleh keinginan pasar dan komitmen pada inovasi di bidang olahraga. Pada tahap awal brand ini dibuat, inovasi tidak menjadi concern utama, melainkan komitmen untuk membuat sepatu yang berkualitas serta membangun brand image yang sejalan dengan misi perusahaan.

Bisnis sepatu yang akan dibuat, sebaiknya dibentuk melalui partnership, yaitu usaha yang dimiliki oleh lebih dari satu orang. Penulis mempertimbangkan beberapa hal, yang pertama adalah kemudahan membentuk bisnisnya, lebih lengang dalam perizinan, dan lebih fleksibel dalam berinovasi. Usaha perseorangan sebenarnya merupakan opsi yang dapat dilakukan, namun saat bisnis dijalankan dengan sendiri, maka ada banyak keterbatasan atau resiko yang dapat terjadi. Seperti saat pemilik sakit, atau pemilik tidak memiliki kemampuan bisnis yang memadai, bisnis menjadi rentan untuk berhenti. Di lain pihak, membentuk bisnis dalam bentuk partnership mengurangi resiko-resiko tersebut ditambah dengan lebih banyak sumber modal dan sumber ide, para founder juga dapat memberikan backup satu sama lain. Seperti salah satu cerita dari perusahaan start-up Airbnb, dalam buku “The Story of Airbnb”, investor melihat selain dari ide bisnis dan pemrograman yang robust, juga melihat dari hubungan antar founder-nya, Joe Gebbia dan Brian Chesky. Investor Airbnb menjadi lebih percaya karena ada hubungan yang kuat antar foundernya. Secara umum, bentuk bisnis partnership dapat mengurangi resiko dari bentuk bisnis perseorangan, dan dapat mengamplifikasi benefit-nya.

BRIEF MARKETING PLAN

Menurut riset dari Spire Research and Consulting, pasar pembeli sepatu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Kelompok Sosial Ekonomi (SE) A, dengan expense untuk satu pasang sepatu lebih dari 1 juta, lalu SE B dengan expense 600.000-999.000, dan terakhir SE C dengan pengeluaran di bawah 600.000. Target pasar yang direncanakan untuk produk ini adalah SE B dan pasar menengah ke atas SE C. Hal ini disesuaikan dengan misi dari perusahaan sendiri yaitu fokus pada fungsionalitas dan harga yang terjangkau. Selain itu, pada pasar luxury goods merupakan pasar yang sulit untuk ditembus di tahap awal bisnis, sedangkan pasar bawah SE C tidak memungkinkan untuk membuat sepatu dengan kualitas yang baik. Mengambil contoh jenis sepatu yang menjadi preferensi banyak masyarakat Indonesia, yaitu Skechers. Sepatu-sepatu Skechers memiliki range dari 400.000 sampai 1.000.000 rupiah per pasangnya, hal ini menjadi acuan penulis bahwa setidaknya untuk memproduksi sepatu yang berkualitas, ada batas minimal harga penjualannya.

Membangun sebuah brand tidak cukup hanya dengan mengandalkan kualitas. Narasi, cerita adalah sesuatu yang akan menumbuhkan ketertarikan dari konsumen. Pemasaran untuk tahap awal bisnis akan dilakukan dengan sosial media dan media online, menurut report dari McKinsey & Co. yang bertajuk The Digital Archipelago: How Online E-commerce is Driving Indonesia’s Economic Development, disebutkan bahwa pada tahun 2015-2020, diperkirakan ada 50 juta pengguna internet baru, dan tingkat penetrasi sampai 53% untuk seluruh masyarakat Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa secara kasar, 1 dari 2 orang pasti menggunakan internet, sehingga online advertisement dapat dikatakan efektif untuk memberikan awareness tentang brand sepatu ini. Lebih detail lagi, perusahaan harus memberi perhatian lebih pada visual presentation dari produk, karena adopsi iklan ini akan melalui gambar atau video. Pesan dari iklan yang dirilis, mengikuti dengan misi perusahaan, sehingga memberikan penekanan pada perjalanan sehat seseorang. Sepatu ini ada untuk menjadi teman kepercayaan konsumen dalam menuju gaya hidup yang lebih sehat, dibutuhkan tagline-tagline catchy dan berkonteks kesehatan seperti “Health Journey Partner”. Untuk mengamplifikasi pesan, gunakan ide-ide unik dalam pemasaran, sebagai contoh, selama ini sepatu lari selalu identik dengan laki-laki yang memiliki tubuh atletis, namun berani berbeda, HOKA merilis satu video promosi yang memperlihatkan seorang chef perempuan berbadan gemuk yang mempunyai rutinitas jogging. Iklan ini mempunyai pesan yang mengena untuk berbagai isu sosial dan menuju inti dari kegiatan olahraga itu sendiri, yaitu sebuah rutinitas yang bertujuan untuk menyehatkan seseorang. Untuk pasar Indonesia, perlu ada beberapa adaptasi dikarenakan perbedaan kultur, namun tetap feasible untuk dilakukan

Pengusaha juga harus memperhatikan channel penjualannya, seperti yang diketahui, produk-produk KW impor benar-benar memenuhi frontpage dari e-commerce, sehingga dibutuhkan strategi untuk berkompetisi dengan hal tersebut. Misalnya, mencantumkan link di sosial media seperti Instagram atau Facebook yang mengarah langsung masuk ke toko online, atau mengimplementasikan Search Engine Optimization, sehingga hasil pencarian pada kategori-kategori tertentu dapat memunculkan produk milik perusahaan di hasil pencarian awal atau setidaknya tidak terbenam oleh deretan iklan produk KW.

COMPETITIVE ANALYSIS

Seperti yang sudah disebutkan pada bagian awal mengenai pasar sepatu di Indonesia. Indonesia merupakan negara nomor 4 pengekspor sepatu di dunia, kualitas produksi, asalkan perusahaan dapat menemukan partner produksi yang bagus, maka akan terjamin. Kompetisi utama untuk produk sepatu pada tahap awal tentunya adalah produk-produk KW branded impor dari negara RRT, Vietnam, dan lain-lain, karena penjualan sepatu perusahaan ini akan berada di tingkat harga yang sama. Dua poin yang menjadi keunggulan produk sepatu ini dalam bersaing dengan produk-produk tersebut adalah kualitas dan keleluasaan membuat narasi. Penulis tidak membahas soal kualitas, karena hampir dapat dipastikan produk buatan lokal di Indonesia pasti sama atau lebih baik dibandingkan dengan produk impor yang KW. 

Mengenai poin berikutnya, yaitu narasi. Pengelola bisnis di Indonesia memiliki keleluasaan untuk menekankan poin-poin otentisitas, seperti ada perjuangan riset dari orang-orang di balik layar untuk menyediakan satu pasang sepatu untuk konsumennya. Sepatu lokal juga memiliki posisi brand yang lebih baik dari produk impor KW, menurut salah satu riset yang dilansir oleh jpnn.com menyatakan bahwa Gen Z mulai menjauhi barang KW. 70% responden menyatakan bahwa kekayaan intelektual merupakan hal yang penting. Walaupun sebagian masih konsumen barang KW, banyak dari responden menyatakan bahwa di masa depan mereka akan pindah untuk mengonsumsi barang asli. Sebagai buktinya, pada tahun 2019 ada masa-masa dimana sneakers lokal yang dipasarkan dengan baik menarik banyak minat dari masyarakat. Merk-merk tersebut adalah seperti Ventela, Compass, Geoff Max, dan lain-lain. 

Persaingan sekunder dari produk sepatu ini tentunya adalah produk-produk original dan branded seperti Nike, Puma, Reebok, dan lani-lain. Adalah sebuah long shot untuk bersaing dengan sepatu-sepatu tersebut, tidak hanya strategi pemasaran dan kualitas yang perlu ditingkatkan, namun juga hal-hal seperti inovasi dan brand management. 

Untuk mengakhiri, penulis meyakini bahwa amat banyak analisis yang diperlukan untuk membangun sebuah bisnis baru. Apresiasi yang tinggi untuk pegiat UMKM di Indonesia yang selama ini menemui banyak kesulitan karena gempuran produk-produk impor, terutama dari negara RRT yang memiliki value proposition yang tidak mudah untuk dikalahkan. Namun, dalam konteks produk sepatu, untuk dapat bersaing dengan direct competitor seperti produk sepatu impor KW yang berasal dari RRT, pengusaha dapat menggunakan cara-cara seperti membangun cerita di balik produk yang meyakinkan konsumen dan memilih sales channel yang jitu. 

Bonus: Cerita dari merk sepatu lokal yang berkualitas internasional, Brodo.

Credit

Artikel ini telah melalui pengecekan plagiarisme di duplichecker.com 

Abdurrahman Faiq
Kinsai Dona Ayu Nirmala
MBA 78C
Kelompok 6: Digital Taskforce

Referensi:

  1. https://news.detik.com/opini/d-1

  2. 362668/ekspansi-produk-china-memberi-tekanan-kepada-produk-lokal

  3. https://ekonomi.bisnis.com/read/20141014/257/264696/indonesia-makin-terpuruk-hadapi-china-dalam-cafta

  4. https://www.jurnal.id/id/blog/alasan-konsumen-memilih-produk-luar-negeri/

  5. https://bisnis.tempo.co/read/326426/sepatu-lokal-kalah-bersaing-dibanding-produk-cina/full&view=ok

  6. https://kemenperin.go.id/artikel/20538/Produksi-Industri-Alas-Kaki-RI-Pijak-Posisi-4-Dunia

  7. McKinsey & Company, 2020, The digital archipelago: How online commerce is driving Indonesia’s economic development.

  8. https://www.jpnn.com/news/gen-z-indonesia-mulai-jauhi-barang-kw?page=7

  9. Gallagher, Leigh. 2017. The Airbnb Story. 

  10. https://www.flokq.com/blog/id/sepatu-lokal

  11. https://www.solopos.com/awas-lakukan-olahraga-ini-di-tengah-pandemi-berisiko-tertular-covid-19-1066168

  12. https://www.merdeka.com/peristiwa/infografis-tren-olahraga-yang-banyak-dilakukan-saat-pandemi-2020.html

  13. Zhao Hu, MD, Xuhui Lin, MD, Atipatsa Chiwanda Kaminga, MD, and Huilan Xu, PhD. 2020. Impact of the COVID-19 Epidemic on Lifestyle Behaviors and Their Association With Subjective Well-Being Among the General Population in Mainland China: Cross-Sectional Study

  14. https://www.jackrabbit.com/info/blog/the-hoka-one-one-story.html

  15. https://www.tokopedia.com/blog/perbedaan-oem-kw-original/

  16. https://sneakers.co.id/15-merek-sepatu-terkenal-yang-jadi-favorit-pria-dan-wanita/

  17. https://highlight.id/merek-branded-sepatu-fashion-terkenal-dunia-favorit-kaum-muda-dewasa/3/

  18. https://www.forbes.com/sites/katiebaron/2020/06/26/hoka-one-one-the-anatomy-of-sports-fastest-growing-crisis-proof-sneaker-star/?sh=44ea085f287a

  19. https://technobusiness.id/insight/spire-insight/2020/02/20/industri-sepatu-indonesia-potensi-besar-produk-dalam-negeri/

  20. https://www.kompas.id/baca/riset/2020/02/29/ventela-dan-tantangan-popularitas-sepatu-lokal-di-indonesia/?_t=#

  21. https://indosneakerteam.com/blog/detail/175/chinese-sneakers-brand-u-should-know

  22. http://www.gbgindonesia.com/en/manufacturing/article/2017/indonesia_s_sportswear_industry_strong_growth_from_exports_and_domestic_sales_11710.php

  23. https://www.indonesia-investments.com/id/news/todays-headlines/footwear-industry-indonesia-exports-surge-domestic-sales-weak/item7088

  24. https://daxueconsulting.com/counterfeit-products-in-china/

  25. https://wits.worldbank.org/CountryProfile/en/Country/IDN/Year/2015/TradeFlow/Import/Partner/all/Product/64-67_Footwear

  26. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/01/05/indonesia-produksi-1-2-miliar-alas-kaki-inilah-10-negara-produsen-alas-kaki-terbesar


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format