Serbuan suku cadang dan komponen mobil dari China: Mobil Esemka akankah bertahan?


0

Hubungan dagang Indonesia-China telah berkembang pesat sejak tahun 2010, terutama sejak diimplementasikannya ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area). Pola perdagangan didominasi dengan ekspor primary products oleh Indonesia ke China (kebanyakan produk sumber daya alam dan bahan baku industri) dan impor produk manufaktur dari China ke Indonesia. Pola ini menggambarkan comparative advantage jangka pendek yang baik untuk kedua negara (Booth 2011). Namun dalam jangka waktu panjang, fenomena ini dapat menimbulkan polemik bagi Indonesia karena produk ekspor nasional kurang memiliki nilai tambah yang cukup untuk dapat berkompetisi di pasar global.

Selama periode tahun 2020/2021, penjualan komoditas impor China di pasar Indonesia cenderung tidak bisa dibendung dan terjadi dalam skala yang sangat massive. Khususnya pada platform e-Commerce, maraknya penjualan produk China yang dibandrol dengan harga murah seakan menjadi dua sisi mata uang bagi masyarakat Indonesia. Di satu sisi, masyarakat Indonesia diuntungkan dengan bertambahnya variasi produk yang ditawarkan dalam harga yang (jauh) lebih murah. Namun disisi lain, banyak UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang khawatir akan kalah bersaing dengan produk-produk impor tersebut. 

Ramainya tagar #SellerAsingBunuhUMKM di media sosial yang digagas oleh Menteri Koperasi dan UKM (Teten Masduki), terkait barang murah dari China yang membanjiri situs belanja daring Shopee, mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Social movement ini digalakkan untuk melakukan perlindungan terhadap UMKM yang diresahkan dengan banyaknya komoditas China di pasar Nasional. Terafiliasi-nya e-Commerce Indonesia dengan grup perusahaan China merupakan salah satu faktor utama yang membuat barang impor China mudah untuk melakukan penetrasi ke pasar Indonesia.

Tongzon (2005) menyatakan bahwa rendahnya upah tenaga kerja merupakan komponen utama dari competitive advantage yang dimiliki China. Tongzon juga menjelaskan bahwa pasar domestik yang bergerak secara massive dan pesat pada akhirnya memberikan kesempatan kepada industri China untuk memiliki economies of scale. Keuntungan inilah yang dimiliki China, sehingga dapat menekan biaya produksi secara signifikan, memproduksi barang dalam jumlah yang sangat banyak, dan menjual produk dengan harga yang murah.

Tabel 1. Impor menurut golongan penggunaan barang Januari-Desember 2016-2020 (BPS 2020)

Menurut golongan penggunaan barang, rata-rata total nilai impor di Indonesia selama periode Januari-Desember tahun 2016 hingga 2020 diestimasi mencapai USD 158.838.9 juta. Selama periode tersebut, rata-rata nilai impor barang konsumsi adalah 9.4 persen, sementara impor bahan baku/penolong memiliki rata-rata sebesar 74.2 persen, dan barang modal 16.4 persen (BPS 2020). Peranan barang konsumsi dan barang modal tertinggi dicapai di Januari-Desember 2020, yaitu sebesar 10.35 persen dan 16.74 persen (Tabel 1). Sementara impor tertinggi pada golongan bahan baku/penolong terjadi pada periode Januari-Desember 2017 sebesar 75.03 persen (BPS 2020).

Menurut golongan barang SITC (Standard International Trade Classification) 1 dijit, kelompok mesin dan alat angkutan merupakan kelompok barang utama impor selama periode Januari-Desember 2020, dengan persentase sebesar 33.02%. Meskipun nilai impor kelompok barang ini menurun sebanyak 16.35% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tetapi kelompok mesin dan alat angkutan tetap menduduki peringkat nomor 1 dalam impor Indonesia selama periode tersebut (Tabel 2, BPS 2020).

Tabel 2. Impor menurut SITC-1 dijit Januari-Desember 2019 dan 2020 (BPS 2020)

Dampak Serbuan Komoditas China dan Solusinya pada Sektor Otomotif Indonesia

Adanya hubungan dagang antar negara tidak melulu menimbulkan dampak positif bagi masyarakat. Beberapa kekhawatiran muncul terutama pada aspek terkalahkannya produk lokal pada persaingan usaha di pasar Nasional. Berikut kami paparkan beberapa dampak positif dan negatif dari serbuan komoditas China dan solusinya pada sektor otomotif Indonesia.

Di tahun 2019, komponen mobil (vehicle parts) menjadi salah satu komoditas utama yang diimpor oleh Indonesia, di mana sebagian besar berasal dari China (OEC 2019). Sebanyak USD 3.25 miliar komoditas vehicle parts diimpor pada tahun tersebut, dan menduduki peringkat tiga terbanyak setelah Refined Petroleum dan Crude Petroleum.


1.  Dampak positif impor suku cadang dan komponen mobil dari China

Untuk memproduksi mobil dari nol bukanlah suatu perkara yang mudah, terlebih bagi perusahaan/ produsen otomotif baru seperti Esemka. Diperlukan biaya yang sangat besar, pertimbangan bisnis yang tepat untuk hal hal yang tidak terduga, dan kemampuan serta teknologi yang sangat mumpuni untuk membuat desainnya sampai kepada detail-detail mesinnya. Terlebih lagi semakin ketatnya persaingan antara produsen mobil baik pemain lama yang punya modal besar untuk terus berlomba menciptakan teknologi baru dan desain baru. Stigma masyarakat indonesia yang masih beranggapan bahwa kualitas produk mobil dalam negeri yang masih meragukan juga memiliki dampak yang signifikan terhadap penjualan mobil Esemka. Seandainya berhasil dilakukan, beberapa cara pemain besar untuk mematikan pemain kecil adalah dengan membuat brand baru di harga setara Esemka dengan reputasi yang sudah terkenal lama dan baik sehingga masyarakat akan dihadapkan kepada pilihan dengan harga yang bersaing tetapi reputasi baik dari pemain lama untuk mematikan pemain kecil yang belum banyak modal ini.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan rebadge (mengganti merek) mobil yang sudah diproduksi dari pabrikan mobil lainnya atau bisa juga dengan menggunakan komponen mobil dari pabrikan lain kemudian dirakit. Di China, tidak sedikit industri yang melayani pembuatan mobil secara custom dimana para klien dapat memilih onderdil dan design yang mereka sukai. Langkah selanjutnya adalah mereka akan membuat mobil utuh dimana kit complete knock down dari mobil tersebut akan dikirim ke indonesia dan kemudian akan dirakit oleh pabrikan mobil Esemka ini. Dengan cara ini akan memangkas banyak waktu dan biaya serta tidak perlu terlalu repot mengejar ketertinggalan teknologi yang ada. Selain itu juga bisa bekerja sama dengan tujuan menggunakan komponen dari perusahaan perusahaan yang sudah punya nama besar.


2.  Dampak negatif impor suku cadang can komponen mobil dari China

Untuk dapat bersaing dengan para pemain lama industri otomotif, Esemka harus mendapatkan hati masyarakat dan memahami apa yang inginkan dari sebuah kendaraan. Untuk itu, Esemka harus menekan harga sambil terus meningkatkan kualitas dari produk itu sendiri. Teknologi dan sumber daya terus dikembangkan untuk mencapai target tersebut. Jika terus bergantung pada produsen komponen mobil dan hanya merakit saja, maka produsen tersebutlah yang akan memenangkan harga atau Esemka akan sangat sulit mencapai harga yang ditargetkan karena adanya selisih harga antara produsen ke perakit ke pengguna akhir. Lain halnya jika Esemka menjadi produsen sehingga bisa memangkas selisih harga produksi sehingga bisa menekan harga akhir.


Gagasan Model Bisnis dalam Mengatasi Dampak Buruk bagi Sektor Otomotif Indonesia

Jika terus menerus mengimpor komponen dan hanya berakhir sebagai perakit, maka Indonesia akan bergantung kepada pihak “ketiga” dan tidak bisa “berdiri sendiri”. Sedangkan pabrikan otomotif dari China akan dapat memenangkan persaingan harga dari Indonesia di pasar Indonesia karena kita yang bergantung terhadap komponen-komponen dari mereka dan pihak- pihak lainnya. 


1.  Vertical Merger

Pada buku Business: A Changing World (Ferrell et. al 2016) dipaparkan bahwa vertical merger merupakan cara yang efektif untuk menekan biaya produksi dan pada akhirnya dapat menghasilkan produk dengan harga yang competitive. Dengan bergabungnya beberapa perusahaan yang memiliki spesialisasi berbeda pada tiap lini produksi, akan mempermudah rantai pasokan barang baku produksi (better supply chain management). Terlebih lagi dengan adanya vertical merger, biaya transportasi dapat dikurangi karena perusahaan merger sudah menjadi entitas yang baru, bukan lagi sebagai partner jual-beli bahan baku. Sehingga, penulis berargumen bahwa vertical merger merupakan salah satu cara efektif bagi Esemka untuk menghemat biaya produksi, ketimbang harus mengimpor suku cadang dan komponen mobil dari China. Vertical merger juga dapat melindungi Esemka dari biaya produksi yang fluktuatif akibat volatilitas bahan baku komponen utama mobil, sehingga dapat menghasilkan output dengan harga terjangkau dalam kualitas yang baik.

2.  Brand Recognition

Selama ini, masyarakat Indonesia cenderung masih memandang sebelah mata terhadap performa sektor industri otomotif Nasional. Sikap pesimis akan kualitas mobil Esemka dan minimnya pengguna produk telah menjadi masalah utama dalam penjualan mobil anak bangsa ini. Dukungan pemerintah akan produk mobil lokal ini juga dirasa belum maksimal. Brand recognition menjadi salah satu cara efektif yang dapat meningkatkan market share pengguna mobil Esemka. Salah satu bentuk nyata adalah misalnya dengan mewajibkan penggunaan mobil Esemka untuk keperluan mobil dinas, meregulasi para pemain industri Nasional untuk menggunakan mobil Esemka untuk kegiatan operasional sehari-hari, dan menggiatkan promosi yang massive sehingga menghancurkan stereotip “Mobil Esemka memiliki kualitas yang tidak mumpuni”. Dengan banyaknya pengguna mobil Esemka, masyarakat akan semakin terbiasa melihat kualitas dan performa mobil tersebut. Sehingga secara tidak sadar, lama kelamaan masyarakat akan memiliki brand recognition yang lebih tinggi terhadap produk tersebut, dan pada akhirnya mempunyai keinginan untuk membeli mobil Esemka (higher purchasing intention).

3.  Niche Thy Products

Salah satu nilai tambah dari suatu penjualan produk adalah adanya “keistimewaan” yang membedakan produk tersebut dengan produk lain di pasaran. Misal dalam sektor industri otomotif, masyarakat sudah tahu bahwa jika ingin mendapatkan kenyamanan dalam berkendara, Mercedes Benz memiliki suspensi mobil yang sangat baik. Lalu ketika memilih LCGC (Low Cost Green Car), mobil seperti Honda Brio, Toyota Agya, dan Daihatsu Ayla menjadi pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Penulis berargumen bahwa, industri otomotif Indonesia sudah sebaiknya memilih siapa lawan dan target pasarnya, dan melakukan niche terhadap produk unggulannya. Apakah ambil sektor harga dimana Esemka memproduksi mobil-mobil pickup harga murah layaknya beberapa industri otomotif dari China dan India, ataukah bersaing secara teknologi dan kenyamanan layaknya mobil eropa atau lebih memilih bersaing dengan Jepang yang bisa menekan harga dengan kualitas terjamin.


Bagi produsen otomotif yang baru muncul butuh waktu yang tidak sedikit, modal yang sangat besar, dan teknologi yang sangat mumpuni untuk bersaing dengan mobil pabrikan Eropa maupun Jepang. Oleh sebab itu, bagi pemain baru yang belum punya banyak kapasitas dan nama, bersaing dengan harga adalah salah satu cara yang menurut penulis efektif karena yang dipikirkan hanyalah bagaimana bisa menjual mobil dengan harga murah. Jika bersaing dengan mobil eropa dan Jepang, harus memikirkan perkara lain selain harga yaitu sumber daya manusia dan teknologi. Teknologi yang terus bergerak cepat hanya bisa dilakukan jika ada kapital yang besar dan manusia yang mumpuni. Karena persaingan kita dihadapkan dengan pabrikan India dan China, maka rantai produsen sudah sebaiknya lambat laun kita lepas sehingga bisa memangkas biaya produksi. Berangkat dari perakit menjadi produsen komponen kendaran tersebut.


Artikel ini telah dicek antiplagiarism via https://www.duplichecker.com


Artikel ini ditulis oleh kelompok The Rebellion (MBA 78C) sebagai tugas mingguan dari mata kuliah ME

  1. Sumitomo Ueno
  2. Veronica Swasti Paramitha

Referensi

  1. Booth, Anne. 2011. China’s Economic Relations with Indonesia: Threats and Opportunities. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 30(2) pp. 141-160. ISSN: 1868-4882 (online), ISSN: 1868-1034 (print).
  2. BPS (Badan Pusat Statistik). 2020. Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri. BPS RI, Katalog 8202006, ISSN: 2745-6765 (online).
  3. Ferrel, O.C., Hirt, G.A., and Ferrel, L. 2016. Business: A Changing World 10th Edition. New York: McGraw-Hill Education. ISBN 978-981-4714-25-9.
  4. OEC. 2019. Indonesian Export-Import Overview 2019. Accessed on March 1st 2021. Available at: https://oec.world/en/profile/country/idn 
  5. Otoasia.com. 2019. Gaikindo: Esemka Bima Diduga Produk Rebadge. Accessed on March 4th 2021. Available at: https://m.otosia.com/otoseleb/gaikindo-esemka-bima-diduga-produk-rebadge.html 
  6. Tongzon, Jose L. 2005. ASEAN-China Free Trade Area: A Bane or Boon for ASEAN Countries. The World Economy, 28(2), pp. 191-210.

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format