Minyak Sawit Ibu Pertiwi di Tengah Pandemi COVID-19 : Gandeng Jepang Atau China?

Sejak awal tahun sembilan puluhan, permintaan minyak sawit telah mencapai pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan minyak dan lemak nabati utama lainnya.


0

Minyak Sawit & Negara Penghasil

Komoditas minyak sawit (CPO) memiliki banyak keuntungan ekonomi, terutama biaya produksi yang relatif rendah dan hasil yang tinggi per hektar, sehingga menciptakan keuntungan yang sangat baik dari budidaya kelapa sawit. 

Salah satu pengolahan CPO yang terbesar adalah menjadi Bio-diesel Sawit yang merupakan pengganti solar. Bio-diesel mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca, terutama nitrogen oksida, karbon dioksida, dan sulfur dioksida daripada bahan bakar diesel berbasis minyak mineral tradisional. Bio-diesel dapat dicampur dalam jumlah berapa pun dengan diesel minyak bumi untuk membuat campuran bio-diesel.

Biodiesel dari olahan kelapa sawit, dalam proses produksinya menggunakan biaya yang lebih rendah dan ini berarti bahwa lebih sedikit area yang digunakan untuk memproduksi satu ton minyak sawit dibandingkan dengan minyak rapeseed dan minyak kedelai. Sehingga pasar dunia diperkirakan akan semakin bergantung pada minyak sawit untuk produksi biodiesel di tahun-tahun mendatang.

Produksi minyak sawit global telah tumbuh secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir yang didorong oleh industri makanan, biodiesel dan juga pertumbuhan produksi minyak nabati lainnya tidak mencukupi. Sejak awal tahun sembilan puluhan, permintaan minyak sawit telah mencapai pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan minyak dan lemak nabati utama lainnya. 

Namun pada tahun 2019, harga minyak mentah mengalami tekanan hingga pada posisi yang cukup rendah, sehingga berdampak signifikan terhadap harga sawit dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perlambatan ekonomi, ketersediaan minyak goreng alternatif yang murah, seperti kacang kedelai dan masih tersedianya stok minyak sawit yang cukup tinggi turut berkontribusi terhadap penurunan harga minyak sawit. Hal ini terlihat dari melemahnya permintaan minyak sawit dari beberapa negara pengimport yang salah satunya adalah Republik Rakyat Cina (“RRC”). 

Didorong oleh telah pulihnya harga minyak sawit dan terjadinya peningkatan selama tahun 2020, dimana salah satunya diakibatkan adanya penerapan mandat biodiesel B20 di Indonesia dan Malaysia, sehingga memicu kenaikan permintaan minyak kelapa sawit.

Tabel di bawah menunjukkan negara penghasil minyak sawit terbesar:

(Sumber: USDA Foreign Agriculture dan Index Mundi)

Pola produksi CPO global telah berkembang selama dekade terakhir, dengan Malaysia dan Indonesia mendominasi produksi CPO global, menyumbang hampir 90% dari output CPO dunia. Persyaratan ekologis untuk budidaya kelapa sawit berada di zona terletak dalam garis lintang 10 derajat ke utara dan selatan khatulistiwa.  Wilayah penanaman kelapa sawit meliputi Afrika Barat, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Malaysia dan Indonesia adalah negara yang paling produktif dan sejauh ini merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar; namun negara-negara ini mungkin menghadapi tantangan ekspansi berupa terbatasnya area tanam ke depannya.

Harga minyak sawit 

Minyak sawit, baik dalam bentuk mentah maupun dalam bentuk olahannya, adalah komoditas yang diperdagangkan dalam pasar kompetitif dunia yang melibatkan banyak penjual dan pembeli. Tidak ada satu pun produsen, atau sekelompok produsen, yang dengan sendirinya dapat memengaruhi harga minyak sawit. Di Indonesia, harga CPO serta berbagai produk turunannya umumnya ditentukan oleh harga pasar internasional yang cenderung fluktuatif.

Harga minyak sawit di pasar dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait dan terkadang tidak dapat diprediksi (seperti perubahan cuaca atau keputusan politik) dan dapat menyebabkan volatilitas harga yang tinggi di pasar dunia.

Faktor utama yang menentukan harga minyak sawit adalah:

  1. Permintaan dunia dan pasokan minyak sawit dan minyak nabati lainnya, terutama minyak kedelai dan minyak rapeseed
  2. Rasio stok dan penggunaan stok minyak sawit, minyak dan lemak lainnya, dan kedelai
  3. Harga minyak nabati, minyak sayur, dan komoditas pertanian lainnya
  4. Perkembangan ekonomi dan keuangan serta pertumbuhan penduduk, konsumsi per kapita dan permintaan pangan; dan kondisi cuaca, terutama waktu dan distribusi curah hujan.
  5. Lainnya yaitu peristiwa cuaca, kebijakan mandat biodiesel, mata uang dan kebijakan pemerintah

Tabel di bawah menunjukkan pergerakan harga minyak sawit global selama 4 tahun ke belakang:

(Sumber: Index Mundi)

Industri minyak sawit di Indonesia

Industri minyak kelapa sawit selama 20 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat cepat. Pertumbuhan ini tampak dalam jumlah produksi dan ekspor dari Indonesia dan juga dari pertumbuhan luas area perkebunan sawit. Didorong oleh permintaan global yang terus meningkat dan keuntungan yang juga naik, budidaya kelapa sawit telah ditingkatkan secara signifikan baik oleh petani kecil maupun para pengusaha besar termasuk di dalamnya perkebunan milik BUMN (dengan imbas negatif pada lingkungan hidup dan penurunan jumlah produksi hasil-hasil pertanian lain karena banyak petani beralih ke budidaya kelapa sawit).

Pasar yang berkembang ini, dikombinasikan dengan tidak adanya pembatasan peraturan kepemilikan perkebunan di Indonesia, mengakibatkan pertumbuhan dan diversifikasi produksi. Persaingan kebutuhan minyak sawit untuk digunakan sebagai minyak nabati dan dalam produksi biodiesel terus mendorong permintaan dan akan terus meningkatkan produksi di masa depan.

Sedangkan hasil produksi minyak kelapa sawit Indonesia mayoritas diekspor ke negara-negara tujuan ekspor yang paling penting saat ini adalah China, India, Pakistan, Malaysia, dan Belanda. Selain itu, permintaan minyak sawit domestik di Indonesia juga terus berkembang karena populasi Indonesia terus bertumbuh(disertai kelas menengah yang berkembang pesat) dan dukungan pemerintah untuk program biodiesel.

Dampak COVID-19 terhadap industri kelapa sawit di Indonesia

Harga minyak sawit mentah sempat tertekan pada masa awal pandemi COVID-19, dimana mengalami terjun bebas dari USD 835/ton di Januari 2020 menjadi USD 578/ton pada bulan Mei 2020. Hal ini salah satunya disebabkan oleh lockdown yang dilakukan oleh beberapa negara atas aktivitas dan mobilitas penduduknya. 

Menurunnya harga minyak sawit global berdampak signifikan terhadap menurunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) di Indonesia. Harga TBS rendah menyebabkan petani swadaya mengalami kesulitan keuangan dan tidak memiliki sarana untuk mengangkut TBS ke pabrik kelapa sawit dikarenakan pembatasan dalam kegiatan dan pergerakan.

Dampak dari Pembatasan Sosial Berskala Besar juga menyebabkan pabrik kelapa sawit dan kegiatan manufaktur berjalan lamban dan tidak efisien, sehingga berdampak pada menurunnya produktivitas pabrik kelapa sawit tersebut.  

Namun seiring berjalan waktu, harga minyak sawit berhasil rebound dan mencapai harga USD 1.016/ton. Harga ini merupakan harga tertinggi minyak sawit selama 5 tahun terakhir, dan tentu berdampak positif bagi Indonesia, perusahaan kelapa sawit dan petani lokal di mana kelapa sawit merupakan salah satu produk unggulan untuk ekspor dan memberi cadangan devisa bagi negara.

Latar belakang Perusahaan

PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk  ( SMART )

Industry Sector

Agriculture

Industry Sub Sector

Plantation

Established

18 June 1962

Listed

20 November 1992

Listed Company Code

SMAR

Listed Shares

2,872,193,366

Dividend

Yes

Major Shareholders (>5%)

Purimas Sasmita (97.00%)

Key Subsidiaries

Tapian Nadenggan
Kresna Duta Agroindo
Maskapai Perkebunan Leidong West Indonesia
Satya Kisma Usaha

Komoditi Utama

Minyak Kelapa Sawit

PT SMART, Tbk (“Perusahaan”) adalah salah satu perusahaan publik produk berbasis kelapa sawit, dan merupakan anak perusahaan dari Golden Agri-Resources. Aktivitas utama Perusahaan dimulai dari pengelolaan 137 ribu hektar kebun kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, termasuk lahan plasma; panen dan pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit (atau biasa disebut Crude Palm Oil atau “CPO”) dan inti sawit (atau biasa disebut Palm Kernel atau “PK”), hingga memprosesnya menjadi beragam produk industri dan konsumen seperti minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel dan oleokimia, serta perdagangan produk berbasis kelapa sawit ke seluruh dunia. Perusahaan juga mengoperasikan 16 pabrik kelapa sawit, 4 pabrik pengolahan inti sawit dan 4 pabrik rafinasi di Indonesia.

Produk yang dihasilkan Perusahaan

Perusahaan menghasilkan produk curah seperti minyak sawit mentah, inti sawit, minyak inti sawit, bungkil sawit dari fasilitas produksi kelapa sawit yang terintegrasi.

Perusahaan juga memproduksi serangkaian produk olahan bermerek seperti minyak goreng, margarin, butter oil substitute, shortening dan lemak untuk para konsumen, restoran, hotel, kafe dan pasar industri (pabrik, jasa pembuat makanan dan roti) maupun pasar konsumen.

(Sumber: website PT SMART, Tbk)

Komposisi penjualan produk Perusahaan

(Sumber: laporan keuangan PT SMART, Tbk)

Perusahaan memilih strategi untuk mengejar produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sejalan dengan strategi tersebut produk olahan berkontribusi 45% dari total produk yang dijual perusahaan. Total penjualan produk olahan bermerek, produk olahan tidak bermerek dan biodiesel mencapai 83% dari total penjualan; sedangkan penjualan CPO dan produk non-olahan mencapai 17% dari total penjualan

Kinerja operasi Perusahaan

Dari area tertanam seluas sekitar 137.000 hektar yang dimiliki perusahaan, 80% merupakan tanaman dewasa berumur 7 sampai 25 tahun dengan produktivitas tertinggi, sedangkan 8% merupakan tanaman belum menghasilkan dan tanaman muda berumur hingga 6 tahun, yang akan menjamin pertumbuhan produksi pada beberapa tahun mendatang. Kegiatan peremajaan tanaman telah dipercepat hingga mencapai 2.800 hektar pada tahun berjalan, sehingga kebun belum menghasilkan bertambah menjadi 5% dari jumlah area tertanam. 

Highlight kinerja operasi Perusahaan per tanggal 30 September 2020

(Sumber: laporan kinerja PT SMART, Tbk)

Kinerja operasi Perusahaan pada tanggal 30 September 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, produksi buah Perusahaan menurun 12% menjadi 1,79 juta ton, terutama dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti kondisi cuaca kering tahun lalu ditambah dengan kondisi pandemi COVID-19 sehingga pabrik tidak dapat beroperasi secara maksimal dan karyawan tidak dapat bekerja optimum karena kebijakan pembatasan sosial berskala besar pada saat itu.

PROBLEM IDENTIFICATION

Secara umum pandemi COVID-19 memberikan dampak dan pengaruh signifikan terhadap kinerja operasional maupun kinerja keuangan perusahaan. Data laporan keuangan Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir di September 2020, dapat dilihat pada rangkuman tabel berikut: 

(Sumber: laporan keuangan PT SMART, Tbk)

Meskipun terdapat penurunan volume penjualan, total penjualan bersih meningkat 7% menjadi Rp 28,20 triliun sebagai akibat dari harga jual rata-rata CPO yang lebih tinggi di tahun 2020 dibandingkan 2019.

Beban pokok penjualan untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2020 naik 3% menjadi Rp 24,53 triliun dari Rp 23,80 triliun di tahun sebelumnya, hal ini terutama disebabkan kenaikan biaya bahan baku.

Laba bersih Perusahaan turun menjadi Rp 215 miliar untuk sembilan bulan pertama tahun 2020 sebagian besar dipengaruhi oleh kerugian selisih kurs dibandingkan dengan selisih kurs keuntungan yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu.

ANALYTICAL THINKING

Dalam melakukan kajian terhadap pemilihan tujuan negara yang paling berpotensi dalam pengembangan perdagangan minyaksawit dari Indonesia terhadap 2 negara dengan karakter sistem perekonomian yang berbeda, penyusun sepenuhnya akan menggunakan data sekunder atau data yang dikutip dari laporan kinerja perusahaan PT Smart Tbk maupun dari lembaga yang terkait seperti USDA Foreign Agriculture dan Index Mundi.

Pendekatan kajian ini akan menggunakan metode perbandingan kuantitatif secara langsung atas potensi kedua negara dengan mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :

  • Pertumbuhan ekonomi kedua negara selama dekade terakhir
  • Pertumbuhan produsen atau industri terkait pemanfaatan minyak sawit
  • Data serapan import atas minyak sawit
  • Kompetitif harga penawaran atas import minyak sawitdi kedua negara 
  • Besaran produk turunan atas minyak sawit yang dihasilkan
  • Kapasitas potensi market yg dihasilkan oleh kedua negara tersebut    

Sedangkan dalam penentuan prioritas tujuan pengembangan perdagangan untuk kedua negara, setelah dilakukan perbandingan secara langsung, yang penentuannya akan dititikberatkan pada 2 faktor penentu terbesar yaitu :

  1. Keterlangsungan dan potensi volume perdagangan di tahun-tahun yang akan datang 
  2. Profit terbesar yang diukur dari satuan penjualan

Perbandingan Ekonomi Jepang dan RRC 

Dari tabel ini dapat diketahui bahwa Jepang pada tahun 1990 dibandingkan dalam kurun dekade dengan tahun 2000 (Witt, Michael A., .2006) yaitu :

  1. Persamaan pendapatan dengan poin 5.7 yang artinya makin mengarah ke poin 10 terdapat perbedaan pendapatan antar masyarakat dan stabil pada satu dekade
  2. Kepemilikan usaha privat dengan poin 5.1 dan turun menjadi 4.5 yang artinya makin mengarah ke poin 1 terdapat peningkatan privatisasi usaha
  3. Tanggung jawab pemerintah dengan poin 6.8 dan relatif tidak berubah yang artinya makin mengarah ke poin 10 berarti menuntut pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat
  4. Persaingan dengan poin 4.5 dan relatif tidak berubah yang artinya makin mengarah ke poin 1 berarti persaingan yang makin menumbuhkan semangat kerja dan ide-ide baru

Dengan data satu dekade ini dapat dilihat bahwa Jepang memang memiliki kecenderungan mengarah kapitalisme walaupun masih berada pada nilai menengah pada skala 1-10. Sehingga peluang untuk berkembang dan terbukanya peluang bisnis yang baru masih dapat mungkin terjadi dengan GDP per kapita $ 40,255.936.

Sementara itu, perekonomian China sebelum tahun 1976 sangat dibatasi dan hanya berorientasi pada sistem autarki yang berkonsentrasi pada internal negaranya sendiri. Lalu ketika tahun 1980-an, pemerintah mulai mendanai kesehatan gratis, sekolah gratis dan subsidi bagi perumahan rakyat. Perlahan mulai tahun 1960 hingga 1970-an pemerintah memulai kebijakan desentralisasi, menyebabkan peningkatan usaha-usaha bisnis swasta dan memfokuskan fiskalnya untuk pendidikan serta infrastruktur sehingga ekonomi daerah dapat meningkat. Mulai periode perencanaan lima tahunan China yang ke 9 (1999 – 2000), pemerintah berfokus pada badan usaha negara yang besar saja dan melebur badan-badan usaha yang kecil dan secara perlahan memulai perubahan sistem dari orientasi pekerja menjadi orientasi modal. Dari sisi badan usaha swasta yang mudah mengakses finansial untuk kegiatannya membantu transisi perokonomian China menjadi ekonomi pasar namun berdampak juga pada tidak meratanya pendapatan masyarakat perkotaan dengan desa bahkan antar masyarakat di dalam perkotaan itu sendiri (Joshua, 2016). Sehingga dari hal ini dapat dilihat bahwa kebijakan dari segi ekonomi, China pun sebetulnya semakin mengarah kepada orientasi pasar dengan GDP per kapita $ 10,286.58.

Namun walaupun GDP per kapita China kecil, pertumbuhan GDP dikatakan meningkat dengan rata-rata 6.6% per tahun dibandingkan dengan Jepang dengan rata-rata 0.8-1% per tahun. Ini menandakan China berpotensi mengalami peningkatan yang signifikan selama beberapa tahun ke depan dibandingkan Jepang.

China vs. Japan

PROBLEM SOLVING

Indonesia, dengan populasi terbesar keempat di dunia dan total konsumsi per kapita minyak dan lemak untuk makanan, keperluan industri dan produksi bio-diesel sekitar 55.9 kilogram pada tahun 2020, menyumbang 26% dari konsumsi minyak sawit dunia.


Tabel di bawah menunjukkan konsumsi minyak sawit di Indonesia:

(Sumber: USDA Foreign Agriculture dan Index Mundi)


Terlepas dari pasar domestik yang substansial (sekitar 15.1 juta ton pada tahun 2020), konsumsi domestik minyak sawit di Indonesia jauh di bawah tingkat produksi, yang berkontribusi terhadap surplus minyak sawit mentah atau olahan yang tersedia untuk ekspor secara signifikan.


Tabel di bawah menunjukkan produksi dan ekspor minyak sawit di Indonesia:

(Sumber: USDA Foreign Agriculture dan Index Mundi)


RRC sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, dan jumlah penduduk terbanyak di dunia, hanya menempati posisi keempat dalam konsumsi minyak sawit. Hal ini terlihat dengan rata-rata pertumbuhan konsumsi minyak sawit RRC selama 10 tahun hanya sebesar 1,8%, jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lainnya.


Tabel di bawah menunjukkan negara pengkonsumsi minyak sawit terbesar:

(Sumber: USDA Foreign Agriculture dan Index Mundi)

Perusahaan perlu meningkatkan pasar ekspornya ke RRC, dikarenakan peluang yang masih sangat besar di sana. Konsumsi minyak sawit per kapita di RRC hanya sebesar 5.1 kilogram pada tahun 2020, di mana 10 kali lebih rendah dari konsumsi minyak sawit per kapita di Indonseia sebesar 55.9 kilogram.Minyak sawit dilihat sebagai solusi yang logis dan efisien untuk memenuhi permintaan minyak dan lemak pangan dunia yang terus meningkat di tengah terbatasnya ketersediaan lahan tanaman. Hal ini didukung oleh karakteristik minyak sawit sebagai minyak yang paling produktif dan efisien untuk diproduksi dalam hal produktivitas per hektar, serta luasnya penggunaan untuk sektor pangan maupun non-pangan.

Sementara itu, di lain sisi, Jepang bukan merupakan negara pengkonsumsi minyak sawit yang besar, walaupun negara tersebut merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia. Hal tersebut dikarenakan Jepang lebih memilih untuk menggunakan minyak nabati lain yaitu minyak kedelai. Sebagian besar dari minyak kedelai tersebut diimpor dari Amerika Serikat, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Jepang. Hal ini menjadi salah satu barrier of entry minyak kelapa sawit untuk dapat melakukan penetrasi terhadap pasar Jepang.


Referensi

  1. https://www.smart-tbk.com/
  2. https://www.fas.usda.gov/search/crude%20palm%20oil
  3. https://www.indexmundi.com/commodities/news/palm-oil
  4. Witt, Michael A. .2006. Changing Japanese Capitalism. New York, US : Cambridge University Press
  5. imf.org. (2021). Reports for Selected Countries and Subjects : October 2020. Diakses pada 2 Maret 2021, dari https://www.imf.org/en/Publications/WEO/weo-database/2020/October/
  6. imf.org. (2021). Reports for Selected Countries and Subjects : October 2020. Diakses pada 2 Maret 2021, dari https://www.imf.org/en/Publications/WEO/weo-database/2020/October/
  7. Joshua, J. (2016). China’s economic growth: Towards sustainable economic development and social justice volume I: Domestic and international economic policies. Liao Ning, China : Springer Nature


Kelompok 9 : No Monkey Business

Stephanie Tanggara

Heru Susilo

Vincent  Cahya Saputra


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Vincent

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format