Penerapan Spiritual Leadership Model dalam Episode Undercover Boss: Hooters.


0

Undercover Boss Season 1 Episode 2 mengikuti Cobby Brooks selaku CEO dari Hooters, sebuah jaringan waralaba fast food raksasa yang tersebar di seluruh dunia. Menyamar sebagai tokoh utama film dokumenter, Cobby Brooks terjun langsung merasakan menjadi karyawan Hooters. Ketika Coby Brooks menyamar di perusahaannya sendiri, ia mendapati kesulitan dalam bekerja di dapur yang serba cepat, ia dipaksa untuk mengambil tindakan ketika manajer tidak berada disana. Brooks memulai pekerjaan pada tingkat awal di salah satu lokasi Hooters dan langsung diberhentikan sebelum hari itu berakhir. Keesokan harinya, Brooks bekerja di bagian pemasaran dengan dua karyawan wanita dan menemukan hal yang cukup mengejutkannya. Ia mendapati banyak orang Amerika tidak memandang Hooters sebagai perusahaan keluarga dan memiliki kesan waralaba tersebut merendahkan martabat wanita.

Baru di hari ketiga, Brooks melihat secara langsung mengapa pelanggan mungkin tidak melihat Hooters ramah wanita. Di sebuah restoran di Texas, dia bertemu dengan Jimbo, seorang manajer yang memperlakukan karyawan wanitanya sebagai barang bergerak, mengadakan inspeksi yang melirik staf dan memiliki cara yang tidak biasa untuk menentukan siapa yang cukup beruntung untuk pulang lebih awal jika bisnisnya lambat. Staf yang beruntung itu adalah ia yang bisa makan sepiring kacang tanpa menggunakan tangan mereka. Brooks mengatakan tindakan tersebut sangat tidak benar dan tidak bisa ditoleransi. Setelah itu, Jimbo diberikan teguran dan sejak saat itu ia mengadopsi gaya manajemen yang lebih benar secara politis.

Di hari keempat, Brooks menghubungi seorang single-mom yang mengelola salah satu tokonya dan memberikan paket liburan. Di hari kelima, ia pergi ke pabrik Naturally Fresh di Atlanta, dimana ayahnya, seorang yang mendirikan perusahaan pernah bekerja di sana. Di sana, Brooks belajar mengenai moral yang buruk dan para karyawan hanya menganggap dirinya sebagai ‘anak’ pendiri perusahaan yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan ayahnya.

Apa permasalahannya?

Masalah pertama yang dialami oleh CEO Hooters, Cobby Brooks, yaitu dalam proses kerja sebagai karyawan dapur yang cara kerjanya fast-paced dan menjadi kelelahan. Hal ini dialami karena Brooks sudah lama tidak terjun menjadi karyawan dapur.

Masalah kedua adalah mengenai persepsi dan stereotip masyarakat mengenai Hooters. Hooters adalah jaringan restoran fast food yang memiliki ciri khas karyawan wanita yang mengenakan pakaian minim sehingga memberikan kesan sexy. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa Hooter merendahkan derajat wanita, dan menganggap karyawan wanita tersebut sebagai manusia rendahan dan hanya pemuas nafsu kaum pria. Hal ini berakibat buruk pada mental karyawan Hooters jika tidak kuat menahan cibiran dari masyarakat yang memiliki mindset  tersebut.

Masalah ketiga yang dihadapi adalah ketika salah satu manajer toko memiliki etika yang buruk dalam memperlakukan karyawan wanita. Manajer tersebut dengan seenaknya memperlakukan karyawan wanita dengan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan, serta terkadang mengadakan games dengan karyawan wanita yang tidak sesuai dengan etika. Contohnya adalah menyuruh mereka memakan kacang tanpa menggunakan tangan agar mendapat bonus pulang lebih awal. Ini menjadi tantangan karena seorang pemimpin perlu memiliki etika yang baik demi efisiensi perusahaan.

Masalah keempat adalah ketika Brooks menemui seorang manajer toko yang kebetulan adalah wanita single parent yang memiliki dua anak. Brooks mendapati bahwa manajer toko tersebut memiliki waktu yang kurang untuk mengurus anaknya, menandakan bahwa waktu kerja yang ada di Hooters tidak ramah terhadap karyawan single parents. Ini menyebabkan tidak terjadi adanya keseimbangan antara mengurus anak dan pekerjaan.

Masalah kelima adalah ketika Brooks mengunjungi Atlanta Georgia yang merupakan pabrik Hooters pertama yang didirikan olehnya, Brooks mendapati bahwa karyawan di pabrik tersebut kehilangan sosok pemimpin setelah ayahanda Brooks meninggal. Selain itu, karyawan juga merasakan kehilangan kultur kekeluargaan dalam Hooters, dimana ketika ayah Brooks menjabat sebagai CEO, kultur kekeluargaan sangat dirasakan oleh karyawan.

Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang supaya dapat digerakkan untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Suatu organisasi akan berhasil atau akan gagal itu ditentukan oleh kepemimpinan yang ada. Oleh karena itu, dalam organisasi keberadaan suatu pemimpin pastinya sangat penting. Menjadi seorang pemimpin itu bukanlah hal yang mudah, karena banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya.

Dalam film Undercover Boss Season 1 Episode 2 ini menggunakan teknik penyamaran yang dilakukan oleh Cobby Brooks selaku CEO Hooters. Penyamaran yang dilakukannya ini bertujuan untuk menemukan kesalahan dalam perusahaannya, mengetahui apa yang sebenarnya para pegawainya lakukan, mengetahui bagian-bagian yang harus diperbaiki, mengetahui fasilitas apa yang perlu ditambahkan, dan juga dapat mengetahui pegawai mana yang kinerjanya baik dan yang tidak, tanpa sepengetahuan para pegawainya. Sehingga, penyamaran yang dilakukannya ini nantinya akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang akan diambilnya di masa mendatang. Model kepemimpinan ini sudah cukup baik, karena dalam metode ini boss tidak hanya duduk di atas dan memerintah pegawainya untuk melakukan suatu pekerjaan, tetapi dapat terjun langsung kelapangan untuk mengawasi dan juga memberikan contoh kepada pegawainya.

Mengurai permasalahan Hooters

Kasus mengenai manajemen dan kepemimpinan dalam Hooters ini dapat dikaitkan dengan penelitian oleh Egel dan Fry (2017) mengenai kepemimpinan spiritual sebagai model kepemimpinan Islami. Menurut penelitian tersebut, kepemimpinan spiritual sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin karena menciptakan nilai yang berdampak kepada inner-self karyawannya dan mempertemukan nilai spiritualitas antara pengikut dan pemimpin.

Cobby Brooks dalam kepemimpinannya sebagai CEO di Hooters tidak menerapkan Islamic Leadership Model (ILM), dan cenderung menerapkan Spiritual Leadership Model (SLM). Hal ini terlihat dari visi Cobby Brooks yang ingin melanjutkan legacy dari mendiang ayahandanya dalam Hooters. Visi SLM di dalam Hooters juga terlihat dari ketekunan dan daya tahan dalam kepemimpinan manajer cabang Hooters yang didatangi oleh Cobby Brooks. 

Seperti contohnya saat ia bekerja dengan Dave, Cobby merasakan bahwa bekerja di Hooters sangat ‘demanding’ dan ‘fast-paced’, sehingga membutuhkan ketekunan tinggi. Salah satu manajer toko lain yang didatangi oleh Cobby, Marcee, juga menunjukkan ketekunan yang sama dalam memimpin tokonya. Perlu dilihat apakah para pegawai tersebut mampu melaksanakan pekerjaannya. Dalam video ditunjukkan bahwa Dave mendorong anggotanya untuk bekerja hingga merasa tertekan, seperti yang dirasakan oleh Cobby sendiri. Padahal, jika kita lihat dari perspektif islam, melalui salah satu hadist riwayat Bukhari, dijelaskan bahwa seseorang harus dipekerjakan sesuai dengan kemampuan mereka. 

Janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu. Jika kalian membebankan sesuatu kepada mereka maka bantulah. (HR Bukhari-Muslim).

Sebagai pemimpin, memang dibutuhkan kemampuan untuk mendorong pengikutnya untuk bekerja dengan baik. Tentunya tujuannya agar tujuan organisasi dapat tercapai. Hal ini tentu harus sebanding dengan gaji dan upah yang akan diberikan kepada mereka.Terdapat salah satu hadist yang menjelaskan mengenai pentingnya pemberian upah untuk para pekerja

‘Ada tiga macam orang yang langsung Aku tuntut pada hari kiamat: orang yang membuat perjanjian atas nama-Ku lalu ia langgar; orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasil penjualannya; dan orang yang mempekerjakan orang lain, yang orang itu telah menyempurnakan pekerjaannya, tetapi dia tidak memberikan upahnya.” (HR Bukhari).

Terdapat kepemimpinan yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu manajer bernama Jimbo, manajer toko yang juga didatangi oleh Cobby. Jimbo cenderung memperlakukan karyawannya tanpa respek dan hanya terfokus kepada sales semata.Tentunya hal ini menjadi sumber kemarahan Cobby. 

Walaupun begitu, Cobby Brooks sendiri masih belum menunjukkan SLM yang sempurna. Hal ini terlihat dari adanya distance antara karyawan dengan Cobby Brooks, terutama dalam pabrik bumbu dan saus Hooters. Karyawan dalam pabrik tersebut tidak merasa adanya sebuah silaturahmi antara atasannya dengan mereka. Di sini, dijelaskan bahwa mendiang ayahanda dari Cobby Brooks betul-betul menunjukkan SLM yang baik kepada karyawannya. Ia selalu ramah, menunjukkan empati dan kepedulian kepada karyawan, menciptakan sense of belongingness kepada karyawan tersebut. Ini adalah bentuk altruistic love dari model SLM. Hal ini tidak terlihat dalam Cobby Brooks, karena karyawan di lini tersebut merasa bahwa kultur kekeluargaan hilang sejak ayahandanya meninggal dunia. Dalam Islam sendiri, silaturahmi merupakan sebuah keutamaan, seperti yang dijelaskan dalam ayat di bawah ini: 

Hukum silaturahmi islam © 2020 brilio.net

 

Artinya:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."

Seharusnya pemikiran dan gerakan islam progresif (progressive islam) khususnya di lingkungan suatu perusahaan dapat lebih digencarkan. Hal tersebut dikarenakan islam progresif termasuk ke dalam salah satu bentuk kajian kontemporer yang memperjuangkan penegakan nilai-nilai kemanusiaan diantaranya seperti kesetaraan gender, keadilan, pembelaan terhadap kaum minoritas yang tertindas, demokrasi, dan civil society. Dengan adanya pemikiran ini maka kedudukan semua warga negara jika dilihat dari segi gendernya baik pria maupun wanita dianggap sama atau setara sehingga mereka mendapat perlakuan yang adil di lingkungan sekitarnya. Wanita tidak akan dijadikan sebagai objek hiburan dalam artian mereka memiliki hak berpendapat untuk menolak keputusan dari pemimpin atau managernya apabila harga diri mereka dilecehkan. Dalam penerapan islam progresif juga tidak menutup kemungkinan apabila terdapat pemimpin wanita karena wanita dianggap mampu mengelola organisasi / perusahaannya dengan baik dan mereka tetap bertanggung jawab atas perannya di rumah. Selain dapat mengantarkan islam agar lebih diterima publik, transformasi pemikiran ini sangat kompatibel dengan tuntutan kehidupan masyarakat kontemporer dimana hak asasi manusia diprioritaskan.

Penulis:

Farras Aulia Faizah

Milenia Mudillah

Aditra A. Purnawan

Al Viima

Saud Mustafa Hussien Abdul Mohsen

Shafira Jessenia J.

sumber: 

Egel, Eleftheria & Fry, Louis. (2016). Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership. Public Integrity. 19. 10.1080/10999922.2016.1200411.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/lzoowg/tradisi-ramadhan

https://www.brilio.net/wow/hukum-menjalin-silaturahmi-beserta-keutamaannya-dalam-islam-200813s.html




Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
shafirajesse

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format