Sistem Perekonomian Korea Utara vs Jepang dan Peluang Ekspor Umbi Cilembu ke Jepang oleh UMKM

Ketika kita mendengar nama negara Korea Utara


1
1 point

Korea Utara

Ketika kita mendengar nama negara Korea Utara pasti tidak akan pernah terbayang drama korea dengan nama-nama seperti Lee Min Hoo, Jang Geun Suk atau Son Ye Jin sebagaimana halnya Ketika mendengar nama Korea Selatan. Yaa Korea Utara lebih dikenal karena sosok pemimpinnya yaitu “Kim Jong-un” pemimpin tertinggi di Korea Utara yang fenomenal. Negara yang menutup diri dengan dunia luar ini menerapkan sistem perekonomian komunis yang terpusat dengan ideologi kemandirian dengan menguasai beberapa sektor bisnis diantaranya besi baja, semen dan peralatan mesin. Sistem ekonomi yang terpusat dan menutup dari dunia luar membuat perekonomian Korea Utara tidak bisa tumbuh dengan baik ditambah pengaruh pandemic Covid-19 yang memaksa korea utara menutup perbatasan dengan China sebagai sekutunya sementara China adalah partner utama dibidang perdagangan. Pengaruh penutupan perbatasan karena wabah Covid-19 tentunya membuat perekonomian Korea Utara melemah karena hampir seluruh perdagangan Korea Utara dilakukan dengan China berdasarkan data dari The Observatory of Economic Complexity tahun 2017 menunjukkan bahwa kegiatan ekspor dan impor Korea Utara didominasi dengan China. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik tahun 2017 Neraca Perdagangan Indonesia dengan Korea Utara masih defisit, Nilai Ekspor  Indonesia ke Korea Utara sepanjang tahun 2017 hanyalah US$ 35.697 sementara total impor Indonesia dari Korea Utara sebesar US$397.678,45. Sedangankan PDB Korea Utara pada tahun 2019 hanyalah US$ 29,6 Milyar

Jepang

Negara ini tidak pernah asing bagi Indonesia, dari mulai masa sebelum Indonesia merdeka sampai dengan saat ini, berbagai kerjasama baik perekonomian, pendidikan dan sosial budaya telah dijalin oleh Indonesia dengan salah satu negara raksasa ekonomi di Asia ini. Saat ini Sistem Perekonomian Jepang telah mengalami transisi dari model Developmental State menjadi perekonomian pasar bebas sebagaimana yang dianut oleh Amerika Serikat. Jepang membangun Sumber Daya Manusia karena sadar akan lemahnya Sumber Daya Alam, sektor industri dengan keunggulan produk dan sumber daya manusianya menjadi penopang ekonomi jepang, filosofi “Monozukuri” juga menjadi salah satu kunci berhasilnya industri di jepang, monozukuri memiliki arti semangat menciptakan dan memproduksi produk-produk unggul, diimbangi kemampuan untuk terus menyempurnakan proses dan system produksi didalamnya. Jepang adalah negara terbesar keempat didunia setelah Amerika Serikat, Uni Eropa dan China, GDP Jepang tahun 2019 berdasarkan data dari IMF mencapai USD 10,51 Trilyun Dalam perdagangan internasional, mengutip data dari TrendEconomy.com China dan Amerika Serikat masih menjadi partner utama negara destinasi ekspor maupun sumber impor Jepang. 

Perbandingan Sistem Ekonomi Jepang vs Korea Utara

Remarks

Jepang

Korea Utara

Economy Sistem

Ekonomi Pasar Bebas dan terindustrisasi

Komunis yang industrialisasi, autarkik, dan sangat terpusat.

Business Ownership

Perusahaan Swasta/ Individu

Sebagian besar industri dimiliki dan diatur oleh Pemerintah

Profit

Profit dimiliki oleh perusahaan dan individu setelah membayar pajak ke pemerintah.

Profit ditentukan oleh pemerintah dan dimiliki oleh pemerintah.

Competition

Kompetisi diserahkan ke pasar/ perusahaan/ Individu

Pemerintah menentukan pasar.

Product Availability and Price

Produk yang tersedia di pasar cukup banyak dan harga barang bersaing di pasar.

Produk terbatas karena pasar ditentukan pemerintah dan harga barang diatur pemerintah

Employee Option

Terdapat pilihan yang luas untuk memilih karir sesuai kebutuhan dan kualitas pekerja.

Terdapat wajib militer di korea utara dan terdapat kriteria yang ditentukan oleh pemerintah.

Dampak Covid-19 terhadap penjualan Lokal Umbi Cilembu

CV. Techtar Farm and Food adalah UMKM yang bergerak di bidang agrobisnis berupa umbi cilembu, CV. Techtar Farm and Food hanya memiliki lahan 1Ha sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan penjualan CV. Techtar Farm and Food melakukan kemitraan dengan petani sekitar, dengan produk . Pandemi Covid-19 membuat penjualan Umbi Cilembu mengalami penurunan, PHK karyawan, penurunan jam kerja yang mengakibatkan penurunan pendapatan, semakin tingginya angka covid-19 mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap barang bukan kebutuhan pokok. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk membatasi ruang gerak masyarakat dalam mencegah penyebaran virus Covid-19. Penurunan jumlah wisatawan juga mempengaruhi penjualan umbi cilembu dikarenakan umbi cilembu biasa dipakai sebagai makanan selama berwisata dan oleh-oleh. 

Supply vs Demand

Umbi Cilembu adalah tanaman pangan dengan masa panen setiap 4 bulan terus menerus tanpa mengenal musim tanam, dengan karakter seperti ini produksi umbi cilembu akan terus menerus tanpa adanya pengaruh hambatan masa panen dan musim tanam, sehingga supply umbi cilembu dipasaran tinggi sementara dampak penyebaran virus covid-19 menyebabkan penurunan demand. Beberapa hal yang mempengaruhi penurunan demand konsumsi produk pangan sekunder diantaranya :

  1. Angka penyebaran virus covid-19 yang semakin hari semakin tinggi;
  2. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran PP-21//2020;
  3. Turunnya daya beli masyarakat
  4. Menurunnya industry pariwisata sebagai dampak penyebaran virus covid-19

Ekspansi Pasar

Untuk tetap menjaga angka penjualan umbi Cilembu disaat menurunnya daya beli masyarakat lokal dan makin berlarutnya penanganan penyebaran Virus Covid-19 di dalam negeri, CV. Techtar Farm and Food harus mulai mengekspansi pasar pasar ekspor walaupun selama ini  CV. Techtar Farm and Food sudah mempunyai negara tujuan ekspor yaitu Singapura. Pandemi Covid-19 dirasakan semua negara dan mengakibatkan penurunan di semua sektor ekonomi suatu negara. Pengendalian penyebaran virus covid-19 ditiap negara menjadi pembeda dalam kecepatan pemulihan ekonomi disuatu negara, peluang ini harus dilihat oleh para pelaku UMKM umbi cilembu. Jepang lebih dipilih karena akses pasar yang terbuka dan penanganan penyebaran covid-19 yang lebih baik, juga tidak memberlakukan lock down. Dan yang paling utama Jepang adalah negara dengan konsumsi umbi yang besar, di Jepang, umbi sebagian besar digunakan untuk industri makanan dan juga untuk pakan ternak. Berdasarkan data yang diambil dari Trademap nilai impor jepang untuk produk umbi di tahun 2019 adalah sebesar  USD 92,5 juta dimana 5 besar negara pengekspor umbi ke Jepang adalah China, Vietnam, Indonesia, Thailan dan Taiwan. Dengan konsumsi umbi yang besar di Jepang perlu kontrol kualitas dalam memasarkan produk umbi Indonesia di Jepang, oleh karena itu CV. Techtar Farm and Food  harus berbenah dan melakukan edukasi kepada petaninya agar bisa menghasilkan umbi yang sehar dan minim residu pestisida. Pertimbangan lain mengapa Jepang dijadikan destinasi ekspor Umbi Cilembu adalah adanya perjanjian pasar bebas antara Indonesia dan Jepang sehingga produk umbi cilembu Indonesia bisa diterima dengan tarif bea masuk yang kecil yanitu sebesar 2,3% tentunya memberikan peluang yang lebih baik untuk CV. Techtar Farm and Food untuk meningkatkan nilai ekspor ke Jepang terhadap petani beberapa hal yang bisa dilakukan oleh CV. Techtar Farm and Food dalam melakukan ekspansi pasar keluar negeri terutama di jepang diantaranya:

  1. Melakukan komunikasi dengan pihak Indonesia Trade Promotion Centre di Jepang untuk mendapatkan informasi dan data penjualan umbi cilembu dan calon pembeli dan kondisi terkini di negara tujuan;
  2. Melakukan promosi melalui market online dan situs pencarian pembeli di pasar dunia;
  3. berpartisipasi dalam pameran dagang yang diselenggarakan di Jepang;
  4. mengikuti business matching atau rinteraksi langsung dengan calon pembeli yang diselenggarakan oleh instansi promosi atau perwakilan pemerintah;
  5. Melakukan pengujian produk di laboratorium untuk mendapatkan sertifikasi tentang kandungan gizi dalam produk
  6. Melakukan branding terhadap kemasan produk, menyesuaikan dengan market dan regulasi negara tujuanl;
  7. Mengkalkulasi biaya ekspor terutama ongkos logistik untuk mendapatkan harga jual yang bisa diterima oleh pembeli;
  8. Mengusulkan ke pemerintah daerah untuk dilakukan pelatihan tentang digital marketing dan perhitungan biaya logistic.

(Laporan Bisnis ITPC Indonesia di Osaka , Kementerian Perdagangan)

Referensi :

Katharina Buchholz, “Who Is North Korea Trading With?” The Observatory of Economic Complexity, https://www.statista.com/

Uni Sagena, Pergeseran Model Pembangunan Ekonomi Developmental State Jepang, Universitas Mulawarman

Muhammad Irfan Alfarisi, “Mengenal Monozukuri: Obsesi Jepang untuk Menciptakan Produk Berkualitas Tinggi”, https://www.idntimes.com/

Japan Import and Export All Comodities, Annual International Trade Statistics by Country, https://trendeconomy.com/

“Sektor Usaha yang Tumbuh Positif dan Negatif pada Kuartal II 2020“, https://databoks.katadata.co.id/

“Produksi umbi jalar menurut Provinsi 2015-2018, “Badan Pusat Statistik”

Laporan Bisnis ITPC Indonesia di Osaka , Kementerian Perdagangan

Nama Kelompok : Leaders R Us

Arya Mabruri Nurfata
Desti Permata Sari


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
aryamabruri

One Comment

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format