Kejar Tayang, Abai Prokes: Cara Industri Penyiaran Bertahan di era Pandemi


0

Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Industri Penyiaran

Pandemi Covid-19 di Indonesia telah menimbulkan dampak yang cukup masif, tidak hanya dari sisi kesehatan melainkan berdampak juga pada persoalan sosial ekonomi serta stabilitas keuangan. Berbagai sektor industri Tanah Air menghadapi persoalan keuangan tanpa terkecuali industri media nasional.  Bayang-bayang pemutusan hubungan kerja untuk karyawan perusahaan media menjadi semakin nyata, ketika industri media nasional dihadapkan pada performa bisnis yang menurun secara drastis, sebagaimana juga terjadi pada sektor lain secara bersamaan. Dilansir dari Bisnis.com bahwa industri media disebut bakal mengalami tekanan yang cukup berat di kuartal kedua tahun ini. Utamanya disebabkan oleh penurunan pendapatan iklan.1 Laporan ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Asosiasi Televisi Swasta Nasional (ATVSI) Syafril Nasution. Ia menyebut per Maret-Mei 2020 pendapatan iklan televisi telah turun 40% secara rata-rata nasional. Penurunan tersebut terjadi dalam kurun Maret hingga akhir Mei 2020.2

Menurut hasil riset Nielsen Media pada bulan Maret 2020, Pandemi COVID-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam hal mengkonsumsi media. Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, belum terlihat perubahan yang signifikan pada pola konsumsi media. Namun hasil pantauan Nielsen Television Audience Measurement (TAM) di 11 kota di Indonesia menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat, dari rata-rata rating 12% di tanggal 11 Maret 2020 menjadi 13,8 % di tanggal 18 Maret 2020 atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV dalam rentang waktu satu minggu.3  Namun sayangnya momentum tersebut tidak disambut dengan baik oleh perusahaan pengiklan karena pada saat bersamaan pendapatan dari iklan mengalami tren penurunan.  Hal tersebut juga disampaikan oleh analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya yang mengatakan kinerja emiten media masih belum pulih di kuartal I/2020.  Pasalnya, perusahaan-perusahaan pengiklan diprediksi bakal makin ketat menahan alokasi biaya iklannya. Presiden Direktur SCMA (PT Surya Citra Media Tbk) Sutanto Hartono saat itumengatakan bahwa pandemi telah mengakibatkan produksi konten perseroan terganggu. Bahkan kini perseroan sama sekali memberhentikan produknya baik sinetron maupun FTV (film televisi). Menurut Christine, meskipun berhentinya produksi dapat menekan beban biaya produksi perseroan, tapi di saat yang sama tidak adanya konten baru membuat jumlah spot iklan yang tersedia turut menyusut sehingga dikhawatirkan pengiklan akan beralih.4

Pelanggaran Etika Bisnis yang dilakukan

Sepertinya salah satu upaya yang dilakukan oleh industri media adalah tetap memproduksi acara-acara TV dengan rating yang tinggi seperti talk show, live show, dan sinetron.  Tidak sedikit tayangan TV yang terlihat mengabaikan protokol kesehatan tertentu demi mengejar keuntungan dari iklan.  Sepanjang Januari 2021, KPI menemukan 37 tayangan televisi yang diduga melanggar protokol kesehatan yang bersumber dari 11 stasiun televisi. Sebanyak 36 tayangan berasal dari hasil tim pemantauan isi siaran, sedangkan 1 tayangan berasal dari pengaduan publik yang disampaikan ke KPI dan telah diverifikasi. Dari 37 tayangan ini, pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan didominasi dengan tidak mengenakan masker dan pelindung wajah, selain itu didapati juga tayangan yang tidak memperhatikan jarak fisik atau social distancing.5 Kedisiplinan industri media terhadap protokol kesehatan menjadi perhatian penting dari berbagai pemangku kepentingan yang menangani penanggulangan Covid-19. Pencegahan penularan Covid-19 tidak akan efektif jika di televisi masih menyiarkan perilaku abai terhadap kewajiban mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

                               

Sumber tabel : http://www.kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/36110-siaran-pers-evaluasi-kepatuhan-televisi-atas-protokol-kesehatan-dalam-penyelenggaran-penyiaran-di-masa-pandemi-covid-19-januari-2021

Pendapatan Iklan yang Berkurang

Seperti disebutkan di atas, berbagai perusahaan penyiaran khususnya penyiaran televisi mengalami turunnya pendapatan di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang hampir setahun menjangkiti hingga seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan-perusahaan media tersebut agar bisa selamat di masa pandemi ini, salah satunya dengan memperbanyak iklan agar kinerja bisnisnya tidak terlalu berdampak.  Sejalan dengan cara perusahaan penyiaran tersebut, menurut riset dari Panin Sekuritas, emiten sektor barang konsumsi (consumer goods) masih mencatatkan porsi belanja iklan terhadap pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historis.

Berdasarkan riset Panin Sekuritas, porsi belanja iklan terhadap pendapatan dari emiten consumer goods secara rata-rata 5 tahun terakhir (2014-2019) berada di level 6,1%, sedangkan untuk tahun 2019 sendiri, rata-rata porsi belanja iklan terhadap pendapatan sepanjang tahun tersebut berada di kisaran 6,8%.  Memasuki tahun 2020, porsi belanja iklan terhadap total pendapatan relatif masih meningkat dimana di 3Q20 berada di level 7,7%. Hal ini menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten di sektor media, seiring dengan kontribusi belanja iklan dari FMCG yang masih cukup tinggi (sekitar 60%-70%) terhadap total pendapatan iklan. Walaupun begitu, porsi pendapatan perusahaan media dari iklan rata-rata berkurang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya karena pendapatan iklan dari industri selain FMCG mengalami tren penurunan yang signifikan.

Sebagai contoh lebih lanjut, penurunan pendapatan tersebut diantaranya dialami oleh 2 industri penyiaran televisi, yaitu PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dengan data sebagai berikut:

1. Perusahaan media milik taipan Hary Tanoesoedibjo, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) sepanjang tahun ini hingga akhir September 2020 lalu mencatatkan penurunan laba bersih 17,50%. Hal ini karena koreksi pendapatan dari iklan yang menjadi mayoritas penyumbang pendapatan perusahaan. Di pos iklan non digital turun menjadi Rp4,84 triliun dari Rp5,53 triliun. Iklan digital naik tipis menjadi Rp675,94 miliar dari Rp502,99 miliar. Namun tak bisa mengkompensasi penurunan iklan non digital tersebut. Dari pos konten juga turun kontribusinya menjadi Rp1,09 triliun dari periode sembilan bulan pertama tahun lalu yang senilai Rp1,29 triliun. Dari kasus turunnya porsi iklan di MNC tersebut yang membuat pendapatan perusahaan turun karena kemungkinan faktor dari acara televisi yang disiarkan secara langsung dengan melibatkan banyak penonton juga dikurangi pada masa pandemi, apalagi larangan bagi stasiun televisi untuk mengundang penonton secara langsung juga membuat perusahaan media sangat terpukul, sehingga jika tidak ada penonton yang dihadirkan, maka iklan menjadi ‘seret’.6

                                   https://lh5.googleusercontent.com/RruMT04f-Cu86zMExnrcT0ESKdcvBOGrSYcqItaZxfpXjszf6yMsLAfphgWf50QOew96LWVMIh9ZrMdIhMj46mZZMlNTbdg5WuECsB6Vi2Ev_tNV91UH7bWkO_GhrK8Bmom-EdgM

                                    sumber : theinsiderstories.com

2. Perusahaan penyiaran televisi lainnya yang juga mengalami penurunan laba bersih, khususnya sepanjang triwulan I 2020 adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang juga merupakan induk stasiun televisi SCTV dan Indosiar. Turunnya kinerja tersebut antara lain disebabkan oleh terkikisnya pendapatan perseroan akibat pandemi corona.  Berdasarkan laporan keuangan perseroan, sepanjang tiga bulan pertama 2020, SCMA mencatatkan laba bersih Rp 311,52 miliar. Angka ini turun 22,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year) senilai Rp 399,95 miliar. Adapun pendapatan perusahaan pada triwulan I 2020 turun 1,51% menjadi Rp 1,30 triliun dari Rp 1,32 triliun. Manajemen perusahaan mengatakan, industri media di Indonesia selama kuartal pertama di  2020 menunjukkan penurunan. Penyebaran virus Covid-19 pada Maret dinilai mulai berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia maupun global dan menyebabkan berkurangnya belanja iklan dari perusahaan multinasional. Tak hanya itu, perusahaan lokal dan e-commerce juga mulai menunjukkan kehati-hatian mengalokasikan belanja iklan.  “Namun, karena Grup tetap dapat mempertahankan posisi pangsa pemirsa, maka hanya mengalami sedikit penurunan pertumbuhan pendapatan,” tulis manajemen perseroan dalam laporan keuangan dikutip dari keterbukaan informasi BEI. Pendapatan SCMA dari belanja iklan pada triwulan I 2020 masih meningkat tipis 3,2% menjadi Rp 1,51 triliun dari sebelumnya Rp 1,47 triliun. Namun, pendapatan lain-lain pada periode itu anjlok 42% menjadi Rp 86,66 miliar, turun dari yang sebelumnya Rp 150,16 miliar secara tahunan. Dengan penurunan tersebut ditambah dengan meningkatnya beban usaha menyebabkan laba usaha SCMA menyusut 2,4% menjadi Rp 440 miliar diikuti penyusutan laba sebelum pajak 3,8% menjadi Rp 452 miliar.7

                      https://lh3.googleusercontent.com/9IHqlktuRD-MYT0dsz8GE8kVA1ORsc5STZLxonWnp53OWKOa0v6V9TAii8_PSYr9NhMza7r0OXrRc93Ocdq5MTz9Gvifd9cr6t2Vb6TCNx5rp3PA1aJ6wYs_2863LG93nhOXGf0r

                               sumber : market.bisnis.com

Sehubungan dengan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, pemerintah Indonesia telah menetapkan protokol kesehatan meliputi 5M yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Terkait dengan pembatasan mobilisasi dan interaksi di antara masyarakat, maka pemerintah Indonesia juga telah mengaturnya dengan menetapkan kebijakan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Pandemi yang melanda dunia akibat Covid-19 telah mengharuskan masyarakat melakukan adaptasi kebiasaan baru guna menekan jumlah penyebaran virus tersebut. 

                              https://lh6.googleusercontent.com/524hvQz_m9bh42bCm9mO6go0S2DAZOFlfAw5vSOeJkZ2cvGETEFpD_rQzqr7MK1K6UcpDee1JW6SkvescoeSOChWPaHymeZXqjRmJFcZ_aE363Gsxf3Nh5HmHMLTQ-dyn1r74Gw6

Peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selaku komisi pengawas penyiaran di Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan terkait penyelenggaraan penyiaran, khususnya di bidang penyiaran televisi. Wakil Ketua KPI Mulyo Hadi Purnomo mengatakan, kebijakan ini diambil mengingat televisi masih menjadi media dengan jangkauan penonton paling banyak dan memiliki daya duplikasi yang tinggi pada masyarakat. Karenanya dalam setiap program yang disiarkan kepada masyarakat, ketaatan terhadap protokol kesehatan merupakan sebuah keharusan. Mulyo juga mengungkapkan bahwa kedisiplinan lembaga penyiaran terhadap protokol kesehatan menjadi perhatian penting dari berbagai pemangku kepentingan yang menangani penanggulangan Covid-19. Penegakan protokol kesehatan tidak akan efektif jika di televisi masih menyiarkan perilaku abai terhadap kewajiban mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Hal ini disampaikan Mulyo dalam rangka publikasi hasil evaluasi kepatuhan televisi terhadap protokol kesehatan dalam penyelenggaraan penyiaran di masa pandemi Covid-19 periode Januari 2021, di kantor KPI Pusat.8

Keputusan KPI (KKPI) nomor 12 tahun 2020

Sebagai salah satu bentuk pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, maka KPI sebagai regulator penyiaran yang bertugas mengatur dan mengawasi setiap konten siaran telah menerbitkan kebijakan untuk menyiarkan sosialisasi pencegahan penyebaran Covid-19 baik melalui Iklan Layanan Masyarakat (ILM) atau pun program lainnya oleh televisi dan radio. KPI juga mengeluarkan Keputusan KPI (KKPI) nomor 12 tahun 2020 pada 25 November 2020 tentang Dukungan Lembaga Penyiaran dalam Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Persebaran Covid-19.  Berdasarkan KKPI tersebut, KPI menetapkan beberapa ketentuan yang menjadi parameter kepatuhan program siaran dalam menjalankan protokol kesehatan, diantaranya adalah:

(1) menggunakan masker dan atau pelindung wajah;

(2) menjaga jarak sejauh 1-2 meter;

(3) tidak melakukan adegan kontak fisik;

(4) visualisasi adegan news anchor (pembawa berita) membuka masker pada saat memulai membaca berita dan mengakhirinya dengan menutup masker;

(5) menayangkan rekaman atau penyematan informasi bahwa sebelum siaran dimulai lembaga penyiaran telah melakukan sterilisasi ruangan, peralatan dan perlengkapan shooting serta protokol kesehatan bagi para kru, talent, pembawa acara, maupun narasumber; dan

(6) menghadirkan orang di dalam studio tidak melebihi 25% dari kapasitas ruangan.9

Analisis Pelanggaran Etika Bisnis oleh Industri Penyiaran

Meskipun KPI baru mengeluarkan peraturan mengenai protokol kesehatan bagi Lembaga Penyiaran di bulan November 2020, namun tidak ada alasan bagi lembaga penyiaran dalam hal ini produser acara televisi untuk tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar, termasuk di dalamnya mengenai pembatasan maksimal jumlah orang dalam suatu kegiatan ataupun di tempat bekerja).  Hal ini karena hal tersebut berlaku untuk semua masyarakat dan semua sektor usaha.

Beberapa artis seperti Randy Martin dan Gita Sinaga serta sutradara Yogi Yose yang terlibat dalam proses produksi sinetron selama masa pandemi menceritakan bahwa mereka menjalankan protokol kesehatan Covid-19 semaksimal mungkin selama di lokasi syuting dan cukup sering melakukan rapid test maupun PCR swab test untuk menjaga keselamatan sesama rekan kerja maupun keluarga di rumah.10

Di sisi lain, tidak sedikit program televisi terutama jenis variety show di mana para pengisi acaranya dinilai telah melanggar protokol kesehatan Covid-19 seperti tidak memakai masker, tidak memakai pelindung wajah (face shield) dan tidak menjaga jarak (social distancing).

Kelalaian Lembaga Penyiaran dalam mematuhi protokol kesehatan merupakan tindakan yang tidak mengutamakan etika bisnis dan tanggung jawab sosial.  Terutama karena televisi merupakan media dengan jangkauan masyarakat yang sangat luas sehingga apa yang ditayangkan di televisi dapat memberikan implikasi sosial yang signifikan.  Penonton dapat melihat tayangan televisi tanpa protokol kesehatan misalnya para pengisi acara tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak, lalu menjadikan hal tersebut sebagai contoh pembenar untuk juga melanggar protokol kesehatan di lingkungan masyarakat.  Sebagai akibatnya, potensi penularan Covid-19 tidak dapat ditekan dan berpotensi membahayakan kesehatan orang lain.

Credit

OC Ferrel, Geoffrey A Hirt dan Linda Ferrel dalam buku Business Foundations, a Changing World menyebutkan ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi etika bisnis suatu organisasi yaitu standar dan nilai-nilai yang diyakini oleh individu / karyawan dalam organisasi / perusahaan tersebut, pengaruh dari manajer / atasan dan rekan kerja serta faktor peraturan ataupun ketentuan perusahaan.  Di sisi lain, etika bisnis tidak hanya ditetapkan oleh organisasi itu sendiri, tapi juga pelanggan, kompetitor, pemerintah / pemangku kebijakan, kelompok-kelompok yang berkepentingan dan masyarakat secara umum.11

Berdasarkan dasar teori tersebut, maka berikut ini adalah analisis mengenai mengapa produser acara televisi melanggar ketentuan protokol kesehatan:

  1. Individu yang terlibat dalam kegiatan produksi acara televisi tidak memiliki standar dan nilai yang sama dengan yang diharapkan oleh Pemerintah yaitu nilai dan kesadaran tinggi untuk mengedepankan keselamatan dan kesehatan mereka sendiri dan orang lain.  Mungkin, nilai yang diyakini adalah untuk mengedepankan profit atau keuntungan dan cenderung mengesampingkan risiko penularan Covid-19.
  2. Pengaruh dari manajemen dan pihak-pihak lain di dalam organisasi Lembaga Penyiaran tersebut yang mengedepankan kepentingan produksi acara untuk memenuhi target seperti peringkat acara dan iklan yang dapat diperoleh dari produksi acara tersebut.  
  3. Tidak terdapat ketentuan internal yang tegas di dalam Lembaga Penyiaran tersebut mengenai implementasi dan kepatuhan organisasi terhadap protokol kesehatan.

Bentuk Tanggung Jawab Sosial Industri Penyiaran di tengah Pandemi

Beruntung, kontrol atau pengawasan dari pihak eksternal seperti KPI dan masyarakat berfungsi dengan baik sehingga dapat membentuk etika bisnis yang diharapkan dari Lembaga Penyiaran terutama di masa pandemi ini, untuk juga berperan dalam kampanye protokol kesehatan Covid-19.   Pengaduan dari masyarakat dan dikeluarkannya KKPI Nomor 12 tahun 2020 merupakan contoh pembentukan etika bisnis bagi Lembaga Penyiaran khususnya terkait dengan penerapan protokol kesehatan Covid-19 sehingga Lembaga Penyiaran dapat tetap melakukan produksi selama menjalankan protokol kesehatan yang ditetapkan.

Selain dikeluarkannya aturan mengenai protokol kesehatan Covid-19 bagi Lembaga Penyiaran, perlu dibarengi dengan pengawasan yang ketat secara konsisten oleh KPI dan masyarakat.  KPI juga harus dengan tegas menjatuhkan sanksi yang sesuai mulai dari teguran tertulis, penghentian sementara mata acara yang bermasalah setelah melalui tahap tertentu; atau pembatasan durasi dan waktu siaran.   Hal ini diharapkan dapat menimbulkan efek jera dan kehati-hatian para produser acara televisi sehingga semakin patuh dalam melaksanakan protokol kesehatan Covid-19.  

Solusi lain yang perlu dipertimbangkan adalah memberikan apresiasi bagi tayangan ataupun stasiun televisi yang paling patuh dalam memastikan implementasi protokol kesehatan Covid-19 sebagai stasiun televisi dengan etika bisnis yang baik dan berdampak positif di masyarakat. Selain itu, KPI selaku regulator penyiaran pertelevisian di Indonesia perlu menghimbau kepada para perusahaan penyiaran televisi agar perusahaan penyiaran televisi ikut menayangkan acara-acara yang mengedukasi masyarakat untuk mematuhi prosedur kesehatan 5M yang telah ditetapkan pemerintah, salah satunya melalui iklan layanan masyarakat.



Kelompok : Lords of Business

1. Ferdinand Luther

2. Yunarto Tri Wibowo

3. Ayoe Bientang Anggarie


Referensi:

1.https://money.kompas.com/read/2020/05/14/173700626/industri-pers-terancam-dampak-covid-19-pemerintah-didorong-keluarkan-insentif?page=all.

2https://www.alinea.id/bisnis/strategi-siaran-ulang-demi-pangkas-beban-operasional-b1ZOD9vbf 

3.https://www.nielsen.com/id/id/press-releases/2020/covid-19-dan-dampaknya-pada-tren-konsumsi-media/

4https://market.bisnis.com/read/20200519/189/1242712/iklan-berkurang-kinerja-emiten-media-diprediksi-makin-tertekan

5.http://kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/36110-siaran-pers-evaluasi-kepatuhan-televisi-atas-protokol-kesehatan-dalam-penyelenggaran-penyiaran-di-masa-pandemi-covid-19-januari-2021

6https://www.cnbcindonesia.com/market/20201125163142-17-204617/belanja-iklan-turun-kinerja-emiten-media-ikut-amburadul/1

7https://katadata.co.id/ekarina/finansial/5eaff5c172238/imbas-corona-laba-bersih-induk-sctv-dan-indosiar-triwulan-i-turun-22

8http://kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/36110-siaran-pers-evaluasi-kepatuhan-televisi-atas-protokol-kesehatan-dalam-penyelenggaran-penyiaran-di-masa-pandemi-covid-19-januari-2021

9  https://kpid.jatengprov.go.id/wp-content/uploads/2020/11/KKPIP-No.-12-Tahun-2020.pdf

10 https://hot.detik.com/celeb/d-5294636/cara-randy-martin-jaga-kesehatan-meski-syuting-saat-pandemi-corona ; https://www.jawapos.com/entertainment/infotainment/13/06/2020/mulai-kembali-syuting-sinetron-di-masa-pandemi-gita-sinaga-rikuh/ ; https://lifestyle.bisnis.com/read/20200702/254/1259813/suka-duka-sutradara-yogi-yose-syuting-di-tengah-pandemi

11. Business Foundations A Changing World 12th Edition, OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt dan Linda Ferrel 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format