Jilbab Halal Zoya, Tren Bisnis Atau Kapitalisasi Agama?

Pada umumnya, sertifikasi label halal ditemukan pada produk pangan, kosmetik dan obat-obatan namun kali ini Jilbab yang berlabel halal. Apa tujuannya?


1
1 point

LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia) didirikan atas keputusan mendukung MUI berdasarkan surat keputusan perizinan 018/MUI/1989 pada tanggal 6 Januari 1989. Lembaga ini bertugas untuk mengkaji, meneliti, menganalisis, dan memutuskan apakah produk-produk tersebut masuk kedalam kriteria halal atau tidak. Secara tidak sadar, LPPOM-MUI dibentuk untuk menenangkan keresahan masyarakat akibat rumor adanya lemak babi (sebagai penyedap makanan) di sejumlah produk pangan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, produk yag diperksa oleh MUI bukan hanya produk pangan saja, melainkan produk non pangan juga seperti, alat masak, detergen, pakaian, barang elektronik,dll. Terdapat peningkatan signifikan dalam pembuatan sertifikasi halal produk pangan maupun non pangan. Berikut data sertifikasi halal periode 2012-2019 dilansir dari laman LPPOM-MUI:

Dapat dilihat maraknya perusahaan mendaftarkan produknya agar mendapatkan sertifikasi halal dan menjadi label yang mana agar masyarakat Indonesia percaya bahwa produk yang mereka produksi dikatakan “halal”.

Dengan begitu, banyak pro-kontra dikalangan masyarakat terkait dengan sertifikasi halal untuk produk non pangan. Adanya sertifikasi halal tersebut menjadikan asumsi publik bahwa adanya kapitalisasi agama. Namun asumsi tersebut ditepis oleh Wakil Presiden Ekonomi dan Keuangan, Wijayanto Samirin, bahwa Indonesia tidak hanya terdiri masyarakat muslim saja dan jika adanya pengkotak-kotakan produk yang halal atau tidak menjadikan adanya segregasi masyarakat. Kantor, Wakil Presiden juga menjadi tempat pembuatan PP JPH yang mana akan menjamin produk yang tidak halal/tidak lolos sertifikasi/tidak ingin mengurus sertifikasi halal tetap bisa dipasarkan seperti biasa. Pada dasarnya, produk yang diharuskan halal terdapat pada gambar dibawah ini:

Namun dilema muncul ketika menurut peneliti perilaku konsumen mengatakan bahwa saat ini masyarakat Indonesia mulai concern terhadap sertifikasi halal daan nantinya produk-produk yang telah lulus sertifikasi akan memiliki posisi tawar di pasar yang lebih tinggi dibanding dengan produk tanpa label halal. Karena persepsi konsumen muslim di Indonesia adalah produk yang berlabel halal sudah tidak perlu lagi diragukan akan bahan-bahan produksi produk tersebut. Hal ini menjadikan asumsi kapitalisasi agama semakin santer terdengar akibat dari untuk mendapatkan sertifikasi halal membutuhkan biaya mencapai Rp5 juta untuk satu produk dan inilah hanya perusahaan yang sudah sukses baru bisa mendaftarkan produknya dan menjadi ketimpangan dengan usaha kecil dan menengah yang masih keberatan dalam mengeluarkan biaya segitu besar untuk mendaftarkan sertifikasi halal. Stigma inilah yang memunculkan bahwa adanya kapitalisasi agama.

Zoya

Merk busana muslim asal Bandung, Zoya sempat menjadi kontroversi akibat munculnya jilbab berlabel halal. Hal ini memicu masyarakat berkomentar bahwa mengapa produk pakaian harus menggunakan label halal dan apakah perlu. Hal ini langsung ditanggapi oleh Creative Director Zoya bahwa keputusan pakaian berlabel halal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia akan aturan perundangan tentang jaminan Produk Halal. Pada awalnya, ide label halal pada hijab Zoya adalah berasal dari konsumen yang menanyakan kehalalan produk Zoya. Akibat dari pertanyaan tersebut, Zoya mempersiapkan diri untuk menyusun secara resmi untuk kehalalan bahan baku dari Zoya. Proses pembuatan bahan baku yang bersertifikasi halal menjadikan bentuk tanggung jawab Zoya terhadap konsumen muslim di Indonesia. Keputusan Zoya ini juga bertepatan dengan UU Pemerintah No. 33 Tahun 2004 Pasal 1 tentang jaminan Produk Halal termasuk barang atau jasa meliputi makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologis, produk rekayasa genetika, dan barang guna yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan masyarakat. Pelabelan halal pada Zoya menjadikan polemik dan blunder bagi konsumen awam dan hal ini dicegah oleh MUI yang menyatakan bahwa meskipun pakaian merk Zoya mendapatkan pelabelan halal tidak berarti produk hijab selain Zoya tidak halal. MUI juga berharap agar Zoya tidak menyalahgunakan label halal sebagai diskriminatif terhadap produk hijab lainnya. 

Pro Kontra Sertifikasi Halal Jilbab Zoya

Secara garis besar, islam telah mengatur kegiatan berniaga dalam lingkup general. Banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa dalam kegiatan berbisnis, setiap pelakunya wajib menjunjung tinggi prinsip-prinsip islam seperti tidak boleh berbohong, tidak boleh menipu, tidak boleh riba, tidak boleh mencurangi baik konsumen maupun sesama pelaku binis dalam hal apapun. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. An-Nisa 4:29,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Terkait permasalahan pelabelan dan sertifikasi halal pada produk non pangan, terdapat beberapa argumen yang mendukung hal tersebut. Salah satunya dari lembaga yang mengeluarkan sertifikasi tersebut di Indonesia yaitu Majelis Ulama Indonesia. MUI berpendapat bahwa sertifikasi halal tidak hanya terbatas pada produk pangan saja, tapi dapat diterapkan pada produk non pangan. Hal tersebut dikarenakan sejatinya konsep halal menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia seperti cara berperilaku, cara beribadah, cara mencari ma’isyah, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, hal tersebut dianggap sah-sah saja di mata MUI. Banyak kita temui dalil-dalil dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang mendukung pernyataan ini. Salah satunya tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah 2:208 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut ayat di atas terdapat lafaz “kaffah” yang berarti “menyeluruh”. Lafaz tersebut dapat ditafsirkan bahwa seorang muslim harus mengikuti setiap syariat-syariat islam yang menyentuh segala aspek kehidupan tanpa terkecuali. 

Selain itu, pertumbuhan dan penyebaran pemeluk agama islam berkembang sangat pesat. Egel dan Fry (2016) menyebutkan bahwa pemeluk islam di dunia saat ini menyentuh angka 1,6 miliar dan diproyeksikan akan bertambah menjadi 2,76 miliar pada 2050. Indonesia juga merupakan negara dengan muslim terbanyak di dunia. Tentunya hal ini menjadi potensi pasar yang besar bagi perusahaan-perusahaan dunia. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk meregulasi hal ini sertifikasi halal dibutuhkan untuk segala produk yang akan memasuki pasar Indonesia.

Akan tetapi, melakukan sertifikasi halal pada produk non pangan adalah salah satu pemborosan yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Di samping harga sertifikasi yang mahal dan memakan waktu untuk mendapatkannya, sertifikasi halal pada produk non pangan memiliki urgensi yang rendah. Hal itu dikarenakan produk non pangan, dalam kasus ini Jilbab Zoya, tidak masuk ke dalam tubuh manusia sehingga tidak dipermasalahkan kehalalannya. Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. Al-Isra' [17]: 26-27

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)

Dari kedua dalil tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kita dilarang untuk menghambur-hamburkan harta kita pada sesuatu yang kurang bermanfaat atau di jalan yang salah karena pemborosan adalah sifat syaitan dan akan mengundang murka Allah SWT.

Perbandingan Produk Pangan dan Non Pangan

Dari tabel tersebut secara umum dapat dilihat bahwa perbedaan mendasar dari sertifikasi kehalalan antara dua produk yang telah disebutkan adalah sifatnya yang mana dalam membuat sertifikasi produk pangan bersifat wajib sedangkan produk non pangan masih sukarela. Selain itu dari segi konsumsi produk pangan didasarkan kebutuhan primer atau pokok sedangkan produk sandang memiliki banyak faktor dari segi konsumsi. Secara garis besar sebenarnya hingga saat ini pemberian label halal pada produk non-pangan masih berdasarkan pihak paling berkepentingan yaitu produsen atau pemasar sehingga sifatnya adalah opsional dan sukarela.

Pendapat dan Kesimpulan

Produk halal menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan dalam islam karena sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadist bahwa umat islam boleh mengkonsumsi produk halal dan dilarang mengkonsumsi produk haram. Dalam isu jilbab Zoya berlabel halal, kami berpendapat bahwa label halal menjadi suatu hal yang penting bagi umat muslim tapi belum ada urgensi terkait dengan pelabelan halal pada produk non-pangan. Hal tersebut dikarenakan bahwa produk non-pangan tidak masuk kedalam tubuh lewat mulut dan pelabelan halal pada produk non-pangan masih bersifat sukarela. Kami juga berpendapat bahwa produk non-pangan khususnya produk jilbab Zoya adanya unsur political engagement dalam hal aktualisasi diri ketika menggunakannya. Konsumen yang membeli produk tersebut akan memiliki rasa percaya diri dan merasa bangga akan produk yang telah dilabeli halal. Selain itu juga, ada kemungkinan bahwa kompetitor akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Zoya. Para kompetitor tentunya tidak akan diam dalam menyikapi perbuatan Zoya.

Sebagai produsen, memberikan produk yang terbaik menjadi suatu hal yang sangat penting dalam memuaskan konsumen seperti melabelinya dengan label halal. Kami berpendapat bahwa melabeli produk dengan label halal akan membuat konsumen yang beragama muslim akan merasa lebih aman ketika menggunakannya. Namun, memberi label halal pada suatu produk membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Seperti yang kita tahu bahwa produk non-pangan tidak memiliki urgensi untuk dilabeli halal karena masih bersifat sukarela. Kalau peraturan terkait pelabelan halal pada produk non-pangan menjadi wajib makan kos untuk membuat produk akan jadi lebih mahal dan harga akan naik. Hal tersebut tentunya akan memberatkan produsen. Selain itu juga, ada kemungkinan bahwa kompetitor akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Zoya.

Suatu produk non-pangan tidak memiliki urgensi untuk dilabeli halal tapi akan lebih baik jika dilabeli halal agar dapat menarik minat konsumen. Produk pangan dan non-pangan memiliki urgensi yang berbeda dalam pelabelan halal. Namun, konsumen akan merasa lebih puas jika menggunakan produk berlabel halal. Upaya yang dilakukan oleh Zoya dapat mendorong perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama dan persaingan akan semakin ketat. 

Referensi

Sertifikasi halal Produk Non MAKANAN MINUMAN, Syariah ATAU BISNIS? (n.d.). Retrieved March 20, 2021, from https://www.watyutink.com/topik/humaniora/Sertifikasi-Halal-Produk-Non-Makanan-Minuman-Syariah-atau-Bisnis 

Egel, E., & Fry, L. W. (2017). Spiritual leadership as a model for Islamic leadership. Public Integrity, 19(1), 77-95.

LPPOM MUI: LEMBAGA PENGKAJIAN Pangan OBAT-OBATAN DAN KOSMETIKA Majelis Ulama Indonesia. (n.d.). Retrieved March 20, 2021, from https://www.halalmui.org/mui14/main/page/data-statistik-produk-halal-lppom-mui-indonesia-2012-2019 

Rezkisari, I. (2016, February 09). Jilbab halal Dimaksudkan ZOYA untuk beri Edukasi. Retrieved March 20, 2021, from https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/16/02/09/o2a1mu328-jilbab-halal-dimaksudkan-zoya-untuk-beri-edukasi 

Zoya klaim produk jilbabnya halal, ini KATA MUI. (2016, February 04). Retrieved March 20, 2021, from https://www.merdeka.com/gaya/zoya-klaim-produk-jilbabnya-halal-ini-kata-mui.html 

Tuasikal, M. Abduh. 2011. Hidup Boros, Temannya Setan. Retrieved March, 20, 2021 from https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html 

Author

  • Diniar Rizkia 

  • Dearidrani Islamihaniar 

  • Aditya Prasetya 

  • Sirajuddin Ahyar

  • Sabda Alam Teduh Nusa 


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
1
Win
adityaprast

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format