“Wardah”, Komestik Halal yang Mendunia

Artikel berikut membahas mengenai salah satu produk non pangan yang halal menurut pandangan Islam.


2
2 points

Menteri Agama, Lukman, mengatakan bahwa produk halal berpengaruh pada terkabulnya doa, amal soleh, dan kesehatan. Oleh karena itu, kesadaran umat Islam untuk mengkonsumsi atau menggunakan produk halal meningkat dapat dilihat dari keberanian konsumen menanyakan kejelasan tentang status produk yang akan dikonsumsi atau digunakan sebelum membeli kepada pihak produsen/penyedia jasa. Industri kosmetika dan sektor perawatan pribadi telah muncul sebagai salah satu pasar yang paling menonjol dan paling cepat berkembang. Prof Jusmaliani dari LIPI Hidayatullah.com (2011), seiring kesadaran umat Islam mengkonsumsi produk halal ternyata juga diikuti kesadaran produsen dalam menyajikan produknya yang kemudian menyebabkan tren di pasar regional maupun global terjadi peningkatan yang menggembirakan. Pada tahun 2017, terdapat 19 perusahaan kategori kosmetik di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi halal LPPOM MUI. 

Dari 19 perusahaan kategori kosmetik tersebut salah satunya adalah Wardah. Wardah hadir sebagai salah satu pionir produsen untuk produk kecantikan di Indonesia yang mengusung label “halal” dengan berbagai macam pilihan dan varian kosmetiknya. Wardah telah mempunyai sertifikasi halal MUI dengan nomor sertifikat 001510010680899 dan berkali kali meraih penghargaan salah satunya adalah Top Brand. Dengan tren pertumbuhan penjualan Wardah yang mencapai 50 persen setiap tahunnya, sedangkan produk lain melaju tak lebih dari 10 persen, bukan tidak mungkin sesungguhnya Wardah-lah yang kini mempunyai pangsa tertinggi di pasar kosmetik untuk kategori merek lokal.

 Menurut Nurhayati Subakat, Direktur Utama PT Paragon Technology & Innovation atau Wardah Cosmetic menyebutkan, Wardah adalah salah satu kosmetik asli Indonesia yang secara khusus diperuntukan bagi wanita-wanita muslimah dan secara umum untuk seluruh wanita yang ingin memakai kosmetik yang aman dan tidak mengandung bahan berbahaya serta bersertifikasi halal. Mengingat perkembangan teknologi yang berdampak pada semakin kompleksnya proses produksi sebuah produk kosmetik, tentunya label halal diperlukan untuk memberikan jaminan kepada konsumen sehingga dapat lebih mudah memilih dan mendapatkan produk kosmetik halal.

Wardah pertama kali menawarkan produk kosmetik berlabel halalnya sejak tahun 1995 dimana pada dekade 1990 an memang terjadi inflasi Islamisme, baik secara sosio-kultural maupun politis. Secara politis, Nurhayati mengindikasikan dengan bermunculannya organisasi masyarakat yang bercorak Islam. Selain urusan politis, jilbab juga jadi fenomena kultural. Meski berawal dari perjuangan menegakkan hak sipil untuk melaksanakan syariat Islam, lambat laun berjilbab dianggap sebagai kepantasan sosial. Upaya Wardah yang awalnya mengikuti gejala sosial itu akhirnya berbuah hasil 15 tahun kemudian. Dari 2010 ke 2011, unit produk yang dijualnya meningkat sebanyak 20 persen menjadi lebih dari 10 unit. Setelahnya adalah sejarah dengan peningkatan penjualan sebesar 50 persen tiap tahunnya.

Melihat perkembangan yang terjadi di industri kecantikan, terdapat  sejumlah data pada tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, rata-rata total belanja masyarakat Indonesia untuk kebutuhan kosmetik dan perawatan diri masih US$ 20 per kapita. Angka tersebut lebih kecil ketimbang Thailand (US$ 56 per kapita) dan Malaysia (USS 75 per kapita) dari angka tersebut kemenperin yakin bahwa masih ada banyak ruang bagi industri kecantikan untuk terus tumbuh di Indonesia. Ada tiga hal fundamental yang akan mendorong pertumbuhan industri kecantikan. Indonesia memiliki populasi penduduk usia muda yang sangat besar. Kemenperin mencatat, usia rata-rata masyarakat Indonesia saat ini adalah 28 tahun. Kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup baik dapat menopang industri, dan yang terakhir adalah media sosial yang turut berkontribusi besar dikalangan masyarakat di Indonesia.

Perbandingan Dua Produk Bersertifikat Halal


Konsep Produk Halal

Produk Non-Pangan Halal

Produk Pangan Halal

Halal Certification

Sertifikat Halal LPPOM MUI

Sertifikat Halal LPPOM MUI

Delegation

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah Kementerian Agama (Kemenag) kategori produk non pangan

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah Kementerian Agama (Kemenag)

Influential factor for consumption

Produk Halal memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan bagi masyarakat serta menciptakan nilai tambah bagi Pelaku Usaha. Adapun beberapa faktor yang mendorong konsumsi produk halal di Indonesia adalah awareness, religiusity, label halal, dan peran pemerintah.

Faktor sosial (Keluarga dan Lingkungan), Faktor Individu (Kesadaran religius, Gaya hidup & aspek kesehatan), Harga, Kualitas dan Labeling produk

Indonesian halal laws

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

  • Pasal 1 angka 1 membahas mengenai produk kosmetik termasuk produk yang terkait dengan UU Jaminan Produk Halal

  • Pasal 1 angka 3 membahas mengenai proses produk halal dari bahan hingga penyajian


Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang UU Produk Halal

  • Pasal 1 angka 1 membahas mengenai produk makanan dan minuman masuk ke UU Produk Halal 

  • Pasal 18 dan Pasal 20 membahas mengenai bahan yang diharamkan 

  • Pasal 26 membahas mengenai wajib mencantumkan keterangan tidak halal pada produk yang non-halal.

Amendment halal laws

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 yang membahas mengenai Produk Halal

Dari Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal ke Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja

Ethical consumption

Menggunakan produk halal merupakan suatu akhlak yang harus dilakukan oleh umat muslim.


Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah: “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik (halal).” [HR. Muslim]. 


Kitab Hadits Al-Arba’in an-Nawawiyah.

“Nabi saw. menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya lusuh penuh debu. Sambil menengadahkan tangan ke langit ia berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia selalu bergelut dan dikenyangkan dengan yang haram. (Maka Nabi saw. pun menegaskan), lantas bagaimana mungkin ia akan dikabulkan doanya.” (HR. Imam Muslim).

Mengkonsumsi makanan halal merupakan kewajiban bagi umat muslim. 

Al-Baqarah ayat 168. 

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” 

Shopping as political engagement

Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar, yang menunjukan besarnya konsumen potensial bagi produk halal.  

Di Indonesia memiliki pasar potensial bagi produk pangan halal, bahkan Indonesia memiliki standar halal dan sistem jaminan halal yang menjadi referensi/patokan lembaga sertifikasi halal dunia.

Consumerism

Pasar produk halal di Indonesia berkontribusi sebesar 12% dari total nilai pasar produk halal di dunia.(jurnal ASA)

66% konsumen bersedia membayar lebih bagi produk etis, misalnya dalam bentuk produk makanan organik halal (knks.go.id)

Pendapat

Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa merawat diri terutama berhias bagi perempuan. Berhias dapat menciptakan keindahan dimana menurut Hadits Riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah lagi menyukai keindahan”. Dengan kata lain, wanita harus mampu menjaga kebersihan dirinya dan mempercantik diri dengan segala sesuatu yang halal untuk tujuan ibadah. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kosmetik. Penggunaan kosmetik untuk memperindah dan merawat tubuh diperbolehkan dalam Agama Islam. Namun harus tetap memperhatikan hal-hal berikut ini.

  1. Tidak berlebihan dalam berhias atau Tabarruj, seperti make up yang terlalu tebal, menunjukkan leher, dada dan lekuk tubuh lainnya.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf (7): 31).

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu …” (QS. Al-Ahzaab (33): 33).

  1. Kosmetik yang digunakan harus berasal dari bahan yang halal dan dibeli atau diperoleh dengan cara yang halal.

يَا أيُهَا اّلنَاسُ كُلُوْا مِمَا فِى اْألَرْضِ حَالَالً طَـيِبًا وَالَتَتَبِعُوْا خُّطُوَاتِ اّلّشَيّْطَانِ، إِنَهُ ّلَكُمْ عَّدُوٌ بِيْنٌ

"Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (QS. Al-Baqarah (2): 168).

  1. Kosmetik tidak menggunakan bahan berbahaya sebagaimana Agama Islam tidak memperbolehkan karena Agama Islam tidak menyukai orang-orang yang merusak dirinya sendiri.

الأصل في المنافع الإباحة وفي المضار التحريم

Al-ashlu fil manafi’ al-ibahah wa fil madlar al-tahrim 

“hukum asal daripada sesuatu yang bermanfaat adalah mubah, sedangkan hukum asal dari sesuatu yang membahayakan adalah terlarang”

الَضَرَرَ وَالَضِرَارَ )رواه أحمّد وابن ماجه عن ابن عباس وعبادة بن اّلصامت

 "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain" (HR. Ahmad dan Ibn Majah dari Ibn 'Abbas dan `Ubadah bin Shamit)

  1. Penggunaan kosmetik wanita muslim harus disertai dengan menjaga diri seperti memakai pakaian dan jilbab sesuai syariat islam.

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur (24): 31)

Kesimpulan

Islam menjadi agama yang rahmatan lil alamîn bagi semua orang, sehingga tata cara perilaku keseharian dalam islam sampai pada aturan dan ketentuan produk yang bisa dan biasa dikonsumsi pun menjadi sorotan. Halalan toyyiban adalah sebuah hal basic yang harus terpenuhi bagi seorang muslim ketika ingin mengkonsumsi/menggunakan sebuah produk. Hal inilah yg pada akhirnya melibatkan para pelaku bisnis untuk terlibat dalam industri produk halal. 

Dalam pengembangan industri halal tersebut, penerapan kebijakan yang sesuai dengan syariat Islam akan berorientasi pada bisnis yang berkeadilan serta mampu menciptakan masyarakat adil dan makmur.  Sehingga penekanan strategi dilakukan dengan mengedepankan aspek industri produk halal domestic untuk menciptakan jaringan bisnis pada market global. 

Sebagaimana yang dilakukan oleh Produk Wardah sejak tahun 1995 yang berkomitmen menjadi salah satu kosmetik asli Indonesia yang secara khusus diperuntukan bagi wanita-wanita muslimah ataupun seluruh wanita yang ingin memakai kosmetik yang aman dan tidak mengandung bahan berbahaya dan bersertifikasi halal.

Pengembangan industri produk halal saat ini sangat penting dalam rangka mengoptimalkan sumber daya yang ada serta menciptakan iklim komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat.

Referensi

Penulis

  • Alfina Fara D.
  • Fathan Muhammad
  • Ummu Inayah M.
  • Indra Bagus K.
  • Roro Ayu Kusumadevi
  • Wina Pratita

Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Indrabagusk

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format