Problematika Furnitur Kayu Indonesia: Dari Hulu Ke Hilir


0

Indonesia merupakan negara yang memilik kekayaaan alam yang melimpah. Mulai dari sektor pertanian, perikanan, kelautan dan juga sektor kehutanan. Indonesia merupakan negara ketiga terbesar setelah Brazil dan Republik Kongo dalam hal luas hutan Tropis(Achmaliadi et al., 2001). Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama berbagai jenis kayu dunia, mulai dari kayu bulat tropis dan kayu hasil gergajian, kayu lapis sampai dengan pulp yang kerap kali digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kertas (Achmaliadi et al., 2001).

Table 1 Produksi Kayu Hutan Indonesia 2016-2018

Jenis Kayu Hutan

Produksi Kayu Hutan (M3)

2016

2017

2018

Kayu Bulat

37.621.235

43.205.947

47.966.365

Kayu Gergajian

1.820.475

2.812.812

2.078.551

Kayu Lapis

3.636.058

3.793.059

4.213.557

Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Dengan keadaan diatas, wajar bila warga negara memanfaatkan hasil hutan sebagai salah satu matapencaharian. Pada data 2001 saja sudah sebesar 54 juta hektar yang memang diperuntukkan sebagai hutan produksi kayu dan ada sekitar 2 juta hektar yang memang diperuntukkan untuk tanaman industi khususnya pulp bahan dasar kertas(Achmaliadi et al., 2001).

Di era yang modern kini, Ferrel menjelaskan bagaimana akhirnya bisnis bisa berjalan pada tataran internasional yang akhirnya tanpa batas negara,(Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, 2020) hal ini pun terjadi pada Industri kayu.  Saat ini, Indonesia juga menjadi produsen kayu dunia.Banyak negara negara yang menjadi mitra dagang Indonesia dalam perdagangan bahan kayu. Hal ini dikarenakan kualitas kayu yang di ekspor Indonesia adalah kualitas terbaik(Situmorang, 2019).

Table 2 Data Ekspor Kayu Indonesia Berdasarkan Tahun

Sumber Data: Kemendag.go.id

Dilema Hulu Produksi Kayu dan Furnitur

Namun dalam perjalanannya, bisnis kayu ini menimbulkan banyak dilema yang dihadapinya baik itu dari hulu, sampai ke hilir bisnis ini.Dimulai dengan permasalahan deforestasi yang dihadapi negara ini. Menurut data yang didapat Forest Watch Indonesia dari Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, setiap tahunnya selalu ada kenaikan presentase dari deforestasi yang terjadi terhadap hutan Indonesia. Hal ini lah yang mendasari adanya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) agar kayu kayu yang diproduksi di Indonesia memang sesuai dengan mekanisme yang terpadu dan tak semena-mena(Global Forest & Trade Network, 2012)

Table 3 Deforestasi Hutan Alam, Bruto dan Netto Tahun 2013-2017 Berdasarkan Data KLHK

Berbanding terbalik dengan keinginan pemerintah, menurut Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), SVLK malah mempersulit para pengrajin lokal. Pihak HIMKI menilai peraturan SVLK ini kontraproduktif dan membuat industri mebel dan kerajinan kurang berkembang. Abdul Sobar yang bertindak sebagai Sekretaris Jendral HIMKI menuturkan "Hal itu membuat harga bahan baku bagi industri kayu tidak kompetitif jika dibanding pesaing kami seperti Malaysia dan Vietnam karena untuk mengurus SVLK dan beberapa izin pendukungnya membutuhkan biaya yang besar," (Neraca, 2019)

Indonesia memiliki jenis kayu yang spesifik dan berkualitas. Dalam hal ini, Indonesia mungkin saja menjadi satu-satunya produsen kayu yang tidak tumbuh dinegara negara lain. Sehingga ekspor kayu bulat atau mentah sangat menjadi primadona dalam ekspor hasil hutan. Namun, hal ini sangat menjadi hambatan yang besar bagi para pengrajin kayu lokal. Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur dilansir dari Koran Indonesia yang diterbitkan dalam website Kementrian Perindustrian mengatakan bahwa ekspor kayu bulat atau bahan mentah membuat para pengrajin lokal kekurangan bahan berkualitas untuk dibuat kerajinan(Koran Jakarta, 2018).

Menjadi ironi bila kita menengok fakta bahwa Indonesia sebagai negara eksportir kayu kayu yang berkualitas dan berdaya saing tinggi, memiliki peringkat yang tinggi dalam eksportir kayu, namun dalam lingkup furniture, turunan olahan berbahan kayu masih dibawah negara negara yang mengimpor kayu dari Indonesia. Dilansir dari Kompas.com, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menyebutkan bahwa Indonesia saat ini berada pada peringkat 17 dalam sektor eksportir furnitur (Setiawan, 2019). Menurut Faisal, Indonesia masih kalah saing dengan furnitur yang diproduksi di China walaupun bahan bakunya berasal dari Indonesia.

Table 4 Peringkat Eksportir Furnitur Dunia

No Peringkat

Negara 

Nilai Ekspor

Dalam juta Dolar amerika 

1

China

63.775.3

2

Poland

13.165.5

3

Germany

13.114.2

4

Italy

11.299.9

5

Vietnam

8.929.1

6

Mexico

7.943.3

7

United States

7.254.4

8

Canada

4.641.7

9

Czech Republic

4.347.9

10

Turkey

3.352.6

17.

Indonesia

1.700

Sumber: Statista

Hilir Furnitur Indonesia:  Masih Kalah dengan China dan Vietnam 

Table 5 Peringkat negara tujuan Ekspor Kayu Indonesia

Peringkat

Partner Name

Export (US$ Thousand)

Export Product Share (%)

1

China

3170496.63

11.69

2

Japan

1375878.33

7.06

3

United States

838865.3

4.54

4

Korea, Rep.

753413.46

7.9

5

India

524449.63

3.82

6

Malaysia

461245

4.89

7

Australia

366646.18

13.09

8

Vietnam

328106.04

7.16

9

Philippines

255861.51

3.75

10

Saudi Arabia

251044.43

20.54

Sumber: World Integrated Trade Solution

Menurut data dari World Integrated Trade solution, salah satu badan yang ada di World Bank, China dan Vietnam termasuk 10 negara tujuan utama dari ekspor kayu mentah Indonesia. Keduanya mengekspor kayu spesifik Indonesia dan mengolahnya menjadi furniture. Walaupun dengan fakta yang begitu adanya, Indonesia belum bisa menandingi kedua negara tersebut dalam peringkat sebagai eksportir furniturterbesar dunia. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi?

Banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa akhirnya Furnitur Indonesia menjadi kalah bersaing dengan negara China dan Vietnam. Adapun beberapa alasan mengapa Indonesia kalah bersaing dengan China dan Vietnam adalah sebagai berikut:

  1. Keterbatasan Bahan

Penjelasan

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto, menjelaskan bahwa salah satu penyebab kalahnya Indonesia dalam kompetisi ekspor furnitur adalah keterbatasannya bahan. Kayu alam yang biasanya digunakan oleh para pengrajin lokal cenderung tidak kompetitif di pasar global.(Timorria, 2020) Disisi lain, untuk furnitur yang berbahan dasar kayu tanaman, bahan bakunya cenderung terbatas. Hal ini juga dikarenakan kebanyakan pada pengusaha perkebunan kayu lebih memilih untuk mengekspor bahan mentah, dibanding melakukan value added process yang cenderung menambah biaya.

Berbeda halnya dengan Vietnam, negara ini sudah memperkaya kayu tanaman dan mengkhususkan penggunaannya khusus untuk pembuatan furniture.  Tidak dapat dipungkiri juga bahan yang digunakan oleh Vietnam juga tidak sedikit yang berasal dari Indonesia.

Referensi Konsep

Bab 8 “Managing Operation and Supply Chain”

Konsep yang digunakan untuk menjelaskan kasus ini adalah bab 8 Managing Operations and Supply Chains pada hal Transformation process. Pada kacamata perusahaan, input merupakan hal yang paling penting dalam sebuah produksi. Sehingga jika input terbatas maka akan menghambat produksi.

Gambar  1 Skema Proses Transformasi

Perbandingan

Indonesia:

Bahan Terbatas mengandal kayu alam produksi hutan sendiri.

Vietnam dan China:

Bahan tidak terbatas, mengandalkan impor dari negara lain termasuk Indonesia. 

  1. Teknologi produksi

Penjelasan

Tidak dapat dipungkiri bahwa China adalah salah satu negara adidaya dunia yang sudah maju dalam hal teknologi. Bukan hanya dalam teknologi informasi, China juga mengaplikasikan modernisasi teknologi produksi termasuk dalam produksi furniture. Menurut Sekretaris Jendral HIMKI Abdul Sobur, China membuat distrik khusus pembuat mesin furniture(Kencana, 2018). China dalam teknologi produksinya sudah sangat efisien.

Hal ini berbanding terbalik dengan mindset para pengrajin furniturdi Indonesia. Para pelaku usaha furniturdi Indonesia enggan melakukan peremajaan mesin dan teknologi produksi karena biaya peremajaan yang tidak sedikit.

Referensi Konsep

Bab 3” Business in Borderless World”

Bab 8 “Managing Operation and Supply Chain”

Konsep yang digunakan dalam perbandingan ini adalah konsep dari Bab 3 Business in Borderless World terkait Technology Barrier dimana perbedaan teknologi yang digunakan dalam produksi memiliki perbedaan system(Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, 2020), untuk China dan Vietnam sudah berfokus pada mesin sedangkan Indonesia masih dengan tangan.

Konsep lain yang digunakan untuk perbandingan ini adalah Chapter 8 Managing Operations and Supply Chains, terkait teknologi produksi. Pada bab ini menjelaskan bahwa setiap perusahaan dalam merancang fasilitas yang digunakan, termasuk teknologi produksi(Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, 2020). Pada kasus ini, focus teknologi yang digunakan di China dan Vietnam untuk mendapatkan effisiensi kerja dengan pemutakhiran teknologi, sementara di Indonesia ciri khas produksi.

Perbandingan

A few people in a factory  Description automatically generated with medium confidence

Gambar  2 Pabrik furnitur di China

Sumber: i.ytimg.com

A picture containing person, indoor  Description automatically generated

Gambar  3 Pabrik Furniturdi Indonesia

Sumber: waktoe.com

  1. Desain

Penjelasan

Para produsen furnitur yang ada di China dan Vietnam. Saat ini  yang sedang digilai di dunia adala gaya industrial modern. China maupun Vietnam selalu mampu mengikut trend dari furnitur saat ini.  Berbeda dengan Indonesia, bukan berarti Indonesia tidak mengikuti trend, namun pengrajin tradisional Indonesia masih berfokus pada ukiran kayu sehingga pasar untuk furnitur Indonesia khusus dan terbatas.

Referensi Konsep

Bab 11 “Customer Driven Marketing”

Ferrel menjelaskan dalam bab 11, yakni Customer Driven Marketing, khususnya pada point Evolution marketing Concept, ada yang dikenal dengan the market orientation. The market orientation diartikan sebagai upaya sebuah perusahaan untuk membuat dan memproduksi apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pasar dalam hal ini pembeli(Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, 2020).

Untuk kasus China dan Vietnam keduanya menggunakan konsep market Orientation sedangkan Indonesia menggunakan product orientation dengan dalih membuat yang berkualitas dan pembeli juga menyukai terlepas dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Perbandingan

A picture containing table, wooden, indoor, floor  Description automatically generated

Gambar  4 Contoh desain furnitur dari China

Sumber: www.furniture-china.cn

A picture containing floor, chair, indoor, room  Description automatically generated

Gambar  5 Contoh desain furnitur dari Vietnam

Sumber: wayhomevietnam.com

A picture containing text  Description automatically generated

Gambar  6 Desain Furnitur dari Indonesia

Sumber: i.pinimg.com

Indonesia Bisa! Untuk Kemajuan Furnitur Kayu

Alokasi Bahan dan Pembatasan Ekspor Kayu 

Pada pembahasan sebelumnya, sudah dikatakan bahwa penghambat berkembangnya furnitur kayu adalah masalah ketersediaan bahan. Kiranya dalam pengalokasian bahan harus direncanakan secara matang, dan memberikan kesempatan pada opsi opsi input yang lain, entah dari impor bahan atau yang lain. Hal ini pun berujung pada regulasi yang memberikan keluasan untuk mengekspor bahan mentah kayu keluar negeri. Pada buku Ferrel (2020) menjelaskan bahwa adanya Political Barrier yang bisa menghambat atau meregulasi bagaimana barang bisa ekspor. Kiranya pemerintah memberikan regulasi untuk mengutamakan penggunaan kayu mentah untuk diolah didalam negeri daripada mengekspor keluar. Dengan adanya regulasi tersebut ada kesempatan Indonesia untung menjadi leading country untuk hal ekspor barang furnitur. 

Human Capital Investment

Pada dasarnya, kekurangan Indonesia dalam sektor ini adalah pemahaman dan riset pasar. Menurut penulis, pemerintah dan pelaku usaha pada sektor ini memiliki tanggung jawab yang dalam menyelesaikan permasalahan ini. Keduanya harus bisa ikut andil dalam pengembangan kapasitas dan mindset pengrajin dalam bisnis sector. Hal ini dimaksudkan untuk membuat produk berdasarkan pada market orientation atau membuat yang memang konsumen inginkan dan butuhkan, disbanding membuat barang baru diperkenalkan dan diperjualkan tanpa membidik target konsumen. 

Selain itu inovasi produk juga dibutuhkan dan harus terpikirkan oleh pengrajin. Pada masa modern ini, konsumen berfokus pada kecanggihan dan fitur yang ditawarkan. Salah satu yang bisa dijadikan rujukan untuk inovasi dalam desain produk adalah modular desain dan kostumisasi produk yang dijelaskan di bab 8.

Salah satu contoh yang sudah menjalankan kedua konsep tersebut adalah IKEA, yang sudah mengembangkan kostumisasi produk dan modular desain.

Video  1 Kostumisasi dan Desain Modular produk

Sumber: Youtube IKEA

Pemutakhiran Teknologi 

Teknologi saat ini menjadi salah satu sahabat dalam kehidupan manusia. Dalam segala sector kiranya manusia hidup berdampingan dengan teknologi. Untuk mengefisienkan produksi furnitur ditanah air, kiranya teknologi juga harus selalu dimutakhirkan. Salah satu permasalahan utama produksi furnitur Indonesia masih dibelakang China dan Vietnam adalah masalah teknologi. Apabila teknologi yang pengrajin furnitur Indonesia menggunakan teknologi yang mutakhir, Indonesia sebagai leading country untuk sector ini bukan hanya angan angan belaka. Memang permasalahan selanjutnya adalah modal pemutakhiran yang pastinya tidak sedikit. Namun demi efisiensi dan keberlangsungan usaha, investasi asset teknologi bukanlah opsi pilihan, namun sebuah keharusan. 

Video  2 Pemutakhiran Teknologi

Sumber: Youtube Sally Xu



FACHRIZAL ANSHORI BUDIMANSYAH

Referensi

Achmaliadi, R., Adi, I. G. M., Hardiono, Y. M., Kartodihardjo, H., Malley, F. C. H., Mampioper, D. A., Manurung, E. G. T., Nababan, A., Pangkali, L. B., Ruwindrijarto, A., Situmorang, L. L. M., Wardiyono., Victor, B. H., & Matthews, E. (2001). Keadaan HUTAN. 1–117.

Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A. ;Ferrel, L. (2020). BUSINESS FOUNDATIONS: A CHANGING WORLD (12th ed.). McGraw-Hill Education.

Global Forest & Trade Network. (2012). Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). http://awsassets.wwf.or.id/downloads/flier_svlk___gftn.pdf

Kencana, M. R. B. (2018). Industri Mebel Perlu Pakai Teknologi Terkini buat Genjot Ekspor. Liputan6.Com. https://www.liputan6.com/bisnis/read/3222494/industri-mebel-perlu-pakai-teknologi-terkini-buat-genjot-ekspor

Koran Jakarta. (2018). Ekspor Kayu Bulat Ganggu Hilirisasi. Kementrian Perindustrian RI. https://kemenperin.go.id/artikel/18638/Ekspor-Kayu-Bulat-Ganggu-Hilirisasi

Neraca. (2019). Hambatan Industri Mebel dan Kerajinan Dibahas. https://www.neraca.co.id/article/120756/hambatan-industri-mebel-dan-kerajinan-dibahas

Setiawan, A. M. (2019). Indonesia Pengekspor Kayu Nomor Satu Dunia, tetapi... Kompas.Com. https://money.kompas.com/read/2019/04/09/204551726/indonesia-pengekspor-kayu-nomor-satu-dunia-tetapi

Situmorang, A. P. (2019). Ekspor Kayu Indonesia Diklaim Terbesar di Dunia. https://www.merdeka.com/uang/ekspor-kayu-indonesia-diklaim-terbesar-di-dunia.html

Timorria, I. F. (2020). Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam, Kok Bisa? https://ekonomi.bisnis.com/read/20201204/12/1326580/ekspor-furnitur-indonesia-kalah-dari-vietnam-kok-bisa


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format