Produk High Fashion Gunakan Kulit Ular yang Murah

Sama-sama Berbahan Kulit Ular asal Indonesia, Produk Luar Negeri Lebih Bernilai Tinggi Dibandingkan Produk Lokal


1
1 point

Manusia ataukah Ularkah yang memangsa?

Ular dahulu sering dianggap sebagai hewan yang cenderung membawa kekhawatiran dan mengancam manusia. Namun, kini anggapan tersebut telah bergeser seiring melonjaknya permintaan dan harga akan kulit ular di luar negeri. Tidak hanya kulitnya saja yang dimanfaatkan. Daging, lemak, dan organ tertentu diambil untuk tujuan tertentu misalnya untuk stamina dan kesehatan (Wahab et al. 2020). 

Hal ini memang sangatlah menarik, dulunya tidak sedikit manusia ketika melihat ular, mereka lari/ membunuhnya dengan tujuan agar tidak disakiti ular tersebut, namun sekarang mereka menghabisinya untuk dijadikan sumber penghasilan dan bisnis.  Para pelaku usaha di sektor ini terus tumbuh dalam memenuhi permintaan industri fashion terutama dari Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan beberapa negara eropa seperti Italia dan Perancis. 

Gambar 1  Alur distribusi kulit ular dari tahun 2005-2014 ([UNODC] 2016).

Negara-negara tersebut mengambil bahan baku berupa kulit ular terutama dari negara negara Asia Tenggara untuk dijadikan produk fashion kelas atas. Indonesia merupakan salah 1 pemasok terbesar bahan baku di industri ini. Walaupun sudah banyak regulasi dan penentangan akan penggunaan kulit ular sebagai bahan baku produk fashion, namun nyatanya permintaan masih sangatlah tinggi dan perburuan masih terus berlangsung. Negara-negara barat tersebut membeli kulit ular dalam bentuk sudah disamak dari Indonesia, kemudian mereka memprosesnya menjadi produk fashion berkualitas tinggi yang tentunya dijual dengan harga yang sangat jauh berbeda dengan harga bahan baku kulit tersebut (Natusch et al. 2016).

Kenapa Kulit Ular Tiada Matinya?

Luxury fashion is nothing without its snake

Kulit ular tidak bisa dipisahkan dari industri fashion kelas atas. Mereka akan terus berdampingan.. Tanpa kulit ular, industri high end fashion tidak akan ada artinya. Para raksasa high end fashion brand masih terus menggunakan kulit ular (terutama piton), karena pattern/ pola yang dimiliki kulit ular tersebut sangatlah rumit, artistik, dan langka. Artinya setiap kulit ular memiliki corak/ pola tersendiri dan berbeda dari kulit ular lainnya. Kelangkaan akan seni corak yang dibuat oleh alam inilah yang membuatnya dihargai sangat mahal jika sudah dalam berbentuk produk jadi (Russo 2014; Roads and Kingdoms 2017).

Gambar 2  Contoh produk fashion berbahan baku kulit ular piton (Fendi 2021).

Sama-sama Berbahan Kulit Ular asal Indonesia, Produk Luar Negeri Lebih Bernilai Tinggi Dibandingkan Produk Lokal

Harga yang dibanderol untuk sebuah tas tersebut berkisar 70 jutaan rupiah. Sedangkan jika dilihat dari salah 1 platform penjualan online, harga kulit ular dimulai dari kisaran hanya 30 ribuan saja sampai dengan 8 jutaan, tergantung dari jenis dan kualitas kulit ular tersebut (Gambar 2 & 3). Untuk harga kulit ular python sendiri dimulai dari 600 ribuan. 

Gambar 3  Kulit ular yang dijual di salah 1 platform online di Indonesia ([SHOPEE] 2021).

Gambar 4 menunjukkan harga yang ditawarkan oleh para pelaku usaha produk jadi berbahan baku kulit ular piton, terlihat harganya berkisar kurang dari 500 ribuan, beberapa di antaranya menjual di harga berkisar 3 juta sampai dengan 9 jutaan. Walaupun begitu, harga produk jadi yang ditawarkan oleh para pengusaha di Indonesia lebih rendah hampir 9 kali dari harga produk jadi yang ditawarkan oleh para pengusaha di Perancis.

Gambar 4 Harga yang ditawarkan oleh para pelaku usaha produk fashion berbahan baku kulit ular sanca keluarga piton di Indonesia ([SHOPEE] 2021).

Di sini, dapat dilihat bahwa adanya ketimpangan harga produk jadi yang dijual di luar negeri dan Indonesia. Indonesia selaku salah 1 pengekspor terbesar kulit ular di dunia hanya tergantung kepada komoditas satwa liarnya, satwa liar dihargai cukup jauh dari harga produk jadi yang ditawarkan oleh para pelaku usaha fashion ternama di luar negeri. Padahal jika manajemen komoditas ini diolah dengan baik dari hulu sampai ke hilir (dari bahan mentah sampai produk jadi), maka ini akan memberi perbedaan dampak positif yang signifikan ke semua pihak yang terkait dengan lini bisnis ini. Pemerintah mengizinkan para pelaku usaha kulit ular untuk terus mengekspornya dengan kuota tertentu yang dibatasi. Terdapat 21 jenis ular di Indonesia yang dibatasi kuotanya oleh pemerintah, dimana sebagian besarnya untuk kebutuhan ekspor ([KLHK] 2020). 

Masalah dan Dilema Ekspor

Pada tahun 2020, pemerintah membatasi kuota misalnya untuk kulit ular sanca kembang atau Phyton reticulatus sebesar 176 ribu ekor dimana sebagian besarnya (158 ribuan) untuk kebutuhan ekspor, sisanya (17 ribuan) untuk kebutuhan dalam negeri. Untuk kebutuhan kulit ular, sebagian besarnya diekspor sedangkan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri (Tabel 1). Dari tabel ini, Indonesia terlihat sangat jelas bertumpu pada pasar ekspor dan bahan baku kulit ular, padahal jika manajemen produk fashion jadi dikelola dengan baik, maka nilai yang akan didapatkan seluruh stakeholder tentunya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan hanya bertumpu sektor bahan mentah. 

Tabel 1  Batasan kuota pemanfaatan kulit beberapa jenis ular di Indonesia yang tercatat pada Appendix II CITES ([KLHK] 2020)

Nama Jenis

Total Kuota Pemanfaatan

Dalam Negeri

Ekspor

Reticulated Python

176170

17617

158553

Kobra

131400

13140

118260

Dipong

12500

1250

11250

Gendang Merah

41000

4100

36900

Menurut Indonesian CITES Management Authority states, belum ada peternakan ular piton di Indonesia sehingga sumber kulit ular piton saat ini berasal dari alam liar. Sebanyak hampir 400 ribuan ekor ular diburu, belum lagi termasuk dengan jumlah ular yang diburu secara ilegal. Dengan jumlah segitu tanpa belum jelasnya data populasi ular di Indonesia akan sangat membahayakan keberlangsungan kehidupan mereka, peneliti kesulitan mensurvei jumlah populasi ular-ular tersebut karena alasan sebaran geografis dan luasnya habitat. Oleh sebab itu, data populasi biasanya didapatkan dengan penilaian tidak langsung (Natusch et al. 2014).  

Hampir sebagian besar ular ditemukan oleh pemburu di perkebunan sagu, kelapa sawit, persawahan, dan hutan. Di habitat tersebut ular memangsa hama seperti tikus, monyet, dan babi hutan, yang mana hama-hama tersebut dapat menyebabkan gagal panennya beberapa jenis komoditas perkebunan dan pertanian. Di sinilah masalahnya, penerapan kuota tapi tidak mengetahui jumlah populasi yang ada sedangkan mereka adalah predator bagi hama-hama di sektor-sektor industri yang penting (Asri et al. 2015).

Gambar 5  Kumpulan berita yang merupakan indikator terancamnya populasi ular.

Sudah banyak berita yang menginformasikan keberadaan populasi ular sanca yang terancam punah dan mengkhawatirkan. Di sisi lain juga banyak tersebar berita akan serangan tikus di sawah dan serangan babi hutan yang menyerang kebun-kebun jagung, kelapa sawit, dan lainnya. Merebaknya hama-hama tersebut diindikasikan menurunnya populasi ular di daerah dimana hama tersebut menyerang sehingga tidak sedikit petani yang gagal panen. Maraknya perburuan ular akan mengancam keberadaan ular tersebut, hal ini dapat merusak rantai makanan di alam liar sehingga akan memberikan efek domino terhadap kelestarian hubungan manusia dengan alam. 

Kenapa Indonesia masih mengizinkan ekspor kulit ular?

Komoditas ekspor kulit ular untuk jenis sanca kembang/ reticulated python saja berkontribusi sebesar 54 jutaan dolar Amerika Serikat atau sekitar 8 triliunan rupiah, belum lagi untuk jenis ular-ular yang lain. Kontribusi lain yang didapatkan dari perdagangan kulit ular ini adalah berupa akses lapangan pekerjaan kepada masyarakat Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia terus membuka keran ekspor kulit ular mentah (Wahab et al. 2020).

Gambar 6  Alur proses/ distribusi perdagangan kulit ular ([UNODC] 2016).

Bisnis kulit ular ini menghidupi banyak elemen masyarakat, rantai lapangan pekerjaan yang mengular dirasakan banyak manfaatnya, dari hulu ke hilir. Gambar 6 menunjukkan alur distribusi dimulai dari pemburu kemudian ular yang mereka tangkap, mereka bawa ke tempat pemrosesan yang bisa jadi merupakan pembeli pertama hasil tangkapan ular, di sinilah ular akan dijagal dan diproses lebih lanjut. Dari tempat pemrosesan, mereka akan menyetor/ menjualnya ke pembeli yang lebih besar atau mereka bisa saja langsung ke penyamak. 

Setelah disamak maka mereka akan menjualnya ke eksportir atau perusahaan yang bergerak di bidang fashion di Indonesia, persentasenya jauh lebih besar diekspor daripada untuk kebutuhan lokal. Biasanya dari Indonesia akan mengekspornya ke Singapura, barulah dari sini, biasanya di lempar ke negara lain, untuk kelas premium biasanya perusahaan di sana menjualnya ke negara industri fashion high end seperti Italia, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang. Di negara negara raksasa industri fashion high end tersebut kulit-kulit ular tersebut akan diproses menjadi produk fashion high end (Natusch et al. 2016; [UNODC] 2016).

Pemerintah juga mempunyai regulasi melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 44/M. DAG/ PER/ 7/ 2012 mengenai ekspor kulit ular harus disamak terlebih dahulu, penyamakan merupakan nilai tambah untuk mendukung industri lokal dan menciptakan lapangan pekerjaan (Natusch 2016).

Berikut merupakan sedikit gambaran mengenai proses pembuatan produk high fashion https://youtu.be/8HI4j7Lillk

Tabel 2  Perbandingan layanan dan manajemen operasi manufaktur produk jadi berbahan baku kulit ular di Perancis dan Italia (Riot et al. 2013; Perry & Wood 2019)

Indikator

Perancis (Louis Vuitton)

Italia (Fendi)

Planning the Product

Konsep adalah DNA dari keberhasilan produk high end.

([LV] 2021)

Nama besar LV dan Logo monogramnya yang membuat “semua” designer terkenal mengakui konsep LV sangat bernilai tinggi. Tidak terpaut dengan 1 nama designer

(Krause 2019)

Kolaborasi dengan Karl Lagerfeld banyak memberikan kontribusi besar terhadap konsep-konsep yang akan dibuat oleh Fendi

Inventory Control

Attention to Detail, hanya baku terbaik yang dipilih sesuai dengan konsep saat itu, jumlah produksi sangat terbatas dan beberapa dipesan dibuat personalized dan dicustom

.Designing the Operations Processes

Customization, Personalized, Konsep dengan waktu dan jumlah produk terbatas, bisa juga dari kolaborasi dengan orang ternama/ artis

(Martin 2016; Krause 2018)

Product Layout

Semua pengerjaan dilakukan di Perancis, dimana kantor pusat mereka berada

Dibuat di Italia dimana kantor pusat mereka berada

Process Layout

Department pengerjaan berbeda beda dan sangat detail, fokus, dan terspesialisasi. 1 orang mengerjakan khusus untuk 1 bagian tertentu

(Williams 2019)

Tidak sebanyak karyawan dan mengerjakan pekerjaan serupa yang dilakukan di industri fast fashion karena mereka fokus satu persatu pengerjaannya dan lebih cenderung manual walaupun ada sedikit campur tangan mesin.

Transformation Process

Input= Kulit ular yang sudah disamak dibedakan kualitasnya berdasarkan pola, kecacatan/ defect, tekstur, ukuran.

(Helmholtz Association of German Research Centres 2017)

Diproses berdasarkan design yang ditentukan dan setiap pengrajin sangat ahli di bidangnya masing-masing

Output= Dompet, Tas, Strap, Boots, Ikat Pinggang, Jaket. Kualitas dan keekslusifitasan dibedakan dari tingkat kesulitan pembuatan, seberapa langka bahan, dan kualitas bahan yang digunakan.

(Fendi 2021)

Quality Control

Total Quality Management. Semua orang punya kemampuan “spesial dan ahli” di bidang masing-masing. Ada orang yang sangat jeli menilai kualitas  dan sudah pengalaman min 20 tahun. 

Value Chain

Louis Vuitton Value Chain (Riot et al. 2013).

Rata-rata pemain besar high fashion mempunyai value chain yang mirip dengan Louis Vuitton. 

Supply Chain

Kombinasi antara vertical integration dan Design, Source, Distribute (DSD) (Perry & Wood 2019).

Dimana mereka ambil bahan yang bersifat menekankan pada heritage “warisan budaya” yang bersifat langka, unik, dan kualitas terbaik. Tapi merekalah sendiri yang memprosesnya bukan dari outsourcing tempat lain. 

Competitive Advantages

1. Brand high end berdasarkan nama designernya, karena menunjukkan keotentikan dan identitas dari designer tersebut

2. Dari pemilihan bahan dipilih yang terbaik dari yang terbaik. 

3. Pengerjaan khusus dilakukan 1 orang perbagian, membuat para pekerja sangat ahli di bidangnya, mereka bekerja di “bidang” yang sama selama bertahun-tahun bahkan sampai puluhan tahun

4. Tahapan pengerjaan sangat rumit dan bahkan ada yang sampai ratusan tahap untuk pembuatan 1 produk

5. Pekerjaan diutamakan manual, jika menggunakan mesin, dipilih mesin terbaik dan terus berinovasi

6. Komunikasi pemasaran dengan berkolaborasi dengan model papan atas terbaik, toko yang sangat mewah, sampai kepada kemasannya saja mereka pikirkan terstruktur dan detail, penjaga toko berwibawa, berparas menarik dengan pelayanan kelas 1

7. Banyak perusahaan high fashion juga dimiliki oleh LV (secara tidak langsung LV mengontrol mereka) termasuk Fendi di dalamnya.

8. LV mengontrol supplynya/ jumlah produksinya di pasar dengan barang yang sangat terbatas sehingga LV diklaim sebagai satu-satunya brand yang tidak pernah menahan penjualannya. Biasanya merk lain memproduksi dengan jumlah yang banyak sehingga berlebihan, sehingga nilai produknya jadi turun karena terlalu banyaknya barang mereka di pasar. Tapi LV tidak seperti itu

1. Nama Karl Lagerfeld sebagai salah 1 fashion designer paling berpengaruh di dunia dan Fendi merupakan perkawinan bisnis yang luar biasa.

2. Point 2 sampai 6 sama seperti Perancis.

Bagaimana industri high fashion seperti Louis Vuitton memasarkan dan menjual produknya https://youtu.be/GvQgXS_gtHs

  1. Public relation dan pemasaran komunikasi massal yang “ menanamkan” bahwa mereka (brand industri high fashion) memulainya saja dari yang terbaik, diproses/ dikerjakan dengan cara terbaik, dipakai oleh model terbaik, toko yang mewah di tempat yang mewah, pelayanan terbaik, dan dijual dengan bungkus/ packaging terbaik. “Menanamkan bahwa barang ini adalah yang terbaik untuk yang terbaik”. Setiap tahapan pengerjaan dilakukan secara spesial.
  2. Menjual Konsep + Warisan Budaya + Kemodernan (sesuai dengan jamannya)
  3. Toko yang sangat mewah di lokasi tempat yang mewah dengan staff yang “terlihat” sangat eksklusif. 
  4. Dipakai oleh artis dan orang yang terkenal di jamannya. Menjadi siklus abadi, setiap artis terkenal memberikan komentar yang positif terhadap Louis Vuitton
  5. Berkolaborasi dengan tokoh-tokoh terkenal (biasanya seniman dan seniwati) sekaligus tokoh yang diajak kerjasama tersebut secara langsung mempromosikan produk Louis Vuitton
  6. Dipakai oleh model paling terkenal di jamannya dan hanya model-model terbaik yang bisa masuk di Louis Vuitton
  7. Bungkus/ Packaging yang kompleks dan indah juga merupakan salah 1 sarana pemasaran yang mereka gunakan
  8. Dijual dengan jumlah yang sangat terbatas untuk mengontrol jumlah barang/ supply produk sehingga nilainya tetap terjaga baiknya. 

Bagaimana agar bisnis kulit ular tetap berkelanjutan?

Komoditas ular, pertanian, dan perkebunan merupakan komoditas yang sebenarnya jika dikelola dengan baik bisa jadi bisnis yang berkelanjutan. Hal ini dikarenakan adanya simbiosis di antara ular, tanaman, dan manusia. Jika keberadaan mereka seimbang, di satu sisi, ular membantu manusia dengan mengatasi hama tikus, babi hutan, dan hama lainnya, sedangkan manusia juga mengontrol jumlah keberadaan ular tersebut dengan bisnis pemanfaatan kulit ular ini. Manusia bisa mendapatkan penghasilan di antara keduanya (pertanian dan ular) asalkan tidak terlalu serakah dan tidak terlalu mengeksploitasi komoditas yang ada. 

Cara mengontrol jumlah populasi ular di habitat mereka adalah 

  1. Menyebarkan peneliti di berbagai tempat di Indonesia untuk mendata populasi dan sebaran jumlah ular, dengan adanya data akan jumlah ular di masing-masing wilayah, maka dapat mengetahui banyaknya yang dapat dimanfaatkan. 
  2. Pemerintah dan Cites saat ini sudah menentukan aturan kriteria ular yang “bisa” dijual di pasar, kriteria seperti ukuran ular, kondisi ular apakah sedang ada telurnya atau tidak, dan lainnya merupakan hal penting yang perlu dilakukan untuk menciptakan kelestarian hidup ular.
  3. Dari pihak pembeli kulit ular juga sebaiknya bekerja sama dengan pemerintah mengenai kriteria tersebut. Misalkan mereka tidak menerima ukuran ular di bawah ukuran minimum sehingga jika para penjual menjualnya kepada mereka, dengan aturan ini, maka merekapun tidak mendapatkan pemasukan dari hasil tangkapannya. Sekaligus mengedukasi mereka akan kriteria tersebut. 
  4. Menentukan aturan tegas bagi siapapun yang melanggar kriteria yang ada. Mereka diberi kebebasan untuk bertransaksi kulit ular asalkan sesuai dengan aturan yang ada.
  5. Meningkatkan frekuensi pengawasan untuk menjaga-jaga adanya pelanggaran. 

Bagaimana mengoptimalkan pendapatan dengan pemanfaatan kulit ular?

Alternatif 1

  1. Tidak hanya fokus di hulu tapi juga di hilir dimana sudah sebaiknya pemerintah “meniru” sistem dan cara kerja pemain-pemain besar high fashion yang membeli produk kulit ular dari Indonesia dan memprosesnya menjadi produk jadi.
  2. Menurut penulis terdapat 3 elemen yang sangat penting untuk bisa berhasil di industri high fashion di awal dengan meniru awal mulanya para fashion designer tersebut memulai karirnya sebelum menjadi besar. Oleh sebab itu pencarian kandidat sangatlah penting diiringi dengan uji pasar produk-produk yang mereka hasilkan, apakah masyarakat global menyukainya atau tidak. Dari uji pasar akan dilihat konsistensi karya seni dan kinerja mereka. Jaman sekarang sudah sangat mudah untuk melakukan pemasaran karena dunia tidak terbatas, penjual bisa mengaksesnya dimanapun dan kapanpun dengan pemasaran online.

2.1. Fashion Designer yang punya selera seni otentik dan mampu menjual produk melalui branding atas nama dirinya, punya karakter berkharisma, disukai pasar, bisa melihat potensi bisnis, dan bisa masuk ke dalam lingkungan orang-orang di industri high fashion global. Seperti Louis Vuitton yang juga memiliki saham di Fendi, Hermes, Bulgari, Christian Dior. Ketika sudah masuk ke lingkaran fashion designer ternama seperti dulunya ada Karl Lagerfeld selain Karl juga ada Anna Wintour dan lainnya. Dimana jika sudah masuk ke lingkaran mereka, akan lebih mudah masuk ke dalam bisnis high fashion. 

2.2. Konsep ini adalah jiwa dan DNAnya bisnis high fashion. Konsep tanpa fashion designer yang otentik pun kurang akan membawakan hasil yang baik. Fashion designer yang otentik tanpa konsep juga tidak akan membawa keberhasilan bisnis high fashion.

2.3. Pengrajin terbaik dan attention to detail, Dimana semua sektor dilakukan dari yang terbaik untuk dijadikan yang terbaik. Mengedukasi dan menggalakan produksi pakaian high fashion terhadap kandidat-kandidat yang potensial. Terdapat kurang lebih 270 juta masyarakat Indonesia, probabilitas untuk mengumpulkan pengrajin terbaik juga lebih besar daripada jumlah tenaga kerja di eropa yang sedikit. Dan juga tenaga kerja mereka sangatlah mahal karena masalah keterbatasan jumlah tenaga kerja tersebut. 

3.Jika sumber daya sudah ada, maka diperlukan kapital dan modal yang cukup, maka dukungan dari pemerintah akan dibutuhkan atau juga melalui penggalangan dana.

Alternatif 2

  1. Bekerjasama dengan para raksasa industri global atas nama pemerintah. Dan pembelian saham langsung ke raksasa bisnis high fashion tersebut sehingga bisa mengontrolnya dari dalam organisasi. 

Penutup

Jika ingin meninggikan nilai suatu produk maka berikan juga nilai/ value terhadap semua elemen yang ada, termasuk kemasan, yang mungkin tidak terpikirkan untuk dibuat bermakna, indah, dan rumit. 

https://youtu.be/pHoOU1oG868

Referensi

Asri ASK, Yanuwiadi, Bagyo2015. Persepsi masyarakat terhadap ular sebagai upaya konservasi satwa liar pada masyarakat dusun Kopendukuh, desa Grogol, kecamatan Giri, kabupaten Banyuwangi. J Pal 6:42-47.

Fendi. 2021. Fendi. https://www.fendi.com/gr/bags-woman/peekaboo-iconic-mini-8bn244u7nf0m12 [31 Mar 2021].

Ferrell OC, Hirt G, Ferrell L. 2016. Business: a changing world. New York: McGraw Hill Education.

Helmholtz Association of German Research Centres. 2017. Hope for improving protection of the reticulated python. https://phys.org/news/2017-08-reticulated-python.html [31 Mar 2021].

[KLHK] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2020. Kuota pengambilan tumbuhan alam dan penangkapan satwa liar periode tahun 2020. Jakarta: KLHK

Krause A. 2019. Fendi’s fairy tale: Karl Lagerfeld opens up about his 50 years with the brand. https://www.harpersbazaar.com/fashion/designers/a17910/karl-lagerfeld-fendi-collaboration/ [31 Mar 2021].

[LV] Louis Vuitton. 2018. Louis Vuitton X Grace Coddington. https://eu.louisvuitton.com/eng-e1/stories/louis-vuitton-x-grace-coddington# [31 Mar 2021].

[LV] Louis Vuitton. 2021. Keepall Bandouliere 55. https://eu.louisvuitton.com/eng-e1/products/keepall-bandouliere-55-monogram-macassar-000209 [31 Mar 2021].

Natusch et al. 2014. Assessment of python breeding farms supplying the international high end leather industry. Gland: IUCN.

Natusch et al. 2016. Manajemen perdagangan berkelanjutan kulit ular sanca batik di Indonesia dan Malaysia. Gland: IUCN.

Riot E, Rigaud E, Chamaret C. 2013. Murakami on the bag: Louis Vuitton’s decommoditization strategy. J Retail & Distribution Management 41: 919-939.

Roads and Kingdoms. 2017. How the snakeskin purse gets made. https://roadsandkingdoms.com/2017/snakes-skin-indonesia/ [31 Mar 2021].

Russo CM. 2014. Fashion’s love of python comes at a price. https://fashionista.com/2014/06/python-fashion [31 Mar 2021].

[UNODC] United Nations Office on Drugs and Crime. 2016. Fashion case study: reptile skins wildlife and the fashion industry.  https://www.unodc.org/documents/data-and-analysis/wildlife/WLC16_Chapter_5.pdf [25 Mar 2021].

Wahab DA, Maulany RI, Nasri, Nirsyawita. 2020. Hunting and trading activities of reticulated python (Phyton reticulatus) in South Sulawesi, Indonesia: a report from the field. Earth Environ. Sci. 486:1-10.

Williams R. 2019. Louis Vuitton Commits to French Supply Chain With New Factory. https://www.bloomberg.com/news/articles/2019-10-04/louis-vuitton-just-opened-a-new-factory-in-france [31 Mar 2021].

Artikel ini telah dicek antiplagiarism via website https://www.duplichecker.com

Ditulis oleh Sumitomo Ueno


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format