Berkarya dan Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19 : Bamboo Performance Still Goes On

Dengan menerapkan protokol kesehatan, tempat wisata seperti Saung Angklung Udjo bisa terus bertahan dan berkarya untuk wisatawan


1
1 point

Virus COVID-19 merupakan virus yang sejak awal tahun 2020 mulai menjadi pandemi di negara Indonesia. Banyak sektor yang terdampak dengan kondisi pandemi ini di mana masyarakat harus menerapkan 3M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan) sehingga sangat berdampak pada banyak sektor usaha. Salah satunya adalah tempat wisata di mana tempat wisata erat kaitannya dengan interaksi manusia.

Sumber : https://www.indonesia.travel/id/

Sumbangsih sektor wisata pada tahun 2019 kepada perekonomian Indonesia sebanyak Rp 1.200 triliun seperti yang dipaparkan oleh Moeldoko Staf Kepresidenan Indonesia. Dalam diskusi virtual, beliau memaparkan “Dampak COVID-19 pada pariwisata ini memprihatinkan. Hotel dan akomodasi ditutup sementara, mall retail menurun omsetnya, destinasi ditutup sementara, café dan tempat makan ditutup. MICE (meeting, incentive, convention & exhibiton) ditunda. Apalagi ancaman PHK di industri pariwisata.”

Juga dijelaskan ada setidaknya 13 juta pekerja yang terancam dari 13 jenis usaha pariwisata.

Sumber : Kemenparekraf.go.id

Terlihat dari awal tahun 2020 dibandingkan year to year dengan tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 74.84%, terutama ketika masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) secara umum diberlakukan sekitar bulan Maret hingga akhir tahun 2020. Hal ini dikarenakan PSBB bertujuan membatasi pergerakan manusia sehingga penyebaran virus COVID-19 dapat ditekan.

Dari sekian banyak tempat wisata yang terdampak, salah satunya adalah Saung Angklung Udjo yang bertempat di Jalan Padasuka 118, Kota Bandung, Jawa Barat yang merupakan tempat di mana terdapat pertunjukan seni, pusat kerajinan bambu, dan kelas alat -alat musik yang didominasi dari bambu mulai dari workshop hingga dipamerkan dan dijual sebagai hasil karya. Didirikan tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati untuk memelihara kesenian dan kebudayan tradisional Sunda serta memberikan informasi mengenai budaya Sunda kepada pengunjung.

Sumber : disdik.jabarprov.go.id

Direktur Utama Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat, yang juga merupakan putera ke sembilan dari sang pendiri menjelaskan, ada edukasi dengan konsep bermain kaulinan urang lembur, sambil mempelajari budaya Sunda dengan melihat aktivitas keseharian di Saung Angklung Udjo yang terdiri dari tarian, nyanyian, musik, bahkan silat dan belajar akting dalam bahasa Sunda. Lanjutnya, melestarikan budaya itu sangatlah penting membentuk karakter seseorang, karena, budaya itu penuh nilai dan etika sehingga antar sesama bisa saling menghormati, bekerja sama, dan guyub harmoni.

Karena pandemi COVID-19, Saung Angklung Udjo juga terkena dampaknya hingga terancam bangkrut. Menurut Bapak Taufik Hidayat, aktivitas pariwisata cukup terpuruk. Tak jarang dalam satu pekan hanya dikunjungi tak lebih dari 20 orang. Padahal dalam kondisi normal, Saung Angklung Udjo mampu menarik pengunjung hingga 2.000 orang per hari.

Sumber : disdik.jabarprov.go.id, diolah

Sempat tutup untuk sementara waktu begitu ramai kabar pandemi COVID-19 di tanah air pada bulan Maret 2020 lalu. Hingga adanya atensi dari Wakil Walikota Bandung beserta jajarannya yang melakukan kunjungan pada 11 Juni 2020 dan mengapresiasi Saung Angklung Udjo yang sudah menerapkan protokol Kesehatan dan Keamanan di masa pandemik COVID-19. Sehingga 15 Juni 2020 Saung Angklung Udjo sudah dibuka kembali untuk umum.

Sumber : instagram.com/angklungudjo/

Sumber : instagram.com/angklungudjo/

Sejumlah syarat mengenai protokol kesehatan yang harus diterapkan selama pandemi menyebabkan pengunjung enggan datang. Tambahan lagi mayoritas pengunjung adalah pelajar dan wisatawan yang memang dibatasi aktivitasnya. Akibatnya 90 persen dari pegawainya sudah dilakukan pemutusan hubungan kerja dari 600 orang menjadi 40 orang.

Walaupun secara etika, sekilas terlihat tidak adil karena banyak karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan Saung Angklung Udjo. Namun tidak bisa dipungkiri pilihan lay-off karyawan ini harus diambil Kang Opik, begitu sapaan Pak Taufik Hidayat, karena memang tidak ada biaya untuk menggaji sebagian besar karyawannya. Dapat kita uji dengan beberapa pertanyaan dari  buku Ferrel, 2020, apakah tindakan lay-off karyawan ini masih dinilai etis atau tidak

1.Apakah ada potensi penyelewengan aturan atau tindak kekerasan yang berdampak dari tindakan yang diambil?

Tidak ada penyelewengan dari suatu aturan tertentu apalagi tindak kekerasan. Karena hal ini disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang menuntut kegiatan pariwisata menjadi terganggu.

2.Apakah Saung Angklung Udjo memiliki kode etik atau kebijakan yang spesifik terkait tindakan yang diambil?

Dugaan sementara berdasarkan info dari berita-berita yang tayang dan beredar, Saung Angklung Udjo tidak memiliki kode etik atau kebijakan yang spesifik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Sehingga tidak ada kode etik atau kebijakan apapun yang dilanggar oleh Saung Angklung Udjo.

3.Apakah tindakan ini biasa terdapat pada Saung Angklung Udjo? Apakah ada semacam paguyuban yang memang memiliki guideline atau aturan terkait masalah ini?

Menyambung dengan pertanyaan di atas seluruh aspek bisnis selama tahun 2020 tidak ada yang menyangka pandemi akan memburuk hinga seperti sekarang. Dan dengan tidak adanya persiapan atau guideline apapun mau tidak mau Saung Angklung Udjo harus melakukan segala sesuatu yang dapat membantu kelancaran bisnis kesenian mereka.

4.Apakah tindakan ini dapat diterima oleh para karyawannya? Apakah keputusan atau tindakan ini membuka ruang diskusi antara top manajer dan karyawannya dan dapat menyelesaikannya tanpa ada yang dirugikan?

Tidak dijelaskan secara gamblang apakah ada ruang diskusi antara Kang Opik selaku Direktur Utama dan pemilik dengan para karyawannya. Namun hingga kini tidak ada kabar pertikaian mengenai lay-off karyawan. Sehingga bisa asumsikan tindakan lay-off ini sudah disepakati kedua belah pihak.

5.Bagaimana tindakan ini sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat?

Tindakan lay-off karyawan bukan tanpa alasan yang jelas. Sementara memang tidak ada pemasukan yang cukup untuk membiayai karyawan yang tentu untuk membiayai keluarganya masing-masing, tidak ada pilihan lainnya. Beberapa karyawan segera beralih untuk usaha dagang kecil-kecilan di dekat area Saung Angklung Udjo selama pandemi. 

Dari pengujian beberapa pertanyaan di atas jelas menunjukkan tindakan yang diambil oleh Saung Angklung Udjo masih dapat etis diterima oleh pemilik maupun karyawan. Untuk jangka panjang akan lebih baik sustainability Saung Angklung Udjo tetap terjaga. Sehingga apabila kondisi setelah pandemi telah berakhir, pilihan untuk memulihkan kembali Saung Angklung Udjo seperti sebelum pandemi bisa terwujud.

Dari buku Ferrel, 2020 yang berjudul “Business Foundations – A Changing World edisi ke 12” menyebutkan Customer value = Customer benefits – Customer costs, tentunya perlu ada nilai lebih yang dijual oleh Saung Angklung Udjo untuk tetap eksis menjalani bisnisnya di tengah usaha pandemi. Karena tentunya akan sangat sulit mengandalkan pemasukan dengan pertunjukan normal yang dilakukan langsung tatap muka. Bagaimana tidak, wisatawan mancanegara sudah pasti sulit masuk karena serangkaian prosedur kesehatan yang harus dilalui mulai dari masuk ke negara Indonesia serta serangkaian protokol lainnya selama kunjungan dan anak-anak sekolah pun juga masih belum boleh melakukan kelas tatap muka.

Persepsi yang selama ini ada dalam benak customer pecinta wisata pun juga perlu diedukasi bahwa pertunjukan dan aksi panggung Saung Angklung Udjo yang beranggapan hanya bisa dilakukan dengan tatap muka, selama kondisi pandemi ini sebetulnya tetap bisa dilakukan selama daring. Seperti strategi yang pernah dilakukan bekerja sama dengan seniman lainnya, melalui virtual stage Saung Angklung Udjo bisa tetap mendapatkan pemasukan. Berikut adalah contoh ketika Saung Angklung Udjo bekerja sama dengan Don Sistem Suara bersama para seniman.

Selain itu beberapa karya kolaborasi kecil sempat dtunjukkan di media sosial Saung Angklung Udjo. Semangat anak-anak dan para pemuda seniman untuk berkarya masih terlihat meskipun harus dilakukan dari rumah masing-masing. Mereka masih dapat berkolaborasi dan tidak kalah indahnya dengan pertunjukan langsung. Malah melalui karya yang ditunjukkan, mereka justru menyemangati para tenaga kesehatan yang berjuang merawat pasien COVID-19.

Sebagai entrepreneur di bidang kesenian Sunda, Saung Angklung Udjo masuk di dalam kategori industri jasa yang turut serta berperan andil sebagai lapangan pekerjaan, pelestarian seni budaya serta pemasukan bagi daerah dari pengunjung yang datang menjadi vital. Sehingga kamampuan bertahan bisnis menjadi lebih penting karena menyangkut banyak stakeholder baik internal maupun ekstranal yang terdampak apabila bisnis ini menjadi surut akibat pandemi COVID-19.

Berikut dapat dilihat beberapa kondisi sebelum dan selama pandemi atau biasa dikenal dengan New Normal :

Kategori

Sebelum Pandemi

Selama Pandemi (New Normal)

Demografik, Geografik, Psikografik dan Behavioristik

Semua kalangan dan umur, baik pria maupun wanita karena pertunjukan bisa langsung dimainkan di depan pengunjungnya, dilakukan di Saung Angklung Udjonya di Bandung. Pengunjungnya pun juga kalangan ang menyenangi kesenian, musik, maupun keunikan yang ditunjukkan Saung Angklung Udjo

Demografik relatif tidak berubah, namun jika harus merambah ke pertunjukan virtual maka demografik akan berubah menjadi pengguna gadget dan penonton melalui daring, sehingga shoot untuk acara streaming bisa dilakukan dari Saung Angklung Udjo

Job Analysis

Mengembangkan kesenian Sunda pusat kerajinan bambu, dan kelas alat -alat musik yang didominasi dari bambu

Tidak ada perbedaan karena mengembangkan kesenian Sunda pusat kerajinan bambu, dan kelas alat -alat musik yang didominasi dari bambu adalah core business Saung Angklung Udjo

Job Description

  • Melakukan pertunjukan langsung kesenian Sunda di depan penonton
  • Workshop pembuatan alat musik bambu
  • Menjajakan souvenir 


Pertunjukan melalui online atau langsung dengan jumlah terbatas dan protokol kesehatan yang ketat

Job Specification

  • Bisa memainkan alat musik bambu
  • Mampu perform di depan orang banyak
  • Ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja
  • Sabar ketika melayani pengunjung
  • Bisa memainkan alat musik bambu
  • Mampu perform di depan kamera video
  • Sabar ketika berurusan dengan teknologi daring maupun menanggapi penonton ketika live streaming
  • Kemampuan untuk mengoperasikan teknologi untuk pertunjukan daring sangat diperlukan
  • Tanggap mempelajari fitur baru untuk pertunjukan live streaming

Sumber : Ferrell, O.C., Hirt, G. and Ferrell, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York

Sumber : Ferrell, O.C., Hirt, G. and Ferrell, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York

Dari pie chart marketing environment kita bisa menganalisis bahwa baik product, customer maupun price yang dimiliki oleh Saung Angklung Udjo relatif tidak berubah baik sebelum maupun selama pandemi, namun jika dilihat pada bagian Distribution maupun Promotion perlu ada penyesuaian dibandingkan dengan keadaan normal. Distribution adalah bagaimana menyampaikan pertunjukan atau kesenian Sunda lainnya selain dari tatap muka. Misalnya dengan via daring di mana di saat yang bersamaan di tempat yang berbeda-beda tetap dapat terhubung dan berkomunikasi untuk diadakannya pertunjukan. Promotion adalah bagaimana memanfaatkan media sosial di dunia maya agar semua orang yang tidak keluar rumah selain bekerja dapat terkomunikasikan bahwa Saung Angklung Udjo masih terus beroperasi selama pandemi.

Perubahan dan penyesuaian ini diakibatkan customer hanya paham Saung Angklung Udjo sebagai tempat di mana tatap muka langsung antara performer, personil maupun karyawan Saung Angklung Udjo dengan customernya, ditambah lagi adanya protokol kesehatan yang membuat customer menjadi enggan untuk dibatasi ketika berwisata. Bagi Saung Angklung Udjo sangat terlihat bahwa peran customer sangat esensial bagi pendapatan bisnisnya.

Dari sisi pemerintah secara nasional, ada tiga arahan dari Presiden Jokowi sebagai mitigasi terhadap lesunya dunia pariwisata. Pertama adalah program perlindungan sosial Presiden harus tepat sasaran, yang kedua adalah realokasi anggaran dari Kementerian Pariwisata diarahkan menjadi program padat karya bagi para pekerja yang bergerak di bidang pariwisata, ketiga menyiapkan stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha di sektor pariwisata.

Tak hanya menunggu jawaban dan tindakan dari pemerintah, Saung Angklung Udjo juga disarankan penulis untuk aktif mencari partnership terutama melalui program-program Kemenparekraf dan para duta-duta besar Indonesia yang tersebar di mancanegara agar melalui forum internasional wisata Indonesia terutama Saung Angklung Udjo bisa tetap dikenal eksis secara daring oleh para wisatawan, terutama dari mancanegara, selama pandemi berlangsung.

Beberapa media sosial seperti Whatsapp dan Instagram melalui akun Saung Udjo, memungkinkan pertunjukan via daring bisa tetap berjalan, namun juga perlu adanya advertising yang lebih gencar ke masyarakat agar di tengah maraknya berita-berita mengenai lesunya pariwisata karena pandemi COVID-19, masyarakat bisa tetap mengetahui karya seniman Saung Angklung Udjo masih tetap dapat dinikmati. Salah satu upaya bisa dengan dengan mengajak para youtuber yang memiliki rating atau subscriber yang tinggi untuk bekerja sama membuat konten sehingga ada keuntungan dua belah pihak. Saung Angklung Udjo dapat terus memasarkan usahanya di tengah pandemi sehingga masyarakat mendapat informasi dan dari pihak youtuber juga masih tetap dapat menghasilkan sebuah konten yang bernilai dan membantu.

Terakhir tak lepas tentunya perlu partisipasi pemerintah yang sedang mendorong program vaksinasi nasional. Tentu diharapkan herd immunity bisa segera terjadi sehingga aktivitas normal bisa berjalan kembali dan bisnis yang membutuhkan interaksi antara manusia seperti kesenian Saung Angklung Udjo dalam kembali bersinar seperti sebelum  pandemi.

Referensi

https://travel.kompas.com/read/2021/01/23/115000727/pandemi-covid-19-saung-angklung-udjo-terancam-bangkrut

https://www.tribunnews.com/bisnis/2020/09/12/moeldoko-13-juta-pelaku-pariwisata-terancam-kehilangan-pekerjaan-karena-covid-19

https://www.tribunnews.com/nasional/2020/09/12/dampak-covid-19-di-sektor-pariwisata-hingga-akhir-2020-15-juta-orang-terancam-kehilangan-pekerjaan

https://angklung-udjo.co.id/

https://kemenparekraf.go.id/

https://www.instagram.com/angklungudjo/

http://disdik.jabarprov.go.id/news/2490/saung-angklung-udjo%3A-tempat-seni-dipelihara-dan-dijaga

https://www.jalajahnusae.com/news/08/07/2020/saung-angklung-udjo-beradaptasi-dengan-new-normal-pengunjung-masih-rendah/

https://www.indonesia.travel/id/

Ferrell, O.C., Hirt, G. and Ferrell, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York.


Vincent Cahya Saputra  ( 42P20081 )


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Vincent

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format