New Normal: Lunch Meeting di Tempat Karaoke?

Transformasi tempat karaoke menjadi restoran yang lebih "aman" dikunjungi di era new normal


1
1 point

Tempat karaoke merupakan salah satu subsektor usaha (sektor pariwisata/hiburan) yang mengalami dampak yang cukup besar dikarenakan pandemi COVID-19. Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat usaha tempat karaoke tidak dapat beroperasi selama kurang lebih 8 bulan lamanya. Diantara sekian banyak pengusaha tempak karaoke, salah satu yang berjaya di masa sebelum pandemi adalah artis penyanyi dangdut Inul Daratista, yang merupakan pemilik 20 cabang lebih “Inul Vista” di daerah Jakarta. Karena tidak dapat melakukan kegiatan operasional, para karyawan tempat usahanya terpaksa dirumahkan seluruhnya. Dan karena tidak ada omset maupun pemasukan apapun dari bisnis karaoke ini, Inul terpaksa melakukan PHK terhadap sebagian karyawannya. Hal ini dilakukan setelah sebelumnya ia berupaya untuk membayar gaji dengan merogoh koceknya sendiri.

Gambar 1. Berita PHK Karyawan Tempat Karaoke

Sumber: CNBC Indonesia

Banyaknya tempat usaha yang ditutup selama pandemi (termasuk tempat karaoke) mengakibatkan penurunan Pendapatan Asli Daerah DKI Jakarta. Berdasarkan data yang dilansir di laman SMART APBD DKI Jakarta, di tahun 2020, Perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (P-RKPD) DKI Jakarta menunjukkan penurunan yang cukup drastis untuk Pendapatan Asli Daerahnya. Tercatat sejumlah 34 Triliun rupiah, sementara di tahun 2019 mencapai 50 Triliiun rupiah. Di tahun 2020, pemerintah menargetkan Pendapatan Asli Daerah sebesar 48 Triliun rupiah. Untuk mendukung capaian angka tersebut, salah satu usaha yang dapat dilakukan pemerintah DKI Jakarta adalah mendorong pendapatan dari sekot pariwisata, yaitu dengan membuka kembali usaha-usaha yang sebelumnya ditutup selama masa pandemi ini. Usaha ini sebelumnya memberikan sumbangsih yang cukup pada PAD DKI Jakarta, salah satu usahanya adalah tempat karaoke.

Gambar 2. RKPD DKI Jakarta

Sumber: SMART APBD DKI JAKARTA

Dikutip dari laman kumparan, pada tanggal 8 Maret 2021, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta menerbitkan surat edaran khusus terkait persiapan pembukaan kembali usaha karaoke melalui Surat Edaran No. 64/SE/2021. Di dalam surat tersebut memuat aturan bahwa seluruh pengusaha karaoke yang ingin membuka usahanya di era new normal (saat ini), harus mengajukan permohonan ke Disparekraf dengan melampirkan syarat-syarat diantaranya sebagai berikut:

  1. Membuat Surat Permohonan yang didalamnya terdapat pernyataan kebenaran dan keabsahan dokumen & data di atas kertas bermaterai Rp10.000,-
  2. Melampirkan identitas pemohon/penanggungjawab (berupa KTP untuk WNI dan Visa untuk WNA)
  3. Melampirkan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) yang masih berlaku
  4. Melampirkan protokol kesehatan secara ketat sesuai dengan kondisi dan kapasitas tempat usaha
  5. Mempersiapkan pembentukan Tim Satgas Covid-19 internal.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Asphija), Hana Suryani, kebijakan pemerintah ini cukup adil untuk para pengusaha yang sudah merasa siap untuk beroperasi kembali. Namun, persyaratan pembukaan tempat karaoke ini tentu sangatlah ketat, untuk mencegah penyebaran covid-19 dan bahkan dapat membentuk cluster baru. Sehingga, para pengusaha karaoke harus memiliki standar protokol kesehatan yang sangat baik. Para pengusaha yang belum siap dengan protokol kesehatan yang baik, maka tidak disarankan untuk mengajukan diri karena pasti akan ditolak oleh Disparenkaf. Seperti yang dilansir dari liputan6, sebanyak 58 tempat karaoke yang mengajukan permohonan pembukaan tempat karaoke, ditolak oleh pemerintah. Artinya, diantara 58 yang mengajukan, belum ada yang dianggap sesuai dan layak sesuai dengan Surat Edaran (SE) Nomor 64/SE/2021.

Lalu, jika nanti dibuka kembali, seperti apakah perbedaan kegiatan operasional usaha tempat karaoke sebelum dan sesudah pandemi?

Tabel 1. Perbandingan Keadaan Tempat Karaoke Sebelum dan Setelah Pandemi

Kemudian, jika nanti dibuka kembali, akankah usaha ini akan kembali seperti dulu lagi? Ramai oleh pengunjung baik di hari kerja maupun akhir pekan. Atau malah akan menimbulkan kerugian karena omset yang diperoleh tidak mampu menutupi biaya operasionalnya? Disamping itu, penambahan jumlah orang yang terjangkit covid-19 terus berjalan dan tidak ada yang mengetahui sampai kapan ini akan berakhir. Larangan untuk berdekatan, berkumpul diruang tertutup, dan penerapan prokes lainnya masih terus digalakkan oleh pemerintah. Jikapun nanti tempat karaoke akan dibuka, maka ketentuan yang sekiranya harus dipatuhi adalah sebaimana gambar berikut:

Gambar 3. Cara Berkaraoke dengan “Aman”

Sumber: solopos

Pada dasarnya, pembukaan kembali tempat karaoke tidak akan membuat usaha ini kembali seperti semula. Seperti yang kita tahu, ruangan tempat karaoke selalu tertutup rapat dan kedap suara, sehinggal tidak mempunyai sirkulasi udaran yang baik. Selain itu, berkumpul dengan beberapa orang di dalam suatu ruangan yang terbatas tentunya posisi duduk akan berdekatan dan sulit bagi pengelola untuk mengontro setiap pengunjungnya. Dan seperti yang kita tahu, seorang penyanyi pun tidak menggunakan masker saat bernyanyi di atas panggung. Untuk merangkum berbagai hal terkait kondisi tempat karaoke jika nanti dibuka kembali, terlampir beberapa matriks pembahasan yang diolah penulis berdasarkan teori yang di sampaikan oleh Ferrell, dkk.

Tabel 2. Matriks Kondisi Tempat Karaoke Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19 berdasarkan Teori dari Ferrell, dkk. tentang Customer Driven Marketing (Business: A Changing World. 12th Ed)

Tabel 3. Matriks Kondisi Tempat Karaoke Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19 berdasarkan Teori dari Ferrell, dkk. tentang Dimensions of Marketing Strategy (Business: A Changing World. 12th Ed)

Seperti yang kita tahu, tempat karaoke merupakan tempat hiburan favorit baik kalangan menengah ke atas maupun kalangan menengah ke bawah. Oleh karena itu, sebelum pandemi, tempat karaoke ada pada masa maturity. Dengan omset yang sudah tinggi dan kenaikan maupun penurunan omsetnya tidak lagi signifikan (sudah stabil). Lalu, di masa setelah pandemi, dimana tempat karaoke ditutup operasionalnya selama 8 bulan, maka tentunya jasa ini akan mengalami fase decline dimana masyarakat ragu dan mulai meninggalkan jasa ini dikarenakan potensi penularan covid yang tinggi di tempat ini. Selanjutnya, jika pun dibuka lagi, jasa ini akan mengulangi lagi tahap introduction / pengenalan kepada masyarakat dan mulai menggaet pelanggang-pelanggan baru untuk membangkitkan omsetnya. Kedua tabel di atas merupakan pembahasan yang dilihat dari sisi usahanya, lalu bagaimana kondisi sumber daya manusianya?

Tabel 4. Matriks Kondisi Tempat Karaoke Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19 berdasarkan Teori dari Ferrell, dkk. tentang Managing Human Resource (Business: A Changing World. 12th Ed)

Kondisi pandemi yang menutup tempat karaoke sampai 8 bulan lamanya, membuat manajemen tidak punya banyak pilihan untuk melakukan pengelolaan SDM nya, bahkan untuk manajemen yang tidak mampu lagi bertahan dengan omset sebesar nol rupiah, sejumlah karyawannya harus di PHK.

Bagaimana cara menyikapi persoalan-persoalan di atas?

Untuk menyiasati persoalan-persoalan di atas, penulis mencoba merancang konsep baru untuk tempat karaoke yang masih ingin beroperasi namun dengan risiko pandemi yang lebih kecil. Terinspirasi dari Jepang, yang terdapat “Karaoke Office” dimana lokasi kerja berpindah ke tempat karaoke untuk mencari suasana yang berbeda dan mencari ketenangan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dari gagasan tersebut, penulis bermaksud untuk “menyulap” tempat karaoke, yang kemungkinan akan “mati” jikapun tetap dioperasikan, menjadi suatu tempat makan yang menyediakan VIP room yang dapat digunakan untuk meeting sekaligus menyantap makanan. 

Gambar 4. Karaoke Office di Jepang

Sumber: Jakartapost

Untuk menjabarkan ide tersebut, penulis melakukan pendekatan teori yang disampaikan oleh Ferrell, dkk, terkait Dimensions of Marketing Strategy yaitu bagaimana tahapan dalam merancang suatu development atau pembaharuan dari bisnis yang sebelumnya telah ada. Hal ini disampaikan dalam matriks tabel 5 berikut:

Tabel 5. Pengembangan Idea Development Tempat Karaoke

Setelah merencanakan dan mengembangkan ide baru, selanjutkan adalah meramu kebutuhan SDM yang dapat menunjang keberhasilan implementasi ide tersebut nantinya. Penulis melakukan pendekatan teori yang disampaikan oleh Ferrell, dkk, terkait Managing Human Resource sebagaimana tabel berikut:

Tabel 6. Pengelolaan SDM

Dengan pelaksanaan pengembangan ide tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko pandemi (gagal bangkit kembali) dikarenakan kondisi pandemi yang masih belum membaik. Walaupun akan dibutuhkan biaya yang besar di awal, seperti renovasi ruangan, pembelian perabot, pelatihan karyawan, dll., diharapkan ke depannya transformasi bisnis ini dapat menguntungkan pemilik usaha.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
mentari

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format