Tantangan dan Terobosan Keberlangsungan Industri Penerbangan di Era Kenormalan Baru


1
1 point

Dampak virus corona pada industri penerbangan: 

Tantangan dan Terobosan Keberlangsungan Industri Penerbangan di Era Kenormalan Baru

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar dengan jumlah penduduk yang sangat besar, membutuhkan penompang konektivitas dari sisi orang dan barang antar daerah, hal ini menjadikan Industri Penerbangan sebagai industri vital baik sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi serta ketahanan nasional. Industri penerbangan ini juga merupakan urat syaraf bisnis yang mendorong industri lainnya untuk berkembang, seperti halnya industri pariwisata, perhotelan, perindustrian serta perdagangan dan banyak industry lainnya. 

Industri penerbangan juga dikenal sebagai industri paling global dimana standarisasi ataupun regulasi tentang penerbangan diatur secara global, sangat ketat dan mengikat semua negara yang terkoneksi dengan penerbangan internasional. Dari sisi human capital, industri ini selain mempekerjakan jutaan orang dan menjadi penopang puluhan juta lainnya, juga mendorong pengembangan skill dan pengetahuan, serta mendorong pengembangan tehnologi karena industri ini juga merupakan industri dengan tehnologi tinggi.

Dengan sejumlah peran vital diatas, sudah sewajarnya industri penerbangan pada kondisi normal selalu mengalami peningkatan yang didorong oleh kebutuhan perjalanan yang bersifat bisnis juga didorong oleh perubahan market behavior dengan menempatkan leisure travelling sebagai salah satu perencanaan pengeluaran / belanja, terutama oleh generasi millennial yang dikenal punya kecenderungan untuk mengeksplorasi dan menikmati hidup.

Tantangan kelangsungan bisnis di masa Pandemi Covid 19

Dimulai dengan penemuan sebuah wabah virus Covid 19 di kota Wuhan China pada awal tahun 2020 yang bisa mengakibatkan kematian, juga didorong oleh sifat penyebarannya adalah antar manusia hanya melalui nafas ataupun sentuhan terhadap benda yang terkontaminasi, maka kondisi ini memicu kondisi pandemic. Tentunya merupakan pukulan yang terberat bagi banyak industri, dan tidak luput adalah industri penerbangan yang berbasis pergerakan manusia dan barang. 

https://www.youtube.com/watch?v=xpIs8Y9vgSs

Berkenaan dengan status pandemic, maka Pemerintah melakukan upaya pencegahan ataupun memperkecil penyebaran Covid 19 yang semakin meluas, dimana pergerakan orang dan barang menjadi penting untuk dikendalikan. 

1. Peraturan pemerintah terkait pengendalian perjalanan terkait pandemic Covid 19

Pemerintah melalui Kementrian Perhubungan dan Kementrian Kesehatan telah mengeluarkan berbagai aturan yang sangat ketat dalam penyelenggaraan jasa penerbangan juga pelaku perjalanan, baik domestic ataupun internasional guna mencoba mengendalikan penyebaran virus Covid 19. Beberapa contoh peraturan yang dikeluarkan : 

  • Pemerintah menerbitkan Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 telah membatasi perjalanan orang keluar atau masuk batas wilayah administratif, baik dengan kendaraan pribadi maupun sarana transportasi umum yang didalamnya termasuk transportasi udara. 
  • Aturan kemudian diubah menjadi Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 7 Tahun 2020 tentang Kriteria dan Persyaratan Perjalanan Orang dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19, dimana surat edaran tersebut menetapkan kriteria dan persyaratan umum mengenai individu yang hendak melakukan perjalanan orang menggunakan sarana transportasi umum, yang diantaranya mewajibkan memiliki hasil tes PCR dan surat keterangan bebas gejala.
  • Peraturan Mentri Perhubungan no. PM 18 Tahun 2020, Tentang Pengendalian transportasi dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)
  • Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriyah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 telah melarang sementara seluruh maskapai penerbangan untuk beroperasi dari dan ke wilayah yang memberlakukan pembatasan sosial berskala besar maupun zona merah penyebaran Covid-19. 
  • Kemenhub menginstruksikan kepada operator penerbangan untuk memberlakukan protokol kesehatan di bandara, seperti pengecekan suhu tubuh, penggunaan sarung tangan dan masker, serta pembersihan secara rutin menggunakan disinfektan di bandara. Selain itu, Kemenhub memberikan berbagai instruksi kepada maskapai penerbangan seperti meningkatkan frekuensi pembersihan pada pesawat, memastikan masker, hand sanitizer, sabun, dan air mengalir tersedia selama penerbangan, dan menyediakan area kabin seluas 3 baris kursi yang terpisah dengan jarak 1 baris dari kursi yang digunakan oleh penumpang. 
  • Kepmenhub No. 88 Tahun 2020 yang menginstruksikan peningkatan harga tiket pesawat menjadi 2 kali lipat dari biasanya agar kapasitas dalam penerbangan dapat berkurang hingga 50%, dimana hal tersebut dilakukan untuk menjaga jarak antar penumpang (physical distancing) dalam rangka mengurangi tingkat penularan Covid-19 di dalam pesawat.
  • Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)

Sumber : https://covid19.go.id/p/regulasi/peraturan-menteri-kesehatan-republik-indonesia

2.   Penurunan demand akan perjalana udara ( penurunan revenue )

Dengan adanya penerapan pengendalian perjalanan, kini suasana penerbangan menjadi berbeda sejak virus Covid-19 menyerang, sangat sedikit masyarakat yang mau terbang. Mereka memilih untuk menunda jadwal penerbangannya demi alasan kesehatan. Sebagai dampaknya, tahun 2020 terjadi penurunan jumlah pengguna perjalanan melalui udara yang sangat signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2019.

Penurunan demand tentunya berakibat secara langsung atas pemasukan (revenue) kepada maskapai guna membiayai seluruh keperluan perusahaan yang secara normal tergantung dari penjualan tiket penumpang serta bagasi dan cargo

Berikut, memterlihatkan pebandingan penurunan jumlah pergerakan penumpang di 5 bandara terbesar di Indonesia anatar tahun 2019 & 2020 :

Sedangkan dari rute perjalanannya, terlihat sekali dampak dari penerapan aturan atau pengetatan perjalanan baik oleh pemerintah Indonesia maupun oleh negara tujuan.

Secara global, IATA sebagai induk organisasi internasional, mencatat perbandingan kondisi antara sebelum dan masa pandemic dengan catatan bahwa keterisian (Load Factor) atau terjadi penurunan demand pada titik terendah sepanjang sejarah IATA.

Sumber :  https://balitbanghub.dephub.go.id/file/355


3.  Tantangan atas biaya guna menjaga nilai asset & resources 

Selain dari tantangan penurunan jumlah penumpang yang berakibat langsung terhadap revenue, Maskapai juga harus mengatasi tantangan biaya-biaya yang sangat besar dan harus dikeluarkan guna menjaga kelangsungan perusahaan, menjaga nilai asset dari kerusakan ( bersifat tangible atau intangible serta persiapan jika nantinya akan beroperasi seperti sebelumnya.

Biaya tetap beserta porsinya dari total biaya yang relative terhadap kondisi dan komposisi perusahaan dalam alokasi serta asset yang dimiliki, antara lain :

  • Biaya sewa atau pengadaan pesawat (installment), (berkisar 20% – 30%) 
  • Biaya perawatan pesawat, (berkisar 15% – 20%)
  • Biaya gaji dan benefit lainnya, (berkisar 10%) 
  • Biaya training untuk personel operasional terkait dengan keabsahan, (berkisar 5%) 
  • Pembayaran insurance, parking pesawat, facilities dan lainya

Sedangkan biaya variable terhadap produksi seperti fuel, allowance, route charge aircrafts handling, dsb, mengikuti satuan terbang produksinya dimana pengoperasian yang juga menurun.

kelangsungan bisnis penerbangan di era kenormalan baru

Industri penerbangan saat ini bisa dikatakan dalam kondisi yang sangat sulit bahkan menurut IATA adalah kondisi terburuk, yang sesegera mungkin harus keluar ataupun beradaptasi dengan kondisi di era kenormalan baru. 

Guna mempertahankan kelangsungan perusahaan, beberapa hal harus segera dicarikan terobosan atau pengambilan langkah2 solusinya, terutama yang merupakan big ticket bagi perusahaan penerbangan, seperti :

  • Beradaptasi terhadap regulasi terkait pengendalian perjalanan.

Hal yang bisa dilakukan dengan regulasi pembatasan atau pengendalian perjalanan adalah dengan beradaptasi dan memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan. Ini menjadi sangat penting karena berpijak pada 2 tujuan yaitu dari sisi teknis dan sisi organisasi.

Adaptasi atas ketentuan regulasi dari sisi teknis :

  • Memproteksi human capital sebagai asset perusahaan terpenting, terhadap potensi terpapar dan penyebaran dalam lingkunga perusahaan, sehingga bisa menghilangkan ketersediaan resources dan kelancaran operasionalnya.
  • Melakukan Transformation processes sebagai langkah menjalankan kepatuhan atas butir-butir ketentuan dalam regulasi maslah pengoperasian dan penanganan penumpang, seperti : 
    • Merubah proseduryang terkait dengan regulasi sesuai SE no.7 tahun 2020 dan SE no.12 tahun 2021 dalam penanganan penumpang, pensterilan pesawat (disinfectant), ataupun prosedur dalam operasional penerbangan dsb.  
    • Penambahan equipment atau fasilitas guna pendeteksian terhadap penumpang ( missal thermal scanner, medical facilities ), peralatan penanganan disinfectant serta PPE ( Personal Protection Equipment ).
    • Penggunaan technology dengan pengintegrasian Passanger Information system dengan platform yang digunakan oleh Dinas kesehatan (E-HAC) sebagai sarana monitoring atas kondisi penumpang.
    • Simulasi dan briefingterhadap perubahan prosedur, penambahan equipment, pengintegrasian system baru, simulasi pelaksanaan dan respon terhadap kondisi emergency.

Sumber :  Business Foundation 12th edition by OC Ferrell – chapter 8 part 3

Hal tersebut diatas harus dilakukan untuk mendapatkan Good Service serta kepercayaan regulator dan penumpang.

Dari sisi organisasi atau manajemen, beradaptasi dengan melakukan perencanaan produksi dan operasionalnya ( Planning & Designing Operations ) seperti :

  • Perencanaan ulang kapasitas ( Planning Capacity ) dimana dengan penurunan demand, tentunya perlu diantisipasi dengan penurunan kapasitas sehingga bisa mengoptimalkan resources yg dipergunakan untuk menjalankan operasional dengan skala yang lebih kecil. Hal ini bisa dimulai dengan memperhitungkan demand dari historical data dan memproyeksikan berdasarkan situasi yang mungkin berkembang (forecast demand).
  • Perencanaan ulang rute penerbangan dengan mempertimbangkan regulasi tentang daerah terjangkitnya pandemic selain dari besaran atas forecast demand nya.
  • Perencanaan optimalisasi fasilitas(Planning Facilities) atas rute yang dipilih dengan mempertimbangan aspek kebutuhan operasionalnya, sebagai contoh ketersediaan fasilitas penumpang, fasilitas perawatan pesawat, warehouse, briefing atau operational room, internet fasilitas pendukung lainnya, dsb.
  • Perencanaan human resources, dengan pengalokasian dan penyesuain jadwal kerja untuk menghindari potensi penyebaran di lingkungan kerja yang bisa merugikan dari sisi human capital, baik pembiayaan perawatan kesehatan serta kehilangan produktivitas.

Sumber :Business Foundation 12th edition by OC Ferrell – chapter 8 part 3

  • Menaikkan kembali demand atas perjalanan udara

Tantangan terbesar di era kenormalan baru ini adalah bagaimana mengembalikan bisnis ke titik semula sebelum terjadinya pandemic, sementara di satu sisi terdapat perubahan market buying behavior terhadap keinginan melakukan perjalanan.

Dilihat dari situasi adanya Pandemi Covid, maka usaha untuk mengetahui buying behavior sangat penting, dalam situasi saat ini, tentunya sangat dipengaruhi oleh psychological variable yaitu 

  • Learning, yaitu yang di dorong oleh informasi dan pengalaman dalam menentukan untuk melakukan perjalanan udara, dalam hal ini informasi tentang resiko penyebaran virus covid 19.
  • Perception, pemilihan berdasarkan informasi yang terproses, kemudian menghasilkan sebuah persepsi dan keputusan untuk memilih. Dalam hal ini, sangat terpengaruhi oleh penilaian atau perasaan berdasarkan pengalaman, iklan ataupun rasa.
  • Motivation, lebih banyak saat ini, pengguna perjalanan udara didorong karena suatu hal tertentu, misalkan harga, kebutuhan, kemudahan dsb.

Sumber :Business Foundation 12th edition by OC Ferrell – chapter 11 part 5

Berangkat dari situasi dan pengetahuan akan market behavior, dan dengan tujuan utama untuk bisa mengembalikan atau menaikkan demand, maka langkah yang paling mungkin adalah dengan memfokuskan pada kebutuhan konsumen dan meningkatkan peran marketing.

Justifikasi atas pendekatan dengan berfokus pada kebutuhan konsumen (Market Orientation), adalah mengingat saat ini terlalu timpang antara jumlah supply yg sedemikian tinggi, dibandingkan dengan konsumen yang bersedia melakukan perjalanan udara. 

Dalam memfokuskan kebutuhan konsumen atas perjalanan udara dan dengan mempertimbangkan psychological variable diatas, dari sisi produknya, maka maskapai bisa menawarkan dan memodifikasi produknya, menjadi :

  • Paket perjalanan, differensiasi produk dengan mengkombinasikan antara transportasi dengan akomodasi ataupun lainnya, seperti paket perjalanan dinas (untuk bisnis destination), paket leisure travel, perjalanan medis yang bekerjasama dengan rumah sakit atau klinik kecantikan, atau perjalanan dengan paket pengetesan covid 19, dsb. 

Hal ini biasanya sudah dijalankan oleh travel agent, akan tetapi maskapai sebenarnya lebih mempunyai kemampuan atau fleksibilitas dalam menentukan harga produknya sendiri yaitu transportasinya dan bisa secara langsung bisa dimasukkan dalam platform booking systemnya.

  • Corporate account, dimana maskapai akan secara eksklusive menjalin kerjasama dengan korporasi / perusahaan sebagai contracted logistic agent yang akan memberikan kemudahan bagi karyawan di perusahaan tersebut dalam melakukan perjalan udara, baik dari sisi administrasi, jaminan perjalanan serta harga yang lebih menarik.
  • Charter flight atau penerbangan khusus, dengan berkurangnya penerbangan berjadwal yang dibuka secara retail, dan bias any menjangkau ke hamper semua daerah, maka perusahaan tertentu dengan jalur yang kurang ramai, misalkan perminyakan, tambang ataupun industry dengan lokasi di daerah terpencil, akan sangat membutuhkan ketersediaan transportasi udara khusus ini. 

Berdasarkan kajian dari sisi market behavior pendekatan dengan berorientasi pada konsumen ( Market Orientation ) diatas, maka penentuan marketing strategy harus sejalan, dengan memperhitungkan dan focus pada :

  • Creating value, ditengah kondisi over supply jauh diatas demand-nya, keunikan sebuah produk akan menjaring konsumen dengan behavior sebagai perception driven consumer. 
  • Segmentasi konsumen yang tepat, dimana harus sejalan dengan karakteristik maskapainya yang akan mendorong konsumen untuk menjadi loyal yang secara persepsi akan menggambarkan karakteristik si konsumen tersebut. 
  • Media marketing yang sesuai, dimana effektivitas sebuah marketing juga di tentukan oleh media yang digunakan, dimana hal ini di dorong oleh segmentasi yang dituju serta value atau ke unikan yang akan disampaikan.

Sumber :Business Foundation 12th edition by OC Ferrell – chapter 11 part 5

  • Pengoptimalan pemakaian biaya dan ketersedian kas 

Hal yang paling penting pada kondisi saat ini bagi perusahaan dan jajaran majemen adalah menjaga keterlangsungan bisnis perusahaan untuk bisa melewati masa tersulit dan mempersiapkan untuk mengembalikan bisnis pada saat yang memungkinkan.

Untuk tujuan tersebut diatas, maka ketersediaan kas adalah segalanya selain memperbesar pemasukan, dimana bisnis manajer dalam perusahaan maskapai harus mengupayakan dan menjamin optimalisasi penggunaan dana yang ada. Hal ini bisa ditempuh dengan cara :

  • Menghentikan investasi, adalah hal yang paling pertama dilakukan, karena maskapai berada pada posisi survival, dimana tidak akan mengadakan pengembangan.
  • Menunda pembayaran ataupun relaksasi pembayaran, hal ini terutama pada pos biaya yang bernilai besar serta terikat dibawah kontrak, seperti penundaan biaya sewa pesawat, pencadangan biaya perawatan (maintenance reserved fund), kontrak pengadaan serta kewajiban lainnya
  • Optimalisasi biaya operasional, dimana untuk tetap menjaga adanya pemasukkan guna mengurangi kerugian, maka biaya variable atas operasional harus dioptimalkan, karena biaya operasional adalah biaya dengan prosentase terbesar, tentunya akan sangat menolong jika bisa dioptimalisasi. Salah satunya dengan konsep just in time, hanya aka nada pengeluaran disaat benar-benar dibutuhkan dengan jumlah sesuai kebutuhan saja.
  • Memaksimalkan sumber daya internal, seperti pelaksanaan internal training, pengembangan kapabilitas atau keperluan produksi yang sebelumnya dialihkan ke pihak ketiga, maka harus diambil kemabali dengan memaksimalkan sumber daya internal untuk melakukannya.
  • Pembuatan laporan kas secara berkala, hal ini ditujukan untuk lebih ketat dalam memonitor dan membuat perencanaan pengeluaran serta bisa mengetahui secara pasti posisi kas.

Sumber :Business Foundation 12th edition by OC Ferrell – chapter 14 part 6

Sumber : https://www.harmony.co.id/blog/mengatur-cashflow-dimasa-covid-19-agar-bisnis-tetap-efisien

Tugas                         :   UTS BNM

Dosen Pengampu    :   Rina Herani, S.E., MSc.

Nama Mahasiswa    :   Heru Susilo

No. Registrasi            :   42 P 20066

Kelas                          :   MM JKT – SEMBA B 42 C

Referensi


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
herususilo

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format