THE FLU: MENGHADAPI WABAH VIRUS H5N1 DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Pandemi virus H5N1 menyebar dengan cepat di Bundang, Korea Selatan. Bagaimana sebaiknya respon yang dilakukan menurut perspektif Islam?


1
1 point

Trailer Film The Flu (2013) - sumber: https://www.youtube.com/watch?v=1BvKZMg2LjU

SINOPSIS

Film “The Flu” mengingatkan kita dengan masa pandemi covid-19. Kekacauan yang berawal dari usaha menyelundupkan imigran ilegal oleh Ju-Byeong Ki dan Byeong-woo ke Seoul. Mereka membuka kontainer dan menemukan semua orang yang berada di kontainer dalam kondisi tewas kecuali satu orang, yakni Moon Sai. Akhirnya mereka membawa orang yang selamat tersebut. Akan tetapi, Moon Sai berhasil kabur, berkeliaran, dan bertemu dengan anak kecil. Byeong-woo, salah satu kurir, mulai merasa sakit dan menularkan virus H5N1 ke sekitar. Kesehatan Byeong-woo semakin parah hingga tidak bisa diselamatkan lagi. Rupanya virus H5N1 merupakan virus mematikan yang membunuh korbannya dalam waktu 36 jam.

Semakin banyak orang yang terinfeksi virus menyebabkan kondisi negara semakin tidak stabil. Tenaga kesehatan menyarankan untuk membumihanguskan Bundang, wilayah perkotaan yang berjarak 15 km dari Seoul dengan populasi sekitar 460.000 orang. Hal tersebut menimbulkan perdebatan dengan  Walikota. Guna menghentikan penyebaran virus H5N1, pemerintah memutuskan untuk mengisolasi wilayah Bundang dan mewajibkan penggunaan masker. Setelah pengumuman pemerintah tersebut, masyarakat melakukan panic buying dan situasi semakin kacau. Dr. Kim In-Hae, anggota pusat penanggulangan infeksi Bundang, tertahan di tempat isolasi bersama Mi Reu, anaknya yang terinfeksi. Orang yang terinfeksi terpaksa dibunuh selama obat antibodi belum ditemukan.

Pemerintah berhasil menemukan Moon Sai, penyintas yang telah terinfeksi selama lebih dari 2 minggu, dengan kondisi kesehatan yang stabil. Darah dari Moon Sai menjadi satu-satunya harapan untuk membuat serum antibodi. Mi Reu menjadi orang pertama yang disuntik secara ilegal oleh Dr. Kim In-Hae, ibunya. Situasi semakin tidak terkendali ketika semua orang mengetahui fakta bahwa obat virusnya belum ditemukan dan orang yang terinfeksi dibumihanguskan. Masyarakat Bundang berusaha untuk mempertahankan diri dengan pergi ke Seoul. Pada akhirnya, Kang Ji-Goo, anggota regu penyelamat, berhasil membawa Mi Reu sebagai sumber antibodi kepada pemerintah Korea. Pemerintah melakukan riset dan mulai memproduksi antibodi untuk menanggulangi wabah virus H5N1 di Bundang.

AKAR PERMASALAHAN

Virus H5N1 menyebar dengan cepat di Bundang, Korea Selatan. Penyebaran virus mematikan ini disebabkan oleh penyelundupan imigran ilegal yang dilakukan oleh Ju-Byeong Ki dan Byeong-woo. Dr. Kim In-Hae, tim medis, dan pemerintah berusaha untuk menghentikan pandemi ini agar tidak meluas ke seluruh dunia.Pada 22 November 2006, Korean National Veterinary Research and Quarantine Service (NVRQS) mengkonfirmasi kasus pertama virus H5N1 di sebuah peternakan ayam di Iksan, Jeollabuk-Do, Korea Selatan. Kawanan yang terkena dampak menunjukkan peningkatan mendadak pada gejala klinis yang parah dan tingkat kematian yang tinggi, yakni sebesar 86% (Lee et al., 2008). Berikut infografis terkait virus H5N1:

(sumber: https://www.facebook.com/SunwayMedical/photos/breaking-down-h5n1-the-bird-fludo-you-know-that-even-healthy-looking-birds-can-s/10156536694790566/)

PERBANDINGAN 2 KARAKTER BERDASARKAN JURNAL BUSINESS ETHICS IN ISLAM

Dalam jurnal Business Ethics in Islam, Saleem et al (2018) berargumen bahwa sebagian besar sistem ekonomi dipengaruhi oleh norma dan nilai sosial-moral dan metafisik. Penting untuk mengidentifikasi elemen-elemen yang menentukan sikap sosial-moral dan metafisik, yang, pada gilirannya, kemungkinan besar juga akan mempengaruhi kehidupan ekonomi kita. Islam merepresentasikan ekonomi dimana sektor produksi direncanakan atas dasar bagi hasil, sehingga tenaga kerja memiliki andil dalam kebaikan industri (Khan, 1991). Beberapa konsep dalam jurnal ini, yaitu

  1. Jaminan Hak: Seluruh tindakan ekonomi dilakukan dengan adil tanpa mengeksploitasi orang lain dan hak-haknya.

  2. Freedom of Work and Enterprises: Manusia bebas bekerja apapun selama tidak melanggar hukum yang telah ditetapkan.

  3. Halal dan Haram: Konsep halal-haram dalam produksi dan konsumsi menurut pandangan islam. Hanya jenis komoditi yang halal menurut Islam dan diproduksi dengan memperhatikan kehalalan dalam prosesnya yang dapat bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan jurnal tersebut, hasil perbandingan 2 karakter berlandaskan konsep di atas, yaitu

Konsep

Ju-Byeong Ki

Dr. Kim In-Hae

Jaminan Hak

Praktik yang dilakukan oleh Ju-Byeong Ki tidak memperhatikan hak-hak lainnya. Imigran ilegal tersebut diperlakukan seperti barang dengan dimasukkan ke dalam kontainer. Penyelundupan tersebut juga berisiko melanggar hak rakyat Bundang, Korea Selatan untuk merasa aman dan nyaman.

Dr. Kim In-Hae berusaha untuk melindungi hak kesehatan rakyat Bundang, Korea Selatan dengan membuat vaksin H5N1. Namun, Dr. Kim In-Hae juga sempat membahayakan hak kesehatan masyarakat Bundang ketika menyembunyikan Mi Rae yang menunjukkan gejala sakit.

Freedom of Work and Enterprises

Islam memberikan kebebasan bagi seseorang untuk memilih pekerjaannya selama tidak melanggar hukum yang ada. Penyelundupan yang dilakukan Ju-Byeong Ki tidak patut dibenarkan karena melanggar hukum yang berlaku di Korea. Selain itu, Ju-Byeong Ki tidak memberikan kebebasan bagi imigran ilegal tersebut.

Dr. Kim In-Hae bekerja sebagai tim medis yang patuh terhadap hukum. Bahkan, pada saat seharusnya Ia berangkat untuk bertugas tetapi tidak jadi karena anaknya sakit, Ia tetap mematuhi protokol dan pergi ke camp rakyat Bundang. Tetapi terdapat pelanggaran yang dilakukan pemerintah dalam penanganan pasien yang menunjukkan gejala infeksi, yakni dengan dibumihanguskan. Hal tersebut tidak dapat dibenarkan. 

Halal dan Haram

Imigran ilegal jelas haram. Dilihat dari cara kerja Ju-Byeong Ki, penyelundupan manusia merupakan hal yang haram untuk dilakukan karena bertentangan dengan syariat Islam. Islam memandang bahwa penyelundupan erat kaitannya dengan masalah penipuan, karena penyelundupan merupakan berbuatan yang terselubung. Al-Gabn menurut bahasa bermakna al- Khada' (penipuan).

Usaha Dr. Kim In-Hae untuk menghentikan penyebaran virus H5N1 tidak melanggar hukum Islam. Selain itu, vaksin yang berhasil dibuat dari Mi Rae, anaknya Dr. Kim In-Hae perlu dijamin kehalalannya.

PERBANDINGAN 2 KARAKTER BERDASARKAN JURNAL RELATIONSHIP BETWEEN EMOTIONAL INTELLIGENCE (EI) AND ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOUR (OCB): THE MODERATING ROLE OF ISLAMIC WORK ETHICS (IWE)

Dalam jurnal The Relationship Between Emotional Intelligence (EI) and Organizational Citizenship Behaviour (OCB): The Moderating Role of Islamic Work Ethics (IWE), Haider (2015) menunjukkan bahwa OCB dan EI akan menentukan tingkat OCB yang signifikan dalam kapasitas individu, sedangkan peran moderasi IWE terbukti tidak signifikan. Beberapa konsep dalam jurnal ini, yaitu:

  1. Emotional Intelligence (EI): kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi keadaan emosi pribadi serta menilai keadaan emosional orang lain.

  2. Organizational Citizenship Behaviour (OCB): serangkaian kegiatan sukarela yang dilakukan untuk memperbaiki iklim kerja organisasi. 

  3. Islamic Work Ethics (IWE): konstruk yang dikembangkan untuk memasukkan nilai-nilai etika agama dalam kehidupan profesional seseorang. 

Berdasarkan jurnal tersebut, hasil perbandingan 2 karakter berlandaskan konsep di atas, yaitu

Konsep

Ju-Byeong Ki

Dr. Kim In-Hae

Emotional Intelligence (EI)

Ju-Byeong Ki memiliki EI yang rendah. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya ketika kondisi Byeong-woo kritis dan didiagnosis terinfeksi virus H5N1 yang mematikan. Dia tidak mampu mengidentifikasi keadaan emosi pribadi, menilai keadaan emosional orang lain, dan memberikan respon yang tepat dalam kondisi krisis. 

Dr. Kim In-Hae tetap berusaha tenang meskipun Mi Reu mulai menunjukkan gejala terinfeksi virus H5N1. Dia merespon tekanan dengan baik dan lebih fokus terhadap solusi agar anaknya bisa segera sembuh. Kecerdasan emosional yang dimiliki Dr. Kim In-Hae menjadi harapan dan terbukti berhasil menghentikan krisis kesehatan akibat pandemi virus H5N1.

Organizational Citizenship Behaviour (OCB)

Respon Ju-Byeong Ki terhadap krisis kesehatan yang terjadi tidak tepat. Ketika rekannya, Byeong-woo, semakin sakit, Ju-Byeong Ki justru semakin panik, menutup-nutupi yang sebenarnya terjadi. Hal tersebut memperburuk situasi dan merugikan banyak orang.

Tugas utama dokter adalah mengobati dan mencegah timbulnya kembali penyakit. Hal tersebut sangat tercermin dari berbagai usaha yang dilakukan oleh Dr. Kim In-Hae. Dia mencoba mencari bahan dasar vaksin dan melakukan berbagai cara untuk memperbaiki kondisi di Bundang, Korea Selatan.

Islamic Work Ethics (IWE)

Pekerjaan yang dilakukan Ju-Byeong Ki tidak didasari oleh nilai-nilai etika agama Islam. Praktik penyelundupan imigran ilegal yang ia lakukan hanya berdasarkan nafsu dan niat duniawi saja.

Apa yang dilakukan Dr. Kim In-Hae telah sesuai dengan nilai-nilai etika agama Islam. Dr. Kim In-Hae menjunjung tinggi kemanusiaan dan hak kesehatan bagi setiap orang. Namun, perlu diingat bahwa menyembunyikan Mi Rae yang sakit cukup berisiko dan membahayakan bagi masyarakat.

PERBANDINGAN 2 KARAKTER BERDASARKAN JURNAL SPIRITUAL LEADERSHIP AS A MODEL FOR ISLAMIC LEADERSHIP

Dalam jurnal Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership, Egel dan Fry (2017) membahas tentang teori kepemimpinan spiritual dalam kaitannya dengan ajaran agama islam. Jurnal ini lebih berfokus meneliti bahwa model kepemimpinan islami lebih sesuai diterapkan pada organisasi Islam yang mempekerjakan pekerja Muslim. Beberapa konsep dalam jurnal ini yang dapat dijadikan analisis, yaitu:

  1. Management from an Islamic Practice (MIP): manajemen organisasi yang menghasilkan aplikasi yang sesuai dengan keyakinan dan praktik Islam.

  2. Leadership from an Islamic Practice (LIP): kepemimpinan untuk mencapai tujuan organisasi tertentu dengan mematuhi ajaran dan prinsip Islam.

Berdasarkan jurnal tersebut, hasil perbandingan 2 karakter berlandaskan konsep di atas, yaitu

Konsep

Ju-Byeong Ki

Dr. Kim In-Hae

Management from an Islamic Practice (MIP)

Manajemen organisasi yang dilakukan tidak sesuai dengan keyakinan dan praktik Islam. Dalam perjalanannya, Ju-Byeong Ki menutupi segala perbuatan yang melanggar hukum tersebut. Selain itu, Ia tidak amanah dalam memberikan hak-hak para imigran untuk mendapat perlakuan yang layak. Selain itu, Ju-Byeong Ki juga lalai hingga Moon Sai bisa kabur dan menyebabkan infeksi ke lebih banyak orang lagi.

Manajemen organisasi Dr. Kim In-Hae cukup baik. Ia dapat mengkomunikasikan dan meyakinkan berbagai pihak terkait usaha yang telah dilakukan dengan baik. Dr. Kim In-Hae menjadi salah satu kunci dapat dibuatnya vaksin H5N1 yang meredakan kekacauan di Bundang, Korea Selatan. 

Leadership from an Islamic Practice (LIP)

Ju-Byeong Ki tidak menunjukkan jiwa kepemimpinan islami. Ia tidak bisa membuat keputusan yang tepat dan mengkomunikasikan keputusannya dengan baik. Bahkan, tujuan yang ingin ia capai melanggar ajaran dan prinsip Islam. Kegagalannya dalam memimpin juga merugikan koleganya, Byeong-woo, yang turut terinfeksi virus mematikan H5N1.

Dr. Kim In-Hae dapat mengontrol dirinya dengan baik. Kepimimpinan yang paling pertama adalah bagaimana memimpin diri sendiri. Dr. Kim In-Hae dapat mengontrol emosinya, tetap tenang, dan berfokus pada solusi yang dapat dilakukan untuk meredakan krisis kesehatan yang sedang terjadi. Kepemimpinan yang baik tersebut menunjang keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama, yakni kondisi kesehatan yang terjamin.

PRO DAN KONTRA KRISIS KESEHATAN

Kejadian serupa dengan wabah penyakit virus H5N1 yang menjadi pandemi di Bundang, Korea Selatan juga pernah terjadi di masa lampau. Berikut ayat Al-Qur’an dan hadist yang membahas seputar krisis kesehatan, pandemi, dan vaksin.

Allah SWT dalam quran surat Al Baqarah ayat 249 berfirman mengenai wabah penyakit yang menimpa suatu negeri. Hal itu dikarenakan meminum air sungai.

“Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, "Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan." Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, "Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya." Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, "Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah." Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dari Usamah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, 

“Thaun adalah wabah yang dikirim kepada satu kelompok dari Bani Israil atau kepada orang-orang sebelum kalian. Jika kalian mendengarnya di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan jika Thaun menjangkiti suatu negeri sementara kalian disana maka jangan keluar untuk menghindarinya.” Abu Nadhr berkata, Jangan ada yang membuatmu keluar selain untuk menghindarinya.’

(HR Al Bukhari 3473, Muslim 2218, At-Tirmidzi 1065, Ahmad 5/201, Al-Bukhari 5729, Abu Dawud 3103)

Islam mengajarkan agar mencegah dan mengobati diri dari semua penyakit. Sebab setiap penyakit pasti ada obatnya,  namun tidak boleh berobat dengan yang haram. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, 

“Allah telah menurunkan penyakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap penyakit; maka, berobatlah dan janganlah berobat dengan benda yang haram.” 

(HR Abu Daud dari Abu Darda)

Oleh karena itu, vaksinasi H5N1 harus terjamin kehalalannya.

SOLUSI PERMASALAHAN

Berdasarkan analisis terhadap film The Flu, akar permasalahan yang menyebabkan krisis kesehatan di Bundang, Korea Selatan adalah pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Ju-Byeong Ki. Ia menyelundupkan imigran gelap yang ternyata membawa virus H5N1, virus yang mematikan dan dapat menular dengan sangat cepat. Dalam perspektif islam, hal yang sebaiknya dilakukan dalam merespon krisis tersebut, yaitu:

  1. Ikhtiar

Secara bahasa, ikhiar artinya memilih, sedangkan secara istilah, ikhtiar adalah usaha seseorang untuk memperoleh apa yang dikehndakinya. Dalam menyikapi krisis kesehatan yang terjadi, sebaiknya seseorang menyikapinya dengan baik dan tenang. Seseorang perlu berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menghentikan kekacauan akibat virus H5N1. Ikhtiar tergambarkan dengan jelas dari usaha Dr. Kim In-Hae bersama tim medis untuk membuat vaksin. Selain itu, masyarakat juga berperan dengan cara mematuhi segala regulasi yang ditetapkan pemerintah dengan tertib agar tidak menimbulkan kekacauan yang lebih besar lagi.

  1. Tawakal

Tawakal secara bahasa memiliki arti mewakilkan atau menyerahkan. Secara istilah tawakal artinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah Azza Wa Jalla dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan. Setelah seseorang telah berusaha semaksimal mungkin, langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu menyerahkan hasil terbaik kepada Allah Azza Wa Jalla. Tawakal membawa seseorang kepada ketenangan hati, menghindari dari rasa gusar, dan panik yang dapat memperburuk kondisi.

  1. Mencegah

Solusi terbaik yang direkomendasikan yaitu membentuk langkah preventif atau pencegahan agar krisis kesehatan ini tidak terjadi lagi. Hal tersebut sesuai dengan anjuran Islam bahwa “addaf’u aula minarraf’i”, mencegah lebih baik dari mengobati. Sebagaimana diketahui kebanyakan hadits Nabi Muhammad SAW tentang medis di masa awal merupakan kedokteran preventif (al-thibb al- wiqâ’i) ketimbang kedokteran penyembuhan (al-thibb al-‘ilaji). Dalam film tersebut, langkah preventif yang bisa dilakukan pemerintah yaitu memperketat penjagaan terkait impor, memperkuat regulasi yang melarang penyelundupan barang, dan menjamin hak keselamatan kerja bagi setiap pekerja yang ada di negara tersebut. Pemerintah dapat membentuk suatu sistem birokrasi yang mudah untuk diakses dan dipahami agar imigran yang ingin datang ke Korea Selatan dapat mengikuti tahapan imigrasi sesuai hukum yang berlaku.

Referensi:

Egel, E., & Fry, L. (2016). Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership. Public Integrity, 19(1), 77-95.

Haider, S. (2015). The Relationship Between Emotional Intelligence (EI) And Organizational Citizenship Behaviour (OCB): The Moderating Role Of Islamic Work Ethics (IWE). ASEAN Journal of Psychiatry, 16 (1).

Lee, Y., Choi, Y., Kim, Y., Song, M., Jeong, O., & Lee, E. et al. (2008). Highly Pathogenic Avian Influenza Virus (H5N1) in Domestic Poultry and Relationship with Migratory Birds, South Korea. Emerging Infectious Diseases, 14(3), 487-490.

Saleem, Maimoona, et al. (2018). Business Ethics in Islam. The Dialogue, 13(3), 327.



Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Reyhananda

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format