Warteg Kitchen : Ide Marketing Kala Pandemi

Pembatasan jumlah orang di tempat kerja maupun PHK di beberapa perusahaan ternyata ikut memukul penghasilan Warteg. Bagaimana Warteg dapat bangkit di kala pandemi?


1
1 point

20,000 Warteg di Jakarta Gulung Tikar akibat pandemi

Pada bulan Januari 2021, data yang dihimpun oleh Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) menunjukkan 10,000 Warteg di Jakarta berpotensi gulung tikar di tahun 2021. Ini adalah angka tambahan dari 10,000 Warteg yang telah tutup di tahun 2020 akibat tak mampu bertahan karena merosotnya omset penjualan yang mencapai 90% selama pandemi terutama sejak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tahap 1 pada bulan Juli 2020 dan terus berlaku hingga dilanjutkan dengan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sampai saat ini.

Jika benar terjadi, maka secara total akan terdapat 50% Warteg di Jakarta yang tutup sebagai imbas pandemi Covid-19.  Beban operasional yang tetap seperti biaya sewa tempat, biaya listrik dan biaya gaji pegawai dirasa sangat berat di kala omset yang biasanya bisa mencapai 5 juta rupiah per hari tersisa menjadi hanya 500 ribu per hari.  Warteg yang biasanya berlokasi di dekat pabrik, kantor, pusat perberlanjaan ataupun kampus kehilangan sebagian besar pelanggan karena pembatasan aktivitas manusia di tempat-tempat tersebut.

Selain akhirnya harus memecat para pegawai, pengusaha Warteg terpaksa menutup selamanya warung mereka karena tak sanggup memperpanjang sewa tempat.

Secercah harapan muncul ketika laju kasus positif Covid-19 mulai melandai di bulan Maret 2021, sehingga masyarakat mulai berani untuk makan di tempat termasuk di Warteg.  Terdapat sekitar 10% kenaikan pengunjung Warteg, namun kenaikannya belum cukup signifikan untuk membantu mengembalikan omset penjualan Warteg seperti sebelum pandemi.

Perubahan tren aktivitas masyarakat dan dampaknya kepada berbagai sektor usaha

Ketika PSBB dimulai pada bulan April 2020, terjadi perubahan yang sangat signifikan terhadap tingkat pergerakan masyarakat di luar rumah.  Kala itu masyarakat dihimbau untuk tinggal di rumah “Stay at Home” bahkan untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah.  Pergerakan masyarakat berpindah dari tempat-tempat umum ke area perumahan.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/08/15/bagaimana-mobilitas-masyarakat-dki-jakarta-saat-pandemi


Selain itu, terjadi pergeseran preferensi masyarakat terkait pola makan di luar rumah.  Sejak pandemi, masyarakat lebih memilih untuk memasak sendiri makanan di rumah ketimbang makan di luar.  

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/10/07/masyarakat-lebih-sering-memasak-di-rumah-sejak-pandemi-covid-19


Sehingga tak mengherankan bahwa salah satu sektor usaha yang paling terdampak saat pandemi adalah bidang akomodasi dan makan/minum.          

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/15/6-sektor-usaha-paling-terdampak-saat-corona

Menariknya, di sisi lain, data menunjukkan kenaikan tren masyarakat melakukan pemesanan makanan secara digital.   Gojek mengklaim terjadi peningkatan 20% transaksi GoFood selama pandemi. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI melakukan survei berjudul “Peran Ekosistem Digital Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19”, menyebutkan GoFood menjadi penyangga ekonomi bagi mereka yang penghasilannya terdampak pandemi, terutama pegawai swasta. Riset menemukan, sebanyak 40% mitra GoFood yang disurvei baru bergabung saat pandemi COVID-19, atau sejak Maret 2020. Dari mitra tersebut, sebanyak 94 persen merupakan pengusaha skala mikro. Sementara 43% di antaranya merupakan pengusaha yang pertama kali berbisnis. Riset juga menunjukkan bahwa sektor swasta terkena dampak dari pandemi. Proporsi mitra GoFood baru yang berasal dari pegawai swasta adalah sebesar 24%, sedangkan sebelum pandemi hanya 18%.


https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/10/12/pesan-makanan-online-jadi-pengeluaran-terbanyak-konsumen-saat-pandemi

Hal ini tentu menunjukkan suatu peluang baru yaitu pasar pemesanan makanan secara digital atau online untuk pengantaran ke rumah atau tempat tinggal.

Customer-Driven Marketing

Pada bagian ini, penulis akan membahas teori Customer-Driven Marketing dan mencoba menerapkannya pada kondisi Warteg dan kemungkinan implementasinya ke dalam sebuah ide strategi marketing.

Pertama-tama yang harus dibuat adalah Marketing Concept di mana pengusaha Warteg harus bisa mencari tahu apa yang diinginkan oleh konsumen.  Makan bukan sekedar untuk menghilangkan rasa lapar, tapi juga saat ini konsumen sudah paham bahwa yang dibutuhkan adalah makan sehat yaitu tercukupi kebutuhan nutrisinya.  Selain itu, di saat pandemi ini, konsumen menginginan makanan sehat tersaji di rumah.

Setelah menentukan konsep, pengusaha Warteg dapat memikirkan target segmentnya yaitu kelompok konsumen mana yang akan dituju. Terdapat 4 faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan target segment yaitu Demographic, Geographic, Psychographic dan Behaviouristic.

Lalu, mulailah perencanaan marketing menggunakan metode Marketing Mix (4P) yaitu Product, Pricing, Place (Distribution) dan Promotion.  Tentu saja pengusaha Warteg perlu memahami faktor-faktor psikologis maupun sosial dari target marketnya yang dapat menentukan keputusan membeli.

Dengan berlandaskan teori tersebut, berikut ini adalah implementasi ide marketing bagi pengusaha Warteg.



Sebelum Pandemi
Selama dan Sesudah Pandemi
Marketing Concept
Makan di tempat, harga murah, untuk kalangan pekerja
Makan di rumah, harga murah, untuk keluarga atau individu kelas menengah
Target Market
Business to Consumer
Business to Consumer
Market Segment
Demographic:
- Karyawan / pekerja
- tidak ada penghasilan minimum

Geographic:
- Kawasan perkantoran, sekolah, pusat perbelanjaan, pabrik

Psychographic:
- Rasa enak dengan porsi besar
- Harga murah (bujet 10,000 - 20,000 sekali makan)

Behaviouristic:
- Mementingkan makan cepat saji dan murah
Demographic:
- keluarga kecil, pasangan bekerja, karyawan berstatus single
- penghasilan minimum 3 juta perbulan

Geographic:
- Dekat perumahan, apartemen, indekos

Psychographic:
- Makanan bersih dan enak
- Harga ekonomis (bujet lebih untuk lauk dan sayuran)
- Waktu pengantaran tepat waktu makan (fresh)

Behaviouristic:
- Menginginkan variasi menu
- Mementingkan kebersihan dan kualitas pengemasan makanan


Marketing Strategy

Sebelum Pandemi

ProductPricingPlace (Distribution)Promotion
Banyak menu tersaji di etalase setiap hariMurah
Harga per menu
- Warung makan (makan di tempat)
- Lokasi di sekitar perkantoran, sekolah, pusat belanja, pabrik
- Tidak perlu layanan antar
Tidak ada promosi

Selama dan Sesudah Pandemi

Product
Pricing
Place (Distribution)
Promotion
Menggunakan set menu atau menu spesifik dan ditawarkan secara mingguan untuk menghemat biaya belanja
Harga per set menu, kecuali untuk frozen food

- Yang penting adalah memiliki dapur yang lokasinya sebisa mungkin berada di sekitar perumahan, apartemen atau indekos
- Perlu pegawai layanan antar atau bergabung menjadi mitra di layanan pesan makanan online
Media sosial seperti instagram, tik tok

Promosi tradisional menggunakan selebaran yang disebarkan kepada target market

Managing Operations and Supply Chains

Setelah menyelesaikan rancangan atau rencana marketing, pengusaha Warteg perlu merencanakan proses operasional.

Pengusaha Warteg perlu juga mencari alternatif cara bisnis yang lebih efisien selama dan setelah pandemi demi mengurangi beban biaya selama pemasukan juga berkurang.

Secara garis besar, Ferrel dalam bukunya Business Foundation (FHF chapter 8) menyebutkan tigal hal proses transformasi dalam suatu manajemen operasi: Inputs, Tranformasi, Output.

Desain Proses Operasional

Berdasarkan konsep marketing Warteg Kitchen yang menyediakan menu ala-carte dan jasa katering, maka pengusaha Warteg dapat menerapkan desain operasional Standardization dengan sedikit sentuhan Customization terkait pilihan menu yang dapat dipilih oleh konsumen.

Perencanaan Kapasitas

Dengan konsep jasa katering dan layanan pesan makan online yang berpusat pada layanan antar / delivery, pengusaha Warteg dapat merencanakan kapasitas yang diperlukan seperti jumlah pegawai yang diperlukan dan perencanaan bahan baku  termasuk mengeksplor piihan untuk menghemat biaya sewa karena tidak perlu menyediakan tempat yang besar dan dapat fokus pada penyediaan dapur yang memadai.  

Perencanaan Fasilitas

1. Lokasi: Pengusaha Warteg dapat menggunakan tempat usaha eksisting ataupun memindahkan lokasi usaha (dapur) ke area yang dekat dengan target market seperti perumahan, indekos dan apartemen.

2. Layout:  Secara khusus, pengusaha Warteg dapat menerapkan product layout di mana para pegawai dapat dialokasikan ke beberapa bagian yang berupa rangkaian produksi seperti bagian persiapan bahan masakan, bagian memasak, bagian pengemasan dan bagian pengantaran.  Untuk efisiensi tenaga kerja, pegawai di bagian persiapan bahan masakan dapat mengambil alih pekerjaan bagian pengemasan atau pengantaran setelah mereka menyelesaikan pekerjaan bagian mereka.

3. Teknologi: Walaupun usaha Warteg tidak membutuhkan teknologi yang rumit ataupun canggih dan lebih mengutamakan keahlian memasak dan kecekatan mengemas dan mengantar makanan (untuk jasa katering), namun pengusaha Warteg dapat memanfaatkan teknologi sederhana seperti proses pencatatan bahan baku, pesanan dan tagihan menggunakan komputer.  Selain itu, seperti disebutkan sebelumnya, pengusaha Warteg dapat memanfaatkan teknologi layanan pesan makanan online eperti GoFood, GrabFood, ShopeeFood sampai Kulina.

Managing Supply Chain

Secara umum, Warteg tidak membutuhkan pemasok bahan baku yang spesifik karena barang yang diperlukan bersifat umum, tersedia di pasar dan mudah diakses.  Pengusaha Warteg tidak perlu memiliki kontrak khusus dan dapat mengandalkan metode "spot exchange" untuk pengadaan input.  Namun, penting untuk mengidentifikasi beberapa pemasok utama dan alternatif sehingga ketersediaan bahan baku dapat dipastikan keberlangsungannya.  

Business Ethics and Social Responsibility

Bisnis warung makan seperti Warteg juga harus memiliki etika bisnis.  Dalam bukunya, Business Foundations (FHF Chapter 2), Ferrel mendefinisikan etika bisnis sebagai prinsip atau standar yang dapat diterima dalam menjalankan suatu usaha.  Etika bisnis tidak hanya dipengaruhi oleh keputusan perusahaan / pengusaha tapi juga oleh pihak eksternal termasuk kompetitor, konsumen dan pemerintah.  

Etika bisnis utama warung makan  adalah terkait standar kualitas dan kebersihan bahan masakan dan pengolahan makanan sampai pada proses pengemasan makanan.   Jika ingin menekan harga, pengusaha Warteg mungkin bisa menggunakan bahan-bahan berkualitas rendah serta kemasan yang tidak khusus untuk makanan (food grade).  Namun, hal ini akan merugikan pihak pengusaha Warteg sendiri karena konsumen akan mengenali kualitas buruk bahan baku dan tidak lagi melanjutkan pembelian dari Warteg tersebut.

Pengusaha Warteg harus jujur dalam menggunakan bahan-bahan masakan dan memastikan bahwa proses pengolahannya dilakukan dengan standar kebersihan dan protokol kesehatan terutama di masa pandemi ini.  

Selain etika bisnis,  social responsibility / tanggung jawab sosial dapat diimplementasikan salah satunya dengan mempekerjakan pegawainya untuk menangani proses pengantaran katering dan juga memanfaatkan layanan pesan makanan online yang secara tidak langsung juga membantu para pengemudi ojek online mendapat pemasukan.

Penutup

Pandemi Covid-19 berdampak besar di segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi, yang sayangnya sebagian besar memberikan dampak negatif berupa berkurangnya omset usaha akibat pembatasan gerak manusia dan juga kecenderungan orang menahan belanja konsumsi.

Pengusaha Warteg dapat mencoba mengambil alternatif usaha seperti beralih ke penyedia jasa katering, selain juga memanfaatkan layanan pesan makanan online untuk menjaga pemasukan demi operasional tetap berjalan.

Serupa dengan pengusaha rumah makan Mangkokku yang menerapkan strategi marketing baru untuk bertahan selama pandemi seperti berpromosi di media sosial dan menjual makanan frozen food.  Mangkokku tidak melakukan PHK pegawai selama pandemi bahkan membuka 4 gerai baru yang membuka lowongan pekerjaan.

Gading Food (GF) Culinary group seperti Putien, Song Fa Bak Kut Teh, K-Food Ojju, Marutama Ramen, Fish & Co juga menerapkan strategi marketing yang mirip yaitu promosi media sosial dan penjualan frozen food termasuk melalui e-commerce platform.  

Kulina sebagai marketplace khusus produk makanan juga mencatat adanya peningkatan jumlah mitra selama pandemi dan bergesernya area layanan dari perkantoran ke perumahan untuk pemesanan makanan. 

Konsep “From the expert of makanan rumahan. Freshly cooked daily. Delivered to the comfort of your home” dan mengubah konsep Warteg dari “makan di tempat” menjadi “makan di rumah” dengan menyediakan layanan antar berupa katering keluarga ataupun menjadi mitra layanan pesan makanan online termasuk penyediaan menu frozen food siap santap ataupun half-cooked siap masak bagi konsumen yang memilih memasak makanan dan makan di rumah.

Tidak perlu sewa tempat yang besar, cukup memiliki dapur yang bersih dan memadai untuk menyiapkan, memasak dan mengemas makanan. 

Berfokus pada konsumen kelas menengah baik keluarga maupun individu yang tinggal di apartemen, indekos ataupun komplek perumahan kelas menengah dengan mengutamakan pilihan menu beragam, rasa yang enak, harga ekonomis dan kemasan makanan food-grade yang higienis.  

Apalagi sebentar lagi akan masuk bulan puasa, kebutuhan untuk menyediakan menu sahur dan berbuka puasa akan dapat membuka peluang baru bagi Warteg untuk mengejar omset penjualan.  

Promosi menggunakan sosial media patut dicoba selain menggunakan metode tradisional seperti menyebarkan selebaran di komplek perumahan atau apartemen.

Bukan tidak mungkin, bahkan setelah pandemi, model bisnis baru tersebut akan terus menjadi sumber pemasukan baru bagi Warteg.  Konsep marketing yang tepat sasaran, proses produksi yang efisien dan etika bisnis yang baik terutama terkait kualitas dan kebersihan makanan akan membuat makanan Warteg bisa diterima di kalangan masyarakat yang lebih luas.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format