A Taxi Driver: Kisah Nyata di Balik Peristiwa Gwangju 1980

Diangkat dari kisah nyata peristiwa kelam pembantaian mahasiswa dan masyarakat Gwangju, Korea Selatan pada tahun 1980.


0

Sinopsis Film A Taxi Driver (2017)

Film A Taxi Driver merupakan film yang bergenre drama aksi sejarah yang berdasarkan pada kisah nyata mengenai seorang reporter Jerman dan seorang supir taksi saat terjadi gejolak di daerah Gwangju, Korea Selatan pada 1980. Naskah film ini ditulis oleh Eum Yu Na dan disutradarai oleh Jang Hoon. Film ini diproduksi oleh The Lamp dan rilis pada tanggal 2 Agustus 2017 dengan pemeran utama Song Kang Ho dan Thomas Kretschmann.

Film ini diawali dengan kisah Kim Man Seob (Song Kang Ho) yang merupakan seorang supir taksi dengan kehidupan yang sederhana. Dia tinggal di rumah sewa bersama putri tunggal nya, Kim Eun Jang yang berusia 11 tahun. Kim Man Seob bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya dengan sang anak dan berusaha untuk membayar hutang sewa rumah sebesar 100.00 won kepada pemilik rumah.

Disisi lain, Jurgen HinzPeter (Thomas Kretschmann), seorang reporter dari Jerman yang tinggal di Jepang datang ke Korea dengan tujuan untuk meliput tragedi kerusuhan yang terjadi di Gwangju. Peter berniat pergi ke Gwangju menggunakan taxi dan akan membayar 100.00 won untuk perjalanan dari Seoul ke Gwangju dan kembali lagi ke Seoul dalam satu hari. Mendengar hal tersebut, Kim Man Seob yang memang sedang membutuhkan uang memutuskan mengambil alih untuk mengantarkan Peter ke Gwangju. Namun, ternyata semua jalan menuju Gwangju telah diblokir dan dijaga ketat oleh tentara militer. Man Seob kemudian meyakinkan Peter bahwa mereka harus kembali ke Seoul. Akan tetapi, Peter tetap bersikeras pergi ke Gwangju. Peter mengatakan akan membayar 100.000 won apabila Man Seob berhasil mengantarkannya sampai ke Gwangju.

Kim Man Seob mencoba untuk melalui jalan pintas menuju Gwangju. Akan tetapi, ternyata jalan tersebut juga sudah diblokir oleh tentara militer. Untuk mengelabui tentara tersebut, Peter pun berpura-pura sebagai seorang pengusaha sehingga akhirnya mereka pun diberi izin untuk memasuki wilayah Gwangju.

Setibanya di Gwangju, jalanan tampak lengang dan  setiap dinding berisi coretan aksi protes para demonstran. Hingga kemudian Peter dan Kim Man Seob bertemu dengan segerombolan mahasiswa yang berniat melakukan unjuk rasa didepan gedung walikota. Mereka pun berkenalan dengan Gu Jae Sik (Ryu Jun Yeol), salah satu mahasiswa yang bisa berbahasa Inggris. Gu Jae Sik kemudian menjadi pemandu Peter selama meliput aksi demo di Gwangju. Peter pun mengeluarkan kameranya dan merekam setiap momen yang bisa ia dapat.

Scene berlanjut pada saat Peter, Kim Man Seob, dan Gu Jae Sik pergi ke atap gedung untuk meliput aksi unjuk rasa yang sedang berlangsung. Di atap tersebut mereka bertemu dengan reporter Choi, yang merupakan jurnalis lokal. Dari atap gedung tersebut, terlihat keadaan mulai panas karena tentara militer menembakkan gas air mata. Peter, Kim Man Seob dan Gu Jae Sik akhirnya turun untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas. Akan tetapi, disinilah mereka terlihat oleh tentara militer sehingga mereka pun dikejar oleh tentara tersebut, dan mereka berhasil melarikan diri.

Keadaan di Gwangju begitu mencekam. Jaringan telepon sengaja diputus oleh pemerintah. Kantor berita lokal sengaja dibungkam dengan cara dibakar agar kejadian yang sebenarnya di Gwangju tidak sampai ke kota-kota lainnya. Saat berusaha meliput kejadian kebakaran tersebut, Gu Jae Sik tertangkap oleh tentara setelah ia berusaha melarikan diri bersama Peter dan Kim Man Seob. Gu Jae Sik rela berkorban agar Peter dan Kim Man Seob dapat meloloskan diri dan menyiarkan berita tentang keadaan di Gwangju.

Kim Man Seob menyadari bahwa situasi di Gwangju semakin mencekam. Ia berencana untuk meninggalkan Peter di sana sendirian dan kembali ke Seoul. Akan tetapi, saat dalam perjalanan, Kim Man Seob mendengar orang-orang berbicara tentang Gwangju dan dari koran beredar bahwa banyak tentara gugur karena ulah mahasiswa dan gangster. Para mahasiswa dituduh berkhianat, dan korban yang berjatuhan berusaha ditutupi oleh pemerintah dari dunia luar. Dari sinilah, Kim Man Seob yang awalnya tidak peduli dengan aksi demo berjuang keras bersama Peter agar bisa menyiarkan kejadian yang sebenarnya di Gwangju kepada dunia. Setelah melalui perjuangan yang tidak mudah dan banyaknya pengorbanan, akhirnya Peter dan Kim Man Seob berhasil lolos dari Gwangju. Kejadian tragis yang menimpa mahasiswa dan warga Gwangju akhirnya bisa diungkap oleh Peter melalui medianya di Jepang hingga kemudian keadilan bisa ditegakkan. Pada akhir film memperlihatkan keadaan Korea Selatan yang akhirnya kembali damai, juga memperlihatkan Peter yang merindukan Kim Man Seob.

Perbandingan Kim Man Seob dan Peter dengan Tentara Korea Selatan berdasarkan Jurnal Saleem Et Al (2018)

Pada tahun 2018, Maimoona Saleem, Ayaz Khan, dan Muhammad Saleem menulis sebuah jurnal yang berjudul “Business Ethics in Islam”. Dalam jurnal ini, mereka berargumentasi bahwa sistem ekonomi sebagian besar dipengaruhi oleh socio-moral, metaphysical norms, dan values. Dengan demikian, mereka tidak dapat dinilai dalam isolasi dan abstraksi. Sebaliknya, sangat penting untuk menentukan sikap socio-moral dan metaphysical seseorang, karena hal tersebut dapat mengatur kehidupan perekonomian. Dalam jurnal ini, juga menjelaskan mengenai Islamic theory of moral. Teori ini membahas mengenai perilaku yang baik dan benar sesuai dengan moral Islam. Tentang apakah yang kita lakukan atau perbuat merupakan suatu hal yang benar atau justru sebaliknya. Pembahasan ini kemudian akan menjadi landasan teori untuk membandingkan Kim Man Seob dan Peter dengan tentara militer Korea Selatan. Adapun hasil perbandingan tersebut yaitu:


Kim Man Seob dan Peter

Tentara Militer Korea Selatan

Islamic Theory of Moral

Dalam Film A Taxi Driver ini Kim Man Seob dan Peter memiliki perilaku moral yang baik. Hal ini terlihat dari bagaimana keduanya terus berjuang untuk menegakkan kebenaran yang terjadi di Gwangju dan memperlihatkannya kepada dunia.

Sifat yang dimiliki oleh tentara militer dalam Film ini tidak bisa dikatakan baik. Mereka memang mengikuti perintah dari pemerintah, akan tetapi, untuk membantai mahasiswa dan warga yang tidak bersalah bukanlah hal yang wajar. Membunuh dan melakukan kekerasan merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan moral dalam Islam.

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dalam mengulik pelanggaran-pelanggaran yang terdapat dalam Film A Taxi Driver ini. Pelanggaran-pelanggaran tersebut sebagai berikut:

Pelanggaran Etika

Deskripsi

Penembakan, kekerasan dan pembunuhan

Aksi unjuk rasa di daerah Gwangju terasa sangat mencekam. Tentara militer tidak hanya menembakkan gas air mata, tetapi juga menembakkan peluru kepada demonstran. Tentara militer juga melakukan kekerasan kepada para demonstran, baik itu tua, muda, pria ataupun wanita. Akibatnya, banyak korban yang berjatuhan, baik itu korban luka-luka ataupun korban tewas. Aksi tentara militer ini mengikuti perintah dari pemerintah yang ingin menutupi kasus di Gwangju.

Ketidakadilan

Masyarakat Gwangju bersama mahasiswa berusaha untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah. Akan tetapi, pemerintah tidak mendengarkan aspirasi mereka. Pemerintah justru bungkam dan berusaha untuk menutup-nutupi kejadian sebenarnya di daerah Gwangju. Pemerintah memutus jaringan telepon dan membakar kantor berita lokal di Gwangju agar kondisi Gwangju tidak diketahui oleh masyarakat luar.

Manipulasi data

Pemerintah Korea berusaha untuk menutupi kejadian yang sebenarnya di Gwangju dengan memanipulasi kejadian yang sebenarnya. Pada berita yang tersebar di koran, mahasiswa dituduh berkhianat dan banyak tentara yang tewas dibunuh oleh mahasiswa dan gangster. Padahal, kejadian yang sebenarnya justru tentara militer lah yang membunuh banyak dari mahasiswa dan peserta demonstran lainnya. Ini tentunya merupakan pelanggaran etika, dimana seharusnya pemerintah melindungi rakyatnya, bukan malah sebaliknya.

Menutupi kebenaran

Tindakan pemerintah Korea yang memilih untuk menutupi kebenaran di Gwangju dan memerintahkan tentara militer untuk menembaki demonstran, memutus jaringan telepon, dan membakar kantor berita lokal dapat dikatakan sebagai pelanggaran HAM. Menurut pandangan islam, aksi menutup kebenaran yang dilakukan pemerintah ini bukanlah aksi yang benar. Karena, pembentukan tatanan sosial-moral, ekonomi, dan politik yang adil tidak dapat dicapai apabila pemerintah tidak bisa memanusiakan rakyatnya.

Perbandingan Kim Man Seob dan Peter dengan Tentara Korea Selatan berdasarkan Jurnal Huber and Huber (2012)

Pada tahun 2012, Stefan Huber dan Odilo W. Huber menulis sebuah jurnal yang berjudul “The Centrality of Religiosity Scale”. Seperti judulnya, jurnal ini membahas mengenai Centrality of Religiosity Scale (CSR). CSR merupakan suatu pengukuran yang diciptakan untuk menentukan seberapa penting pengaruh agama terhadap seseorang melalui pemusatan agama. Dalam CSR terdapat lima dimensi utama, yaitu:

  • Intellectual: Mengacu pada harapan sosial bahwa orang-orang beragama memiliki pengetahuan tentang agamanya sehingga dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Intellectual ini akan berhubungan dengan pikiran individu.

  • Ideological: Mengacu pada harapan sosial bahwa individu beragama memiliki keyakinan tentang keberadaan agama dan tuhannya. Sama seperti Intellectual, Ideologi juga akan berhubungan dengan pikiran individu

  • Public: Mengacu pada harapan sosial bahwa individu beragama menjadi bagian dari komunitas religius yang dalam partisipasi masyarakat untuk kegiatan keagamaan. Ini akan mengacu pada tindakan atau aksi dari individu itu sendiri.

  • Private: Mengacu pada harapan sosial bahwa individu beragama mengabdikan diri kepada tuhannya dalam kegiatan pribadi. Private juga akan berhubungan dengan tindakan atau aksi dari setiap individu.

  • Experiential: Mengacu pada harapan sosial bahwa individu beragama memiliki kontak langsung terhadap realitas yang tinggi sehingga mempengaruhi mereka secara emosional. Berbeda dengan dimensi lainnya, Experiential lebih mengacu kepada pengalaman, emosi, serta persepsi individu.

Dimensi CSR ini kemudian akan menjadi landasan teori untuk membandingkan Kim Man Seob dan Peter dengan tentara militer Korea Selatan. Adapun hasil perbandingan tersebut yaitu:

Dimensi CSR

Kim Man Seob dan Peter

Tentara Militer Korea Selatan

Intellectual

Kim Man Seob yang merupakan seorang Taxi Driver awalnya tidak peduli dengan adanya demo di Gwangju. Tetapi, setelah melihat kebenaran yang terjadi di Gwangju berbeda dengan pemberitaan yang ada di koran, Kim Man Seob akhirnya peduli terhadap apa yang terjadi di Gwangju. Ini membuktikan bahwa Kim Man Seob memiliki pengetahuan tentang agamanya sehingga ia menerapkan nilai peduli terhadap sesama dan mau untuk menolong masyarakat di Gwangju.

Tentara militer Korea Selatan mengetahui kebenaran tentang Gwangju. Tetapi, mereka lebih memilih untuk bungkam dan terus mengikuti instruksi pemerintah untuk membantai mahasiswa dan civil di Gwangju. 

Ideologi

Kim Man Seob dan Peter percaya bahwa Tuhan akan melindungi dan menolong mereka. Mereka percaya bahwa kebenaran pasti akan menang. Berdasarkan kepercayaan tersebut, mereka berjuang untuk terus membela kebenaran.

Tentara Militer Korea sangat tegas dan mengikuti perintah dari pemerintah tanpa peduli terhadap pelanggaran HAM yang mungkin saja terjadi. Ini menunjukkan bahwa tentara militer lebih mempercayai perintah dari pemimpinnya dan tidak menunjukkan sikap bahwa mereka mempercayai Tuhan-nya.

Public

Kim Man Seob, Peter, Gu Jae Sik, dan Taxi Driver lainnya berjuang untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi di daerah Gwangju kepada dunia. Peter berusaha untuk merekam setiap kejadian yang terjadi di Gwangju agar nantinya bisa ia siarkan saat kembali ke Jepang. Kim Man Seob membantu Gwangju untuk mencapai misi tersebut dengan ikut berjuang selama berada di Gwangju.

Tentara Militer Korea Selatan terus melakukan tindakan anarkis kepada demonstran. Mereka bahkan tak segan untuk memukul, menembak, ataupun membunuh para demonstran. Ini menunjukkan bahwa tentara militer hanya takut kepada pemerintah, tetapi tidak takut kepada Tuhan-nya.

Private

Kim Man Seob rela untuk tidak jadi kembali ke Seoul demi berjuang bersama Peter dan warga Gwangju lainnya untuk menegakkan kebenaran yang terjadi di Gwangju. Peter yang sudah hampir menyerah kembali bangkit setelah Kim Man Seob meyakinkan nya bahwa mereka pasti bisa menyiarkan kebenaran di Gwangju kepada dunia. Peter pun kembali merekam setiap kejadian yang terjadi di Gwangju, dan akhirnya menyiarkan nya saat ia sudah kembali ke Jepang.

Tentara Militer Korea Selatan dalam Film A Taxi Driver ini terlihat mengabdikan diri kepada pemerintah, bukan kepada negaranya. Seharusnya, sebagai aparatur negara, tentara militer membela rakyatnya yang berjuang untuk menegakkan kebenaran.

Experiential

Kim Man Seob dan Peter merasa iba melihat kejadian yang ada di Gwangju. Mereka tersulut emosi ketika melihat tentara militer Korea Selatan memburu civil dan mahasiswa dengan brutal. Hal itu berhasil membangkitkan semangat keduanya untuk terus berjuang agar dapat menyiarkan kebenaran yang terjadi di Gwangju kepada dunia.

Dalam film ini, terlihat bahwa tentara militer Korea Selatan hanya mengikuti perintah dari pemerintah. Sehingga, mereka tidak menunjukkan adanya emosi ataupun rasa empati terhadap warga Gwangju.

Perbandingan Kim Man Seob dan Peter dengan Tentara Korea Selatan berdasarkan Jurnal Haider (2015)

Syed Nadeem Abbas Haider menulis sebuah jurnal yang berjudul “Relationship Between Emotional Intelligence (EI) and Organizational Citizenship Behaviour (OCB)” pada tahun 2015 silam. Penelitian pada jurnal tersebut bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Emotional Intelligence (EI) dan Organizational Citizenship Behavior (OCB) dengan peran Islamic Work Ethics (IWE) sebagai variabel mediator.

  • Emotional Intelligence adalah kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi keadaan emosi pribadi serta menilai keadaan emosional orang lain.

  • Organizational Citizenship Behavior adalah serangkaian kegiatan sukarela yang dilakukan untuk memperbaiki iklim kerja organisasi. OCB memiliki dimensi yaitu sikap suportif, tanggung jawab etis, dan inisiasi diri.

Pembahasan dalam kemudian akan menjadi landasan teori untuk membandingkan Kim Man Seob dan Peter dengan tentara militer Korea Selatan. Adapun hasil perbandingan tersebut yaitu:


Kim Man Seob dan Peter

Tentara Militer Korea Selatan

Emotional Intelligence (EI)

Kim Man Seob dan Peter menunjukkan empati mereka terhadap mahasiswa dan warga Gwangju yang telah menerima ketidak adilan. Hal tersebut menyulut emosi mereka untuk bersama-sama membantu warga Gwangju untuk membela kebenaran. Pada awalnya, Kim Man Seob ingin meninggalkan Peter di Gwangju dan kembali ke Seoul. Tetapi, karena rasa kepedulian dan rasa bersalah, akhirnya Kim Man Seob mengurungkan niatnya dan kembali ke Gwangju untuk bersama-sama membela kebenaran di Gwangju.

Berbanding terbalik dengan Kim Man Seob dan Peter, tentara militer korea tidak memiliki emotional intelligence yang baik. Mereka hanya mengikuti perintah dari pemerintah tanpa menunjukkan rasa empati kepada korban yang telah berguguran.

Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Pada saat berjuang untuk mendapatkan gambar yang lebih baik, kerjasama antara Kim Man Seob dan Peter patut untuk diacungi jempol. Mereka sama-sama memiliki tanggung jawab etis dan inisiasi diri yang tinggi.

Tentara militer Korea Selatan memiliki tanggung jawab etis yang tinggi. Ini diperlihatkan dengan mereka yang mengikuti perintah dari pemerintah tanpa membantah sedikit pun.

Pro dan Kontra dalam Film A Taxi Driver menurut Ajaran Islam

Secara keseluruhan, Film A Taxi Driver berfokus kepada pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Gwangju, Korea Selatan pada tahun 1980. Tentara militer Korea Selatan membunuh mahasiswa dan warga Gwangju yang ikut berdemo dengan cara menembaki mereka. Pembunuhan merupakan suatu tindakan kekerasan dan kejahatan yang nyata. Dalam islam, pembunuhan terhadap sesama manusia itu dilarang, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 32, yaitu:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا 

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Isrâil, bahwa: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Q.S Al-Maidah/5:32)

Dalil tentang larangan pembunuhan juga terdapat dalam firman Allah surah Al-Isra’ ayat 33, yaitu:

 ...وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ

“Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar...” (Q.S Al-Isra’/17:33)

Dalam Film A Taxi Driver, terlihat tentara militer membunuh para demonstran dengan dengan alasan mengikuti perintah dari pemerintah yang ingin mengubur kebenaran yang terjadi di Gwangju. Mengikuti perintah dari pemerintah (sebagai pemimpin/penguasa) merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

"Wajib bagi setiap  muslim untuk mendengar dan taat (kepada atasan), baik ketika dia suka maupun tidak suka. Selama dia tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengarkan maupun menaatinya". (HR. Bukhari, No. 7144)

Dalam hadits diatas telah dijelaskan bahwa wajib bagi setiap muslim untuk menaati atasannya. Akan tetapi, hal ini berlaku selama perintah yang diberikan oleh pemimpin tersebut tidak untuk bermaksiat. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ 

“Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan.” (HR. Bukhari, No. 7252)

Perintah pemerintah yang menyuruh tentara militer untuk menembaki, memukul, ataupun membunuh demonstran tidak termasuk kedalam tindakan kebajikan, sehingga tentara militer tidak seharusnya menuruti perintah tersebut. Sebaik-baiknya tentara, tentulah harus melindungi kebenaran dan mencegah terjadinya peperangan ataupun aksi unjuk rasa yang anarkis. 

Pelanggaran lain yang diterima oleh warga Gwangju adalah mereka tidak menerima keadilan dari pemerintah. Mahasiswa justru difitnah dengan memanipulasi data yang sebenarnya dari peristiwa di Gwangju ini. Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah Ayat 8, yaitu:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Maidah Ayat 8)

Solusi untuk Pro dan Kontra dalam Film A Taxi Driver

1. Berusaha untuk menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijaksana.

Dalam Film A Taxi Driver, pemerintah tampak belum bisa menjadi pemimpin yang adil. Ini terlihat dari pemerintah yang tidak mau mendengarkan aspirasi rakyat dan justru berusaha untuk menutupi keadaan Gwangju yang sebenarnya kepada masyarakat luar. Sedangkan, Islam mengajarkan agar seorang pemimpin harus berperilaku adil dan bijaksana, karena kesejahteraan rakyat merupakan tanggung jawab dari seorang pemimpin. Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, yaitu:


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ibnu umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berhati-hati dalam menyampaikan berita, hendaknya sampaikanlah berita yang sebenarnya.

Pada film ini dijelaskan bahwa pemerintah menyampaikan berita palsu dengan memutar balikkan fakta yang terjadi di daerah Gwangju. Pemerintah memfitnah mahasiswa dan menjadikan seolah-olah mahasiswa lah yang telah berkhianat kepada negara. Tindakan memanipulasi berita seperti yang dilakukan oleh pemerintah Korea dalam film ini sangat dilarang dalam ajaran Islam. Allah berfirman dalam surah An-Nur ayat 11, yaitu:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (Q.S An-Nur/24:11)

3. Menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM)

Pelanggaran HAM yang terdapat dalam film A Taxi Driver mengajarkan kita bahwa menegakkan HAM dalam kehidupan itu sangat penting. Sistem HAM islam mengandung prinsip-prinsip dasar tentang persamaan, kebebasan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yaitu:

ي اََ أَي هَُّا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذكََرٍ وَأُنْ ثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَ بَائِلَ لِتَ عَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَ كُُمْ عِنْدَ

اللَّوِ أَتْ قَاكُمْ إِنَّ اللَّوَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al-Hujurat/49:13)

Islam memandang bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Hal yang membedakan mereka adalah tingkat ketakwaannya kepada Allah. Kehadiran islam memberikan jaminan pada kebebasan manusia agar terhindar dari tekanan, baik itu masalah agama, politik, ataupun ideologi. Islam juga mengajarkan setiap umatnya untuk saling menghormati satu sama lainnya. Kita sebaik umat Islam harus dapat menegakkan nilai-nilai HAM sebagai bentuk tawakal kita kepada Allah SWT.

Artikel ini saya tutup dengan firman Allah SWT:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Q.S Al-Baqarah/2:43)

Semoga Allah SWT senantiasa mempermudah dan memberkati setiap urusan kita, serta mendatangkan manfaat di setiap aktivitas yang kita lakukan.

Referensi:

Haider, A. and Nadeem, S., 2015. “The Relationship Between Emotional Intelligence (EI) And Organizational Citizenship Behaviour (OCB): The Moderating Role Of Islamic Work Ethics (IWE)”. ASEAN Journal of Psychiatry, Vol. 16 (1).

Huber, Stefan, and Odilo W. Huber. 2012. "The Centrality of Religiosity Scale (CRS)." Religions 3, no. 3, 710-724. doi:10.3390/rel3030710.

Saleem, Maimoona, Ayaz Khan, and Muhammad Saleem. 2018. "Business Ethics in Islam." Dialogue (Pakistan) 13.3.

Suhaili, Achmad. 2019. “Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Penerapan Hukum Islam di Indonesia”. Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Hadist, Vol.2, no. 2. p-ISSN:2612-2568

https://www.suara.com/entertainment/2020/04/14/143119/film-a-taxi-driver-kisah-nyata-pembantaian-mahasiswa-di-gwangju?page=all

https://kumparan.com/sinopsis-film/sinopsis-film-a-taxi-driver-tayang-malam-ini-di-k-movievaganza-trans-7-1tizS8W7XqF/full

https://almanhaj.or.id/1969-pembunuhan-dengan-sengaja.html

https://almanhaj.or.id/1399-ahlus-sunnah-taat-kepada-pemimpin-kaum-muslimin.html

https://www.merdeka.com/quran/al-maidah/ayat-8

https://tafsirq.com/24-an-nur/ayat-11

https://www.tokopedia.com/s/quran/al-baqarah/ayat-42

Penulis

Sovia Ramadani


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
2
Win
Soviaramadani

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format