Braveheart : Karakter Kepemimpinan dalam Perang dari Perspektif Islam


1
1 point

Braveheart (1995) merupakan film peperangan Skotlandia dan Inggris pada masa abad pertengahan yang didasarkan pada kisah nyata. Secara garis besar film tersebut menceritakan kehidupan dan pemberontakan yang dilakukan oleh William Wallace, salah satu pahlawan nasional terbesar Skotlandia, terhadap penaklukan raja Inggris, Erdward I terhadap wilayah Wales dan Skotlandia pada tahun 1297 – 1305 saat terjadi krisis pemerintahan di Skotlandia. Keseluruhan unsur film Braveheart yang juga disutradai oleh pemain utamanya, Mel Gibson, mendapat kritik positif dan menggaet banyak penghargaan termasuk penghargaan Oscar untuk 5 kategori nominasi serta disebut sebagai salah satu film terbaik pada zamannya.

Sinopsis

Film Braveheart dimulai dengan menggambarkan kekosongan pemerintahan di Skotlandia ketika Raja Skotlandia, Alexander III meninggal tanpa pewaris sah pada tahun 1280. Tanpa adanya raja sah yang memimpin Skotlandia, Erdward I, raja Inggris yang memiliki cita-cita untuk menguasai semua pulau dan wilayah sekitar kerajaannya, mengklaim tahta sepihak atas wilayah Skotlandia. Bangsawan-bangsawan Skotlandia yang tidak terima mengumumkan peperangan terhadap Edward I. Akan tetapi usaha para bangsawan mengalami kegagalan dikarenakan mereka berjuang secara terpisah demi membebaskan tanah kekuasaan masing-masing bukannya bersatu agar Skotlandia terbebas dari kekuasaan Inggris secara keseluruhan. 

Menganggap perlawanan bangsawan Skotlandia menghambat proses kolonisasi Inggris atas Skotlandia, Raja Erdward I mengumumkan gencatan senjata dan mengusulkan melakukan negosiasi antara para bangsawan Skotlandia serta petani pemilik lahan dengan pihak Kerajaan Inggris untuk merundingkan masalah pembagian lahan. Salah satu pemilik lahan yang diundang menghadiri negosiasi tersebut yaitu Malcolm Wallace, ayah dari William Wallace. Ketika tiba di lokasi negosiasi, Malcolm Wallace menemukan bahwa semua petani dan bangsawan yang datang sudah mati digantung oleh tentara Inggris di tempat negosiasi sebagai simbol bahwa Raja Erdward I akan menyingkirkan siapapun yang menentangnya. 

Sebagai tanda bahwa Skotlandia masih berjuang atas kebebasannya, Malcolm Wallace membujuk dan meyakinkan para petani di wilayahnya untuk melawan tentara Inggris meskipun tahu bahwa petani yang hanya bersenjatakan seadanya dan kahal jumlah tidak akan menang melawan tentara bersenjata berat. Para petani dipimpin oleh Malcolm Wallace pergi ke benteng Inggris terdekat untuk melakukan perlawanan dan Malcolm gugur di perlawanan tersebut meninggalkan William Wallace yang masih kecil menjadi yatim piatu. Setelah kematian ayahnya, William kemudian diasuh oleh Pamannya, Argyle, yang membawanya berziarah ke Roma, melalui negeri-negeri Eropa dimana William kemudian mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1297, William Wallace kembali ke kampung halamannya. Pada saat itu hampir semua wilayah Skotlandia kecuali tanah para bangsawan sudah berada di bawah pemerintahan kerajaan Inggris. Awalnya niat William Wallace untuk kembali kembali ke Skotlandia adalah menikahi teman masa kecilnya Murron MacClannough. Dikarenakan adanya titah Edward I bahwa setiap wanita yang menikah juga menjadi hak milik dari bangsawan Inggris yang menguasai wilayah tersebut, William dan Murron menikah secara diam-diam. Namun, pernikahan mereka tetap diketahui oleh tentara Inggris yang sedang berjaga dan William Heselrig, kepala prajurit wilayah tersebut mencoba memperkosa Murron tetapi tidak berhasil karena Murron kerap melawan sehingga membuat Heselrig kesal dan mengeksekusi Murron di depan umum. Marah karena istrinya dieksekusi, William Wallace yang kemudian didukung oleh para petani melakukan perlawanan kepada pasukan Heselrig. Meskipun hanya bersenjatakan alat-alat seadanya, para petani yang dipimpin William Wallace berhasil menghabisi semua prajurit termasuk Heselrig yang dieksekusi setelah ditangkap. Setelah kabar keberhasilan perlawanan tersebut tersebar, para petani dari desa dan wilayah lain berdatangan mengajukan diri sebagai pemberontak sukarelawan dan mengangkat William Wallace sebagai pemimpin walaupun dia hanya orang biasa tanpa gelar bangsawan. 

Berbagai perlawanan kepada benteng-benteng Inggris di Skotlandia dan pencehatan bahan pangan dilakukan oleh William Wallace bersama para petani sebagai bentuk pemberontakan dan pembuktian kepada Edward I bahwa Skotlandia masih ada meskipun para bangsawan sudah menyerah. Kabar keberhasilan William Wallace yang semakin terkenal bukan hanya di Skotlandia tetapi juga di Inggris sebagai pembebas rakyat, membuat Edward I geram dan memerintahkan anaknya, Edward II, untuk menghentikan perlawanan Wallace saat dia sedang berurusan dengan Perancis. Namun, usaha Edward II mengalami kegagalan dikarenakan menyepelekan kemampuan para petani Skotlandia yang semangat akan kebebasannya sudah membara di bawah kepemimpinan Wallace. Bahkan walaupun pasukan Wallace hanya terdiri dari petani, mereka berhasil merebut benteng York yang dikuasai oleh keponakan Edward I. Sebagai pembalasan akan perlakuan keji pasukan Inggris kepada rakyat Skotlandia, William Wallace mengeksekusi keponakan Edward I dan mengirim kepalanya ke istana, membuat Edward I sangat marah dan memutuskan untuk menangani Skotlandia dengan tangannya sendiri.

            Keberhasilan tersebut membuat William Wallace mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari para bangsawan yang kemudian memberikannya gelar ‘Sir’namun di sisi lain, Edward I juga mempersiapkan pasukan untuk perang melawan bukan hanya William Wallace tetapi seluruh bangsawan Skotlandia yang tidak mau tunduk pada kekuasannya. Untuk menghadapi pasukan Inggris, William Wallace mengajak semua bangsawan termasuk Robert de Bruce, salah satu bangsawan dengan pasukan terkuat dan terbanyak, untuk memimpin pasukan melawan Edward II. Para bangsawan kemudian menyetujuinya dan mengerahkan prajurit mereka ke peperangan. Akan tetapi ketika peperangan, Robert de Bruce tidak hadir serta para bangsawan menarik pasukannya. William kemudian menyadari bahwa para bangsawan melakukan penghianatan atasnya dan tidak peduli bahwa para pasukannya yang sudah berperang sebagai barisan depan mengalami kekalahan. Bahkan di ujung peperangan ketika Wallace sedang mengejar Edward I yang hendak pergi setelah mengumumkan kemenangan, terdapat pengawal dengan seluruh wajah ditutupi topi baja menghalangi usahanya dan setelah Wallace berhasil melepaskan topinya, ternyata pengawal tersebut merupakan Robert de Bruce. Hal tersebut dikarenakan ternyata sebelumnya Edward I memberikan pesan kepada para bangsawan yang bersedia menyerah bahwa kepemilikan mereka akan tanah Skotlandia akan diakui dan mereka tidak akan dikenakan pajak. Ayah Robert de Bruce, yang merupakan teman lama dari Edward I memaksa anaknya untuk menerima tawaran Edward I dengan alasan untuk melindungi status kebangsawanan sehingga masih memiliki peluang menjadi Raja Skotlandia nantinya. Penghianatan Robert de Bruce yang lebih memilih berada di pihak Edward I daripada kebebasan rakyat Skotlandia membuat William Wallace kehilangan semangat dan nilai-nilai kesatria yang dipegangnya dengan teguh ketika melakukan perlawanan. 

Wallace yang sudah kehilangan nilai kesatrianya, kemudian membunuh beberapa bangsawan yang melakukan penghiatan dalam perang kemudian memimpin sendiri serangan gerilya melawan Inggris yang berlangsung selama tujuh tahun. Perlawanan tersebut meskipun tidak memberikan keresahan kepada Edward I, tetapi membuat ayah Robert de Bruce yang sudah bersekongkol dengan Edward I lagi, menjadikannya sebagai peluang agar anaknya mendapatkan pengakuan kekuasaan yang lebih dari Edward I. Ayah Robert de Bruce berpura-pura menyarankan kepada Robert untuk bernegosiasi dengan Wallace dan berdalil bahwa penghianatan di perang sebelumnya merupakan strategi perang. William Wallace walaupun sudah kehilangan kepercayaan kepada bangsawan Skotlandia secara keseluruhan tetapi masih memiliki harapan kepada Robert sehingga menyetujui ajakan Robert untuk bertemu kembali. Ketika William Wallace datang sendiri tanpa pasukan yang menemani ke kediaman Robert de Bruce di Edinburgh, prajurit yang telah diperintahkan oleh ayah Robert menangkapnya dan menyerahkan kepada Edward I. Mengetahui rencana licik ayahnya, Robert de Bruce marah dan menyatakan bahwa dia akan berjuang untuk kebebasan Skotlandia bukan lagi untuk tahta. 

William Wallace kemudian dibawa ke London untuk diadili atas tuntutan penghianatan dan pemberontakan tingkat tinggi. Setelah dinyatakan bersalah oleh hakim, Wallace disiksa dan kemudian di eksekusi di depan umum. Tubuhnya kemudian dipotong-potong dan digantung di berbagai tempat di Skotlandia untuk menyebarkan ketakutan kepada rakyat Skotlandia. Namun, kematian Wallace seolah menjadi kebangkitan rakyat Skotlandia. Setelah itu, rakyat dan bangsawan Skotlandia, dipimpin oleh Robert de Bruce mengumandangkan perang melawan Edward II dengan jiwa semangat William Wallace.

William Wallace dan Edward I

Akar permasalahan dari film Braveheart dimulai ketika Edward I membunuh para bangsawan dan petani pemilik tanah yang menghadiri negosiasi, menandakan bahwa keinginannya dalam mengklaim tahta Skotlandia tidak bisa diganggu gugat dan siapapun yang berusaha menghalanginya akan mendapat hukuman. Edward I juga memberikan kebebasan kepada para prajuritnya untuk menggunakan segala cara dan berlaku sewenang-wenang kepada rakyat Skotlandia untuk menunjukkan kekuatan tanpa belas kasih dari Inggris. Seperti yang dilakukan William Heselrig yang mengeksekusi Murron MacClannough karena melakukan perlawanan untuk melindungi dirinya. Karena perilaku sewena-wena dari Edward I dan prajurit Inggris, para petani Skotlandia terus berusaha melakukan perlawanan dan menolak tunduk kepada penguasa yang keji. Usaha mereka kerap sia-sia sampai William Wallace dikarenakan kemarahannya kepada kepala prajurit, Heselrig, yang membunuh istrinya, melakukan perlawanan dan berhasil. Keberhasilan William Wallace menarik perhatian para petani Skotlandia dari berbagai desa untuk akhirnya membentuk pasukan gerilya yang kemudian menjadi terkenal sampai ke telinga Edward I karena seringkali mencegat pasokan makanan ke benteng bahkan merebut pos penjagaan. Konflik antara pasukan petani Skotlandia dibawah kepemimpinan William Wallace dan pasukan Inggris semakin pelik ketika Wallace berhasil merebut benteng pertahanan York, mengeksekusi keponakan Edward I, dan mengirimkan kepalanya ke istana Edward I. 

Konflik memuncak ketika Edward I memutuskan menangani Wallace dengan tangannya sendiri menggunakan siasat menghasut para bangsawan untuk menghianati Wallace. Para bangsawan menyetujui tawaran Edward I bahkan Robert de Bruce, bangsawan yang paling dipercaya oleh William Wallace memilih berada di pihak Edward I pada saat peperangan. Dilema mulai dirasakan William Wallace sejak penghianatan tersebut yang pada akhirnya memilih membalas para bangsawan yang berhianat dan saling bermusuhan dengan orang-orang dari bangsa sendiri selama tujuh tahun padahal tujuan dari perjuangan yang dilakukannya yaitu menyatukan Skotlandia. Perjuangan William Wallace berakhir ketika dia dijebak oleh ayah Robert de Bruce yang menghasut anaknya untuk melakukan perundungan dengan Wallace padahal berniat untuk menangkap dan menyerahkannya ke Edward I. Wallace dieksekusi di London dan kematiannya menjadi pembakar semangat para bangsawan dan rakyat Skotlandia untuk bersatu sebagai satu bangsa dalam melawan kolonisasi Inggris.

William Wallace dan Edward I digambarkan sebagai dua tokoh dengan karakter yang memiliki karakter yang bertolak belakang. Wallace digambarkan sebagai seorang yang pemberani, bermoral, percaya diri, berhati murni, dan cerdas. Hal tersebut digambarkan dari banyak para petani yang bersedia menjadi sukarelawan perang dibawah kepemimpinan William Wallace padahal tidak akan mendapatkan apapun kecuali kebebasan. Mereka yakin bukan hanya karena kemampuan bertarung dan kepandaian menyusun strategi yang dimiliki Wallace tetapi karena dia memiliki hati yang besar dan tidak mementingkan diri sendiri. Wallace juga tidak memerintahkan pasukannya untuk tetap menjaga keselamatan rakyat benteng York ketika berhasil merebutnya dan hanya menghukum para penguasa yang dia anggap telah memerintah secara sewena-wena.

Sebaliknya, Raja Edward I digambarkan sebagai raja yang pemarah, kejam, cerdik, tidak bermoral, mementingkan diri sendiri, mau melakukan apa saja untuk mencapai tujuan, mengintimidasi, dan ditakuti namun tetap dihormati oleh rakyat dan beberapa temannya karena meskipun hatinya sangat keji tetapi dianggap sebagai raja yang efektif terutama dalam penegakkan aturan. Dalam usahanya meredakan pemberontakan Wallace, Edward I tidak hanya menyiapkan bala tentara yang jumlahnya banyak tetapi juga mencurangi Wallace dengan menyuap para bangsawan untuk berhianat meninggalkan pasukan Wallace di tengah peperangan. Edward I juga dikisahkan berhasil menundukkan Prancis disaat yang sama berusaha menaklukan Skotlandia menandakan dia sudah ahli dalam strategi perang dan merupakan penguasa yang mampu meningkatkan kebesaran kerajaan. Ayah Robert de Bruce, teman lama Edward I yang tidak berani melawannya secara terang-terangan dan memilih bersekutu karena mempertimbangkan kemampuan Edward I yang meskipun tidak bermoral tetapi cerdik dan ahli dalam strategi perang. 

Perbandingan 2 Karakter Berdasarkan Jurnal Business Ethics In Islam

Sebagaimana definisi etika yaitu studi mengenai moral, dalam jurnal berjudul “Business Ethick in Islam”, Saleem et al (2018) menjelaskan bahwa keetisan dalam prespektif Islam didasarkan pada penilaian moral seseorang atau sekelompok masyarakat yang sesuai atau bertentangan dengan nilai-nilai moral yang disebutkan pada Al-Qur’an maupun hadist. Ajaran Islam dipandang sebagai suatu usaha membentuk keadilan dalam tatanan sosial, ekonomi, dan politik, menegakkan hak-hak setiap orang secara setara sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan, serta bertujuan untuk kemaslahatan umat daripada kepentingan pribadi. Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya ajaran Islam telah memenuhi cara pandang keetisan dari segi justice (keadilan), right (hak), dan utilitiarisme. 

Saleem at el dalam jurnal “Business Ethick in Islam” telah menyajikan konsep etika dalam Islam yang dapat digunakan untuk menganalisis keetisan William Wallace dan Edward I dalam melakukan peperangan dan menyelesaikan konflik. Konsep-konsep tersebut yaitu :

Konsep

William Wallace

Raja Edward I

Men as Vicegerent of Allah

Sosok William Wallace sangat menghargai sesamanya terutama pengikut dan teman-temannya dan berusaha semaksimal mungkin meminimalisir kekacauan yang diciptakan karena peperangan. Ketika berhasil menaklukan benteng, William Wallace tidak menyiksa dan merampas harta para penduduk, benar-benar hanya menghukum para penguasa yang dia anggap keji dan sewena-wena kepada rakyatnya. Dia berjuang sepenuhnya untuk menegakkan kebebasan yang dia anggap benar dan menjunjung tinggi kebaikan dan persatuan.

Dalam memerintah Raja Edward I sangat sewena-sewa baik kepada pengikut, rakyat, maupun sekutunya. Dia tidak memperdulikan apakah caranya dalam menaklukan wilayah kekuasaan sesuai dengan aturan moral dan menjunjung tinggi kode etik. Bahkan bisa dikatakan, meski Edward I tidak lagi diragukan adalah seseorang yang cerdik dan mahir dalam strategi perang, tetapi jelas sekali bahwa dia tidak memiliki kode etik. Dibawah perintahnya, para jendral dan pemimpin pasukan merusak rumah-rumah rakyat Skotlandia, menyiksa orang yang melawan sampai mati, dan memperkosa wanita tanpa memperlihatkan belas kasih sedikirpun. Cara Edward I dalam berperang sangat jelas hanya membawa kerusakan sosial dan kemanusiaan.

Halal & Haram

William Wallace menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria dan memiliki kode etik dalam berjuang. Dia menepati perkataannya ketika melakukan perjanjian, setia kepada sekutu, dan bertindak sesuai hukum serta aturan moral yang berlaku ketika melakukan penaklukan. Bahkan ketika dia berhasil memenangkan perang dan para bangsawan sah-lah yang berusaha mengklaim tahta, Wallace memakluminya karena paham bahwa dia hanya orang biasa tanpa gelar sehingga tidak mungkin memimpin Kerajaan Skotlandia.

Klaim sepihak Raja Edward I terhadap tahta Skotlandia menunjukkan bahwa meskipun dia menuntut pengikut dan sekutunya untuk mentaati peraturannya dan tunduk kepedanya, tetapi dia tidak mentaati aturan pihak lain. Raja Edward I sama sekali tidak memiliki kode etik dalam berperang, mengabaikan aturan moral, dan melanggar hukum yang berlaku baik hukum kerajaannya maupun hukum kerajaan taklukannya. Dia memilih sebagai raja yang ditakuti karena kekejamannya daripada raja yang dihormati dan disanjung karena kebaikannya.

Moderation

Semangat perjuangan William Wallace hanya didorong oleh satu hal yaitu kebebesan rakyat Skotlandia. Meskipun dia memimpin pasukan para petani tetapi tidak pernah menuntut mereka untuk menghormatinya secara berlebihan dan meminta mereka lebih menganggapnya sebagai teman. Sikap dan hatinya yang sederhana menjadi daya tarik bagi para prajurit di peperangan maupun sekutu-sekutunya. Dia juga tidak pernah mendambakan tahta atau merebut wilayah kekuasaan selain yang pada awalnya merupakan bagian dari Skotlandia.

Walaupun sosok Edward I adalah orang yang sederhana dari segi penampilan, tetapi dia sangat serakah terhadap kekuasaan. Dia berusaha sekuat mungkin agar wilayah-wilayah di sekitar Inggris seperti Wales, Skotlandia, dan Perancis menjadi wilayah kekuasaannya. 

Perbandingan 2 Karakter Berdasarkan Menurut Jurnal Egel dan Fry (2017)

Konsep

William Wallace

Raja Edward I

Vision

Visi dan alasan utama William Wallace dalam pemberontakannya yaitu untuk mengambil kembali kebebasan rakyat Skotlandia dari kolonisasi Inggris.

Raja Edward I memiliki visi untuk menaklukan seluruh wilayah di sekitar Inggris sebagai daerah kekuasannya.

Hope / Faith

William Wallace percaya bahwa Skotlandia harus bersatu baik para petani maupun bangsawan untuk dapat memenangkan peperangan. Dia selalu berupaya untuk menyatukan para bangsawan Skotlandia yang terpecah dan meminta mereka menjunjung tinggi kepentingan bersama daripada memenuhi kepentingan pribadi masing-masing dalam melakukan perlawanan.

Raja Edward I percaya bahwa dia harus melakukan segala cara untuk menaklukan wilayah-wilayah sekitar Inggris meskipun menggunakan cara-cara yang tidak etis dan melanggar hukum. Dia tidak peduli apakah cara yang digunakannya salah, ditentang, maupun kejam serta dia tidak pernah merasa bersalah atau mau mendengarkan kritikan dari siapapun.

Altruistic Love 

Sebelum berperang William Wallace belajar banyak hal dari perjalanan ziarah bersama pamannya melewati negara-negara di Eropa. Dia digambarkan mengagumi keindahan bumi dan masyarakat yang beradab dan damai sehingga menerapkannya kepada gaya kepemimpinannya dimana para pasukan memiliki rasa keanggotaan, merada dihargai, dan dijunjung haknya.

Raja Edward I sangat memiliki kecintaan kepada kekuasaan yang sangat tinggi, bahkan bisa di bilang haus akan kekuasaan. Dia tidak akan menerima kritikan dan akan langsung menghukum orang yang berusaha menentang kekuasaannya. Kecintaannya pada kekuasaan menjadikan hatinya keras dan penuh kekejian. Dia lebih senang ditakuti daripada dicintai.

Perbandingan 2 Karakter Menurut Syed Nadeem Abbas Haider

Konsep

William Wallace

Raja Edward I

Emotional 

Intelligence

William Wallace memiliki tingkat Emotional Intelligence yang tinggi. Dia digambarkan sebagai sosok yang dewasa, tenang, dan mampu mengontrol emosinya. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya dia memiliki self-management yang baik. Ketika mengalami kekalahan, dia juga tidak panik dan lari tetapi tetap berjuang sampai titik akhir berusaha menyelamatkan anggota pasukannya yang masih bertahan. Dia juga teguh dalam menghadapi kematian dengan tidak bersedih terlalu lama ketika istrinya meninggal dan meskipun pada awalnya perlawanannya dikarekanan untuk membalaskan dendam atas kematian istrinya tetapi visi perjuangannya murni untuk kebebasan rakyat Skotlandia.

Raja Edward I memiliki self-awarness yang tinggi dimana dia paham bahwa dirinya unggul dari sisi intelektual. Tidak bisa dipungkiri bahwa Edward I merupakan ahli strategi perang meskipun caranya tidak etis. Dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Meskipun kerap dikritik terlalu emosional tetapi dia sadar bahwa dia itu merupakan salah satu caranya untuk menunjukkan kekuasaan dan superioritas terhadap musuh maupun sekutunya. Edward I juga disebut sebagai raja yang efektif karena memiliki self-management yang tinggi dimana dia dapat mengatur pola hidup dan pikirannya ketika memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Pada dasarnya Edward I memiliki tingkat Emotional Intelligence yang tinggi hanya saja dia memiliki hati yang keji.

Organizational Citizenship Behavior

William Wallace memiliki Organizational Citizenship Behavior yang tinggi dengan bersedia menjadi pemimpin para petani meskipun dia tahu bahwa pada dasarnya dia tidak akan mendapatkan gelar atau jabatan apapun setelah perang. Orang-orang menghormatinya karena dia bersedia untuk berkorban demi kepentingan bersama bahkan rela mengorbankan nyawanya demi kebangkitan dan persatuan Skotlandia.

Sosok Edward I sangatlah berorientasi pada tujuan pribadinya dan tidak mengizinkan para pengikut atau sekutunya untuk melakukan hal lain kecuali yang diperintahkannya. Walaupun dia sangat berkomitment dan mencurahkan segalanya untuk kebesaran Inggris tetapi tidak dilakukan secara sukarela. Pada dasarnya dia melakukan itu karena kehausan pribadinya akan kekuasaan dan kebesaran namanya sendiri. 

Islamic Work Ethics

William Wallace menjunjung tinggi nilai-nilai kestaria ketika berperang. Dia memimpin dengan keharmonisan dan berusaha tidak merusak dan menyiksa rakyat ketika menaklukan benteng. Pada dasarnya secara tidak langsung William Wallace sudah menerapkan sebagian dari Islamic Work Ethics.

Perilaku Raja Edward I sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia menerapkan kode etis apapun. Dia memperbolehkan jendral dan pemimpin pasukannya untuk menggunakan segala cara untuk menegakkan kekuasan Inggris di Skotlandia. 

Solusi Islam terhadap Peperangan

Peperangan merupakan hal yang pasti terjadi dikarenakan manusia atau masyarakat suatu kaum memiliki perbedaan pendapat dan kepentingan. Oleh karena itu, ajaran Islam sudah mengatur dengan jelas mengenai peperangan dalam Al-Qur’an dan hadist sehingga dalam peperangan pihak-pihak yang bertikai tidak melampaui batas dan hanya menyisakan kerusakan di muka bumi. Islam mengajarkan kepada pengikutnya untuk tetap menjaga adab dan etika meskipun sedang dalam kondisi krisis dan penuh konflik. Ada beberapa kode etik yang diajarkan oleh agama Islam dalam peperangan, yaitu :

Pertama: Tidak boleh membunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak

Rasulullah saw senantiasa berpesan kepada jendral, panglima, dan pasukannya untuk tetap menjunjung tinggi keetisan, adab, dan nilai moral meskipun dalam keadaan perang. Beliau lebih mementingkan kondisi akhlak pasukannya daripada hanya mencapai kemenangan semata. Beliau juga memerintahkan para pasukannya untuk tidak membunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak ketika menaklukan suatu wilayah. Dalam riwayat Abu Dawud, Rasulullah ﷺ bersabda, 

“Janganlah kalian membunuh orang tua yang sudah sepuh, anak-anak, dan wanita…” 

(HR. Abu Dawud 2614, Ibnu Abi Syaibah 6/438, dan al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 17932).

Kedua : Jangan lari dari medan perang

Rasulullah sangat tidak menyukai sikap pengecut termasuk salah satunya yaitu lari dari medan perang. Beliau ﷺ bersabda,

“…jangan kalian lari dari medan perang…” 

(HR. Muslim 1731, Abu Dawud 2613, at-Tirmidzi 1408, dan Ibnu Majah 2857).

Ketiga : Tidak membuat kerusakan di bumi

Dalam berperang Islam sangat jelas melarang umatnya untuk melakukan kerusakan di muka bumi baik kerusakan alam maupun kerusakan kemanusiaan. Prajurit Islam tidak boleh sengaja membunuh musuh dengan cara yang keji atau membuat strategi yang didalamnya terdapat perbuatan yang melampaui batas termasuk penghianatan. 

Allah Ta’ala dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا فِىۡ الۡاَرۡضِۙ قَالُوۡاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ

اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).

Referensi

Egel, E., & Fry, L. (2016). Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership. Public Integrity, 19(1), 77-95.

Haider, S. (2015). The Relationship Between Emotional Intelligence (EI) And Organizational Citizenship Behaviour (OCB): The Moderating Role Of Islamic Work Ethics (IWE). ASEAN Journal of Psychiatry, 16 (1).

Saleem, Maimoona, et al. (2018). Business Ethics in Islam. The Dialogue, 13(3), 327.

Penulis

Prabandari Nur Fauziah


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format