Inside Job (2010): Kecurangan Masal di balik Krisis Keuangan Global 2008

Di sutradarai oleh Charles Ferguson, Inside Job mencoba membedah dalang dibalik krisis keuangan global 2008. Bagaimana jika krisis ini dilihat dari kacamata Islam?


1
1 point

Tahun 2008 silam, Amerika Serikat kembali dihantam resesi ekonomi yang merupakan krisis terparah pasca Great Depression yang terjadi tahun 1930. Inside Job, film dokumenter karya Charles H. Ferguson menelusuri kisah dibalik krisis keuangan Amerika yang juga turut berdampak pada runtuhnya finansial global kala itu. Film ini secara gamblang mengungkapkan kritik atas berbagai kecurangan sistematis dalam sektor keuangan dan membedah peran para aktor dibaliknya. Film yang dinarasikan oleh Matt Damon ini melibatkan wawancara ekstensif dengan berbagai pihak yang memiliki pengaruh penting, seperti para bankir, politisi, investor, regulator, akademisi, jurnalis, dan pekerja sex komersial. Film dokumenter ini dibagi menjadi lima bagian yang mengeksplorasi bagaimana perubahan kebijakan hingga praktik korupsi oleh perbankan membawa Amerika ke jurang kehancuran.

Part I : How We Get Here

Selama 40 tahun setelah Great Depression, sektor finansial di Amerika Serikat diatur secara ketat. Namun pada tahun 1980-an, pemerintahan Ronald Reagan memulai deregulasi finansial meliputi lembaga keuangan bank, lembaga pemeringkat kredit, dan perusahaan asuransi. Deregulasi besar-besaran ini dijadikan momentum bagi banyak pihak untuk meraup keuntungan pribadi. Di tahun 1982, pemerintahan Reagan mulai mengizinkan perusahaan simpan pinjam melakukan investasi beresiko dengan uang nasabah yang pada akhirnya menghabiskan simpanan banyak orang dan dianggap sebagai perampokan bank terbesar dalam sejarah. 

Pada akhir 1990-an, lembaga keuangan berkonsolidasi menjadi beberapa firma raksasa. Keadaan ini diperparah dengan dotcom bubble dimana para analis di bank investasi mempromosikan perusahaan berbasis internet yang pada dasarnya mereka ketahui akan gagal. Konsekuensinya, pada tahun 2001 investor mengalami kerugian sebesar $5 triliun. Ketidakstabilan perekonomian di Amerika juga disebabkan oleh populernya produk derivatif yang merupakan bentuk spekulasi dan adanya produk baru yang dibuat oleh bank investasi, yaitu CDO (Collateralized Debt Obligation). Dengan adanya CDO, para pemberi pinjaman tidak lagi peduli apakah peminjam dapat melunasi pinjamannya.

Part II : The Bubble

Sumber : https://zeroanthropology.net/2018/05/25/documentary-review-inside-job-is-still-relevant/

Bagian kedua menceritakan adanya ledakan besar di sektor real estate. Pembelian rumah meningkat tajam dan harga rumah naik dua kali lipat dalam kurun waktu 1996 - 2006. Masalah perumahan dan kredit ini turut mendatangkan keuntungan ratusan miliar dolar di Wall Street. Namun tingkat leverage di perbankan menjadi sangat mengerikan, yaitu berada pada level 33 banding 1. Masalah kedua adalah ketika perusahaan asuransi terbesar di dunia, AIG, menjual banyak derivatif yang disebut CDS (Credit Default Swap). Dengan adanya CDS, pada pertengahan 2006  Goldman Sachs menjual lebih dari $3 miliar produk CDO. Goldman mengklaim CDO tersebut bernilai tinggi padahal kenyataanya sangat beresiko. Tiga agensi pemeringkat terbesar (Moody’s, Standard & Poors, dan Fitch) menghasilkan miliaran keuntungan dengan memberi penilaian AAA pada CDO ini. Instrumen berperingkat triple A lantas menjamur dari hanya beberapa menjadi ribuan.

Sumber : https://zeroanthropology.net/2018/05/25/documentary-review-inside-job-is-still-relevant/


Part III : The Crisis

Sumber : https://zeroanthropology.net/2018/05/25/documentary-review-inside-job-is-still-relevant/

Pada 2008, penyitaan rumah meroket dan lenders tidak lagi bisa menjual pinjaman mereka pada bank investasi. Pasar CDO runtuh, menyisakan bank investasi dengan ratusan miliar dolar dalam bentuk pinjaman, real estate, dan CDO yang tidak bisa lagi mereka jual. Pada September 2008, guncangan besar di pasar keuangan global terjadi sebagai akibat dari kebangkrutan Lehman Brothers. Kebangkrutan ini turut berdampak pada runtuhnya pasar commercial paper yang diperlukan banyak perusahaan untuk membayar pengeluaran seperti gaji. Banyak perusahaan harus memecat karyawan dan menghentikan bisnis karena tidak mampu membeli bahan baku. Pada 17 September 2008, pemerintah mengambil alih AIG. Presiden Bush kemudian menandatangani Troubled Asset Relief Program senilai $700 miliar pada 4 Oktober 2008. Sayangnya pasar saham dunia terus jatuh hingga tingkat pengangguran di Amerika dan Eropa naik 10%. Resesi bergerak cepat dan menyebar secara global.

Part IV : Accountability

Banyak eksekutif perusahaan di balik adanya krisis ini pergi begitu saja memboyong kekayaan pribadinya. Di Amerika, bank menjadi lebih besar dan terpusat. Banyak bank yang lebih kecil diambil alih oleh bank besar. Pasca krisis, industri finansial berusaha lebih keras untuk melawan reformasi. Sejak 1980-an, para ekonom akademika berpihak pada deregulasi dan memiliki peran penting dalam membentuk kebijakan pemerintahan, mulai menjadi penasihat ekonomi negara hingga menjadi direktur lembaga keuangan besar. Sedikit dari ahli ekonomi yang memperingatkan tentang krisis, bahkan banyak dari mereka menentang reformasi pasca krisis 2008.

Part V : Where We Are Now

Sumber : https://zeroanthropology.net/2018/05/25/documentary-review-inside-job-is-still-relevant/

Dibandingkan sebelum terjadinya krisis, kekuasaan ekonomi Amerika telah berkurang. Di sisi lain, pesaingnya yaitu China berkembang pesat. Pada masa pemerintahan Bush, pajak untuk pendapatan investasi dipotong secara signifikan dan menguntungkan 1% dari orang terkaya di Amerika. Sementara itu, keluarga Amerika lain merespon perubahan ini  dengan berhutang dan bekerja lebih lama. Pemerintahan Obama tidak berhasil membawa reformasi keuangan seperti yang dijanjikan dalam kampanye pemilu 2008. Perusahaan dan para eksekutif bank yang meraup keuntungan dari krisis tersebut bahkan tidak dikenakan denda.


Kubu Pro Vs Anti Deregulasi

Pro Deregulasi ==> pihak-pihak yang memanfaatkan adanya deregulasi finansial dan memegang peran penting sebagai penyebab terjadinya krisis global 2008, seperti lembaga perbankan, rating agencies, perusahaan asuransi, firma keuangan audit, dan beberapa regulator negara. Tokoh-tokoh pro deregulasi yang disoroti dalam film ini seperti Alan Greenspan, Glenn Hubbarad, Larry Summers, Rober Rubin, Frederic Mishkin,  Henry Paulson, Timothy Geithner, dan para eksekutif Wall Street lainnya. Selain itu, beberapa ekonom akademika yang diduga memiliki konflik kepentingan juga masuk dalam kubu ini. Kubu inilah yang meraup keuntungan dari adanya deregulasi.

Anti Deregulasi ==> pihak-pihak yang mengkritik dan memberi peringatan atas tindakan dan kebijakan kubu pro deregulasi yang menyebabkan krisis. Beberapa dari mereka adalah ekonom, aktivis investor, mantan politisi, jurnalis, dan penasihat kebijakan umum. Karakternya seperti Raghuram Rajan, Eliott Spitzer, Robert Gnaizda, Charles Morris, George Soros, William Ackman, Nouriel Roubini, Strauss Kahn, dan juga sutradara film ini sendiri, Charles Ferguson yang juga ikut mengkritik lewat interviewnya dengan beberapa tokoh dibalik krisis global 2008. Banyak dari mereka yang mengkritik dan memberikan peringatan melalui jurnal, paper, presentasi, dan tulisan di majalah terkait analisis krisis yang akan datang. 


Analisis Berdasarkan Jurnal Saleem et al

Dalam jurnal “Business Ethics in Islam” oleh Saleem et al, disebutkan bahwa dalam zaman modern, aktivitas bisnis dapat dikelola dan diatur sebaik mungkin dengan mengambil jalan yang berpedoman pada etika. Hal ini dapat dicapai dengan memahami prinsip dan praktik etika bisnis yang sehat, terutama etika bisnis Islam bagi umat Islam  (Hasyim, 2012). Perlu untuk memahami elemen-elemen dalam sistem ekonomi seperti nilai-nilai etika, norma sosial, dan moral yang akan cenderung mengatur tata laku kehidupan kita sebagai makhluk ekonomi. Pada dasarnya Islam bertujuan membentuk individu, tatanan sosial-moral, ekonomi, dan politik yang adil di bumi. Dalam ekonomi Islam itu sendiri, keadilan  sangat dijunjung tinggi di semua lapisan masyarakat. Berikut beberapa fitur utama dari sistem ekonomi Islam :

  • Lawful and unlawful : Islam melarang pengikutnya mencari penghasilan dari kegiatan yang melanggar hukum seperti suap, spekulasi, perjudian, bunga pinjaman, dll.
  • Protection of lawful property : Islam memiliki aturan yang jelas terkait perlindungan properti dan melarang keras properti yang melanggar hukum. 
  • Prohibition of Interest on loan : Islam melarang praktik perbankan yang memberikan pinjaman dengan bunga
  • System of Zakat and Charity : negara bertanggung jawab mengumpulkan pajak dari orang kaya dan mendistribusikannya untuk kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan. 
  • Moderation : Islam melarang pemborosan dan keserakahan dalam mengejar kekayaan
Concept
Pro Deregulasi
Anti Deregulasi
Lawful and unlawful
Dengan bantuan kemajuan teknologi, bank investasi menciptakan produk keuangan yang disebut derivatif pada awal 1990-an. Melalui derivatif ini para bankir bisa bebas berjudi karena pada dasarnya produk derivatif ini merupakan spekulasi atau taruhan. Mereka dapat bertaruh atas naik turunya harga minyak, bangkrutnya perusahaan, atau bahkan ramalan cuaca. Salah satu produk derivatif yang diciptakan adalah CDO (Collateralized Debt Obligation). Bankir menyatakan pada publik bahwa produk ini aman, padahal faktanya bisa menyebabkan ketidakstabilan di pasar finansial. Bank investasi juga menyuap rating agencies untuk mengevaluasi CDO dan memberikan peringkat AAA. Praktik-praktik yang dilakukan lembaga finansial ini menunjukkan tindakan yang melanggar hukum seperti suap dan spekulan.
Sebaliknya, kubu anti deregulasi berusaha untuk mencegah praktik-praktik yang dapat merugikan negara tersebut. Mei 1998, Brooksley Born sebagai kepala Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang berwenang mengawasi pasar derivatif mengeluarkan proposal untuk meregulasi praktik derivatif. Sayangnya, usulan undang-undang ini ditolak oleh kongres. Lembaga perbankan mendapatkan penghasilan dari kegiatan ini dan berupaya keras mencegah agar derivatif tidak diatur. Usaha untuk meregulasi derivatif semakin buntu ketika Desember 2000, kongres meloloskan Commodity Futures Modernization Act of 2000 yang melarang adanya regulasi untuk produk derivatif.
Protection of lawful property 
and Prohibition of Interest on loan
Lembaga finansial yang mengeluarkan produk CDO dan subprime mortgage membuat perlindungan atas properti masyarakat lemah.  Kurun waktu 2001-2007, terjadi ledakan besar di sektor perumahan. Akibat dari adanya subprime mortgage, siapapun bisa membeli rumah dan ini menyebabkan harga rumah meningkat tajam. Bank investasi menyukai subprime mortgage karena memberikan bunga yang tinggi. CDO membuat lender tidak lagi memiliki risiko jika peminjam tidak mampu bayar, sehingga mereka membuat pinjaman yang lebih beresiko. Ini menyebabkan peningkatan pada predatory lending,  banyak pinjaman diberikan kepada orang-orang yang tidak dapat membayarnya kembali. Akhirnya pada 2008, banyak subprime mortgage yang mengalami default dan lenders tidak bisa lagi menjual pinjaman mereka pada bank investasi. Pasar CDO hancur dan jumlah penyitaan rumah meroket.
Di sisi lain, Robert Gnaizda, Director Greenlining Institute  (kelompok advokasi nirlaba) yang dikenal sebagai pembela keadilan sosial selama lebih dari 40 tahun, tidak tinggal diam melihat fenomena ini. Dalam film disebutkan bahwa The Fed memiliki kekuasaan yang luas dalam mengatur industri mortgage dengan adanya  Home Ownership and Equity Protection Act of 1994 (undang-undang yang membatasi lenders memberikan pinjaman berbiaya tinggi). Namun Alan Greenspan sebagai ketua The Fed kala itu menolak untuk mengatur mortgage. Merasa harus bertindak, Robert Gnaizda sering datang untuk membujuk Greenspan agar mau menetapkan aturan mortgage. Sayangnya, Greenspan tidak pernah merubah pikirannya. 
System of Zakat and Charity
Penggelapan pajak menjadi salah satu dampak dari deregulasi kala itu. Pada 2008, UBS Group (bank investasi Swiss), terbukti menjadi pusat penyembunyian aset keuangan bagi warga kaya Amerika untuk menghindari pajak. Kasus lainnya dalam film ini adalah masalah pemotongan pajak pada pendapatan hasil investasi, dividen saham, dan hilangnya pajak tanah oleh Glenn Hubbard (penasihat keuangan presiden Bush).
Sementara itu, Ferguson sebagai sutradara dalam film ini mengkritik masalah perpajakan yang tidak adil. Kebijakan pajak oleh Glenn Hubbard dianggap hanya menguntungkan bagi 1% dari orang terkaya di Amerika. Sistem itu membuat mereka lebih berpeluang untuk mendapatkan status sosial dan lebih banyak uang. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa dunia kala itu kurang tertarik dengan kehidupan moral.
Moderation
Setelah deregulasi dengan memprivatisasi 3 bank terbesar di Islandia (Islandsbanki, Kaupping, dan Glitnir), para bankir menghujani diri mereka dengan uang. Mereka meminjam miliaran dolar untuk membeli jet pribadi, yacht, penthouse, prostitusi, dan bisnis retail kelas tinggi di London. Dalam film ini diceritakan bagaimana keserakahan para executive lembaga keuangan dan para petinggi di Wall Street memperkaya diri dari praktik-praktik ilegal.
Berbanding terbalik dengan kehidupan para eksekutif perbankan yang mengejar kekayaan, disisi lain mereka yang anti deregulasi merasa khawatir akan resesi yang bergerak cepat dan mengira bahwa seluruh dunia mungkin akan jatuh bersamaan. Masyarakat tentu saja banyak menderita. Ketika bank-bank Islandia runtuh, hanya dalam waktu 6 bulan tingkat pengangguran meningkat 3 kali lipat. Banyak masyarakat yang kehilangan simpanan mereka.  Krisis juga berdampak pada pabrikan China di Amerika. Angka penjualan menurun drastis, lebih dari 10 pekerja migran di China terpaksa kehilangan pekerjaan. Pada akhirnya, yang paling miskinlah  yang paling menderita.

Berdasarkan perbandingan di atas, dapat dilihat bahwa mereka yang mendapatkan keuntungan dengan adanya deregulasi melanggar konsep lawful and unlawful dalam Islam. Mereka mendapatkan penghasilan dari praktik yang haram seperti spekulasi, bunga pinjaman, dan suap. Islam dengan tegas melarang pengikutnya melakukan hal semacam itu. Penghasilan yang diperbolehkan dalam Islam adalah yang menyebabkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, dan Ath-Thabarani: “Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.”

Deregulasi juga membuat perbankan bisa menetapkan bunga yang tinggi. Padahal dalam Islam sendiri, sistem pinjaman dengan bunga dilarang. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “.. Allah mengizinkan perdagangan dan melarang bunga”.  Sistem bunga ini membuat predatory lending dalam film tersebut telah secara zalim mengambil dan menguasai hak  masyarakat untuk mendapatkan tempat tinggal. Mereka membuat pinjaman yang berisiko, sehingga banyak warga yang tidak bisa membayar dan penyitaan rumah pun meroket. Padahal dalam Islam, perlindungan atas hak properti dijunjung tinggi.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” (QS. An-Nisa: 29). 

Selain itu, sistem ekonomi Islam juga menyediakan jaminan sosial untuk semua lapisan masyarakat melalui pendistribusian pajak. Namun lagi-lagi, deregulasi membuat sistem pajak menjadi tidak berfungsi dengan baik karena banyak eksekutif yang menyembunyikan kekayaan mereka. Dalam Islam, moderasi bisa menjadi jalan tengah untuk keserakahan ini. Islam mengutuk keras pemborosan dan mengejar uang dengan gila-gilaan.

إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا

"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Al- Isra: 27)


Analisis Berdasarkan Jurnal Shah Khan

Dalam jurnalnya “Islamic Perspective of Human Resource Management: Some Salient Features”, Shah Khan menyatakan bahwa dalam Islam, praktek HRM didasarkan pada nilai-nilai etika, kepercayaan, dan motivasi sukarela. Berbeda dengan  praktik modern, dalam perspektif Islam karyawan dianggap lebih dari sekedar sumber daya. Penerapan prinsip-prinsip HRM Islam dapat membantu organisasi mengatasi masalah inefisiensi dan penyalahgunaan wewenang; krisis dalam kepemimpinan, pelatihan, keterampilan profesional, serta pengetahuan dan sikap yang dibutuhkan untuk karir yang produktif. Berikut beberapa konsep HRM dari sudut pandang Islam :

  • Employee Selection : jabatan diberikan kepada mereka yang amanah dan pantas mendapatkannya atas dasar prestasi yang terdiri dari integritas & kompetensi. 
  • Accountability : penguasa bertanggung jawab atas kesejahteraan dan perlindungan publik dan dalam hal ini negara yang adil harus merancang serta menegakkan sistem akuntabilitas yang efektif. 
  • Conflict of Interest : menghindari adanya benturan antara kepentingan pribadi dengan pekerjaan.
Concept
Pro Deregulasi
Anti Deregulasi
Employee Selection
Di awal pemerintahannya, Barack Obama menunjuk Timothy Geithner sebagai Menteri Keuangan. Geithner merupakan presiden Federal Reserve New York saat terjadi krisis. Ia menjadi tokoh kunci yang memutuskan pembayaran $100 juta dollar untuk Goldman Sachs. Sedangkan yang ditunjuk sebagai presiden baru Federal Reserve New York adalah William C. Dudley, seorang mantan ketua ekonom Goldman Sachs. William diketahui menjadi salah satu yang mendukung derivatif bersama dengan Glenn Hubbard. 

Untuk posisi kepala staf Treasury Department dipegang oleh Mark Patterson yang merupakan bekas pelobi untuk Goldman Sach. Sementara itu, Senior Treasury Advisor dipegang oleh Lewis Sachs yang pernah bertugas mengawasi Tricadia, perusahaan yang terlibat dalam pertaruhan mortgage. Sebagai Kepala Komisi Perdagangan Komoditi, Obama menunjuk mantan eksekutif di Goldman Sachs yang menolak regulasi pengetatan untuk produk derivatif, yaitu Gary Gensler.
Sutradara Ferguson yang merupakan kubu anti deregulasi menyampaikan kritik terkait bagaimana Barack Obama yang menginginkan adanya reformasi kala itu memilih figur untuk mengisi jabatan penting negara. Dalam pidatonya sebelum pemilihan tahun 2008, Obama mengatakan bahwa kurangnya pengawasan menyebabkan ketamakan di Wall Street dan kegagalan dalam sistem ekonomi. Menurutnya perlu ada perubahan di Amerika, namun setelah menjabat sebagai presiden, reformasi keuanganya lemah.  Salah satu area kritis yang menjadi perhatian Ferguson dalam film ini adalah masalah pelobian. 

Robert Gnaizda, seorang Penasihat Umum dan mantan Presiden Greenlining Institute, mengkritik pelobian yang dilakukan Obama dengan sebutan “Pemerintahan Wall Street”. Pasalnya, Obama memilih banyak eksekutif Wall Street untuk mengisi posisi senior economic regulations and policies. Merekalah tokoh-tokoh kunci yang seharusnya bertanggung jawab atas krisis keuangan Amerika, namun justru mengisi posisi penting di pemerintahan.

Accountability

Pada part IV: Accountability dalam film ini, menyoroti akuntabilitas para pemain keuangan di Amerika Serikat.

Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di Amerika, lima eksekutif utamanya menghasilkan lebih dari $1 miliar antara tahun 2000 dan 2007. September 2008 ketika perusahaan collapse, para petinggi bank ini masih bisa menyimpan uang mereka. Selain itu, CEO Angel Mozilo, figur yang menjadi simbol dan paling disalahkan atas krisis subprime mortgage, selama periode tahun 2003 hingga 2008 mendapatkan kompensasi total sekitar  $470 juta. Kompensasi  ini termasuk gaji, saham terbatas, bonus opsi, dan pembayaran keanggotaan country club.

Stan O’Neal, CEO dari Merrill Lynch yang disalahkan oleh Komisi Penyelidikan Krisis Keuangan atas aktivitasnya selama memimpin krisis subprime, menerima $90 juta hanya dalam waktu 2006-2007 saja. Dalam hal ini keterlibatan dewan direktur di perusahaan juga dipertanyakan. Pasalnya setelah O’Neal membuat perusahaannya bangkrut, ia tidak dipecat dan justru diizinkan mengundurkan diri dengan mendapat uang tunjangan sebesar $161 juta. Pada tahun 2007, John Thain sebagai penerus O’Neal mendapat bayaran $87 juta. Selang satu tahun kemudian, yaitu Desember 2008, hanya 2 bulan pasca Merril Lynch dibantu oleh pembayar pajak Amerika, para anggota dewan dan Thain mendapatkan bonus miliaran dolar. Disini dapat dilihat bahwa sistem akuntabilitas bagi para pemain keuangan belum terlaksana secara efektif.
Disisi lain, sutradara Ferguson mengkritisi pertanggungjawaban para eksekutif di Wall Street. Ia menyoroti bagaimana para petinggi ini menghancurkan perusahaan mereka sendiri dan membuat dunia dalam pusaran krisis, namun masih bisa melenggang bebas tanpa tanggung jawab. Mereka yang merupakan golongan 1% teratas masih bisa hidup aman dengan membawa banyak kekayaan saat kondisi dunia sedang krisis. Sementara disisi lain, banyak dari masyarakat yang kesulitan bertahan hidup.  

William Ackman, CEO hedge fund yang juga merupakan salah satu aktivis yang memberi peringatan pertama tentang krisis yang akan datang, menyalahkan peran dewan direktur di perusahaan-perusahaan Wall Street. Para dewan inilah yang bertanggung jawab atas penugasan CEO dan mengawasi keputusan strategis mereka. Para dewan tidak mengawasi kinerja eksekutif dengan baik, sehingga mengarah pada penyalahgunaan wewenang. Menurutnya, salah satu penyebab kurang berfungsinya peran anggota dewan ini adalah terkait bagaimana mereka dipilih. Para dewan tersebut justru banyak dipilih oleh CEO itu sendiri. Ferguson juga mengkritisi akuntabilitas dari pembayaran kompensasi para eksekutif Wall Street yang tidak masuk akal. Scott Tablott, Chief Lobbyst Financial Services Roundtable yang diwawancarai dalam film ini mengatakan, Komite Kompensasi dan Dewan Direktur merupakan dua badan yang posisinya paling tepat dalam menentukan bayaran untuk para eksekutif ini. Sebagai tokoh yang menyebabkan krisis namun mendapatkan kompensasi yang besar,  pembayaran gaji para eksekutif ini tidak reasonable.
Conflict of Interest

Dalam film ini diceritakan adanya konflik kepentingan di antara para ekonom akademika. Salah satu ekonom paling terkenal di Amerika yang disorot dalam film ini adalah Martin Feldstein, profesor dari Harvard. Martin ditunjuk sebagai penasihat keuangan di masa Presiden Reagan dan dikenal menjadi arsitek utama dari program deregulasi ini menjadi anggota dewan financial product AIG (perusahaan asuransi internasional) yang dibayar jutaan dolar.

Seorang dekan Columbia University, Glenn Hubbard, juga dicurigai memiliki konflik kepentingan. Bersama seorang ekonom dari Goldman Sachs, Glenn Hubbard menulis paper yang isinya justru memberikan optimisme terhadap produk derivatif. Glenn diketahui pernah menjadi ketua Penasihat Dewan Keuangan era George W. Bush. Ia juga menjadi penasihat Nomura Securities, KKR Financial Corporation dan banyak perusahaan keuangan lainnya.

Larry Summers yang juga menjadi dalang dari deregulasi produk derivatif, pada tahun 2001 diangkat menjadi presiden Harvard. Selama di Harvard ia diketahui menghasilkan jutaan dolar sebagai penasihat dan pembicara untuk bank investasi. Kekayaan bersih Summers dilaporkan sekitar 16,5 juta hingga 39,5 juta. Selain itu, masih ada beberapa ekonom akademika yang berusaha diungkapkan keterlibatanya, seperti  Frederic Mishkin dan Richard Portes.  

 
Charles Ferguson, sutradara dalam film ini, dengan berani mencoba menggali konflik kepentingan para ekonom akademika dibalik  krisis 2008. Banyak akademisi ekonomi dari universitas terkemuka Amerika yang menerima posisi penting sebagai penasihat, komisaris, konsultan, bahkan direktur di lembaga keuangan Wall Street, seperti Citigroup, Goldmans Sachs, dll. Melalui narasi yang dibawakan oleh Matt Damon, Ferguson menyebutkan bahwa sejak tahun 1980 an, ekonom akademika dianggap menjadi pendukung utama dari deregulasi. Deregulasi membutuhkan dukungan yang kuat baik secara finansial maupun intelektual, dan sayangnya, profesi ahli ekonomi menjadi bagian dari ini. Mereka ikut memainkan peranan penting dalam membentuk kebijakan pemerintah Amerika. Bahkan setelah krisis berlalu, banyak dari mereka yang  menentang reformasi.

Ferguson juga mengkritik minimnya ekonom yang memperingatkan tentang krisis kala itu. Paling tidak seharusnya mereka melakukan penelitian dan memberikan rekomendasi bahaya produk derivatif bagi perekonomian. Namun justru yang terjadi adalah sebaliknya, seperti yang dilakukan Glenn Hubbard, menulis paper yang mendukung derivatif. Menurutnya, para ekonom ini telah merusak ilmu ekonomi itu sendiri. Charles Morris, penulis The Trillion Dollar Meltdown ikut memberikan pandangannya. Ia mengatakan bahwa para profesor ini tidak hidup dengan gaji fakultas, tapi dibayar mahal untuk menjadi konsultan. Penghasilan mereka besar, bisa mencapai 10 juta dolar dengan memberikan konsultasi pada lembaga keuangan, seperti yang diterima Laura Tyson dari Morgan Stanley, dan Larry Summers dari Harvard yang menolak untuk diwawancarai dalam film ini.  

Dalam jurnal ini disebutkan bahwa prinsip tata pemerintahan yang baik adalah “the right man on the right job”. Dalam seleksi seorang pegawai, kompetensi dan skill menjadi dua kriteria yang harus dipertimbangkan. Selain itu, integritas juga menjadi faktor kritis yang harus diutamakan dan tidak bisa dikompromikan lagi. Namun dalam film ini, integritas yang merepresentasikan akuntabilitas dan tanggung jawab seseorang, nampaknya kurang dipertimbangkan dalam proses pelobian era Obama. Dalam film tersebut disoroti banyaknya tokoh yang dianggap sebagai pemain kunci di balik terjadinya krisis, diikutsertakan dalam posisi penting negara. Mereka adalah orang-orang yang amanah/tanggung jawabnya pada masyarakat perlu dipertanyakan karena kebijakan-kebijakan mereka di masa lalu. Rasulullah SAW bersabda:

 “Barangsiapa diberi wewenang (atas orang) dan dia mati dalam keadaan tidak jujur terhadap mereka, Tuhan tidak akan pernah memasukkan dia ke surga "

Hal ini juga harus dibarengi dengan peran negara untuk menegakkan sistem akuntabilitas yang ketat. Pasalnya dalam film tersebut, akuntabilitas negara yang lemah membuat banyak eksekutif lembaga keuangan (dalang dari krisis) yang bebas dari hukum dan membawa kompensasi gaji yang besar.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”. (Al- Baqarah: 42)


Analisis Berdasarkan Jurnal Ali et al

Dalam jurnal “Islamic Perspectives on Profit Maximization”,  Ali et al menyinggung tentang etika yang memainkan peran penting dalam menetapkan batasan perilaku yang dapat diterima dan dalam mencegah praktik korupsi, penipuan, dan perilaku lain yang merugikan. Dalam membentuk sikap etis di kehidupan seseorang, agama ikut berperan di dalamnya.  Etika yang didorong secara spiritual atau berbasis pada agama akan memotivasi individu untuk menyertakan nilai-nilai manusiawi dan spiritual tertinggi ke dalam perilaku bisnis mereka. Berikut beberapa konsep yang menjadi dasar dalam etika Islam menurut Ali et al:

  • Ihsan:  menyiratkan kemurahan hati dan kebaikan dalam interaksi dan perilaku, baik itu pada tingkat pribadi maupun organisasi. 
  • Fardh : berkaitan dengan kesejahteraan komunitas untuk memastikan keadaan normal dan stabilitas dalam masyarakat.
  • Relationship with others: untuk setiap perilaku atau tindakan manusia, benar atau salahnya harus berasal dari manfaatnya untuk orang dan masyarakat atau terkait dengan hubungan dan pengabdiannya untuk sesama.
  • Equity: memastikan bahwa kesejahteraan sosial dijamin dengan baik dan keadilan tidak diabaikan karena prasangka terhadap pelaku pasar.
Concept
Pro Deregulasi 
Anti Deregulasi
Ihsan dan Fardh
Para eksekutif Wall Street  dan beberapa pihak yang mendukung deregulasi digambarkan sebagai pihak-pihak yang tidak memiliki kemurahan hati. Demi memenuhi kepuasan hidup, mereka mengabaikan tanggung jawab dan tidak peduli dampaknya pada masyarakat kecil. Mereka menikmati hidup di penthouse, memiliki jet pribadi, narkoba, dan seks. Bahkan dalam suatu jamuan makan malam para pejabat dan beberapa CEO dari bank terbesar di Amerika, mereka secara sadar mengatakan, “Kita terlalu tamak, tidak bisa dihindari." Ini menunjukkan bahwa perilaku-perilaku yang mencerminkan ihsan seperti belas kasih, keadilan, pengampunan, dan perhatian tidak tercermin dalam hal ini. Dengan praktik korupsi, penyuapan, dan penggelapan pajak, mereka memperkaya diri dan tidak menyalurkan hak atas  apa yang menjadi bagian kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Ferguson, sutradara film ini yang juga anti deregulasi mengkritik tidak pedulinya para eksekutif dan pejabat negara yang menjadi dalang dari terjadinya krisis melalui wawancara beberapa masyarakat yang terkena imbas dari kebijakan mereka. Salah satu dampak berarti yang disajikan dalam film ini adalah adanya “Tent Cities”. Banyak warga yang terpaksa mendirikan tenda karena rumah mereka disita. Beberapa ditipu oleh broker hipotek yang dibayar oleh predatory lending. Saat itu foreclosure atau penyitaan rumah memang sedang mencapai puncaknya di awal 2010. Diperhitungkan sekitar 9 juta pemilik rumah kehilangan hunian mereka. Para dalang krisis mengabaikan fardh dengan tidak menjamin kesejahteraan masyarakat dan justru merusak stabilitas ekonomi. 
Relationship with others
Benar salah tindakan yang dilakukan para tokoh yang pro terhadap deregulasi bisa dilihat dari dampak tindakan mereka pada masyarakat luas. Kebijakan dan tindakan mereka tidak mencerminkan kebermanfaatan untuk masyarakat. Mereka mengabaikan fungsi pengabdian untuk sesama dan hanya mementingkan kepentingan pribadi.
Para figur yang anti deregulasi menunjukkan bahwa mereka berpihak pada kepentingan masyarakat melalui berbagai kritikan yang mereka lontarkan untuk pejabat keuangan. Hal ini dapat menunjukkan bahwa tindakan mereka benar, karena krisis saat itu dampaknya membuat masyarakat menderita secara ekonomi. Perlu ada yang mengkritisi kebijakan mereka agar tindakan korektif dapat dilakukan. 
Equity
Dalam film ini disorot pula beberapa petinggi pemerintahan yang abai akan bahaya krisis. Tindakan mereka mencerminkan bahwa sebagai pembuat kebijakan  mereka tidak berupaya menjamin kesejahteraan sosial dan keadilan.

Saat Greenspan menjabat sebagai kepala Federal Reserve, ia tidak mengeluarkan kebijakan apapun atas tindakan ilegal pembentukan Citigroup yang melanggar UU Glass-Steagall. UU Glass Steagall mencegah bank untuk melakukan kegiatan investasi yang berisiko. Namun  The Fed mengabaikan praktik itu selama setahun dan setahun setelahnya membuat hukum yang meloloskan tindakan ilegal tersebut. Krisis berikutnya ketika dotcom bubble terjadi, agensi negara yang diciptakan semasa Great Depression untuk meregulasi bank investasi, juga tidak mengambil tindakan apapun. Kemudian pada 2006, ketika pinjaman subprime marak di masyarakat, Ben Bernanke yang menjabat sebagai kepala The Fed kala itu,  tidak melakukan apa-apa meskipun banyak peringatan dialamatkan kepadanya.
Di sisi lain para tokoh yang anti deregulasi memperlihatkan upaya mereka agar kesejahteraan sosial dan keadilan tidak diabaikan. Salah satunya adalah dengan memberikan peringatan-peringatan kepada lembaga keuangan untuk mencegah terjadinya krisis.  Misalnya Robert Gnaizda yang memperingatkan Bernanke akan bahaya pinjaman subprime. Selain itu, awal 2004 FBI juga memberi peringatan akan penipuan hipotek yang marak saat itu. Dalam peringatan nya dilaporkan adanya inflasi pada rating agencies, dokumentasi pinjaman palsu, dan banyak tindakan penipuan lainnya. Raghuram Rajan, kepala ahli ekonomi IMF yang digambarkan sebagai sosok positif dalam film ini juga pernah memperingatkan bahwa insentif yang berbahaya dapat menyebabkan krisis. Beberapa tokoh lain juga mempublikasikan pemikiran mereka tentang potensi krisis ke majalah Fortune dan Washington. 

Konsep Ihsan, menyiratkan bahwa manusia harus bermurah hati dengan melepaskan sebagian dari haknya untuk kesejahteraan masyarakat. Namun mereka yang pro deregulasi dalam film ini digambarkan sebagai kelompok yang tidak mencerminkan ihsan. Alih-alih menyalurkan hak mereka untuk kesejahteraan masyarakat, mereka justru menggelapkan pajak, memperkaya diri dengan korupsi, suap, dll. Kemudian dalam prinsip fardh, para eksekutif lembaga keuangan ini seharusnya tidak hanya mengetahui apa yang menjadi tugas mereka, namun juga paham terkait batasan tanggung jawab. Jika disejalankan dengan ihsan, para tokoh penting ini haruslah mengutamakan penghindaran terhadap hal-hal yang membahayakan bagi komunitas atau masyarakat. Namun sebaliknya, dengan kekuasaanya mereka mengontrol sistem keuangan negara dengan produk-produk keuangan yang berisiko. Masyarakatlah yang pada akhirnya harus menanggung kerugian negara dengan uang pajak. Di saat masyarakat menderita, mereka tidak peduli selama masih bisa meraup kekayaan ratusan juta dolar dari praktik-praktik berisiko di perbankan. Semakin besar kerugian yang mereka ciptakan di masyarakat, maka semakin besar pula keuntungan yang dapat mereka ambil. Hal ini berarti mereka juga melanggar konsep relationship with other yang mengutamakan pengabdian dan kebermanfaatan untuk sesama.  

Sesuai firman Allah dalam Al-Hujurat ayat 13 : 

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang terbaik dari kamu dalam perilaku. "

 Dalam HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni, Rasulullah juga bersabda: 

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

 Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Sementara itu, prinsip equity yang diupayakan untuk menjaga kesejahteraan dan keadilan juga diabaikan. Hal ini tercermin dari sikap abai para pembuat kebijakan negara dalam menanggapi peringatan-peringatan untuk segera meregulasi kegiatan bank investasi agar tidak terjadi krisis. Artinya disini para regulator tidak serius dalam menghadapi permasalahan yang ada. Padahal jika mereka mau mendengarkan kritik dan peringatan para tokoh tersebut, krisis keuangan bisa dicegah atau paling tidak diminimalisir sehingga pelanggaran akan keadilan dan kesejahteraan masyarakat tidak terjadi.

Sumber: https://zeroanthropology.net/2018/05/25/documentary-review-inside-job-is-still-relevant/


Solusi

Menurut M. Shabri Abd. Majid dalam jurnalnya yang berjudul “Krisis Ekonomi Dan Solusinya Dalam Perspektif Islam”, krisis ekonomi global 2008 yang digambarkan dalam film ini dapat diatasi dengan mengadopsi beberapa konsep dalam ekonomi Islam. Islam telah menawarkan suatu sistem ekonomi  yang berbasis pada nilai-nilai moralitas dan spiritual. Dalam ekonomi Islam diatur tentang bagaimana mendapatkan harta dengan cara-cara yang etis dan menghindari penipuan, riba, judi, gharar, dan praktik merugikan lainnya. Begitu pula dengan cara pemanfaatannya. Ditegaskan dalam Islam bahwa di setiap harta yang dimiliki seseorang, terdapat hak milik orang lain yang membutuhkan. Berikut beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan :

Sistem Zakat dan Sedekah

Dalam film diceritakan bahwa sistem pajak saat itu tidak dapat berjalan dengan baik. Alternatif lain yang dapat digunakan sebagai instrumen untuk pendistribusian kekayaan adalah dengan zakat atau sedekah. Program zakat atau sedekah bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan dan untuk pemberdayaan fakir miskin dan orang lain yang membutuhkan. Program ini dianggap dapat mengurangi ketimpangan antara si kaya dan si miskin sehingga negara dapat menciptakan suatu distribusi pendapatan yang adil dan manusiawi. Sebagaimana firman Allah dalam QS.At-Taubah: 103

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Sistem Profit-Loss Sharing

Salah satu penyebab dari krisis global 2008 dalam film Inside Job adalah masalah bunga bank yang tinggi. Sebagai pengganti sistem bunga, Islam menawarkan konsep berbagi untung dan risiko. Dalam posisi ini, pihak-pihak yang terlibat memiliki posisi yang setara, atau dengan kata lain tidak ada pihak yang dizalimi. Sistem ini bisa diterapkan dalam akad kerjasama usaha atau modal dengan menerapkan perjanjian pembagian keuntungan dan risiko. Selain itu sistem keadilan ini juga bisa diimplementasikan dalam pemberian fasilitas pinjaman yang harus dibebaskan dari beban bunga. Kemudian menurut M. Shabri Abd. Majid, kredit pinjaman dalam bentuk utang harus dijadikan sebagai suatu cara untuk saling tolong menolong. Dalam muamalah, utang-piutang diperbolehkan dan sudah ada aturan yang jelas dalam Islam. Lembaga keuangan juga bisa memberikan  pinjaman/utang lunak (volume utang kecil) dengan instrumen qardhul hasan, untuk membantu masyarakat yang berpendapatan rendah. Namun diketahui, kelompok ini memiliki risiko gagal bayar yang tinggi, maka lembaga pemberi pinjaman harus disubsidi dari lembaga wakaf atau zakat. Sistem ini bertujuan agar mereka yang kaya dan yang miskin dapat saling bersinergi dalam menciptakan kehidupan yang berkeadilan.



Referensi 

Saleem, Maimoona , Ayaz Khan, dan Muhammad Saleem. “Business Ethics in Islam”. The Dialogue XIII, no. 3 : 327-341.

Khan, Shah. “Islamic Perspective of Human Resource Management: Some Salient Features”. The Dialogue XI, no.1 : 83-106.

Ali, Abbas & Al-Aali, Abdulrahman & Al-Owaihan, Abdullah.  “Islamic Perspectives on Profit Maximization”. Journal of Business Ethics (2013) 117: 467–475

Majid, M. Shabri Abd. “Krisis Ekonomi Dan Solusinya Dalam Perspektif Islam: Analisis Krisis Ekonomi Global 2008”. Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam 1, no. 2 (2015): 85-97

Sonyclassics.com. “INSIDE JOB - Sony Pictures Classics”. https://www.sonyclassics.com › insidejob_presskit (diakses 9 April 2021)

Subterritorios. “Why are we here? “ http://www.subterritorios.net/2011/06/it-took-several-weeks-until-i-got.html (diakses 9 April 2021)

Anthropology, Zero. “Documentary Review: “Inside Job” is Still Relevant” https://zeroanthropology.net/2018/05/25/documentary-review-inside-job-is-still-relevant/  (diakses 10 April 2021)

Rizky, Reza Pahlevi. “Summary/Ringkasan Film Documenter Inside Job krisis keuangan global” . https://kaitaninfo.blogspot.com/2016/11/summaryringkasan-film-documenter-inside.html

Christie, Alexandra. “Sinopsis Film Inside Job”. http://purnamailmu9.blogspot.com/2017/04/sinopsis-film-inside-job.html (diakses 9 April 2021)

Merdeka.com. “QS. Al-Baqarah Ayat 42”. https://www.merdeka.com/quran/al-baqarah/ayat-42 (diakses 10 April 2021)

Kemenag, Qur’an. At- Taubah (129)”. https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/9/103 (diakses 10 April 2021)

Suaidi, Al-Ustadz Qomar. “Kewajiban Mencari Rezeki yang Halal”. https://asysyariah.com/kewajiban-mencari-rezeki-yang-halal/ (diakses 10 April 2021)



Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
vivinmh

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format