Membedah Siapa Sebenarnya Pembunuh Ekosistem Laut Global dan Saran Bagi Para Pegiat Ekonomi Islam

Perspektif Islam dalam Serial Neflix Seaspiracy


1
1 share, 1 point

Seaspiracy merupakan film dokumenter yang dirilis oleh Netflix pada 24 Maret 2021 lalu. Film ini menceritakan perjalanan Ali, seseorang yang sadar akan isu lingkungan, dalam mencari sumber kerusakan di laut yang paling berdampak signifikan. Konflik dalam film ini berawal dari temuan bahwa sampah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat ke laut ternyata tidak sebanding dengan limbah alat penangkap ikan yang banyak berserakan di laut. 

Selama perjalanannya, Ali menarik kesimpulan bahwa proses penangkapan ikan seharusnya dihentikan karena metode, sistem bisnis, dan tata kelolanya tidak memberikan ruang bagi keberlanjutan lingkungan lautan. 

Dalam dokumenter tersebut, Ali diceritakan sebagai pelancong yang sedang mencari benang merah atas ketidakadilan manusia terhadap lingkungan, khususnya di lautan. Ali memulai perjalanannya ke Taiji, Jepang. Sesuai dengan literatur yang dibaca sebelumnya, Ali menemukan pembantaian lumba-lumba di pesisir Taiji yang dilakukan dengan dalih kontrol populasi ikan yang ada di perairan Jepang. Selanjutnya, Ali mencoba mengerti lebih dalam tentang dolphin safe, lisensi yang diberikan oleh Departemen Perdagangan US untuk makanan laut (seafood) kaleng yang dalam praktik penangkapan di lautan tidak mematikan lumba-lumba. Dalam penelusuran, Ali menemukan adanya relasi kuasa antara pihak yang memberikan lisensi dolphin safe dengan korporasi-korporasi besar yang memiliki saham di badan usaha penangkapan Ikan di Jepang. Badan usaha tersebut memiliki kapal-kapal ekstraktif yang dapat menjaring tidak hanya populasi ikan target namun juga “ikan besar” (paus, lumba-lumba, hiu, dan lain-lain). Selain itu, seperti yang disampaikan dalam film, terumbu karang sebagai titik awal ekosistem laut juga ikut rusak akibat praktik penggunaan alat tangkap yang hanya mementingkan kuantitas tangkapan tanpa melihat dampak jangka panjang bagi lautan. 

Sebenarnya praktek penangkapan ikan dan sumber daya alam lain bukan suatu hal yang dilarang dalam etika bisnis islam. Namun, dalam ayat yang sama, terdapat pula larangan untuk berbuat kerusakan di bumi. Hal ini dapat dirujuk dari QS Al-Qasas 28:77, 

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”

Hal ini menjadikan ekonomi dan bisnis bukanlah suatu yang dilarang namun sesuatu yang harus dikontrol dan disikapi dengan bijak dan waspada. Sebagaimana esensi dari ekonomi sendiri yang memiliki pangkal pada kesejahteraan bukan pada keserakahan. 

Dalam bisnis, Islam membangun etika dalam dua konsep, yaitu faktor fardhu dan faktor multiplikasi. Faktor fardhu menjadi building blocks kehidupan ekonomi dimana fardhu kifayah menempatkan manusia-manusia dalam peran-peran khusus yang saling bersinergis dan fardhu ain menempatkan manusia-manusia dalam kewajiban yang harus ditunaikan oleh masing-masing pribadi dan tidak dapat diwakilkan (Ali, 2012). Sedangkan faktor multiplikasi adalah luaran dari konsep ihsan, dimana dalam mengerjakan bisnis, ada nilai tambah yang diberikan antar elemen yang saling berkaitan (Ali, 2012). Dalam konteks ini, keberlangsungan lingkungan yang dinarasikan oleh Ali seyogyanya dapat diinterpretasikan sebagai bentuk kewajiban yang tegas, apakah fardhu ain atau fardhu kifayah oleh otoritas sosial yang ada di masyarakat. Hal ini menjadi penting karena dalam prakteknya, tidak banyak yang kemudian mengambil peran sebagai kelompok yang concern dalam proses penjagaan pada keberlangsungan lingkungan.

Selain itu, dalam beberapa diskusi etika dalam islam, masih banyak bentuk peniadaan atas posisi lingkungan dalam kehidupan ekonomi-sosial. Dalam sub bab value based economy, Saleem menyebutkan bahwa ekonomi islam bertumpu pada profit sharing yang kemudian dapat menekan laju inflasi dan pengangguran (Saleem, 2018). Secara sekilas, hal ini tampak adil, namun jika dilihat dari kacamata yang lebih besar, terdapat hal yang dikesampingkan, yaitu keberlangsungan lingkungan. Saleem dalam jurnalnya hanya membahas soal hubungan antar manusia dan kurang memberikan perspektif lingkungan dalam menilai relasi antar manusia dalam konteks ekonomi. 

Hal ini juga diamini oleh aturan produk halal yang tidak mengatur soal keberlangsungan dari bahan baku. Aturan produk halal hanya memasukkan bahan baku, pemrosesan, penyimpanan, pengemasan, distribusi, penjualan, dan pelayanan (Asa, 2019). Padahal, jika kita melihat keadaan sekarang, pemrosesan pra produksi, terutama produk hasil laut, menjadi penting. Seperti yang sudah didokumentasikan di dalam Film Seaspiracy, bahwa banyak sekali praktek penangkapan ikan yang tidak sesuai prosedur dan memberikan dampak negatif bagi lingkungan laut. Ditambah lagi, produk laut adalah salah komoditas yang dijamin kehalalannya (berasal dari laut) yang berkonsekuensi pada tingginya minat / daya beli konsumen muslim terhadap produk hasil laut. 

Melihat adanya kesenjangan antara kesempurnaan Kitab Al-Quran dan implementasi yang masih kurang kontekstual, etika bisnis islam perlu untuk lebih teliti dalam memberikan arahan dalam penjagaan atas lingkungan. Sesuai dengan perintah QS Al-Qasas 28:77, frasa “…janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi” harus ditegakkan dalam peraturan/fatwa yang mengikat. Hal ini dapat dimulai dengan menambahkan faktor pra-produksi (penangkapan ikan yang tidak memberikan efek negatif pada keberlangsungan lautan) produk hasil laut sebagai syarat halal produk hasil laut. Walaupun tampak sederhana, syarat ini dapat menjadi game-changing factor yang memiliki kekuatan memaksa dan memiliki bargaining power yang besar dengan melihat fakta demografis masyarakat Indonesia yang sebagian besar sangat memperhatikan kehalalan dalam mengkonsumsi produk pangan. Selain itu, pengarusutamaan isu lingkungan dalam mimbar-mimbar ceramah perlu digiatkan. Hal ini dapat menjadi pemantik kajian lebih lanjut tentang kewajiban/fardhu mengenai keberlangsungan lingkungan, apakah kewajiban kolektif atau kewajiban yang dibebankan pada tiap individu. Harapannya, baik secara kultural maupun formil, terjadi keserasian dalam proses penjagaan atas keberlangsungan lingkungan. 

Sumber:

Ali, Abbas & Al-Aali, Abdulrahman & Al-Owaihan, Abdullal. (2013). Islamic Perspectives on Profit Maximization. Journal of Business Ethics. 117. 1-0. 10.1007/s10551-012-1530-0.

Asa, Rokshana Shirin. (2019). An Overview Of The Developments Of Halal Certification Laws In Malaysia, Singapore, Brunei And Indonesia. Jurnal Syariah, Jil. 27, Bil. 1 (2019) 173-200

Saleem, Maimoona, et al. (2018).Business Ethics in Islam.The Dialogue, vol. 13, no. 3, p. 327. Accessed 9 Apr. 2021.

Muhammad Farhan
17/408778/EK/21350


Like it? Share with your friends!

1
1 share, 1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format