Perspektif Islam terhadap Praktik Bisnis Perwalian di Film I Care a Lot

Praktik Bisnis Eksploitasi, Penelantaran dan Pemerasan pada Lansia di Amerika Serikat Berkedok Perwalian.


1
1 point

I Care a Lot menceritakan tentang praktik bisnis perwalian di Amerika Serikat yang penuh dengan tindakan pemerasan, eksploitasi dan praktek yang salah secara moral. Marla Grayson, telah bertahun-tahun menjalankan bisnis perwalian dan memiliki kuasa penuh di Kota Massachusets. Perwalian yang seharusnya memiliki tujuan mulia untuk mengurus para lansia yang sudah tidak dapat mengurus diri mereka sendiri dijadikan lahan bagi Marla untuk mendapatkan keuntungan. Praktik bisnis keji yang dijalankan oleh Marla dengan memetakan lansia dan orang-orang yang sudah tidak memiliki keluarga, hidup sendiri namun memiliki harta yang berlimpah. Kemudian ia bekerja sama dengan rumah sakit dan dokter untuk mendiagnosis seorang lansia tersebut memiliki penyakit atau dinyatakan tidak mampu untuk mengurus hidup mereka sendiri. Maka dari itu, Ia mengajukan diagnosis tersebut kepada pengadilan dan otoritas setempat agar Ia ditunjuk langsung menjadi wali dari seorang lansia tersebut. Berkedok rasa perhatian dan fasilitas yang didapat oleh lansia tersebut, Ia yang diberi kuasa untuk mengelola aset maupun kekayaan client nya kemudian menjual dan menguras kekayaan client tersebut. 

Bisnis immoral ini nyatanya pernah terjadi di Amerika Serikat dan pada kasus yang dilakoni Marla, banyak oknum dari pihak kepolisian hingga dokter ikut berperan dalam praktik tersebut dan memiliki bagian keuntungan yang dijanjikan oleh Marla dalam kerja sama mereka. Ia bersama seorang partnernya selama bertahun-tahun menjalankan praktik bisnis tersebut hingga pada suatu kesempatan Ia mengincar seorang lansia perempuan yang ternyata merupakan ibu dari pimpinan gangster paling ditakuti di kota tersebut. Konflik pun terjadi antara Marla yang memiliki kuasa di beberapa tempat seperti kepolisian, rumah sakit dan pengadilan untuk menahan seorang lansia perempuan tersebut dengan pimpinan gangster yang memiliki pengaruh pada kota tersebut untuk mempertahankan ibunya dari jeratan Marla. 

Perwalian dijadikan kedok untuk memeras, merampas dan menelantarkan Lansia Tajir namun sudah tidak berdaya

                Perwalian pada tujuan awalnya merupakan upaya yang sangat mulia sebagai penolong dan upaya otoritas dalam menjamin lansia yang hidup sebatangkara atau tidak sanggup mengurus kehidupan mereka sendiri. Namun, di tangan keji Marla Grayson upaya mulia tersebut berubah menjadi pemerasan, penipuan dan praktik jahat berkedok perwalian yang digunakan untuk memperkaya dirinya sendiri. Permasalahan inti dari praktek bisnis tersebut bukan hanya melibatkan dua tokoh saja,  melainkan antara Marla Grayson dengan seluruh client lansia yang telah dia dzolimi. Marla Grayson yang sebelumnya telah berhasil mendulang kekayaan dari berbagai client bertemu dengan Roman Lunyov sehingga dapat membangun kerajaan bisnis perwalian di berbagai negara bagian Amerika. Seperti menerima balasan dari semua perbuatan kejinya, ia ditembak mati oleh Feldstrom yaitu seorang anak dari mantan client Marla yang telah meninggal dunia akibat upaya manipulatif yang ia lakukan sehingga Fieldstrom tidak dapat bertemu Ibunya hingga akhir hidup Ibunya. Maka dua tokoh yang dapat dijadikan fokus utama dalam pembahasan ini adalah Marla Grayson sebagai pelaku dan Tuan Fieldstorm yang menjadi korban. Karena praktik perwalian tersebut dijalankan secara sistematis, maka melibatkan banyak pihak baik yang mendukung Marla dan pihak-pihak yang dirugikan baik client dan keluarga mereka yang terjebak terlebih dirugikan dengan adanya bisnis tersebut. Kita akan menganalisis bagaimana praktik bisnis keji tersebut salah secara moral dan ajaran dalam Islam. Lalu, Bagaimana sudut pandang Islam terkait praktik bisnis yang diangkat dalam film ini? Apa solusi dalam sudut pandang Islam yang dapat memecahkan permasalahan dalam praktik bisnis tersebut? Akan kita urai dan jabarkan pada artikel ini. 

Kasus kejahatan berkedok Perwalian ini ternyata sudah marak terjadi Amerika Serikat

Kasus eksploitasi, penipuan dan penelantaran oleh program perwalian (guardianship) telah lama terjadi di berbagai belahan dunia terutama di Amerika Serikat. Laporan mengenai kasus eksploitasi keuangan, penelantaran dan penindasan terhadap lansia dalam program perwalian (guardianship) yang diterbitkan oleh US Government Accountability Office (US.GAO) pada tahun 2010 dalam rentang tahun 1990-2000 dilakukan investigasi khusus terhadap dua puluh kasus terpilih dan menghasilkan informasi berupa nilai kerugian dan aset yang dieksploitasi oleh perwalian sebesar $5.4 juta dengan 158 korban yang sudah tidak lagi memiliki kapasitas untuk mengurus dirinya sendiri (GAO,2010). Berikut merupakan ringkasan kasus yang diteliti oleh GAO. 

Sumber : GAO Elderly Guardianship Report 2010

Berdasarkan tabel ringkasan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa bisnis eksploitasi berkedok perwalian ini menyasar lansia dengan kondisi penurunan kemampuan diri atau penyakit tertentu. Contohnya pada tabel di atas dapat dilihat bahwa pada kasus pertama korban merupakan seorang laki-laki tua berumur 87 tahun yang mengidap penyakit Alzheimer’s dimana penyakit tersebut membuat penderita mengalami penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan berbicara serta perubahan perilaku secara bertahap. Wali dari lansia ini mencuri uang milik pasiennya sebesar $640.000 dan menyembunyikan pria tua tersebut di rubanah yang dengan kondisi yang tidak layak, memakai rok dengan popok yang tidak diganti secara berkala. Hal tersebut tentunya sangat tidak memanusiakan manusia dan mengambil hak orang lain dengan cara yang keji. Jurnal yang diterbitkan oleh Dana Fitzsimons bertajuk Elder Financial Abuse, Guardianship Litigation, and the Pre-Death Will Contest (Fitzsimons, 2012) dalam penelitiannya menemukan beberapa faktor mengenai penargetan lansia dengan penurunan tingkat kemampun fisik maupun mental yaitu golongan lansia memiliki kekayaan dengan proporsi 70% dari kekayaan negara, disabilitas dan bergantung pada bantuan dari orang lain untuk beraktivitas, pola perilaku yang dapat mudah di prediksi, keumungkinan untuk meninggal lebih dulu sebelum dapat melaporkan tindakan abuser dan ketidakmampuan untuk menggunakan teknologi yang dapat digunakan dengan efektif dan cepat apabila ingin meminta pertolongan dan melaporkan perwalian. Namun, praktik bisnis ini juga didukung oleh beberapa faktor yang terjadi pasaran. 

The National Center for State Court pada laporannya yang berujudul Guardianship Court Data and Issues mendapatkan temuan dari survei daringnya dengan kesimpulan sebagai berikut (1) Kualitas dari data perwalian lansia yang dimasukan dan diadministrasikan banyak ditemukan kesalahan dan tidak wajar sehingga ketidak akuratan data tersebut tentunya menjadi pertanda celah dari praktik bisnis ini, (2) Permintaan terhadap perwalian lansia meningkat, (3) Minimnya wali-wali profesional yang benar-benar memiliki izin dan sertifikasi sehingga pengadilan banyak yang menunjuk wali yang merupakan relatif, keluarga bahkan wali lokal yang belum jelas tujuan dan kepentingannya dan (4) Pengawan terhadap perwalian oleh pengadilan ini dinilai sangat sulit karena banyaknya jumlah kasus perwalian yang ditangani. Di Amerika Serikat sendiri sudah terdapat peraturan dan landasan hukum bagi praktik perwalian yang diatur oleh Uniform Power of Attorney Act (UPOAA) – Uniform Law Commission yang mana seharusnya penipuan dan eksploitasi tersebut dapat dijerat dengan hukuman karena pada UPOAA Pasal 114 menyebutkan kewajiban dari agen/wali untuk dapat berperilaku baik dan dengan tujuan kebaikan client, bertindak hanya dalam otoritasnya saja dan tidak mengeksploitasi/mengambil alih aset maupu properti client, bertindak loyal untuk kesejahteraan client, berperilaku dan bekerja dengan perhatian, kompetensi, dan menyesuaikan dengan kondisi client. 

Sudut pandang Islam terkait praktik bisnis Perwalian pada film I Care a Lot

Analisis Fenomena Bisnis Tersebut menggunakan konsep Spiritual Leadership untuk kepemimpinan yang Islami (Eleftheria Egel and Louis W. Fry, 2017)

Dalam proses pembuatan bisnis yang dapat bertahan dan bekerlanjutan dibutuhkan penerapan kepemimpinan spiritual sebagai kepemimpinan islam yang bertujuan baik dan tidak merugikan orang lain. Pada artikel (Eleftheria Egel and Louis W. Fry, 2017) mengenalkan konsep spiritual leadership yang menyatakan bahwa kepemimpinan Islam adalah hubungan segitiga antara Tuhan, Pemimpin dan Pengikutnya. Tuhan menanamkan visi kepada para pemimpin dan membatasi kekuasaan mereka sehingga nantinya para pengikut bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan dan kerjakan sebagai pemimpin. Kualitas kepemimpinan spiritual yang fundamental yaitu stewardship, servanthood and mutual consultatio. Model dari konsep kepemimpinan tersebut yaitu : 

Description: Manfaat Spiritual Leadership bagi Pertumbuhan Pribadi Pemimpin dan Karyawan - ACT Consulting

Sumber : ACT Consulting

Unsur

Marla Greyson

Mr. Fieldstorm

Vision (Ihsan & Falah)

Marla bertujuan untuk mendapatkan keuntungan melalui perwalian yang ditujukan untuk lansia kaya yang sudah tidak dapat mengurus diri sendiri. Pada film pun ditunjukkan ambisi Marla bersama rekannya yang memiliki visi untuk menargetkan sebanyak mungkin korban lansia yang dapat ia eksploitasi. Tentunya hal ini sudah bertentangan dengan visi dalam kepemimpinan spiritual yang harusnya memiliki tujuan baik dan amanah berlandaskan keyakinan pada ajaran Islam. 

Fieldstrom memiliki tujuan untuk membebaskan ibunya yang sebelumnya telah diputuskan pengadilan untuk berada dibawah perwalian Marla. Ia dengan semaksimal mungkin berjuang di pengadilan untuk mengupas praktik perwalian Marla yang sebenarnya dimana Ia dilarang untuk bertemu Ibunya, seluruh aset hingga rumah Ibunya dijual oleh Marla dengan dalih untuk memenuhi biaya kebutuhan ibunya dalam pengawasan Marla. Visi dari Mr.Fieldstorm merupakan visi mulia yang ingin membebaskan ibunya dari eksploitasi Marla

Hope (Iman & Islam)

Untuk mencapai tujuannya, Marla bekerja sama dengan berbagai pihak mulai dari kepolisian Kota Massachusets, dokter yang merupakan rekan Marla yang membantunya untuk mendiagnosis lansia agar direkomendasikan kepada pengadilan karena tidak dapat mengurus dirinya sendiri dan menunjuk Marla sebagai wali hingga panti perwalian untuk mengatur obat dan konsumsi dari Ibu Fieldstorm agar ia tetap tidak berdaya selagi Marla menguras habis harta korbannya. 

Untuk mencapai tujuannya membebaskan Ibunya dari Marla, Fieldstorm dengan semangat menggugat Marla dan Perwaliannya ke pengadilan dengan berbagai bukti yang berhasil ia kumpulkan. 

Bahkan ketika dinyatakan kalah pun Ia tidak menyerah begitu saja dan terus mendesak Marla untuk membebaskan Ibunya. 

Altruistic Love (Rahmah)

Namun, sisi positif dari Marla yaitu ia merupakan sosok wanita cerdas, pekerja keras dan cerdik. Ia juga menunjukkan sisi kemandirian dimana ia berhasil membangun lembaga perwaliannya hingga ke seluruh dunia. Ia pun sempat diculik dan ditenggelamkan ke danau namun tekad dan semangatnya sangat kuat hingga ia bisa melarikan diri dan selamat. Ia pun juga menjalin hubungan yang baik dengan partner sekaligus kekasihnya dalam setiap aksi yang ia jalankan.

Mr. Fieldstorm amat berbakti kepada Ibunya dan memperjuangkan kebebasan Ibunya dengan berbagai cara. Ia pun tak gentar melawan Lembaga Perwalian Marla di pengadilan. 

Sampai suatu saat Ia rela menjadi penjahat dengan menembak mati Marla. Hal tersebut karena hingga akhir hayat Ibunya, Ia tidak dapat bertemu karena dilarang dan dibatasi oleh Marla. 

Dalam kasus tersebut dapat disimpulkan dalam memiliki tujuan/inner life baik berupa self agency, self awareness dan core values merupakan hal penting karena inner life tersebut akan mempengaruhi aspek selanjutnya dalam model kepemimpinan spiritual yaitu vision, hope dan altruistic love. Tindakan yang dilakukan oleh Marla tersebut telah menyimpang dari dari salah satu ayat Al-Qu’ran yaitu QS. Al-Fatir 35 ayat 3 dimana Allah SWT berfirman “Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?”. Marla seharusnya dapat menghindari jalan keserakahan, menipu, dan mengeksploitasi dimana hal tersebut juga merugikan orang lain. Dengan menerapkan Tauhid kepada Allah SWT, tentunya kita akan lebih berserah namun juga berjuang sehingga dapat terus bertindak di jalan kebaikan. 

Analisis Emotional Intelligence and Organizational Citizenship Behaviour (Haider, 2015) pada Bisnis Perwalian Marla Grayson

Aspek selanjutnya yaitu analisis tingkat intelegensi emosional individu yang berbeda-beda sehingga dengan adanya ajaran agama Islam dapat mendukung penerapan nilai profesionalitas kerja dengan pengelolaan emosi yang baik. Dalam jurnalnya, Haider menjelaskan bahwa seorang pemimpin bisnis/organisasi tetap perlu memberikan benefit yang baik dan menjalin hubungan interpersonal yang erat dengan karyawannya untuk menciptakan Organizational Citizenship Behaviour yang baik. 

Unsur

Marla Greyson

Mr. Fieldstorm

Emotional Intelligence

Dalam berbagai adegan, Marla menunjukkan bahwa Ia memiliki Emotional Intelligence yang baik. Bahkan ia bisa tetap tenang dalam menghadapi pengadilan yang dimana pengakuan keluarga korban berhasil menyudutkannya. Ia pun juga bertindak bijak ketika ia diserang oleh Mr. Fieldstorm yang meludahi Marla ketika selesai pengadilan. Hal ini menunjukkan bahwa Marla dapat berfikir secara rasional dan paham betul dengan konsekuensi akan tindakannya. 

Fieldstrom dalam beberapa adegan memperlihatkan tingkat emotional intelligence yang buruk. Ia seringkali terbawa emosi dan akhirnya tidak dapat berfikir rasional maupun logis dalam menghadapi Marla di pengadilan. Hal ini juga ia tunjukkan ketika amat kesal dengan Marla dan meludahi Marla di depan umum. Terlebih lagi ia juga menembak mati Marla sebagai upaya balasa dendam kematian Ibunya yang membuat Ia juga harus diadili akibat perbuatannya. 

Organizational Citizenship Behaviour

Membesarkan bisnis yang beresiko tinggi tersebut memerlukan kemampuan sumber daya manusia yang tinggi. Ia pun tidak segan memberikan bonus yang tinggi dan pembagian hasil kepada siapa saja yang bekerja sama dengannya dalam mencapai tujuan bisnisnya. 

Mr. Fieldstrom seharusnya dapat membentuk koalisi dan mengorganisasikan korban-korban Marla. Namun hal tersebut tidak dilakukan sehingga OCB belum ditemukan pada tindakan korban-korban Marla terutama Mr. Fieldstorm 

Analisis Etika Bisnis dalam Islam (Saleem et al (2018) pada Bisnis Perwalian Marla Grayson

Etika Bisnis dalam Islam merupakan perilaku atau tindakan yang sesuai dengan nilai atau ajaran Islam sebagai landasan dalam menjalankan bisnis. Hal tersebut bertujuan agar bisnis memiliki tujuan yang baik, tidak merugikan diri sendiri dan orang lain terlebih lagi dapat bertahan. Prinsip utama dalam etika bisnis dalam Islam yaitu kejujuran dan merupakan pondasi kuat untuk keberlangsungan bisnis. Kepercayaan yang timbul dari kejujuran lah yang membuat konsumen untuk membeli produk/jasa yang ditawarkan bisnis kita, kejujuran juga yang membuat seluruh bagian organisasi bisnis baik karyawan, atasan hingga pemimpin dapat saling berintegrasi dengan baik. 

Allah SWT berfirman pada surah An Nisa Ayat 29 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” Nilai dan ajaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah untuk menerapkan kejujuran pada bisnis yang dijalankan dan apa yang dijalankan Marla menyalahi unsur kejujuran dalam ajaran ini dimana untuk mendapatkan keuntungan ia menjalankan bisnis dengan menipu, merampas hak orang lain dan membawa penderitaan untuk orang-orang disekitar korban. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa perwalian Marla ini tidak etis dalam perspektif etika bisnis Islam. 

Lalu, Solusi apa yang dapat diterapkan dalam mengatasi permasalahan tersebut yaitu:

Memperketat Regulasi dalam Mengatur Perwalian

Dapat dilihat dari penjelasan sebelumnya bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada sistem perwalian di AS mulai dari minimnya kompetensi lembaga perwalian dan masih sedikit yang mempunya sertifikasi, track record dari pelaku perwalian yang masih belum dapat diawasi dengan baik dan sanksi yang belum maksimal diterapkan dalam menjerat pelaku perwalian yang yang menyimpang. Maka dari itu, penting untuk pemerintah agar dapat memperketat regulasi perwalian dari awal pendaftaran mereka agar dapat meminimalisir oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bagaimanapun juga regulasi yang dilakukan pemerintah merupakan upaya dari memberikan peringatan dan mendukung kebaikan seluruh pihak yang mana Allah SWT pernah bersabda pada Surah Adz Dzaariyaat ayat 55 “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin”. 

Membentuk platform whistle blower

Belum ada dan terintegrasinya sistem pengaduan terhadap perwalian menjadikan oknum dan kasus ini semakin marak terjadi. Platform atau sistem Whistle Blower ini nantinya dapat melaporkan tindakan menyimpang dalam perwalian yang dapat digunakan oleh korban bahkan karyawan yang masih memiliki niat baik dalam perwalian tersebut untuk melaporkan tindakan kejahatan baik secara anonimus maupun tidak. Karena penting untuk pemerintah dalam mengakomodasi orang-orang yang masih peduli dan berniat menegakkan kebenaran ketika melihat praktik bisnis yang tidak etis ini. Allah SWT berfirman pada Surah An Nisa ayat 135 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' Sehingga penting untuk kita dapat selalu menegakkan kebenaran apapun konsekuensi dan kondisinya. 

Referensi : 

Abbas Haider, S. N. (2015). The relationship between emotional intelligence (EI) and organizational citizenship behavior (OCB): The moderating role of Islamic work ethics (IWE). ASEAN Journal of Psychiatry, 16(1), 99-109.

Egel, Eleftheria & Fry, Louis. (2016). Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership. Public Integrity.

Fitzsimons, D. G. (2012). Elder financial abuse, guardianship litigation, and the pre-death will contest.

GAO Report (2010). Guardianship; Cases of Financial Exploitation, Neglect, and Abuse of Seniors.

Saleem, Maimoona, Ayaz Khan, and Muhammad Saleem. "Business Ethics in Islam." Dialogue (Pakistan) 13.3 (2018)

Penulis :

Christian Dwi Budiman
18/426624/EK/21955


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format