The Wolf of Wall Street: Kejahatan Perusahaan Investasi Dalam Perspektif Islam

Jordan Belfort membangun perusahaan investasi di wall street dengan cara yang unik dan berbeda, simak lebih lanjut pada blog ini!


2
2 points

Siniopsis

Pada tahun 1987, seorang Jordan Belfort muda memulai karirnya di sebuah perusahaan pialang wall street. Setelah 3 tahun bekerja di perusahaan tersebut, Jordan Belfort menjadi sales yang sangat handal di industri keuangan. Selanjutnya Jordan Belfort bekerja untuk pialang saham receh/penny stocks setelah terkena PHK dari perusahaan pialang saham di wall street. Setelah mengumpulkan pengalaman di dunia keuangan, Jordan mendirikan perusahaannya sendiri pada awal tahun 1990-an bernama Stratton Oakmont. Bersama dengan temannya terpercaya dan sekelompok pialang yang ceria, Jordan menghasilkan banyak uang dengan menipu jutaan investor kaya.

Dengan penipuan ini, Stratton Oakmont menjadi salah satu perusahaan pialang saham terbesar hingga berpindah ke Wall Street, salah satu jalanan elit untuk perusahaan investasi di Amerika Serikat. Hingga Forbes menggunakan kata kata “The Wolf of Wall Street” atau Serigala dari Wall Street. Hal ini didasarkan pada perbuatan dan metode yang dilakukan Stratton Oakmont untuk mendapatkan investor. Dalam prosesnya, Jordan dan rekan rekannya juga melakukan praktek minuman keras, seks bebas, obat obatan yang hedonistik. Hingga FBI dan SEC menelusuri jejak Jordan Belfort, dan berniat untuk meringkusnya. 

Inti Permaslaahan

Permasalahan yang dimiliki Jordan dapat menjadi kajian kita hari ini untuk mengkaji kriminalitas bisnis keuangan dalam perspektif islam. Ditambah tradisi dari kehidupan di industri keuangan Amerika Serikat sangat tidak mencerminkan nilai nilai islami bahkan kemanusiaan pada umumnya. Tradisi ini kebanyakan dipengaruhi oleh kehidupan borjuis yang dianut di Wall Street dan sekitarnya. Mari kita kaji lebih lanjut mengenai problematika ini! 

Perkembangan Kejahatan Keuangan Hingga Dekade Ini

Pada data diatas, dapat kita perhatikan bahwa hal yang terjadi di Wall-street kala itu bukanlah yang terakhir kali. Dimana sebanyak 2155 kasus penggelapan dan penyelewengan dana terjadi pada dekade 2004-2014. Hal ini menandakan bahwa industri keuangan merupakan industri yang rawan kecurangan dan kriminalitas tinggi. Pada gambar diatas juga dapat diperhatikan banyaknya tindak pidana kriminal berupa penghindaran pajak, penggunaan kartu kredit tanpa hak, stempel pajak pembelian palsu, dsb.

(Data PriceWaterhouse Coopers Fraud Survey 2020)

Di dunia yang lebih modern, tepatnya pada tahun 2020, perkembangan penipuan pada industri keuangan tidaklah semakin baik. Tahun 2020 juga merupakan tahun terbanyak terjadi penipuan pada sektor keuangan sejak 2 dekade terakhir. Jika dikaitkan dengan Stratton Oakmont, penipuan berbentuk Asset Misappropriation atau penyelewengan aset masih menjadi top 3 dalam penipuan paling populer. Ditambah 47% perusahaan mengalami penipuan pada 20 tahun terakhir ini. Data tersebut menggambarkan bahwa, pihak pihak yang tidak bertanggung jawab atas keuangan investor masih berkeliaran dalam jumlah yang besar.

Dari data diatas, menandakan bahwa perusahaan pada industri keuangan masih banyak yang menyalahi etika dalam berbisnis itu sendiri. Etika bisnis secara umum dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. Utilitarian

  2. Right atau Hak 

  3. Justice atau Keadilan

Analisis Artikel I: Business Ethics in Islam

Dalam artikel ini, Saleem et al menjelaskan etika etika berbisnis dalam islam. Etika bisnis dalam islam merupakan sekumpulan etika dalam perdagangan melalui titik titik perhatian islam terhadap perniagaan. Berbeda dengan konsep umum yang telah dijelaskan sebelumnya, konsep etika berbisnis dalam islam memiliki beberapa komponen konsep yang dapat dikaitkan dengan kasus Stratton Oakmont:

  1. Konsep Halal-Haram

    Dalam islam, semua aktivitas di dunia ini diatur dalam konsep halal-haram, atau biasa pula dikenal sebagai konsep kewajiban dan larangan. Suatu aktivitas dapat dikatakan halal dan haram harus memiliki dalil yang kuat dalam Al-Quran dan Al-Hadist, maupun tafsir dari para Ulama. Dalam kasus ini, Jordan Belfort melakukan penipuan pada investornya hingga ratusan juta dolar. Penipuan merupakan jenis aktivitas yang bersiat haram bagi umat manusia, dan merugikan manusia lain. Sehingga tidak memenuhi konsep hablum minallah hablum minannas. Adapun dalil yang menjelaskan dilarangnya tindakan penipuan adalah Hadits riwayat Muslim dan Tirmidzi yang berbunyi:

    Rasulullah SAW bersabda :

 افلا جعلته فوق الطعام كى يراه الناس؟ من غش فليس منا (رواه مسلم و ترمذى) 

“Kenapa engkau tidak meletakkannya di atas agar bisa dilihat oleh pembeli? Barang siapa yang menipu, ia bukan termasuk golonganku. (Hadits riwayat Muslim dan Turmudzi)”

  1. Konsep Jaminan Hak

    Hak hak dalam kehidupan dan berbisnis termasuk hal yang dilindungi dalam islam. Stratton Oakmont melakukan praktek pengambilan hak atas orang lain dalam wujud penipuan dan penyelewengan dana investor. Hal ini dilarang dalam Al Quran pada Surat An Nisa Ayat ke 29 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS 4:29)

  1. Konsep Kesederhanaan

    Menjadi pedagang muslim berarti kesederhanaan merupakan hal yang harus melekat dalam jiwa kita. Sedari kecil, kita mempelajari bagaimana Qarun kehilangan seluruh harta duniawi nya karena kesombongannya dan kehidupannya yang tidak sederhana. Pun Jordan Belfort dalam film ini, hidup foya foya memanfaatkan kekayaannya untuk konsumsi narkotika, prostitusi, dan minum-minuman. Dalam Islam, Allah tidak menyukai orang orang yang melampaui batas. Dijelaskan dalam Surat Al Maidah Ayat 87 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS 5:87)

Analisis Artikel II: Islamic Perspectives on Profit Maximization 

Artikel ini mengulas tuntas konsep maksimalisasi profit yang sering dilakukan oleh perusahaan perusahaan di dunia. Dalam artikel ini, salah satu hal yang dilarang dalam perniagaan islami adalah penipuan atau fraudulent. Hal ini jika dikaitkan dengan yang terjadi di Stratton Oakmont, perusahaan ini melakukan operasional bisnis berbasis penipuan pada investor. Melalui konsep larangan ini, dapat dikatakan Stratton Oakmont telah melakukan hal yang menyimpang dari ajaran islam. Adapun dalil yang mendukung larangan ini adalah tiga ayat awal Quran Surah Al Muthaffifin:

وَيۡلٌ لِّلۡمُطَفِّفِيۡنَ

1. Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

الَّذِيۡنَ اِذَا اكۡتَالُوۡا عَلَى النَّاسِ يَسۡتَوۡفُوۡنَ

2. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,

وَاِذَا كَالُوۡهُمۡ اَوْ وَّزَنُوۡهُمۡ يُخۡسِرُوۡنَؕ

3. dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.

Setelah memahami larangan dalam penipuan sebagai upaya maksimalisasi profit, mari kita simak dua prinsip perniagaan dalam islam serta mengkaji kasus Jordan Belfort dan Stratton Oakmont dalam kedua prinsip tersebut:

Prinsip I: Asas Suka sama suka

Yang menjadi prinsip pertama perniagaan atau perdagangan dalam islam adalah prinsip suka sama suka antara penjual dan pembeli. Prinsip ini terdengar sedikit tidak spesifik, namun mencakup prinsip perdagangan islam secara komprehensif. Dalam perdagangan Islam, tidak diinginkan satu pihak pun yang merasa dirugikan atau dizalimi oleh pihak yang lain. Sehingga suatu perdagangan harus menganut asas suka sama suka. Adapun jika kita membahas kasus The Wolf of Wall Street ini, akad dari investasi yang dipercayakan pada perusahaan Stratton Oakmont tidak dipegang teguh oleh perusahaan tersebut. Penipuan dan penggelapan dana investasi yang dilakukan Stratton Oakmont ini tidak memenuhi asas suka sama suka, karena ketidakpahaman investor akan aliran investasi yang dilakukan perusahaan tersebut, dalam kata lain tidak adanya transparansi kepada investor. Dalam film tersebut pula banyak investor yang marah karena berulang kali Stratton Oakmont masuk berita TV nasional dengan isu yang tidak baik. Selanjutnya mari kita simak dalil yang menjelaskan asas ini:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ 

Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka. [HR. Ibnu Mâjah dan dinyatakan shahih oleh al-Albâni].[1]

Prinsip II: Tidak Merugikan Orang Lain

Berhubungan dengan prinsip pertama, prinsip kedua adalah tidak merugikan orang lain. Stratton Oakmont sebagai perusahaan investasi menciptakan kerugian sebesar 200 juta dollar pada investor dari berbagai macam kalangan. Dengan hal ini, berarti Stratton Oakmont tidak melaksanakan kedua prinsip perniagaan dalam islam tersebut. Sehingga secara prinsipal, Stratton Oakmont tidak merupakan bisnis yang dijalankan dengan cara islami.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ 

Janganlah engkau saling hasad, saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), saling membenci, saling merencanakan kejelekan, saling melangkahi pembelian sebagian lainnya. Jadilah hamba-hamba Allâh yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidaklah ia menzhalimi saudaranyanya, tidak pula ia membiarkannya dianiaya orang lain dan tidak layak baginya untuk menghina saudaranya.[HR. Bukhâri, no. 5717 dan Muslim, no. 2558]

Analisis Artikel III: Analisis Artikel “Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership 

Kepemimpinan Spiritual

Jordan Belfort

Vision

Merupakan CEO yang memiliki visi untuk menahkodai Stratton Oakmont. Visi dan ambisi tersebut sangat besar lantaran karyawan Stratton Oakmont sangat loyal pada Jordan. Walau memiliki visi sebagai CEO, Jordan merupakan pemimpin yang tidak memiliki visi untuk menjadi “bersih”. Hal ini berarti Jordan selalu ingin bermain dengan segala kekotoran dalam institusi keuangan tersebut

Faith

Islam mendorong para pemimpin untuk mengekspresikan keyakinan mereka melalui aktif partisipasi dalam semua aspek kehidupan, termasuk kerja. Jordan merupakan pemimpin yang motivasional dan menginspirasi karyawan karyawannya. Namun, kinerja Jordan tidaklah baik karena pengaruh narkotika dan prostitusi.

Altruistic Love

Komponen ini meliputi integritas dan kejujuran. Jordan Belfort merupakan seorang penipu ulung dengan segala upaya yang ia lakukan. Dengan demikian, Jordan tidak memenuhi kualitas ini.

Problem Solving

1. Melakukan Penyuluhan Mengenai Etika Bisnis Umum Maupun Islami 

Yang dapat disimpulkan dalam film ini adalah minimnya etika pada bisnis di sektor keuangan. Sehingga lembaga pemerintahan atau swasta dapat melakukan penyuluhan 

2. Hendaknya Mempelajari Bisnis Dalam Islam Guna Memperoleh Barakah dalam Setiap Rezeki

Mempelajari Business in Islam tidak ada salahnya untuk orang muslim maupun non muslim. Islam selalu mengajarkan nilai dan prinsip yang menguntungkan dan beretika tanpa merugikan pihak manapun.

Referensi:

Ali, Abbas & Al-Aali, Abdulrahman & Al-Owaihan, Abdullal. (2012). Islamic Perspectives on Profit Maximization. Journal of Business Ethics. 117. 1-0. 10.1007/s10551-012-1530-0.

Saleem, Maimoona, et al. “Business Ethics in Islam.” The Dialogue, vol. 13, no. 3, 2018, p. 327. Gale Academic OneFile, . Accessed 10 Apr. 2021.

Egel, Eleftheria & Fry, Louis. (2016). Spiritual Leadership as a Model for Islamic Leadership. Public Integrity. 19. 10.1080/10999922.2016.1200411.

https://almanhaj.or.id/3549-untung-segunung-kenapa-tidak.html

https://www.pwc.com/fraudsurvey

https://www.mckinsey.com/business-functions/risk/our-insights/financial-crime-and-fraud-in-the-age-of-cybersecurity


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format