Decision Making, Learning, Creativity, and Entrepreneurship


0

Gambaran Umum

Bab ini akan membahas bagaimana manajer membuat keputusan; mengeksplorasi bagaimana faktor individu, kelompok, dan organisasi mempengaruhi kualitas keputusan yang mereka buat; dan menentukan kinerja organisasi.

I. Sifat Pengambilan Keputusan Manajerial (The Nature of Managerial Decision Making)

Salah satu tugas utama yang dihadapi seorang manajer adalah mengelola lingkungan organisasi. Untuk menghadapi peluang dan ancaman baik karena kekuatan dari lingkup eksternal maupun internal, manajer harus membuat keputusan, di mana mereka harus memilih satu solusi dari serangkaian alternatif. Pengambilan keputusan adalah proses di mana manajer menanggapi peluang dan ancaman dengan manganalisis pilihan-pilihan dan membuat penentuan atau keputusan tentang tujuan organisasi dan tindakan yang akan diambil. Keputusan yang baik akan menghasilkan pemilihan tujuan serta pengambilan tindakan yang tepat yang dapat meningkatkan kinerja organisasi. Sebaliknya, pengambilan keputusan yang buruk dapat menurunkan kinerja organisasi. Berikut jenis-jenis pengambilan keputusan:

A. Pengambilan Keputusan Terpogram dan Tidak Terprogram (Programmed and Nonprogrammed Decision Making)

Terlepas dari keputusan spesifik yang dibuat manajer, proses pengambilan keputusan bisa terprogram atau tidak terprogram.

1. Pengambilan Keputusan Terpogram (Programmed Decision Making)

Keputusan terprogram adalah keputusan yang telah dibuat berkali-kali di masa lalu sehingga manajer telah mengembangkan aturan atau pedoman untuk diterapkan ketika sebuah situasi tertentu terjadi. Contohnya adalah, manajer kantor mungkin selalu memesan persediaan dalam jumlah yang sama. Hal ini merupakan pengambilan keputusan terpogram karena manajer kantor tidak perlu berulang kali membuat penilaian baru tentang apa yang harus dilakukan.

Mereka dapat mengandalkan aturan keputusan yang sudah lama dibuat seperti ini:

  • Aturan 1  : Jika rak penyimpanan tiga perempat kosong, pesan lebih banyak kertas                   fotokopi.
  • Aturan 2  : Saat memesan kertas, pesanlah secukupnya untuk memenuhi rak.

Dalam pengambilan keputusan terprogram, manajer mengembangkan aturan dan pedoman untuk mengatur semua kegiatan rutin organisasi.

2. Pengambilan Keputusan Tidak Terpogram (Nonprogrammed Decision Making)

Pengambilan keputusan tidak terpogram diperlukan untuk keputusan-keputusan yang tidak rutin terjadi sebagai tanggapan atas peluang dan ancaman yang tidak biasa dan tidak dapat diprediksi. Contoh pengambilan keputusan tidak terprogram termasuk keputusan untuk berinvestasi dalam teknologi baru, mengembangkan jenis produk baru dan meluncurkan kampanye promosi baru.

Ada 2 cara yang dilakukan manajer dalam mengambil keputusan di tengah absennya aturan keputusan, yaitu berdasarkan intuisi (intuition) dan penilaian yang beralasan (reasoned judgement).

  • Intuisi (intuition)
    Intuisi adalah perasaan, keyakinan, dan firasat yang muncul dalam pikiran, yang membutuhkan sedikit usaha dan pengumpulan informasi, dan menghasilkan keputusan saat itu juga (on-the-spot decisions).
  • Penilaian yang beralasan (reasoned judgement)
    Keputusan yang berdasar pada penilaian yang beralasan (reasoned judgement) adalah keputusan yang membutuhkan waktu dan usaha serta hasil dari pengumpulan informasi yang cermat, serta pembuatan dan evaluasi alternatif.

B. The Classical Model
The Classical Model mengasumsikan manajer memiliki akses ke semua informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan yang optimal (optimum decision), yang merupakan keputusan yang paling tepat berdasarkan apa yang diyakini manajer sebagai konsekuensi yang paling diinginkan bagi organisasi.

C. The Administrative Model
The administrative model adalah pendekatan pengambilan keputusan yang menjelaskan mengapa pengambilan keputusan secara inheren tidak pasti dan berisiko, dan mengapa manajer biasanya membuat keputusan yang memuaskan daripada keputusan yang optimal (optimum decisions). The administrative model didasarkan pada tiga konsep penting: rasionalitas terbatas (bounded rationality), informasi tidak lengkap (incomplete information), dan kepuasan (satisficing).

1. Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality)
Bounded rationality adalah situasi di mana jumlah alternatif yang harus diidentifikasi oleh seorang manajer begitu banyak dan informasi yang begitu luas sehingga sulit bagi manajer untuk mengevaluasi semuanya sebelum membuat keputusan.

2. Informasi yang Tidak Lengkap (Incomplete Information)
Meskipun manajer memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk mengevaluasi informasi, mereka tetap tidak akan dapat sampai pada keputusan yang optimal karena mereka akan memiliki informasi yang tidak lengkap. Penyebab ketidaklengkapan informasi adalah karena risiko dan ketidakpastian (risk and uncertainty), ambiguitas (ambiguity), dan batasan waktu (time constraints).

3. Kepuasan (Satisficing)
Satisficing adalah mencari dan memilih respons yang dapat diterima atau memuaskan sebagai respon terhadap masalah dan peluang, daripada mencoba membuat keputusan terbaik. Satisficing mengeksplorasi sampel terbatas dari semua alternatif potensial.

II. Langkah-Langkah dalam Proses Pengambilan Keputusnan (Steps in the Decision-Making Process)

Step 1: Mengenali kebutuhan akan keputusan (Recognize the need for decision)
Langkah pertama dalam proses pengambilan keputusan adalah mengenali kebutuhan akan keputusan. Beberapa rangsangan/stimulus biasanya memicu kesadaran bahwa keputusan harus dibuat. Rangsangan ini sering menjadi nyata karena perubahan dalam lingkungan organisasi menghasilkan jenis peluang dan ancaman baru.

Step 2: Menghasilkan alternatif (Generate alternatives)
Setelah menyadari kebutuhan untuk membuat keputusan, seorang manajer harus menghasilkan serangkaian tindakan alternatif yang layak untuk diambil dalam menanggapi peluang atau ancaman. 

Step 3: Menilai alternatif (Assess alternatives)

Dalam menilai alternatif, manajer dapat mendefinisikan peluang atau ancaman secara tepat, juga menentukan kriteria yang mempengatuhi pemilihan alternatif untuk menanggapi masalah atau peluang tersebut. Secara umum, manajer yang sukses menggunakan empat kriteria untuk mengevaluasi pro dan kontra dari tindakan alternatif:

  1. Legalitas (Legality)
    Manajer harus memastikan bahwa tindakan yang mungkin dilakukan tidak akan melanggar hukum domestik atau internasional, atau peraturan pemerintah.
  2. Ethicalness (Etika)
    Manajer harus memastikan bahwa tindakan yang mungkin dilakukan adalah etis dan tidak akan merugikan kelompok pemangku kepentingan mana pun.
  3. Economic Feasibility (Kelayakan Ekonomi)
    Manajer harus memutuskan apakah alternatif tersebut layak secara ekonomi. Biasanya, manajer melakukan analisis cost-benefit pada berbagai alternatif untuk menentukan mana yang akan mendapatkan hasil keuangan bersih (net financial payoff) terbaik.
  4. Practicality (Kepraktisan)
    Manajer harus memutuskan apakah mereka memiliki kemampuan dan sumber daya yang diperlukan untuk menerapkan alternatif tersebut, dan mereka harus yakin bahwa alternatif tersebut tidak akan mengancam pencapaian tujuan organisasi lainnya. 

Step 4: Memilih di antara alternatif (Choose among alternatives)
Setelah sekumpulan solusi alternatif dievaluasi dengan cermat, tahap berikutnya adalah memberi peringkat berbagai alternatif (menggunakan kriteria yang dibahas di bagian sebelumnya) dan membuat keputusan.          

Step 5: Menerapkan alternatif yang dipilih (Implement the chosen alternatives)
Pada tahap ini, manajer menerapkan keputusan yang dibuat dan alternatif yang telah dipilih.

Step 6: Belajar dari umpan balik (Learn from feedback)
Langkah terakhir dalam proses pengambilan keputusan adalah belajar dari umpan balik (feedback). Manajer yang tidak mengevaluasi hasil keputusannya tidak akan maju dan cenderung membuat kesalahan yang sama berulang kali. Untuk menghindari masalah ini, manajer harus menetapkan prosedur formal yang dengannya mereka dapat belajar dari hasil keputusan masa lalu. Prosedurnya harus mencakup langkah-langkah berikut:

  1. Bandingkan apa yang sebenarnya terjadi dengan apa yang diharapkan terjadi sebagai hasil dari keputusan tersebut.
  2. Selidiki mengapa ekspektasi untuk keputusan itu tidak terpenuhi.
  3. Dapatkan pedoman yang akan membantu dalam pengambilan keputusan di masa depan.

III. Bias Kognitif dan Pengambilan Keputusan (Cognitive Biases and Decision Making)
Berikut adalah empat sumber bias yang dapat mempengaruhi cara manajer dalam membuat keputusan:

A. Confirmation Bias
Confirmation bias adalah bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk mendasarkan keputusan pada keyakinan kuat tentang hubungan antara dua variable bahkan jika disajikan bukti bahwa keyakinan tersebut mungkin salah. Selain itu, pengambil keputusan cenderung mencari dan menggunakan informasi yang sesuai dengan keyakinan yang ada dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.

B. Representativeness Bias
Representativeness bias adalah bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk menggeneralisasi secara tidak tepat dari sampel kecil atau dari sebuah peristiwa/episode yang jelas..

C. Illusion of Control
Illusion of control adalah bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan melebih-lebihkan kemampuan seseorang untuk mengontrol aktivitas dan peristiwa. Top managers sangat rentan terhadap bias ini, karena setelah berhasil mencapai puncak organisasi, mereka cenderung memiliki rasa yang berlebihan tentang nilai mereka sendiri dan terlalu percaya diri tentang kemampuan mereka untuk berhasil dan untuk mengendalikan peristiwa.

D. Escalating Commitment

Escalating commitment adalah bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk menggunakan sumber daya tambahan untuk suatu proyek meskipun ada umpan balik bahwa proyek akan gagal. Perasaan tanggung jawab pribadi untuk suatu proyek tampaknya membiaskan analisis para pengambil keputusan dan mengarah pada peningkatan komitmen ini.

Bagaimana Cara Manajer Menghindari Bias?

  1. Dengan menyadari bias dan efeknya.
  2. Mengidentifikasi gaya pengambilan keputusan pribadi. Ada beberapa cara dalam menganalisis gaya pengambilan keputusan manajer:
  • Meninjau dua keputusan yang dibuat baru-baru ini, yang berhasil dan yang gagal.
  • Membuat daftar kriteria dan mengevaluasi kelayakan kriteria-kriteria biasanya mereka gunakan untuk menilai dan mengevaluasi alternative—the heuristic (rules of thumb).
  1. Meneliti asumsi mereka sendiri dengan bekerja dengan manajer lain untuk membantu mengungkap kelemahan dalam gaya pengambilan keputusan mereka.

IV. Group decision making

Mayoritas keputusan penting sebuah organisasi dibuat oleh kelompok yang terdiri para manajer dibanding dibuat oleh individu. Pengambilan keputusan secara berkelompok lebih superior dibanding pengambilan keputusan yang dibuat oleh individu dalam beberapa aspek. Ketika para manajer mendiskusikan secara kolektif dalam pembuatan keputusan serta menyelesaikan masalah, mereka mampu untuk memperkecil bias. Para manajer mampu untuk mengkombinasikan kemampuan mereka, pengetahuan mereka, untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat keputusan serta alternatif yang layak. 

Groupthink

Groupthink merupakan pola pengambilan keputusan yang salah dan bias dan terjadi ketika sebuah kelompok pengambilan keputusan mencoba untuk sepakat atas asumsi-asumsi mereka dengan tidak memperhatikan informasi yang relevan dengan keputusan yang akan dibuat. 

Devil’s advocacy and dialectical inquiry

Ada dua teknik yang diketahui untuk melawan groupthink dan kognitif bias ini keduanya disebut dengan devil’s advocacy dan dan dialectical inquiry.

Devil’s advocacy 

Devil advocacy didefinisikan sebagai analisis kritis pada alternatif yang sudah dipilih, untuk mengetahui kemampuan kekuatan dan kelemahan dari dari keputusan tersebut sebelum diimplementasikan di dalam sebuah organisasi. Biasanya salah satu anggota dari kelompok pembuatan keputusan ini berperan sebagai devil advocate. Devil advocate memiliki tugas untuk mengkritik dan menantang alternatif yang sudah dibuat dan dievaluasi oleh pembuat keputusan. Tujuan dari the devil advokasi adalah mengidentifikasi semua alasan keputusan ditolak ang akan muncul atau mungkin muncul. Pada posisi ini para pembuat keputusan dapat berhati-hati dan menyadari kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul serta mencari solusi dari kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Dialectical inquiry 


Dialectical inquiry lebih jauh satu langkah. Dua manajer ini diberikan tugas pada sebuah permasalahan, dan setiap  kelompok diberikan tanggung jawab untuk mengevaluasi alternatif dan memilih salah satu dari padanya. Top manajer mendengarkan presentasi kelompok terkait alternatif yang dipilih setiap kelompok, dan setiap kelompok bertugas untuk mengkritik alternatif yang dipilih oleh kelompok lainnya. Pada debat ini, top manager menantang kedua kelompok atau kedua posisi tersebut untuk mengupas permasalahan-permasalahan yang potensial muncul dan mencari solusi solusi terkait masalah tersebut. Tujuan dari dialectical inquiry adalah menemukan alternatif yang lebih baik yang dapat sebuah organisasi adopsi dan diimplementasikan.

Diversity among decision makers

Cara lain dalam meningkatkan pengambilan keputusan secara berkelompok adalah dengan mempromosikan dan mengutamakan keberagaman dalam kelompok pengambilan keputusan. Melibatkan secara bersama para manajer tanpa pandang bulu, dapat memperluas jaringan pengalaman dan opini-opini yang baru serta dapat memilih alternatif-alternatif yang lain. Kadang-kadang membuat keberagaman dalam kelompok pengambilan keputusan dapat membuat grupthink  menjadi rentan karena sudah di dipisahkan satu dengan yang lainnya, menjadi anggota grup yang berbeda-beda dengan demikian subjek mengambil keputusan atau dalam hal ini adalah top manajer tidak akan mengikuti tekanan yang lebih tinggi karena keseragaman dari groupthink sudah dipecah.

V. Organizational learning and creativity

Kualitas pengambilan keputusan manajerial selalu bergantung pada respon inovatif terhadap kesempatan dan ancaman. Bagaimana seorang manajer bisa meningkatkan kemampuan organisasi untuk membuat keputusan yang tidak terprogram dan yang bisa membuat mereka untuk beradaptasi, memodifikasi, atau sampai secara drastis merubah  lingkungan tugasnya, sehingga mereka dapat meningkatkan performa organisasi secara terus-menerus. Jawabannya adalah dengan menggalakan organizational learning atau pembelajaran organisasi.

Learning Organization adalah upaya para manajer memaksimalkan kemampuan individu dan kelompok untuk berpikir agar dan menempatkannya pada tempat yang tepat.

Organizational learning adalah proses bagaimana seorang manajer berusaha untuk meningkatkan gairah karyawan serta kemampuannya untuk memahami dan mengatur organisasi tersebut dan task environment-nya, sehingga karyawan bisa membuat keputusan yang secara terus-menerus meningkatkan efektivitas organisasi.

Jantung dari organizational learning adalah kreativitas, yang didefinisikan sebagai kemampuan seorang pembuat keputusan untuk mencari ide original dan baru yang mendorong pada terciptanya  alternatif-alternatif baru yang layak untuk dilakukan. 

Creating a learning organization

Bagaimana bisa para manajer mempercepat learning organization? Seorang ahli dalam pembelajaran, peter senge mengidentifikasi 5 prinsip untuk membuat sebuah learning organization atau pembelajaran organisasi

  1. Agar terciptanya learning organization, top manajer harus memperbolehkan semua orang yang terlibat dalam organisasi untuk mengembangkan jiwa keahlian personal, yakni proses seorang individu mengembangkan hasrat untuk belajar secara personal yang bisa selanjutnya keluar dari zona nyamannya. Seorang manajer harus memahami proses ini dan memberdayakan setiap karyawannya untuk bereksperimen, mengeksplor ide-ide pribadi mereka.
  2. Seseorang harus bisa berfikir tentang bagaimana dunia bekerja dan mengembangkan ide-ide yang selanjutnya biasa dikenal dengan mental models. Walaupun individu-individu tersebut tidak sadar terhadap mental model atau asumsi yang mereka pegang serta pahami, yakni bagaimana mereka melihat dunia. Ketika individu mendapatkan perspektif baru bagaimana mereka melihat dunia, mereka dapat menggunakannya sebagai informasi untuk memperluas gaya mereka berpikir bukan hanya sebagai dalam taraf personal saja, namun juga pada bekerja.
  3. Manajer harus menjunjung kreativitas di dalam kelompok-kelompoknya. Anggota kelompok harus bisa didorong untuk belajar bersama dengan cara saling bertukar ide, mendengarkan satu dengan yang lainnya dan bekerja secara bersama untuk menyelesaikan masalah.
  4. Manajer harus menekankan pentingnya pembangunan visi bersama, setiap karyawan saling membagikan visi mereka untuk masa depan organisasi. Ketika visi bersama ini sudah diidentifikasi, anggota organisasi tersebut bisa merumuskan permasalahan dan kesempatan yang berkaitan dengan visi bersama.
  5. Manajer harus mengembangkan system thinking atau sistem berpikir. Konsep ini adalah jalan untuk melihat sesuatu secara menyeluruh. Hal ini adalah landasan atau kerangka untuk melihat hubungan timbal balik dan pola, system thinking ini adalah sebuah landasan konseptual yang bisa mendorong secara bersama sehingga terciptanya 4 prinsip dalam pembelajaran organisasi atau learning organization yang lain.

Promoting individual creativity

Orang-orang harus diberikan kesempatan dan kebebasan untuk membuat ide ide baru.  Upaya kreativitas akan gagal ketika seorang manajer mencoba untuk menekan secara tergesa-gesa kepada karyawan untuk membuat sebuah solusi yang kreatif. Kreativitas menuntut karyawan memiliki kesempatan untuk bereksperimen, untuk mengambil resiko, dan membuat kesalahan dan belajar dari padanya. Pegawai tidak boleh memiliki rasa takut untuk gagal dan dihukum untuk ide-idenya yang terlihat seperti ide yang aneh. 

kreativitas bisa dipupuk dengan memberikan timbal balik konstruktif kepada karyawan agar mereka tahu bahwa yang mereka lakukan adalah yang terbaik. Top manager harus bisa menekankan urgensi mencari solusi alternatif dan harus memberikan penghargaan kepada karyawan yang memberikan ide yang kreatif.

Promoting group creativity

Untuk merangsang dan mendorong kreativitas dalam level kelompok, sebuah organisasi bisa menggunakan pemecahan masalah teknik pemecahan masalah secara berkelompok ada beberapa teknik yang juga bisa meminimalisir groupthink dan membantu para manajer untuk mengungkap kebiasan.

Brainstorming

Brainstorming adalah teknik penyelesaian masalah secara berkelompok yang mengaplikasikan pertemuan secara langsung dan saling berdebat tentang begitu luasnya alternatif yang bisa diambil dalam penyelesaian masalah atau pembentukan keputusan. kadangkala bekerja secara individu juga bisa memberikan banyak alternatif. Alasan utama berkurangnya produktivitas dalam brainstorming adalah production blocking, situasi saat para anggota kelompok tersebut tidak selalu bisa untuk mencari landasan yang masuk akal terhadap alternatif-alternatif yang muncul secara terus-menerus atau berpikir tentang alternatif tambahan, dan mengingat apa yang sedang mereka pikirkan.

Nominal group technique

Untuk menghindari production blocking, kadang organisasi menggunakan nominal group technique. Nominal group technique memberikan cara yang lebih terstruktur untuk membuat sebuah alternatif yang memberikan setiap manajer lebih banyak waktu dan kesempatan untuk datang dengan solusi yang potensial. Secara umum prosedurnya adalah:

  1. Manajer membuat sistematika atau alur masalah yang akan diselesaikan dan memberikan 30-40 menit kepada ada anggota kelompok bekerja secara individu untuk menulis ide-ide dan solusi solusinya.
  2. setiap manajer diberikan kesempatan untuk membacakan saran yang dia buat kepada kelompok, satu manajer bertugas menulis semua alternatif dan mengurutkannya. Selanjutnya semua alternatif yang telah didiskusikan, setiap anggota kelompok dapat mempertanyakan dan mengklarifikasi informasi untuk mengidentifikasi baik buruk dari alternatif tersebut. 
  3. setelah semua alternatif sudah didiskusikan, setiap anggota kelompok bisa mengurutkan alternatif mana yang paling potensial untuk digunakan dan menjadi opsi yang paling terakhir. Alternatif yang yang berada di puncak tertinggi yang akan dipilih.

Delphi technique

Delphi technique adalah pendekatan penyelesaian masalah dengan sistem tertulis dan tanpa tatap muka. Secara umum prosedurnya adalah:

  1. Pimpinan kelompok menuliskan statement-statement terkait permasalahan dan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut para manajer untuk berpartisipasi dalam rmeresponnya.
  2. kuisioner disebar kepada para manajer dan para ahli terkait yang paling memahami terkait permasalahan tersebut. Mereka diminta untuk membuat solusi dan mengirimkan responnya  kembali kepada pimpinan kelompok tersebut. 
  3. Kelompok top manager mengumpulkan mengambil intisari dari respon-respon tersebut. Hasilnya akan dikirimkan kembali kepada partisipan dengan pertanyaan tambahan yang harus dijawab sebelum keputusan itu dibuat.
  4. proses itu akan terus dilakukan terus-menerus sampai tercapainya konsensus dan dan keputusan yang paling layak tercipta.

Enterpreneurship and creativity

https://Entrepreneur adalah seorang individu yang yang menyadari kesempatan dan dan memutuskan bagaimana mengatur sumber daya yang ada, untuk membuat sesuatu hal yang baru dan meningkatkan barang dan jasa.

social entrepreneur adalah individu yang menawarkan beberapa inisiatif dan kesempatan untuk mengatur sumber daya untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan tujuan untuk meningkatkan taraf masyarakat melalui solusi-solusi yang kreatif.

intrapreneur adalah seorang manajer, ilmuwan, atau peneliti yang bekerja di dalam sebuah organisasi yang menyadari kesempatan untuk meningkatkan atau mengembangkan sesuatu hal yang baru, atau meningkatkan produk, serta cara yang lebih baik dalam memproduksi barang tersebut.

VI. Entrepreneurship and new ventures

Characteristics of entrepreneurs. Yang pertama adalah memiliki personalitas yang tinggi/ high of the personality. Menekankan pada keterbukaan terhadap pengalaman baru, cenderung untuk membuat sesuatu hal yang original dan terbuka untuk stimulus secara luas, berani dan siap mengambil resiko. Kedua, enterpreneur juga biasanya memiliki sifat internal locus of control, mereka meyakini bahwa mereka bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadap mereka serta tindakan mereka dalam menentukan keputusan penting, baik itu sukses maupun gagal dalam bisnis barunya.

Para entrepreneur biasanya memiliki level harga diri yang sangat tinggi dan merasa competent untuk menyelesaikan semua situasi serta ketidakpastian yang muncul ketika terjun dalam bisnis baru yang beresiko.

Entrepreneurship and management

Mengambil manfaat dari teknologi informasi yang modern, banyak orang memulai dengan bisnis pribadi atau partnership.

Beberapa entrepreneur yang memulai bisnis baru menghadapi kesulitan dalam menentukan bagaimana mengatur sebuah organisasi yang sedang berjalan. Enterpreneurship tidak sama dengan manajemen, manajemen mencakup segala keputusan yang berkaitan dengan planning, organizing, leading, dan controlling sumber daya. Sedangkan enterpreneurship adalah menyadari sebuah kesempatan untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan, dan menemukan serta menggunakan sumber daya untuk membuat sebuah produk yang yang memuaskan kebutuhan mereka.

Ketika entrepreneur membuat sesuatu yang pelanggan inginkan, enterpreneurship memberikan jalan untuk management, karena penekanan kebutuhan menjadi menyediakan sebuah produk yang efisien dan efektif. Kadangkala para entrepreneur memiliki keterbatasan kemampuan, kesabaran, untuk andil dalam menjalankan tugas manajemen. Beberapa entrepreneur memiliki kesulitan untuk mendelegasikan otoritasnya karena mereka takut terhadap resiko ketika membiarkan orang lain untuk mengatur perusahaannya.

Intrapreneurship and organizational learning

Banyak organisasi yang muncul untuk mempromosikan dan mendorong intrapreneurship untuk meningkatkan level inovasi dan organizational learning.

Product champion. Product champion adalah seorang manajer yang mengambil “kepemilikan” atas proyek dan memiliki kepemimpinan dan visi yang membawa produk dari sebuah ide menjadi sesuatu hal yang final ke depan pelanggan.

Skunkwork menggunakan skunkwork dapat meningkatkan dan memperkuat rasa kepemilikan. Skunkwork adalah sebuah kelompok yang terdiri dari para intrapreneur yang secara sengaja dipisah dari operasi yang normal yang berjalan di dalam sebuah organisasi.

Rewards for innovation enterpreneurship biasanya  menghubungkan antara performa dengan penghargaan. Saat ini banyak perusahaan memberikan reward kepada intrapreneur berdasarkan pada hasil dari proses pengembangan produk.

Referensi:

Jones, G. R., & George, J. M.  (2020). Contemporary Management (Eleventh edition). New York: McGraw-Hill Education.

Oleh:
Nadya Shafirah
Fachrizal Anshori Budimansyah
(Profit Storm)


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

27 Comments

  1. Terima Kasih Kelompok Profit Storm atas pemaparan materi yang luar biasa dan sangat menambah wawasan.
    Saya Ingin bertanya terkait Administrative model dalam decision making, bahwa manajer biasanya berorientasi pada pengambilan keputusan yang dapat diterima (memuaskan) daripada yang optimal dikarenakan constraints yang ada. Jadi dalam model tersebut apakah suatu contingency plan perlu dipersiapkan juga sebagai bantalan apabila keputusan yang ternyata diambil kurang optimal dan tidak sesuai perkiraan sehingga menyebabkan beban operasional maupun pengelolaan sumber daya yang kurang efektif? dan apabila bisa tolong berikan contoh
    Terima Kasih,
    Dhanesworo A. Y.

  2. terima kasih atas pemaparan materi yang sangat bermanfaat dan mudah dicerna. saya ingin bertanya, terdapat enam langkah dalam menentukan keputusan, apabila suatu ketika seorang manajer dituntut untuk bertindak cepat karena suatu urgensi, langkah mana yang akan ditinggalkan? atau seperti apa?
    Nita Septa Dilla – The Mighty Shark

  3. Wah terimakasih kelompok Profit Strom

    Izin bertanya perihal Decision Making, kita mengenal teori disrupsi yang dibuktikan Apple ketika pertama kali meluncurkan IPhone, salah satu hp touchscreen pertama di dunia. Pada saat itu Nokia sebagai incumbent adalah raja handphone dan santai2 saja dengan kehadiran iPhone. Semua pakar berkata teknologi ini hanya akan menjadi angin lalu dan statment ini dipatahkan Apple di tahun2 berikutnya, terbukti sekarang Apple menjadi salah satu top seller handphone dan nokia kalah tak terdengar lagi namanya.

    Jadi, apa yang menyebabkan manajer Nokia memutuskan untuk tidak ikut terjun ke pasar hp touchscreen? padahal sebagai incumbent pasti memiliki modal untuk memerangi diruptor.

    Terimakasih

    -Ramadhian Ekaputra

  4. Terimakasih banyak kelompok Profit Storm atas pemaparan materi dan penjelasan yang sangat menarik! Saya ingin bertanya, pengambilan keputusan seorang manajer tentunya sangat krusial dan harus dilakukan secara berhati-hati, karena pengambilan suatu keputusan bisnis akan sangat berpengaruh terhadap kondisi perusahaan kedepannya. Kita banyak mengetahui kegagalan perusahaan akibat dari manajer yang salah langkah dan gagal dalam pengambilan keputusannya. Salah satu faktor-faktor kegagalannya mungkin dikarenakan bias-bias yang ada. Pertanyaan saya adalah jika seorang manajer telah gagal atau salah dalam pengambilan keputusan dan kemudian menyebabkan perusahaan tersebut mengalami kegagalan atau bahkan kebangkrutan, bagaimana cara untuk mengatasi, menyikapi, dan menanggulangi hal tersebut? Terimakasih banyak!
    – Deasy Rike Rahmawati

    1. saya ingin menanyakan, di dalam pengambilan keputusan terdapat pengambilan keputusan tidak terprogram yang mana di dalamnya dengan menggunakan Intuisi ,yang ingin saya tanyakan bagaimana meningkatkan intuisi kita dalam mengambil sebuah keputusan?dan bila keputusan telah ditentukan bagaimanan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil dengan cara intuisi

  5. Mantep banget nih, terima kasih team Profit Storm untuk penjelasan yang sangat mudah dipahami. Mau bertanya dikit yah guys perihal pilihan alternatif yang akan diambil oleh seorang manager, jika teman-teman diperhadapkan dengan pilihan yang bertentangan dengan etika namun memberikan manfaat ekonomi yang sangat baik untuk perusahaan setelah dilakukan analisa cost-benefitnya, apa yang akan team lakukan sebagai seorang pemimpin? Apakah mengambil alternatif tersebut atau tidak? Terima Kasih.
    -Bellatrix Kezia

  6. Terima Kasih kelompok Profit Storm atas pemaparan materi yang singkat, padat dan jelas 🙂
    Saya ingin sedikit bertanya, diatas dijelaskan bahwa seorang manajer harus mengembangkan sistem thinking atau sistem berpikir. Bagaimanakah cara mengembangkan sistem Thinking tersebut?
    Terima Kasih
    -Selma Ferena-

    1. Izin bertanya terkait General Criteria for Evaluating Possible Courses of Action. Dalam prakteknya, apabila suatu keputusan perusahaan tidak bisa meng-implementasikan 4 kriteria sekaligus (legal, ethical, economical, dan practical), manakah komponen yang paling penting untuk diutamakan? Ataukah memang suatu keputusan HARUS memiliki 4 kriteria tersebut supaya bisa diterima oleh semua stakeholders perusahaan? Terimakasih, mbak Nadya dan mas Fachrizal. Salam, Veronica

  7. Terima kasih kelompok Profit Storm atas pemaparannya yang mudah dipahami. Pertanyaan saya simpel, disebutkan diatas dengan adanya brainstorming itu agar masalah bisa terselesaikan dan mendorong kreatifitas, lalu bagaimana sikap manajer apabila menemukan individu yang tak mudah mengutarakan pikirannya selama proses brainstroming tersebut? Terima kasih.
    -Kahfiara Krisna

  8. Izin sekalian bertanya ya.. Kalau suatu saat nanti saya menjadi seorang manajer (aamiiinnnnn) dan punya new hires yang misalkan fresh grad, perilaku atau pesan seperti apa yang harus saya lakukan atau sampaikan kepada mereka untuk membangun sejak dini nilai2 kreativitas individualnya? terima kasihhh -Abdurrahman Faiq

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format