Newly Appointed Manager: Bagaimanakah Keputusan Erwin akan Membawa Toko Jaya Baru

Melihat Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan, Apakah Terdapat Bias, serta Group Decision-Making Apa yang Dapat Diambil Sebagai Bentuk Penyelesaian Masalah


0

Sinopsis Cek Toko Sebelah The Series S1

Cek Toko Sebelah The Series merupakan serial drama komedi yang diproduksi oleh starvision plus. Sutradara serial ini adalah Ernest Prakasa yang merupakan sutradara versi Film dimana sudah lebih dulu sukses sekaligus sebagai salah satu pemeran utama dalam serial ini. Serial Cek Toko Sebelah menceritakan mengenai dilemma modernisasi bisnis keluarga yang berupa toko kelontong. Erwin anak koh afuk yang terbiasa dengan lingkungan dan cara kerja perkantoran menilai bahwa toko kelontong milik ayahnya perlu dimodernisasi sebab terlalu kuno dan ketinggalan zaman. Sejumlah cara seperti penambahan CCTV, strategi pengelolaan sumberdaya,  hingga absen sidik jari dilakukan. Koh Afuk sendiri setuju dengan rencana Erwin yang terpenting tidak terlalu mengubah bentuk toko secara besar. Rencana yang dilakukan Erwin menghasilkan respon yang berbeda dan cenderung negatif dari karyawan. Hal ini pun memicu konflik antara Erwin dan para karyawan.

Episode [07 & 08]

Pada episode 7 dan 8 cerita berpusat kepada perselisihan yang terjadi antara Erwin selaku manajer Toko Jaya Baru dan para karyawan, di mana Erwin yang masih giat-giat membawa perubahan-perubahan baru dalam upayanya memajukan toko direspon dengan negatif oleh para karyawan yang merasa perubahan-perubahan tersebut tidak perlu dan menyusahkan, salah satunya adalah pemasangan absen sidik jari untuk merekap kehadiran karyawan.

Pada episode 7, para karyawan toko jaya baru, dipelopori oleh ojak dan yadi merencanakan untuk terlambat masuk kerja bersama-sama para karyawan yang lain dikarenakan kebijakan-kebijakan toko baru yang ditetapkan erwin sangat mengganggu dan mereka ingin memberi pelajaran pada erwin betapa sulitnya mengurus toko sendirian tanpa karyawan. Namun hal ini justru semakin memantapkan niat Erwin untuk menggunakan absen sidik jari untuk kehadiran karyawan dengan sanksi bagi mereka yang terlambat tidak akan mendapatkan jatah makan siang pada saat istirahat. Dimana hal tersebut justru meningkatkan konflik diantara mereka sehingga perseteruan antara erwin dengan para karyawan masih terus berlanjut.  

Tahapan Pengambilan Keputusan

Pada kali ini, topik pengambilan keputusan yang akan menjadi sorotan berdasarkan cerita episode 7 dan 8 adalah keputusan Erwin untuk menggunakan sistem absen sidik jari pada Toko Jaya Baru.

Pada umumnya terdapat beberapa langkah sistematis bagi seorang manajer dalam menentukan sebuah keputusan yang akan diambil, menurut buku Business: A Changing World yang ditulis oleh Hirt, Linda Ferrel, dan O.C. Ferrel, terdapat 6 langkah dalam proses pengambilan keputusan sebagai berikut:

Namun, pada kasus pengambilan keputusan erwin dalam memasang alat absen sidik jari, tidak secara keseluruhan sama dengan 6 tahapan tersebut, terdapat beberapa tahapan yang dilalui atau mungkin disatukan dalam proses, sehingga dapat dikatakan tahapan pengambilan keputusan erwin adalah sebagai berikut:

  1. Recognize & define the decision situation

Pada tahap ini erwin sudah mengenali situasi yang menyebabkan ia perlu mengambil tindakan, yaitu ketika para karyawannya melakukan kenakalan dalam jam kerjanya dengan secara serempak datang terlambat, sehingga hanya dia seorang diri yang harus mengurus toko dan itu sangat merepotkan erwin, terutama pada saat toko sedang ramai. Maka erwin merasa dia harus menentukan sistem yang dapat membuat karyawannya agar lebih disiplin dalam melaksanakan pekerjaan mereka.

  1. Develop option

Dikarenakan situasi tersebut, erwin langsung memikirkan strategi untuk mengatasinya, dan dengan latar belakang erwin yang berupa karyawan kantor multi-national company, dan juga dengan masukan dari pacarnya, natalie, maka dia langsung menentukan dan dengan penuh keyakinan untuk menggunakan absen sidik jari dan memberikan sanksi berupa tidak ada jatah makan siang pada saat istirahat bagi karyawan yang terlambat absen.

  1. Implement the decision

Setelah itu, erwin langsung memesan dan memasang alat absen sidik jari di Toko Jaya Baru sebagai alat absen agar para karyawan tidak dapat seenaknya bolos atau telat data untuk kerja ke toko. Dan menetapkan adanya konsekuensi atau sanksi bagi karyawan yang tidak menggunakan absen sidik jari tersebut sebagai bukti absensi mereka. Meskipun sebenarnya erwin sudah merasa akan ada resistance dari para karyawan, namun ia kembali meyakini bahwa hal tersebut adalah perlu untuk menjaga dan memajukan kinerja toko.

  1. Monitor the consequences

Akibatnya meskipun dengan perasaan yang jengkel, para karyawan pun mau tak mau harus mematuhi aturan tersebut dan menjaga datang dan pulang tepat waktu untuk absen sidik jari agar mereka tidak kehilangan jatah makan siang mereka. Sehingga dapat dikatakan untuk sementara waktu penerapan absen sidik jari dapat membuat para karyawan untuk taat dalam jam kerja mereka saat masuk dan pulang kerja.

Berdasarkan langkah-langkah pengambilan keputusan yang dilakukan oleh erwin, dapat dilihat terdapat dua langkah yang tidak digunakan, yaitu analyze options dan select the best option. Hal tersebut dapat dikarenakan latar belakang erwin sebagai karyawan kantor besar sehingga dia merasa opsi tersebut adalah opsi terbaik sehingga tidak memikirkan opsi-opsi lain.

Bias Kognitif 

Dalam penentuan keputusan, tentunya tidak dapat dijauhkan dari kata bias. Bias dalam konteks ini lebih cenderung pada bias kognitif, yakni kesalahan dalam berpikir, menilai, mengingat, atau proses kognitif, sehingga cenderung membuat seseorang hanya mengasumsikan segala sesuatu dari perspektif pribadinya saja, yang sering kali tidak sesuai dengan realita yang dihadapi. Bias kognitif ini sangat mempengaruhi dan menyebabkan seorang manajer mengambil keputusan yang kurang baik atau bahkan buruk.

Terdapat banyak jenis dari bias kognitif, namun beberapa yang dianggap krusial dan sering kali ditemukan dalam proses pengambilan keputusan dapat dilihat pada video berikut:

Selain itu, menurut buku Contemporary Management yang ditulis oleh Jones & George, terdapat 4 sumber utama dalam bias kognitif, yaitu sebagai berikut:

  1. Prior Hypothesis Bias

Bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk mendasarkan keputusan pada keyakinan sebelumnya yang kuat meskipun bukti menunjukkan bahwa keyakinan tersebut salah.

  1. Representativeness

Bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk menggeneralisasi secara tidak tepat dari sampel kecil atau dari satu peristiwa atau episode yang jelas.

  1. Illusion of Control

Bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri untuk mengontrol aktivitas dan peristiwa.

  1. Escalating Commitment 

Bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk menggunakan sumber daya tambahan untuk suatu proyek meskipun bukti menunjukkan bahwa proyek tersebut gagal.

Pada penentuan keputusan yang diambil erwin untuk menggunakan absen sidik jari tidak menutup kemungkinan bahwa terjadi bias kognitif di dalamnya, yaitu jenis bias ketersediaan heuristik, dimana erwin terlalu yakin dengan informasi yang dia punya baik dalam metode penanganan, akses untuk mendapatkan sumber daya dan implementasi rencananya, tanpa benar-benar memikirkan akibat-akibat yang mungkin terjadi dan tidak memikirkan pilihan-pilihan lain yang seharusnya bisa dilakukan dan dicapai lebih baik untuk kepentingan bersama dan tidak sepihak saja, tanpa benar-benar mengkomunikasikan hal tersebut dengan para karyawannya, sedangkan karena keyakinan erwin yang terlalu tinggi menutup kemungkinan untuk terjadinya open communication antara dirinya dengan karyawannya.

Bias yang terjadi pada hal tersebut, berdasarkan sumber-sumber bias kognitif dapat dikatakan bersumber dari beberapa hal berikut:

Jenis Bias Kognitif

Availability Heuristic

Sumber

  1. Representativeness, hal ini terbukti dari sistem kantor erwin yang cukup berhasil dalam menjaga kedisiplinan karyawannya dan dia yakin bahwa hal tersebut juga sama dan sangat bisa diterapkan dengan baik di Toko Jaya Baru

  2. Illusion of Control, hal ini terbukti dari dalam diri erwin, sebagai karyawan teladan merasa bahwa dirinya sangat mampu dan akan berhasil memajukan Toko Jaya Baru dengan kemampuan yang dia miliki.  

Group Decision Making

Pengambilan keputusan secara kelompok memiliki keunggulan antara lain, mengurangi adanya bias, dapat mengakomodir perbedaan skill dan sudut pandang dan dapat meningkatkan kemampuan dengan tujuan menghasilkan alternatif yang lebih dapat dilaksanakan (feasible alternatives). Pengambilan keputusan secara kelompok setidaknya terdapat dua teknik yaitu devil’s advocacy dan Dialectical inquiry. Perbedaan yang mendasar adalah pada pilihan yang dilontarkan pada saat pengambilan keputusan. Devil’s advocacy menghadirkan satu gagasan yang dipilih, kemudian gagasan tersebut dikritisi, kemudian hasil pengambilan keputusan berupa apakah gagasan tersebut diterima atau tidak. Sementara Dialectical inquiry menghadirkan dua gagasan yang dipikirkan kelebihan dan kekurangannya, dimana hasil pengambilan keputusan berupa pemilihan antara dua gagasan tersebut atau kombinasi diantara keduanya. 

Pada kasus yang dilakukan Erwin tokoh pada cek toko sebelah, dalam pengambilan keputusan tidak melibatkan karyawan atau tidak ada proses pengambilan keputusan secara kelompok. Melihat reaksi dari karyawan yang menentang gagasan yang diberikan, akan lebih baik apabila dalam pengambilan keputusan karyawan diberikan 2 pilihan (Dialectical inquiry) yang kemudian dapat memilih dari dua gagasan tersebut atau mengkombinasikan keduanya. Contoh, tetap ada pemasangan CCTV namun tidak untuk absen sidik jari. Kombinasi sesuai brainstorming bersama akan menghasilkan keputusan yang disepakati dan dapat diimplementasikan secara lebih terbuka. 

Metode Organisasi dalam Pengembangan Kreativitas -> Nominal Group Technique

Pengembangan kreativitas dapat dengan cara nominal group technique dan delphi technique. Delphi Technique tidak mengharuskan untuk bertemu secara langsung, dimana para anggota tim diharuskan menulis ide dari persoalan yang dijelaskan oleh leader. Sementara Nominal group technique mengharuskan para anggota menuliskan ide dan gagasan kemudian mendiskusikan dan memprioritaskan alternatif-alternatif keputusan. 

Pada toko jaya baru dengan karyawan <10 orang dan budaya organisasi yang kekeluargaan, metode nominal group akan lebih tepat, dimana para karyawan dapat memberi gagasan dan berdiskusi bersama pemilik toko untuk memutuskan inovasi-inovasi atau gagasan yang akan diimplementasikan.


Artikel ini telah di cek anti plagiarism via website https://www.duplichecker.com/

Disusun oleh: Kelompok 3-Notorious Businessman:

  • Dhanesworo Arsojotegto Yuwonoputro

  • Fadilla Aulia Rahma


Referensi:

Ferrell, O. C., Hirt, G. A., & Ferrell, L. (2020). Business: A Changing World. Twelfth Edition.

New York: McGraw-Hill Education.  

Jones, Gareth R. & George, Jennifer M. 2009. Contemporary Management 11th edition. New York: McGraw-Hill Education

Youtube. Trailer Cek Toko Sebelah The Series. URL. https://www.youtube.com/watch?v=hKHM5KsaWd0 

Youtube. 12 Cognitive Biases Explained. URL. https://youtu.be/wEwGBIr_RIw 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format