Perusahaan Jangga: Motivasi dan Kepemimpinan ala Jang Dae-hee


0

Sinopsis

Video  1 Trailer Itaewon Class
Sumber: Netflix Asia

Secara garis besar, Drama Korea Itaewon Class yang rilis tahun 2020 menceritakan perjuangan Park Sae-Roy dalam membangun bisnis kedai pub “DanBam” dengan tujuan untuk membalas ketidakadilan yang dihadapinya. Ketidakadilan ini bermuara pada persaingan bisnis dan ego antara Park Sae-Roy dan Jang Dae-Hee, seorang Presiden Direktur perusahaan Jangga, perusahaan kenamaan yang bergerak dalam kompetisi bisnis kuliner di Korea Selatan. Dalam drama Korea Itaewon Class banyak hal yang dapat dipelajari dari kedua perusahaan yang sedang berkompetisi ini. Namun pada artikel ini, penulis akan berfokus pada implementasi dari teori motivasi dan kepemimpinan dari perusahaan Jangga.

Gambar  1 Jang Dae-Hee (kiri) dan Park Sae-Roy (kanan)
Sumber: zapzee.net

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Drama ini berfokus pada persaingan bisnis antara kedai pub DanBam pimpinan Park Sae-Roy dan perusahaan raksasa Jangga yang dipimpin oleh Jang Dae-Hee. Keduanya mengaplikasikan pendekatan yang sangat berbeda dalam segala aspek manajemen dalam perjalanan bisnis keduanya. Park Sae-Roy yang berlata belakang millennial yang terpengaruh budaya pop berbanding terbalik dengan Jang Dae-Hee seorang Baby Boomer yang meletakkan aspek tradisional sebagai ciri khas perusahaan.

Sebagai sebuah perusahaan yang sudah besar dan dirintis puluhan tahun, Perusahaan Jangga sangat disegani para competitor, kolega, dan semua pihak yang berhubungan dengan kompetisi bisnis kuliner. Dalam cerita, untuk mempertahankan kejayaan dan superioritas perusahaan dalam kompetisi, perusahaan Jangga melakukan segala cara untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini sangat bergantung sang Presiden Direktur yang menjadi symbol utama perusahaan. Bukan hanya karena sosoknya saja, namun juga system kepemimpinan dan motivasi yang dibangun oleh Jang Dae-Hee sangat mengakar pada segala aspek perusahaan.

Motivasi dalam perusahaan Jangga

Dalam perjalanan sebuah peusahaan, motivasi sangat penting bagi sebuah perusahaan. Jones dan George menjelaskan bahwa motivasi adalah kunci dari manajemen dan pergerakan sebuah perusahaan(Gareth R. Jones, 2020). Dalam teorinya, motivasi terbagi 2 garis besar yakni Extrinsically motivated behavior dan Prosocially motivated behavior (Gareth R. Jones, 2020). Keduanya sama-sama memberikan dampak pada kinerja personal yang berimbas pada kinerja dan pergerakan perusahaan. Banyak model yang diaplikasikan sebuah perusahaan dalam membangun dan memberikan motivasi pada karyawan guna meningkatkan kinerja perusahaaan. Sebagai contoh kasus, Perusahaan Jangga yang dikomandoi oleh Presiden Direktur Jang Dae-Hee mengimplementasikan model Extrinsically motivated behavior.  

Extrinsically motivated behavior didefinisikan sebagai motivasi yang bergantung pada konsekuensi yang didapat karyawan. Konsekuensi ini bisa berupa reward, hadiah karena ketrcapaian target perusahaan atau bisa saja hukuman dan feedback kurang baik terhadap karyawan yang tak sesuai dengan target yang ingin dicapai(Gareth R. Jones, 2020). Pada gambar dibawah mengilustrasikan bagaimana hubungan antara input kinerja dan hasil yang diinginkan atau konsekuensi yang diterima karyawan.

Gambar  2 Hubungan Input kinerja dan konsekuensi yang diterima
Sumber: Intrepretasi Penulis 

Sebagai bukti bahwa perusahaan Jangga mengimplementasikan Extrinsically motivated behavior, ada beberapa scene yang dirangkum penulis untuk menggambarkan asumsi tersebut. Pada episode 1, diceritakan bahwa adanya perkelahian antara Park Sae-Roy dengan Jang Geun Won (putra dari Jang Dae-Hee). Karena tidak terima anaknya dipukuli, Jang Dae Hee mengancam Park Sung Yeol (ayah dari Park Sae-Roy) apabila tidak menyuruh anaknya untuk membungkuk dan meminta maaf maka dia akan dipecat. Namun karena mengetahui anaknya, Park Sae-Roy memulai perkelahian karena untuk membela temannya dari pembulian, ayah park Sae-Roy tidak menyuruh Park Sae-Roy untuk meminta maaf, maka Park Sung Yeol dikeluarkan dari perusahaan Jangga.

Dengan demikian, bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar  3 Proses Kronologis pemecatan Park Sung Yeol

Selain itu, digambarkan pula pada episode 2, menceritakan Jang Dae-Hee menyuruh Jang Geun-Won untuk mematahkan leher ayam, namun Jang Geun-Won menolak karena tak tega. Jang Dae-Hee mempertegas bahwa sebagai pewaris perusahaan Jangga, Jang Geun-Won harus bisa melakukan segala cara agar bisa mencapai tujuan. Dengan rasa takut Jang Geun-Won mematahkan leher ayam tersebut karena takut akan ayahnya. Episode ini memperlihatkan bahwa motivasi yang diajarkan pada Jang Geun Won merupakan Extrinsically motivated behavior, karena berdasar pada ketakutan akan konsekuensi yang akan diterima bila tidak sesuai dengan perintah yang diberikan. Hal ini juga merupakan motivasi yang mendasari perilaku Jang Geun Won yang melakukan segala cara agar bisa menjadi penerus kepemimpinan Jang Dae-Hee atas perusahaan Jangga.



Gambar  4 Motivasi berdampak pada perilaku manusia (Jang Geun Won)

Goal Setting Theory ala Perusahaan Jangga

Secara lebih lanjut lagi, selain menggunakan Extrinsically motivated behavior, Jang Dae Hee sebagai Presiden Direktur perusahaan Jangga mengimplentasikan Goal-Setting Theory. Menurut Jones dan George, Goal-setting theory didefinisikan sebagai teori motivasi yang menekankan pada karyawan untuk berkontribusi dengan kinerjanya untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini bertujuan agar karyawan focus pada target tujuan yang ingin dicapai sebuah organisasi. Teori ini, membagi tujuan perusahaan menjadi 4 bagian yang tujuan spesifik, tujuan dengan kategori mudah, menengah dan sulit (Gareth R. Jones, 2020).   Dalam drama Korea Itaewon Class setidaknya digambarkan secara gamblang perusahaan Jangga memiliki dua tujuan yakni tujuan spesifik dan tujuan yang sulit, terlepas dari tujuan dengan kategori mudah dan menengah yang tidak digambarkan secara mendetail.

Kategori Tujuan

Deskripsi

Implementasi pada perusahaan Jangga

Spesifik

Tujuan yang sudah spesifik sasaran dan indikatornya.

Tujuan spesifik yang digambarkan perusahaan Jangga adalah untuk memenangkan kompetisi pribadi dengan Kedai DanBam milik Park Sae-Roy. Hal ini jelas terlihat dari episode awal sampai akhir bahwa Jang Dae Hee sebagai pemimpin perusahaan mendorong seluruh bagian dari Jangga untuk memenangkan kompetisi pribadi ini. Seluruh pihak baik manajemen, karyawan, staff dapur didorong dan dimotivasi untuk bisa menggungguli kedai DanBam. Hal ini akhirnya membentuk rasa rivalitas antar karyawan didua pihak yang berkompetisi

Sulit

Tujuan yang sulit diraih, namun bukan berarti tidak mungkin

Tujuan sulit yang ingin dicapai oleh perusahaan Jangga yang tergambar pada serial ini adalah ingin menjadi leading company untuk kompetisi pada industry makanan di Korea dan Dunia. Hal ini mendorong seluruh bagian perusahaan untuk mengerahkan segala kemapuan, melakukan segala sesuatu dan bereksperimen, riset untuk pengembangan perusahaan, motivasi berdasarkan target sulit ini membberikan hasil yang sejalan dengan usaha para karyawan. Sebagai contoh perusahaan Jangga mengupayakan untuk melakukan ekspansi bisnis ke luar negeri seperti Tiongkok.

Tabel 1 Goal-Setting Theory yang diimplementasikan perusahaan Jangga

Implementasi Kepemimpinan dalam Perusahaan Jangga

Dalam menjalankan perusahaan, selain membangun motivasi, diperlukan system kepemimpinan yang kuat. Untuk menunjang manajemen sebuah perusahaan, diperlukan system kepemimpinan yang baik dalam setiap level pimpinan. Semakin baik kepemimpinan, semakin cepat pula tercapainya tujuan sebuah perusahaan. George dan Jones mendefinisikan leadership atau kepemimpinan sebagai proses seseorang dalam memberikan pengaruh, inspirasi dan motivasi kepada orang lain serta mengarahkan aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut (Gareth R. Jones, 2020). 

Banyak tipe tipe kepemimpinan yang dijelaskan oleh George dan Jones, namun mereka  memberikan highlight tentang pentingnya kekuatan dan kekuasaan dalam menjalankan kepemimpinan. Dengan kata lain dasar dari kepemimpinan adalah kekuatan dan kekuasaan. Dalam kepemimpinan, terbagi 5 kekuatan atau kekuasaan yakni, expert, referent,reward, coercive dan legitimate (Gareth R. Jones, 2020)Untuk memudahkan dalam memahaminya, penulis mencoba mengilustrasikannya dan menghubungkannya dengan Jang Dae-Hee selaku pucuk pimpinan perusahaan Jangga.

Gambar  5 Kekuatan dan Kekuasaan pemimpin
Sumber: Contemporary Management 11th Edition
Ilustrasi: Penulis

Implementasi Teori Kekuasaan dan Kekuatan Jang Dae-Hee pada Perusahaan Jangga

A. Legitimate Power
Seperti yang dijelaskan pada ilustrasi diatas, legitimasi diartikan sebagai kekuasaan yang diterima seorang pemimpin yang diterimanya karena dampak dari hirarki jabatan (Gareth R. Jones, 2020). Hal ini dimaksud semakin tinggi jabatan maka semakin kuat legitimasi seseorang dalam memimpin. Pada perusahaan Jangga, Jang Dae-Hee merupakan pucuk tertinggi dalam hirarki kepemimpinan. Sehingga legitimasi semua perintah Jang Dae-Hee adalah perintah yang mutlak dan harus diikuti oleh seluruh bagian perusahaan.

B. Reward Power
Reward dijelaskan sebagai kemampuan atau hak seorang pemimpin untuk memberikan penghargaan baik berwujud maupun tidak berwujud (Gareth R. Jones, 2020). Penghargaaan berwujud diantaranya seperti bonus, gaji, tunjangan, sedangkan yang tidak berwujud seperti pujian dan sanjungan. Pada perusahaan Jangga, reward yang diperlihatkan pada drama adalah pujian atas kinerja Soo Ah yang baik serta sanjungan terhadap Direktur Kang Ming-Jun.

C. Coercive Power
Selain memiliki hak untuk memberikan reward atau penghargaan, seorang Manajer atau pemimpin perusahaan memiliki kekuasaan untuk memberikan hukuman terhadap karyawan (Gareth R. Jones, 2020). Pada perusahaan Jangga, Jang Dae-Hee terkenal sebagai pemimpin perusahaan yang tidak jarang menggunakan coercive power. Banyak scene yang memperlihatkan Jang-Dae Hee menggunakan kekuasaan ini dengan seenaknya. Sebagai contoh, pemberhentian tuan Pak Sung Yeol karena tidak menuruti perintahnya untuk memaksa Park Sae-Roy berlutut dihadapannya, atau scene yang memperlihatkan Jang Dae-Hee menamparkar kedua anaknya (Jang Geun-Won dan Jang Geun-So) karena berbuat salah.

D. Expert Power
Expert power diartikan sebagai kekuatan seorang pemimpin karena memiliki potensi, pengetahuan ataupun keterampilan khusus terkait berjalannya perusahaan (Gareth R. Jones, 2020). Pada perusahaan Jangga, Jang Dae-Hee terkenal akan kemampuan, pengetahuannya akan masakan tradisional Korea. Karena kemampuan dan pengetahuan khusus yang dimiliki Jang Dae-Hee, perusahaan Jangga memiliki standar tinggi akan kualitas produk masakan yang menjadi ciri khas restoran dibawah naungan perusahaan Jangga.

E. Referent Power
Referent power diartikan sebagai kekuatan yang dimiliki pemimpin yang muncul karena adanya penghormatan, loyalitas dan kekaguman karyawan atas pemimpin tersebut (Gareth R. Jones, 2020). Sebagai contoh, pada perusahaan Jangga, Jang Dae-Hee begitu dihormati dan memiliki karyawan yang loyal yang siap mengikuti segala perintah yang dibuatnya. Sebagai contoh ada scene yang memperlihatkan Jang Dae-Hee berkata bahwa para karyawan Jangga ibarat seperti anjing, ayam dan Babi. Umpatan ini dimaksudkan bahwa semua karyawan Jangga sangat memjua kehebatan Jang Daae-Hee dan siap melakukan apapun selama mereka sanggup, walau perintahnya adalah sebuah perintahnya bertolak belakang dengan nurani para karyawan.

Model Kepemimpinan Jang Dae Hee

Pada dasarnya, sebagai pemimpin Jang Dae Hee memiliki seluruh kekuatan dan kekuasaan yang dibutuhkan untuk memimpin sebuah perusahaan besar, namun sayang model kepemimpinan yang dianutnya tidak diimplementasikan secara optimal. Walaupun tidak mencakup seluruh indicator model, penulis bisa mengansumsikan bahwa Jang Dae Hee sebagai Presiden Direktur perusahaan Jangga menggunakan Trait and Behavior Leadership Model sebagai model kepemimpinannya

Trait and Behavior Leadership Model ala Jang Dae-Hee

Trait and Behavior Leadership Model berfokus pada mengidentifikasi karakter personal seorang pemimpin yang mengakibatkan efektifitas kinerja dalam perusahaan, Menurut banyak peneliti, seorang pemimpin yang nenggunakan model ini harus memiliki kualitas yang membedakan mereka dengan para pemimpin yang kurang efektif. Namun sifat atau karakter yang nanti dipelihatkan dalam table tidak menjadi jaminan seorang yang memiliki sifat sifat yang disebutkan sebagai pemimpin yang baik maupun sebaliknya.

Hal ini sejalan dengan fakta yang ada pada diri dan model kepemimpinan Jang Dae Hee yang diaplikasikannya di perusahaan Jangga. Tidak semua sifat yang disebutkan pada model ini dimiliki dan diaplikasikan oleh Jang Dae Hee. Adapun sifat sifatnya adalah:

A. Intelligence
Intelligence merupakan kemampuan pemimpin dalam memahami isu-isu yang kompleks dan menyelesaikan masalah. Sebagai Presiden Direktur, Jang Dae Hee memiliki kemampuan dalam mengorganisir isu-isu, dan memiliki penyelesaian masalah yang efektif.  Walaupun kadang mengorbankan banyak hal, sampai mengorbankan keluarganya sendiri, akan dia lakukan demi menyelamatkan perusahaan Jangga. Hal ini terbukti dengan dikorbankannya Jang Geun Won karena isu negative keluarga, dikorbankan sampai masuk ke penjara.

B. Knowledge and Expertise
Knowledge and expertise merupakanKemampuan pemimpin untuk membuat keputusan yang baik dan mencari jalan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi. Jang Dae Hee memahami kompetisi dan persaingan akan industry kuliner ini. Sehingga Jang Dae Hee memiliki kemampuan dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi. Hal ini didasari akan pengalaman dan pengetahuan Jang Dae Hee yang sudah terbangun dalam puluhan tahun.

C. Dominance
Dominance merupakan Kemampuan untuk mempengaruhi sub-ordinate untuk mencapai tujuan organisasi. Sebagai senior, Jang Dae Hee menggunakan dominasi kepada kolega koleganya yang lain. Dominasi ini dibangun dengan menjalin relasi denga banyak pihak sehingga memiliki suara yang dominan dalam pembuatan keputusan.

D. Self-Confidence
Self-Confident merupakan Kepercayaan diri untuk mempengaruhi secara efektif subordinate perusahaan dan bertahan ketika menghadapi rintangan dan masalah. Jang Dae Hee dengan dasar kemampuan, dominasi yang dimilikinya akhirnya membangun kepercayadirian yang tinggi dalam memimpin. Namun sayang, tingkat kepercayaan dirian Jang Dae Hee berada pada level yang terlalu tinggi, sehingga sering merendahkan orang lain termasuk kompetitir-kompetitornya. Hal ini berdampak pada terlambatnya menyadari permasalahan, sebagai contoh karena terlalu percaya diri dan merendahkan Park Sae-Roy menjadi titik kelemahan Jang Dae Hee dalam kompetisi melawan Park Sae-Roy

E. High Energy
High Energy merupakan kemampuan menghadapi keinginan pasar yang banyak. Sebagai pemimpin yang memiliki usia yang tak lagi muda, Jang Dae Hee memiliki kelemahan dalam memahami keinginan pasar. Jang Dae Hee lebih banyak memberikan titah kepada orang lain untuk mewakilinya. Karena Jang Dae Hee adalah tipikal pemimpin one man show, sehingga memiliki kesulitan mendapatkan kepercayaaan orang lain apabila tidak dia sendiri yang menghadapi.

F. Tolerance for Stress
Tolerance for Stress merupakankemampuan menghadapi ketidakpastian dan membuat keputusan sulit. Seperti yang disebut diatas, bahwa Jang Dae Hee sebagai mampu mengorbankan segala hal demi perusahaan. Sehingga tidak sulit baginya untuk membuat keputusan walau dalam keadaan terhimpit. 

G. Integrity and Honesty
Integrity and honesty memiliki etika dan mendapatkan kepercayaan dan kepercayadirian. Sayang, orientasi Jang Dae Hee adalah profit oriented, sehingga banyak hal yang dilanggar secara etika oleh Jang Dae Hee, sehingga terkesan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini membangun citra yang buruk secara personalitas Jang Dae Hee secara pribadi

H. Maturity
Maturity merupakan kedewasaan, menjauhi bergerak sendiri, mengkontrol perasaan dan menyadari dalam ketika kesalahan. Secara personalitas Jang Dae Hee memiliki sifat tinggi hati dan kadang keputusan yang dibuat serta mewakili keputusan organisasi bedasarkan pada egosentris pribadi dan berdasarkan pada perasaan pribadi dan bukan atas dasar kebutuhan perusahaan.

Behavior

Deskripsi

Implementasi pada perusahaan Jangga

Consideration

Perilaku pemimpin yang percaya, menghargai dan peduli pada subordinat.

Pada perusahaan Jangga, Jang Dae-Hee mengimplementasikannya dengan cara memberikan keluasan bagi karyawan untuk menjalankan ide-idenya selama tidak keluar dari koridor tujuan utama. Sebagai contoh, Jang Dae-Hee memberikan kepercayaan penuh pada Soo Ah terkait pengembangan bisnis perusahaan. Hal ini didasari akan kapasitas Soo Ah dalam membuat strategi bisnis. Selain  itu, dengan usianya yang lebih senior, Jang Dae-Hee menempatkan dirinya sebagai keluarga dan sosok ayah bagi orang-orang terdekat khususnya pada Soo ah sebagai orang yang dia  percayai.

Iniating Structure

Perilaku pemimpin yang memastikan bahwa pekerjaan selesai dan karyawan melakukan tugasnya dengan efektif dan efisien.

Dalam perusahaan Jangga, jang Dae-Hee memainkan peran yang vital. Selain sebagai pucuk pimpinan perusahaan, Jang Dae-Hee juga memainkan peran sebagai quality control perusahaan. Hal ini berimbas pada turunnya Jang Dae-Hee pada tataran terbawah yang bergerak dalam perusahaan. Jang Dae-Hee tidak ingin tujuan perusahaan tidak tercapai karena kesalahan karyawan. Tidak sedikit karyawan yang mendapatkan teguran keras karena tak mencapai tujuannya. Seperti yang terlihat pada episode 11, Jang Dae-Hee menampar Jang Geun Soo yang bertugas sebagai orang yang bertanggungjawab atas kemenangan Jangga dalam kompetisi Kedai Terhebat. Hal ini diakibatkatkan kekalahan perusahaan Jangga di Kedai Terhebat.

Tabel 2 Implementasi Behavior Model pada perusahaan Jangga

Teori motivasi yang sebaiknya digunakan oleh Jang Dae-hee

Berdasarkan teori-teori motivasi yang dijabarkan dalam buku Contemporary Management (11th edition) oleh Jones & George (2020), penulis menyarankan Jang Dae-hee untuk menerapkan Operant Conditioning Theory dengan Positive Reinforcement. Operant Conditioning Theoryadalah teori bahwa orang belajar untuk melakukan perilaku yang mengarah pada konsekuensi yang diinginkan dan belajar untuk tidak melakukan perilaku yang mengarah pada konsekuensi yang tidak diinginkan. Operant Conditioning Theory menyediakan empat alat yang dapat digunakan manajer untuk memotivasi kinerja tinggi dan mencegah pekerja terlibat dalam ketidakhadiran dan perilaku lain yang mengurangi efektivitas organisasi. Tools ini adalah positive reinforcement, negative reinforcement, extinction, dan punishment (Jones & George, 2020). Dalam hal ini, Jang Dae-hee bisa memakai positive reinforcement untuk efektivitas teori motivasi yang akan diterapkan. Menurut Jones dan George (2020), positive reinforcement memberi orang hasil yang mereka inginkan ketika mereka melakukan perilaku fungsional organisasi. Hasil yang diinginkan ini, yang disebut positive reinforcers, mencakup hasil apa pun yang diinginkan seseorang, seperti gaji, pujian, atau promosi. Dalam prakteknya, Jang Dae-hee sering menggunakan kekuasaannya untuk mengancam karyawannya dengan hukuman dan bertindak otoriter. Ini menghasilkan performa karyawan yang tidak baik; mereka pada akhirnya mengkhianati Jang Dae-hee, mereka mengundurkan diri dari perusahaan, hingga sakit hati yang dirasakan karyawan.


Namun, dengan positive reinforcement, seperti lebih sering memberikan pujian saat dinilai perlu, perlakuan yang sama antarkaryawan terlepas dari ada atau tidaknya hubungan keluarga, hingga pemberian penghargaan atau insentif saat karyawan memiliki attitude atau menghasilkan performa yang baik. Ini diharapkan akan menjadikan Jang Dae-hee pemimpin yang disegani—bukan ditakuti; memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik lagi karena adanya keadilan dan pujian atau imbalan yang sesuai.

Model kepemimpinan yang sebaiknya digunakan oleh Jang Dae-hee

Berdasarkan model kepemimpinan yang dijabarkan dalam buku Contemporary Management (11th edition) oleh Jones & George (2020), penulis menyarankan Jang Dae-hee untuk menggunakan Fiedler’s Contingency Model dengan relationship-oriented leader. Relationship-oriented leaders adalah pemimpin yang perhatian utamanya adalah mengembangkan hubungan baik dengan bawahannya dan disukai oleh mereka. Di sini, kualitas hubungan interpersonal dengan bawahan menjadi perhatian utama para pemimpin yang berorientasi pada hubungan.

Gambar 6 Fielder’s Contingency Theory of Leadership
Sumber: Contemporary Management (11th edition) oleh Jones & George (2020)
Ilustrasi: Penulis

Leader-Member Relations adalah sejauh mana pengikut menyukai, mempercayai, dan setia kepada pemimpin mereka. Task structure adalah tingkat kejelasan akan pekerjaan yang akan dilakukan sehingga bawahan seorang pemimpin tahu apa yang perlu diselesaikan dan bagaimana cara melakukannya. Position power adalah jumlah kekuatan yang sah, penghargaan, dan koersif yang dimiliki seorang pemimpin berdasarkan posisinya dalam sebuah organisasi; penentu seberapa menguntungkan sebuah situasi untuk memimpin (Jones & George, 2020).

Berdasarkan gambar di atas, penulis menyimpulkan bahwa Perusahaan Jangga memiliki Leader-Member Relations yang buruk (poor). Ini ditunjukkan dengan karyawan Jangga yang tidak menyukai Jang Dae-hee, dan Soo-ah serta Direktur Kang yang tidak setia kepada Jang Dae-hee. Soo-ah melaporkan tindakan tidak etis yang dilakukan oleh Jangga, sedangkan Direktur Kang membantu DanBam dalam berusaha bersaing dengan Jangga. Kemudian, task structure Perusahaan Jangga dinilai tinggi (high). Ini ditunjukkan dengan perintah-perintah Jang Dae-hee yang jelas kepada subordinatnya. Selanjutnya, Jang Dae-hee dinilai memiliki position power yang kuat (strong). Merujuk kepada "Implementasi Teori Kekuasaan dan Kekuatan Jang Dae-Hee pada Perusahaan Jangga" yang telah dijabarkan sebelumnya di artikel ini, dapat disimpulkan bahwa Jang Dae-hee memiliki kekuasaan yang besar serta ditakuti oleh para karyawannya. Karena itu, Perusahaan Jangga dalam hal ini berada pada posisi V, di mana relationship-oriented leaders dinilai efektif sebagai model kepemimpinan untuk situasi Jangga saat ini. Jang Dae-hee disarankan untuk meningkatkan dan mengembangkan hubungan baik dengan bawahannya.

Referensi:

Jones, G. R., & George, J. M. (2020). Contemporary Management (Eleventh E). McGraw-Hill Education.

Oleh:

Profit Storm
– Fachrizal Anshori Budimansyah (NIU: 472031)
– Nadya Shafirah (NIU: 472082)


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format