Pied Piper’s Leadership and Motivation

Silicon Valley: Season 1 Episode 8: Mempelajari Teori Kepemimpinan dan Motivasi dari Richard cs. di Pied Piper


0

SYNOPSIS

Mengetahui Erlich diam-diam tidur bersama istrinya,salah satu juri menyerang Erlich pada saat tim Pied Piper tengah mempresentasikan produknya di tahap preliminary TechCrunch Disrupt. Sebagai kompensasinya, TechCrunch langsung mengirim Piped Piper ke tahap Battlefield final. Hooli yang dipimpin oleh Gavin Belson saat itu telah menunggu di final. Pada presentasinya, Gavin mempresentasikan produk Nucleus yang memiliki fungsi kompresi data di level yang sama dengan produk Pied Piper, yaitu memiliki skor Weissman 2,89.

Namun, Nucleus diperkenalkan terlebih dahulu dari pada Pied Piper, sehingga apabila skor Weissman dari Pied Piper sama dengan Nucleus, hampir dipastikan Nucleus akan mengambil pasar terlebih dahulu, dan membuat Pied Piper tidak bisa lagi memasarkan produknya. Hal tersebut membuat Tim Pied Piper merasa tersudutkan, sedangkan tahap final akan dilaksanakan keesokan harinya. Mereka mencari cara untuk dapat mengalahkan Nucleus pada babak final meskipun dalam waktu yang sangat singkat. Richard, Erlich, dan Jared bersikeras mencari cara untuk tetap dapat mempresentasikan sesuatu esok hari, namun Gilfoyle dan Dinesh sudah hampir menyerah. Dalam perdebatan, percakapan konyol antara Gilfoyle, Dinesh, Jared dan Erlich secara tidak sengaja memberikan ide baru pada Richard untuk memodifikasi algoritma kompresi dari Pied Piper.

Dengan terburu-buru, Richard langsung mengunci diri di kamar dan menyelesaikan program barunya dalam semalam. Pagi tiba, Richard yang biasanya mengalami kesulitan dalam berbicara di ruang publik, memutuskan untuk mempresentasikan sendiri produk Pied Piper.

Waktu presentasi pun tiba. Ketika Richard mempresentasikan Pied Piper, ia menceritakan bahwa algoritma kompresi data yang digunakan Nucleus adalah buatannya. Namun Gavin berhasil mereproduksi dengan sempurna semua yang dimiliki Pied Piper, sehingga Richard terpaksa harus mengubah dan menulis ulang semua kodenya dalam semalam. 

Ajaibnya, skor Weissman yang didapatkan dari metode “middle-out” ciptaan Richard adalah 3,8 saat dicoba secara pribadi oleh Richard. Skor tersebut lebih tinggi dari Nucleus yang memiliki skor Weissman 2,89. Tak percaya, salah satu juri akhirnya memberi Richard sebuah file untuk dikompres. Richard kemudian menjalankan tes Weissman dan tidak terduga mendapatkan skor yang sangat ajaib yaitu 5,2. Jauh lebih baik dari uji pribadinya, 3,8. Pied Piper akhirnya memenangkan Battlefield dan mempermalukan Gavin.

Pada Episode 8, last ditch effort dari Richard mengubah algoritma membuat keajaiban untuk Pied Piper. Namun, kompetisi TechCrunch Disrupt menunjukkan bagaimana leadership dari Richard dan motivasi dari anggota Pied Piper berpengaruh terhadap kinerja dari perusahaan saat berada di bawah tekanan. Saat di bawah tekanan, motivasi atau keinginan untuk berjuang dari Dinesh dan Gilfoyle menurun, di sini lah leadership Richard dan Erlich diuji. Karena sejatinya, leadership merupakan proses dimana seseorang bisa memberi pengaruh atau inspirasi terhadap orang lain serta mengarahkan aktivitas mereka untuk mencapai tujuan kelompok. Terlepas dari hasil TechCrunch Disrupt, masih ada ruang untuk berkembang bagi Pied Piper. Oleh karena itu, pada pembahasan artikel ini, penulis akan mengulas kedua aspek, leadership and motivation, pada perusahaan Pied Piper.

 TEORI MOTIVASI: MENGERTI POSISI DINESH DAN GILFOYLE

Dengan Nucleus merilis produk kompresi data terlebih dahulu, dilengkapi dengan berbagai macam fitur, Gavin menempatkan Hooli di posisi pertama pada race to the market, mengungguli Pied Piper. Menyaksikan hal ini di depan mata mereka, respon anggota Pied Piper terbagi dua, dengan Dinesh dan Gilfoyle yang dapat dikatakan hampir menyerah. Saat melihat temannya yang sukses dengan start-upnya, mereka sempat tertarik untuk meninggalkan Richard dan Pied Piper.

Mengapa hal itu terjadi? Perilaku Dinesh dan Gilfoyle mengikuti salah satu teori motivasi yang disebut dengan Expectancy Theory. Intinya, expectancy theory mengacu kepada bahwa tiap individu dapat merasa termotivasi, saat mereka mempercayai bahwa effort yang tinggi akan menghasilkan outcomes atau hasil yang tinggi juga. 

Teori ini memiliki 3 tahap yang penting yaitu, seseorang menjadi termotivasi karena percaya bahwa upaya tinggi menghasilkan performa yang tinggi (expectancy), performa yang tinggi menghasilkan hasil yang baik (instrumentality), dan hasil yang baik tersebut sesuai dengan preferensi dari orang tersebut (valence). 

Expectancy: Tercapai

Dinesh & Gilfoyle, sebelum melihat hasil rekayasa teknik kompresi data dari Nucleus, percaya bahwa dengan upaya yang mereka lakukan telah men-deliver performa yang baik untuk mendukung produk Pied Piper.

Instrumentality: Tidak Tercapai

Setelah melihat presentasi dari Gavin Belson, anggapan bahwa “performa yang tinggi” akan menghasilkan “hasil yang baik” tidak terjawab. Karena dengan Gavin merekayasa sempurna algoritma mereka, kemungkinan Pied Piper untuk menembus pasar menjadi sangat kecil

Valence: Tidak Tercapai

Sebelum Richard mendapatkan inspirasi untuk membuat algoritma baru, Dinesh & Gilfoyle tidak dapat membayangkan outcome yang akan membuat mereka termotivasi

Melalui tabel di atas, 2 dari 3 faktor utama pembentuk motivasi Dinesh dan Gilfoyle tidak tercapai. Maka tidak heran, Dinesh dan Gilfoyle, saat Richard, Jared, Erlich mencari cara untuk tetap berada di medan pertarungan, alih-alih membantu malah terbesit pikiran untuk mengkhianati tim Pied Piper. Perbedaan motivasi ini adalah suatu permasalahan yang seharusnya diatasi bersama oleh Richard dan Erlich. Richard dan Erlich, melalui perilakunya, mengikuti teori Goal-Setting Theory

Mereka termotivasi karena mereka memiliki tujuan yang spesifik yaitu untuk sukses membangun Pied Piper, sehingga apabila di tengah-tengah perjalanannya mereka menemukan batu penghalang, mereka tetap bisa fokus pada satu tujuan meski ada opsi-opsi lain yang mungkin bisa mereka pilih. Mirip dengan expectancy theory, sama-sama memiliki suatu tujuan sebagai sumber motivasi, Goal-setting theory berbeda karena memiliki poin dimana manajer harus bisa untuk memastikan bahwa anggota organisasi fokus untuk mengerahkan upayanya demi satu tujuan yang sama, yaitu tujuan organisasi. Maka dari itu, menurut penulis, seharusnya teori Goal-Setting diterapkan oleh Richard dan Erlich. Kesalahan dari Richard adalah tidak mempertimbangkan teori ini saat keberjalanan pengembangan bisnis dari Pied Piper. Richard seharusnya mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin Dinesh dan Gilfoyle bisa saja berbelok dari tujuan awal karena ekspektasinya yang tidak terjawab. Dengan menggunakan teori Goal-Setting, diharapkan Richard dan Erlich akan menginvestasikan waktu atau usaha untuk membuka dialog dengan Dinesh dan Gilfoyle, memastikan bahwa mereka berdua tetap fokus pada tujuan organisasi, meskipun di tengah-tengah ada kemungkinan terjadi kesulitan yang membuat tujuan tersebut menjadi terasa sulit tergapai. 

TEORI LEADERSHIP: RICHARD AS A LEADER 

Bagaimanapun juga, motivasi dari anggota organisasi sangat bergantung dari seberapa pengaruh yang diberikan oleh pemimpinnya. Sehingga, tendensi-tendensi untuk mundur dari Gilfoyle dan Dinesh karena hilangnya motivasi, sedikit banyak dipengaruhi juga oleh kepemimpinan Richard. Menurut penulis, yang menyebabkan keputusan Dinesh dan Gilfoyle yang lantas berniat untuk berkhianat dari Pied Piper adalah tidak adanya sosok yang bisa mengingatkan mereka kembali atas tujuan awal dari perusahaan. Jika dilihat di klimaks episode saat seluruh anggota Pied Piper berkumpul pada satu ruangan, Erlich bersikeras untuk Pied Piper tetap presentasi dengan apapun yang dimiliki, sedangkan Dinesh, Gilfoyle berpendapat untuk keluar dari kompetisi, dan ada Richard yang terdiam. 

Mengamati dari situasi tersebut, kepemimpinan pada tim Pied Piper mengikuti teori The Leader Substitutes Model, dimana peran kepemimpinan yang seharusnya dilakukan oleh Richard sebagai CEO Pied Piper dalam memotivasi para anggotanya justru anggotanya lah yang memainkan peran tersebut. Leader Substitutes terjadi saat pada suatu organisasi, terdapat satu individu yang memiliki power yang cukup besar untuk memengaruhi anggota lain. Pada kasus Pied Piper, karena anggotanya hanya lima orang, dan kelima orang tersebut memiliki hubungan yang erat, Richard sebagai CEO, menjadi kabur power-nya, terbagi dengan anggota lainnya.

Untungnya, Richard yang saat itu hanya terdiam dan mendengarkan anggotanya, tiba-tiba mendapatkan ide dan dengan sigap langsung mengerjakan ide programnya dalam semalam dan menciptakan algoritma baru yang mengungguli algoritma buatannya yang sudah “dicuri” oleh Hooli dan Gavin Belson. Pada presentasi babak final, akhirnya Pied Piper berhasil memenangkan kompetisi TechCrunch dengan skor Weissman 5.2. Meski keajaiban terjadi, seharusnya dalam prosesnya, kepemimpinan yang ada pada Pied Piper bisa diperbaiki. Karena, saat perusahaan mengikuti perilaku leader substitutes, hal itu menandakan bahwa tidak ada satu pihak yang bertanggung jawab atas motivasi dari para anggotanya. Hal ini menyebabkan suatu resiko dimana anggota perusahaan dapat bergerak tidak sesuai dengan arah tujuan perusahaan. Tentunya, hal ini tidak sesuai dengan Goal-Setting Theory

Maka dari itu, menurut penulis, akan lebih tepat jika dalam menjalankan peran kepemimpinannya, Richard menerapkan Transformational Leadership. Richard sebagai CEO dari Pied Piper yang seharusnya memotivasi dan meyakinkan anggota tim nya untuk mencari solusi demi mencapai tujuan perusahaan. Transformational Leadership dilaksanakan dengan manajer melakukan 3 hal penting;

  1. Membuat anggota sadar akan pentingnya pekerjaan atau posisi mereka untuk organisasi, dan pentingnya memberikan performa terbaik agar perusahaan dapat menggapai tujuannya
  2. Membuat anggota sadar akan kebutuhan anggota tersebut untuk tumbuh, berkembang, dan achieve di pekerjaannya
  3. Memotivasi anggotanya untuk bekerja dengan tujuan demi kebaikan satu perusahaan, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya

Jika hal ini dapat dilakukan oleh manajer, maka anggota akan percaya pada manajer tersebut dan berkeinginan untuk memberikan usaha terbaiknya, meski berada pada kondisi yang sulit. Ada tiga cara untuk menjadi transformational leader, yaitu menjadi pemimpin yang berkharisma, mampu untuk menstimulasi kemampuan intelektual anggotanya agar lebih kritis dan kapabel, dan yang terakhir memiliki concern tentang perkembangan yang dialami anggotanya dalam bekerja. Richard sendiri, adalah seorang programmer yang handal, sehingga sebagai pemimpin, seringkali ia memberikan ide kepada Dinesh dan Gilfoyle. Namun dari tiga cara yang disebutkan, hanya ini yang Richard miliki. Sehingga, saran dari penulis adalah Richard untuk menjadi lebih percaya diri dan tegas, serta lebih berani untuk membuka percakapan dengan Dinesh dan Gilfoyle sehingga mereka lebih percaya lagi dengan keputusan yang dibuat Richard dan tidak mudah untuk kehilangan motivasi. 

CONCLUSION

Menganalisis kondisi dari Pied Piper saat masa-masa genting dengan teori motivasi dan leadership memberikan pemahaman bahwa perusahaan Pied Piper belum menerapkan langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi masalahnya. Apabila sejak awal, Richard merupakan pemimpin yang transformational, seharusnya tidak ada trust issue yang dirasakan oleh Dinesh dan Gilfoyle, meski mereka ada pada kondisi yang sulit. Karena mereka akan percaya dengan Richard, dan motivasinya tetap terjaga sampai akhir pertarungan.

Artikel ini telah melalui pengecekan plagiarisme di duplichecker.com

Abdurrahman Faiq
Kinsai Dona Ayu Nirmala
MBA 78C
Kelompok 6: Digital Taskforce

Referensi:
Gareth R. Jones Jennifer M.George “Contemporary Management” Eleventh Edition


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format