Kasus Bisnis Theranos: From Hero to Zero

Tentang pengelolaan sumber daya manusia dan konflik yang buruk, serta pengambilan keputusan yang bias


1
1 point

Dokumenter yang digarap oleh sutradara peraih penghargaan The Academy, Alex Gibney, menceritakan secara komprehensif tentang kembang dan jatuhnya start-up di bidang kesehatan yang sempat menggemparkan banyak masyarakat yaitu Theranos. Theranos didirikan oleh seorang wanita berumur 19 tahun bernama Elizabeth Holmes. Holmes didorong oleh kenangan akan pamannya yang meninggal saat ia masih kecil, karena penyakit kanker yang terlambat untuk disadari. Saat diidentifikasi, sudah menyebar ke banyak organ dalam tubuh pamannya.

Ide produk dari Theranos adalah mesin yang ia namai “Edison”, direncanakan untuk mampu melakukan begitu banyak jenis tes darah, hanya dengan mengambil sedikit darah di ujung jari. Tentunya, ini merupakan hal yang sangat sulit dilihat dari perspektif ilmu kedokteran, namun menjanjikan jika dilihat oleh masyarakat banyak. Benar saja, dalam beberapa tahun, perusahaan ini telah divaluasi sebesar 9 miliar US Dollar, dan mempekerjakan kurang lebih 800 orang. 

Elizabeth Holmes dan Nanotubes

Perusahaan ini sangat kental dengan penjagaan rahasianya, tidak banyak orang yang tahu tentang bagaimana sebenarnya mesin “Edison” bekerja. Dengan janjinya yang setinggi langit, sudah banyak sebenarnya narasumber yang meragukan. Ternyata benar, masalah-masalah mulai terjadi. Awalnya, Theranos menjanjikan kepada pasien bahwa tes hanya dilakukan dengan tusukan kecil di ujung jari, namun saat di tempat, Theranos menyuntik dengan jarum suntik biasa dengan alasan “dibutuhkan oleh petugas lab dan dokter” Namun, Holmes selalu dengan yakin menjawab segala pertanyaan pers dengan meyakinkan, sehingga di luar perusahaan, media masih menggambarkan Theranos sebagai perusahaan yang bisa merevolusi sistem kesehatan. 

Padahal, secara internal, berantakan. Banyak pegawai-pegawainya yang mengundurkan diri karena menilai kultur kerja di dalamnya sudah tidak sehat, atau merasa bahwa mesin “Edison” ini, tidak akan bisa mencapai spesifikasi yang dijanjikan.


Makin hari, semakin terlihat ketidakmampuan Holmes dan Theranos untuk menjawab tuntutan masyarakat. Sempat bekerja sama dengan salah satu toko obat terbesar di Amerika Serikat yaitu Walgreens, akhirnya kontrak tersebut diputus dan Walgreens menuntut Theranos, hal ini disebabkan karena hasil tes dari mesin “Edison” sangat melenceng jauh dari standar laboratorium biasa, izin lab dan mengambil sampel Theranos ditarik oleh Centers for Medicare and Medicaid Service (CMS).

Di akhir cerita, Holmes dan partnernya, Sunny, akhirnya berpisah. Theranos dari yang awalnya bervaluasi hampir 10 miliar US Dollar, bangkrut sampai bernilai di bawah 0 US Dollar, Holmes dan Sunny dituntut oleh SEC (US. Security and Exchange Commission) dengan tuduhan “massive fraud”. Terdakwa dengan kasus penipuan tersebut, sidang dari Sunny dan Holmes awalnya direncanakan pada tahun 2020, namun karena pandemi COVID-19, jadwal tersebut diundur menjadi 2022 untuk Sunny, dan 2021 untuk Holmes.

MANAGING CONFLICTS, POLITICS AND NEGOTIATION

Memahami kasus yang dialami oleh perusahaan Theranos yang dipimpin oleh Elizabeth Holmes, salah satu hal utama yang dapat dipelajari adalah bagaimana jajaran pemimpin di Theranos mengatasi konflik yang terjadi di dalam perusahaannya. Konflik tersebut terjadi di antara Elizabeth Holmes dan karyawan-karyawan yang merasa bahwa bagaimana Theranos bekerja sebagai perusahaan tidak sesuai dengan harapan yang ada dalam pikiran mereka, sampai-sampai dari suatu perusahaan yang ternilai hampir 10 milyar US Dollar, bisa jatuh sampai tidak bernilai sama sekali. 

Konflik sendiri menurut Jones & George pada bukunya yang berjudul Contemporary Management(9th ed) diartikan sebagai perbedaan pendapat yang muncul ketika ada tujuan, kebutuhan, atau nilai dari dua kelompok yang tidak kompatibel sehingga antara kelompok tersebut saling menghalangi untuk mencapai masing-masing tujuannya. Penting untuk manajer di perusahaan mengatur level konflik yang ada di perusahaan, karena konflik bisa meningkatkan kinerja perusahaan jika berada di level yang tepat.

Untuk mengatur tingkat konflik, manajer juga perlu menunjukkan kemampuan bernegosiasi dan berpolitik di perusahaan. Tujuannya? Mengambil keputusan yang tepat dan memengaruhi pihak kelompok lain agar konflik terselesaikan sebagaimana yang diinginkan oleh manajer tersebut. Lalu bagaimana konflik, negosiasi, dan politik dilakukan di Theranos?

Pihak Berkonflik

Elizabeth Holmes

Research Staff Theranos

Tipe Konflik

Interpersonal Conflict: Terjadi antara individu-individu yang merasa keberatan dengan tingginya ambisi dari Elizabeth Holmes

Sumber Konflik: different goals and time horizons

Konflik terjadi karena staff riset dari Theranos merasa bahwa yang dijanjikan Holmes kepada masyarakat mengenai mesin “Edison” terlalu berlebihan dan hampir tidak mungkin untuk dicapai dalam waktu yang singkat

Strategi Manajemen Konflik

Competition: yang dilakukan oleh Holmes mengenai keresahan dari staf adalah tetap terus maju dengan apa yang ia rencanakan saat awal. Tidak ada niatan darinya untuk berkompromi mengerti tekanan yang dirasakan oleh staff.

Awalnya:

Compromise dan AvoidancePara staff riset dari Theranos, mengaku pada wawancaranya bahwa mereka tidak memiliki banyak pilihan. Sehingga mereka tetap bekerja mengerjakan mesin Edison, meski mereka banyak merasa keberatan, karena lingkungan kerja yang tidak aman dan target yang tidak realistis

Akhirnya:

Competition:

Staff-staff tersebut mengundurkan diri dari Theranos, dan bertaruh melawan ancaman legal dari Theranos dengan memberikan informasi-informasi tentang internal Theranos

Tipe Negosiasi

Distributive Negotiation: Pada tipe negosiasi berikut, kedua pihak sama-sama merasa memiliki hak untuk mendapatkan yang diinginkan. Sehingga, untuk mendapatkan hal itu, kedua pihak sama-sama saling menekan dan menyulitkan, tanpa melihat apakah hubungan antara mereka dapat rusak atau tidak. Dari sisi Holmes, selalu menekankan pada staffnya, apabila tidak berani mengambil resiko, mungkin “anda tidak cocok di perusahaan ini”. Sedangkan staff-staff yang merasa bahwa ambisi Holmes terlalu tinggi, akhirnya memutuskan untuk pergi dari Theranos, dan memberikan informasi tentang Theranos secara diam-diam ke berbagai pihak

Political Strategies to Gain and Maintain power

Building Alliances: Untuk memperkuat posisinya di perusahaan, Elizabeth Holmes mempekerjakan David Boeis, salah satu lawyer terbaik yang pernah menggugat Microsoft dan menang, sebagai legal advisor di perusahaannya. Dengan adanya David Boeis, Elizabeth sering mengancam staff-staff bekas Theranos untuk tidak membocorkan informasi ke pihak luar

Making oneself irreplaceable: Posisi Holmes di Theranos bukan hanya sebagai CEO, tapi ia juga memposisikan diri sebagai figure yang dominan. Digambarkan seolah-olah hanya dirinya seorang yang memahami betul mimpi dan visi dari perusahaan Theranos

Karena secara struktur organisasi berada jauh di bawah Holmes, para staff riset tidak memiliki kemampuan politis untuk memperjuangkan keinginannya di perusahaan Theranos

Dari tabel di atas, disimpulkan bahwa Elizabeth Holmes menggunakan kekuatannya di perusahaan untuk menyelesaikan konflik bukan dengan mendengarkan masukan dari staff-nya, namun dengan menekan dan memaksakan kehendaknya tanpa memperhatikan kesulitan yang dialami oleh timnya.

Level konflik yang berlebihan dan tidak diatasi dengan baik berujung dengan beberapa staff yang akhirnya sudah tidak dapat menerima keadaan itu dan memutuskan untuk keluar dari Theranos.

DIFFERENCES IN MOTIVATION

Rasa keberatan dari para staff riset, dapat ditinjau dari teori manajemen yang berkaitan dengan motivasi. Motivasi dapat berasal dari dalam diri sendiri, seperti sense of accomplishment, atau berasal dari lingkungan luar, seperti untuk mendapatkan hadiah atau menghindari hukuman. Pada perusahaan Theranos, tidak diperlihatkan pada documenter terdapat ‘insentif’ tambahan untuk staff-staff yang mengerjakan riset untuk Edison. Malah dari beberapa interview terhadap bekas staff Theranos menceritakan bahwa saat pertama kali bergabung, mereka merasa menjadi “a part of something big”, atau “I was very excited with the idea of Theranos”, sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi dari staff-staff yang akhirnya pergi awalnya berasal dari dalam dirinya sendiri.

Kondisi dimana turunnya motivasi para staff tersebut, berkaitan dengan salah satu teori motivasi yaitu expectancy theory. Teori yang dikemukakan Victor H. Vroom menyatakan bahwa motivasi pada seorang pekerja akan tinggi apabila mereka percaya bahwa usaha yang tinggi akan menghasilkan performa yang tinggi, dan performa yang tinggi akan berujung pada mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Sehingga saat mereka tidak lagi mempercayai bahwa tidak bisa lagi menemui outcome yang mereka inginkan, motivasi mereka akan meredup. 

Berbeda dengan Holmes, pada dokumenter digambarkan seperti sesosok yang memiliki tujuan yang benar-benar jelas dan konkrit. Holmes juga seseorang yang tidak gentar dengan apa yang dikatakan oleh orang lain, dan tetap fokus untuk mengejar apa yang ia inginkan. Perilaku dari Holmes ini memiliki kemiripan dengan teori goal-setting theory. Teori ini menyebutkan bahwa yang menggerakkan motivasi seseorang adalah sebuah tujaun atau goal. Semakin sulit, spesifik goals-nya, seharusnya mereka akan semakin termotivasi. Namun, pada goal-setting theory, ada bagian yang cukup ditekankan yaitu bagaimana manajer harus bisa mengajak dan meyakinkan anggota organisasi untuk bergerak ke goal tersebut.

Tabel berikut menjelaskan lebih rinci bagaimana perbedaan motivasi di antara kedua pihak tersebut

Pihak Berkonflik

Elizabeth Holmes

Research Staff Theranos

Teori Motivasi

Goal-Setting Theory

Expectancy Theory

Perilaku

Kemauan bergerak berdasarkan tujuan yang dimiliki

Kemauan bergerak berdasarkan dari harapan bahwa usaha akan sejalan dengan hasil yang diinginkan

Konsekuensi

Selama gol belum tercapai, Holmes akan terus berusaha dan mengusahakan berbagai cara untuk mencapai gol tersebut. Namun saat pemimpin perusahaan tidak mampu meyakinkan anggota organisasi, ada risiko kinerja tim akan menurun.

Ketika gol terasa sulit dicapai meski telah memberikan effort yang banyak, maka motivasi akan turun. Atau dalam kondisi lain, ketika tujuan perusahaan sudah tidak lagi sesuai (poin valence tidak tercapai) dengan gol yang diinginkan secara individual, maka akan menurunkan motivasi pula

DECISION MAKING & COGNITIVE BIASES

Dihadapkan dengan realita dimana kemungkinan besar Theranos tidak akan bisa mencapai spesifikasi yang dijanjikan kepada publik, dilatarbelakangi dengan kepentingan dan motivasi yang berbeda, membuat pula perbedaan pada keputusan yang dipersepsi sebagai keputusan yang terbaik. Pada pengambilan keputusan, umumnya ada enam tahap yang dilakukan oleh seseorang.

Steps in Decision Making Process

Elizabeth Holmes

Research Staff Theranos

Recognize the need for a decision

Setelah melalui riset dan pengembangan, ternyata fungsionalitas mesin Edison kemungkinan besar tidak dapat dicapai

Generate alternatives

  1. Tetap mempertahankan spesifikasi dari Edison sesuai dengan rencana awal
  2. Merubah spesifikasi Edison sesuai dengan masukan dari staff riset
  1. Tetap bertahan dengan status quo, mengikuti tuntutan yang berat dari jajaran pemimpin Theranos
  2. Memberikan input, masukan, agar ada perubahan pada sistem kerja di Theranos

Assess alternatives

Alternatif 1: Sesuai dengan mimpi awal Holmes, meski feasibilitasnya sangat kecil untuk berhasil dikerjakan, namun jika berhasil dapat merevolusi teknologi laboratorium kesehatan

Alternatif 2: Kompromi dengan mimpi awal, favorable terhadap anggota perusahaan, ada risiko turunnya valuasi dari investor dan pengguna sebab perbedaan mesin jadi dengan yang dijanjikan

Alternatif 1: Tidak ada konflik yang mungkin terjadi, namun pekerjaan sehari-hari akan terasa berat karena ketidakjelasan akan hasil dari usaha yang dilakukan

Alternatif 2: Memungkinkan ada konflik, namun apabila masukan dapat diterima oleh Holmes dan pimpinan Theranos, kondisi bekerja bisa menjadi lebih baik

Choose among Alternatives

Alternatif 1

Alternatif 2

Implement the Chosen Alternative

Holmes tetap kukuh dengan pendiriannya, dan tidak mengurangi spesifikasi dari mesin Edison

Dari wawancara yang dilakukan pada film dokumenter, banyak staff yang menyatakan bahwa sudah pernah melakukan dialog dengan Holmes, dan memberikan masukan atas progress mesin Edison 

Learn from Feedback

Dengan keadaan yang dipaksakan, semakin lama mesin Edison semakin menunjukkan inferioritas dibandingkan dengan hasil lab dari laboratorium konvensional. Masalah kualitas tes Theranos ter-blowup media, institusi negara mulai menginvestigasi Theranos. Partner bisnis memutus kontrak, Theranos bangkrut

Saat masukan tidak diterima dengan baik oleh pimpinan Theranos, dan hal itu berjalan terus menerus, akhirnya keputusan yang diambil oleh staff-staff tersebut adalah keluar dan diam-diam menjadi whistleblower atas masalah yang ada di dalam perusahaan Theranos

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa runtutan keputusan yang diambil oleh Holmes pada akhirnya mengakibatkan Theranos runtuh sepenuhnya. Ketidakmauan untuk berkompromi dari Holmes tidak dibarengi dengan solusi yang bisa membuat Edison menjadi mesin yang ia inginkan. Dari sisi pekerja, meski memberanikan diri untuk memberikan masukan kepada Holmes, namun hal itu tidak ditanggapi dengan baik. Sehingga pada akhirnya mereka tidak memiliki pilihan selain mengundurkan diri karena tidak melihat ada tanda-tanda ekspektasi mereka akan terpenuhi.

Kerasnya Holmes rekat kaitannya dengan bias kognitif dalam pengambilan keputusan, yaitu illusion of control dan escalating commitment. Holmes merasa bahwa tujuan yang ia inginkan bisa dicapai dengan kapabilitasnya, ditambah lagi dengan perusahaannya yang sudah mendapatkan valuasi besar dari investor. Holmes menjadi tidak mampu menyadari bahwa yang ia inginkan ternyata di luar dari kemampuannya dan perusahaannya (illusion of control). Selain itu, Holmes sudah terlalu sering muncul di public, dan digadang-gadang sebagai next Steve Jobs, Bill Gates. Masyarakat Amerika saat itu menaruh banyak ekspektasi padanya, sehingga ia merasa tidak ada jalan untuk mundur dan enggan untuk menurunkan standar dari mesin Edison (escalating commitment)

SARAN UNTUK THERANOS

Apabila waktu dapat diputar kembalI, menyimpulkan dari tiga bagian pembahasan di atas, ada tiga langkah yang dapat dilakukan oleh Holmes untuk mempertahankan Theranos. 

1. Pahami bahwa setiap individu memiliki motivasi pribadi untuk melakukan sesuatu, dan sebagai orang yang memiliki kekuatan, Holmes bertanggung jawab untuk merangkul anggota organisasinya. Pada pembahasan soal motivasi pekerja yang turun, menurut penulis seharusnya Holmes memahami hal tersebut, bahwa pekerjanya tidak terpenuhi aspek valence dari ekspektasinya. Yang harus dilakukan Holmes adalah mengamplifikasi usahanya dalam meyakinkan anggotanya terhadap gol dari Theranos sendiri, sebagaimana salah satu persyaratan untuk mengaplikasikan goal-setting theory terhadap anggota organisasi. Memperbanyak dialog dan menginvestasikan waktu untuk meyakinkan staff bahwa mereka sedang menuju gol yang sama, meski jalannya terjal


2. Memahami dan berdialog, tentunya termasuk juga salah satu cara untuk bernegosiasi. Kesalahan dari Holmes adalah menggunakan negosiasi tipe competition untuk menyelesaikan konflik antara dia dan para staff riset. Menggunakan tipe negosiasi ini, Holmes tidak dapat mengerti betul apa yang dirasakan oleh staffnya. Disarankan untuk Holmes, daripada menggunakan Distributive Negotiation, lebih baik menggunakan Integrative Bargaining, dimana penyelesaian konflik berfokus dengan cara kedua pihak bekerja bersama untuk mendapatkan suatu solusi yang dirasa baik dan memuaskan untuk semua. Beberapa cara yang bisa dilakukan, yang pertama emphasizing superordinate goals, atau menemukan satu gol yang sebenarnya sama-sama diinginkan oleh kedua pihak yang berkonflik. Holmes ingin merevolusi industri kesehatan, dan para staff riset menginginkan untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Dengan menemukan hal itu, kedua pihak bisa melihat big picture dari semua yang diusahakan oleh perusahaan, dan rela untuk berkompromi meski ada ketidaksetujuan dalam beberapa hal selama keberjalanannya. Hal yang kedua adalah focus on what is fair, hal ini khusus diperuntukkan pada Holmes. Terlalu fokus dengan bagaimana Theranos dipandang media, Holmes menjadi mengecilkan hal-hal berbahaya yang dialami oleh staff risetnya pada keseharian bekerja. Apabila Holmes tidak mengecilkan hal ini, tentu staff riset Theranos akan lebih mudah untuk percaya terhadapnya.


3. Keputusan yang diambil oleh Holmes, akhirnya berbuntut petaka untuk dirinya sendiri dan perusahaannya. Ini menandakan bahwa keputusan Holmes bukan keputusan yang tepat. Holmes yang terlalu dominan, tidak dapat mengindentifikasi bias dari dirinya sendiri. Dibutuhkan sosok yang berpengalaman yang bisa membantu Holmes untuk berpikir jernih. Menurut penulis, seharusnya Holmes bisa diturunkan dari posisi CEO, dan bekerja sebagai advisor yang bekerja dengan melihat kondisi perusahaan dari sisi luar. Karena dengan begitu, operasional perusahaan yang menjadi momok untuk staff, tidak perlu ada campur tangan dari Holmes. Biarkan CEO yang ditunjuk untuk mengurus masalah tersebut. Selain itu, dengan CEO yang tidak sedominan Holmes, ada ruang yang lebih imbang dalam berdiskusi, sehingga keputusan-keputusan penting perusahaan dapat dilakukan bersama, dan mengurangi kemungkinan terjadinya bias kognitif. Hal ini menurut penulis akan menghasilkan keputusan yang lebih baik dibandingkan apabila Holmes saat itu tetap menjadi CEO. Tugas Holmes? Memastikan bahwa tujuan dan gol dari perusahaan tetap sesuai dengan komitmen awal dan menjadi figur utama dari Theranos.

Artikel ini telah dicek orisinalitasnya dengan menggunakan lama duplichecker.com dan mendapatkan tingkat plagiarism 0%

Abdurrahman Faiq W

471988

Kelas PRA MBA 78C

REFERENSI

Jones, G.R., dan George, J.M. (2020). Contemporary Management. 11th Edition, McGraw-Hill, New York

https://www.hbo.com/documentaries/the-inventor-out-for-blood-in-silicon-valley

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4079927/dituduh-menipu-miliarder-startup-ini-kini-tak-mampu-sewa-pengacara


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format