Managing Conflict in Action: Konflik Perintisan Facebook dalam Film The Social Network


1
1 point

Sinopsis The Social Network: Berdasarkan Cerita Asli 

A person holding a sign in front of a computer  Description automatically generated with medium confidence

Gambar  1 Poster the social network

Sumber: Cinemags.com 

Video  1 The Social Network Official Trailer Video

Sumber: Kanal Youtube Sony Pictures Entertainment

The Social Network adalah sebuah film garapan sutradara David Fincher dan penulis naskah Aaron Sorkin(IMDb, 2010). Film yang bergenre biografi ini mengisahkan perjalanan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook mengawali perjalanan pengembangan raksasa media sosial yang sangat terkenal sampai saat ini.  Cerita yang diangkat dari sebuah buku berjudul The Accidental Billionaires karangan Ben Mezrich ini membuat bagaimana sulitnya dalam mengawali bisnis dalam dunia digital diawal-awal trennya  (IMDb, 2010).

Graphical user interface, text, chat or text message  Description automatically generated

Gambar  2 Cover buku The Accidental Billionaires karya Ben Mazrich

Sumber: Amazon.com

Film yang dirilis pada tahun 2010 ini berlatar waktu pada tahun 2003 saat Mark Zuckerberg yang diperankan oleh Jese Eisenberg yang pada saat itu merupakan mahasiswa tingkat dua di Harvard University baru dicampakkan oleh pacarnya Erica Albright yang diperankan oleh Rooney Mara. Setelah dicampakkan, Mark kembali ke asrama dan menulis sebuah blog yang berisi umpatan dan hinaan untung sang mantan kekasih. Karena memiliki keahlian dalam bidang Sistem teknologi, Mark juga meretas database mahasiswa untuk mencuri foto foto mahasiswa, khususnya mahasiswi. Foto-Foto tersebut kemudin di unggah dan disebarluaskan pada website yang dia kembangkan yang diberi nama Facemash.

A close-up of a screen  Description automatically generated with medium confidence

Gambar  3 Tampilan Facemash pada The Social Network

Sumber:liputan6.com

Video  2 Scene meretas database Mahasiswa Harvard dan membuat FaceMash

Sumber: Kanal Youtube Facu Verdun

Facemash sendiri diperuntukkan bagi para mahasiswa untuk bisa menilai ketertarikan para mahasiswi secara bebas. Tak disangka, kunjungan pada website Facemash menjadi ramai dan menimbulkan kegaduhan dikalangan Mahasiswa Harvard University. Selain kegaduhan dikalangan mahasiswa, efek dari Facemash juga dirasakan oleh jaringan yang digunakan di Kalangn Harvard, dan atas insiden tersebut, Mark Zuckerberg mendapat diskors selama 6 bulan.

Walau menjalani diskors selama 6 bulan, perkembangan Facemash mendapat perhatian dari karakter lain. Karakter tersebut adalah Cameron dan Tyler Winklevoss yang diperankan Amy Hammer dan mitra bisnisnya Divya Narendra. Dalam cerita, dikisahkan Cameron, Tyler dan Divya sedang mengembangkan sebuah website yang dinamai Harvard Connection, sebuah website untuk mencari teman kencan di kalangan anak Harvard  secara eksklusif. Ketiganya menawakan Mark untukbergabung dengan mereka dalam mengembangkan website tersebut. 

Mark Zuckerberg akhirnya bertemu dengan Eduardo Saverin yang diperankan Andrew Garfield, serta menjelaskan idenya mengenai TheFacebook ,sebuah website eksklusif untuk siswa Ive League. Eduardo pun tertarik bergabung dan menyanggupi memberi modalsebesar $1000 untuk pengembangan The Facebook. Setelah berjalannya waktu, TheFacebook akhirnya menjadi terkenal dan dapat diakses semua orang.

Video  3 konflik antara Mark Zuckerberg dan Harvard Connection (Cameron, Tyler, Divya)

Sumber: Kanal Youtube MovieClips

Ternyata tidak semua orang yang menyukai perkembangan TheFacebook, Cameron, Tyler dan Divya melayangkan gugatan terhadap Mark karena merasa sudah dicuri idenya (Harvard Conection) yang dijadikan inspirasi awal membangun TheFacebook. Pada beberapa scene, diperlihatkan Mark Zuckerberg, Eduardo Saverin, Divya Narendra, Cameron dan Tyler Winklevoss berada pada ruagan mediasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Karakter dan Pemeran


Pada film ini, banyak aktor kenamaan yang terlibat untuk membangun film yang mengisahkan perjalanan terbentuknya facebook. Diantaranya:

Gambar  4 Karakter dan Pemeran pada Film the Social Network

Sumber: Berbagai Sumber

Ilustrasi: Penulis


Identifikasi Konflik: Mark Zuckerberg VS Eduardo Severin

Sumber: Monitor Day

Seperti yang sudah digambargan pada bagian diatas, Mark Zuckerberg karena terkesan kutu buku dan memandang segala situasi dengan pertimbangan  jangka pendek, Mark menghadapi berbagai masalah. Setidaknya ada dua konflik besar yang dihadapi oleh Mark Zuckerberg yang digambarkan oleh film ini. 

Pada bagian ini, penulis akan menggunakan teori dari buku Contemporary Management Edisi 11, Jones dan George pada bab 17, yakni Managing Conflict, Politics and Negotiations menjelaskan bagaimana konflik muncul dan bagaimana cara mencari solusia tas konflik tersebut. 

Jones dan George menjelaskan bahwa munculnya konflik dalam sebuah organisasi perusahaan dikarenakan hal hal berikut:

 

Gambar  5 Jenis-Jenis Konflik

Sumber: Contemporary Management 11th Edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis

Gambar  6 Sumber-Sumber Konflik

Sumber: Contemporary Management 11th Edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis


Analisis: Bentuk dan Sumber Konflik

Video  4 Konflik antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin

Sumber: Kanal YouTube Mario Gates

Pada film ini menggambarkan persahabatan dan perjalanan Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin dalam mengembangkan Facebook. Diceritakan pula bahwa dalam perjalanannya keduanya berselisih paham tentang jumlah saham yang dimiliki oleh Eduardo Saverin dan jabatannya sebagai Co-founder Facebook.

Sesuai dengan Jones dan George dalam bukunya the Contemporary Management(Gareth R. Jones, 2020), Konflik antara Mark Zuckerberg dengan Eduardo Saverin merupakan konflik interpersonal, hal ini dikarenakan pihak yang berkonflik hanya sebatas antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin saja. Konflik tersebut tidak mengganggu divisi, atau tim yang lain. Selain menjelaskan bentuk konflik yang terjadi, penulis juga menambil kesimpulan bahwa yang menjadi sumber atau alasan adanya konflik antara Mark Zukerberg dan Eduardo Saverin ditengarai adanya perbedaan overlapping authority dan Status yang inkonsisten. 

Overlapping Authority merupakan sumber konflik yang muncul ketika dua atau lebih manajer, divisi, atau bagian fungsional menjalankan sebuah otoritas untuk suatu tugas atau aktivitas yang sama. Dalam film ini digambarkan bahwa adanya pembagian tugas antara Mark Zuckerberg yang bertugas untuk mengembangkan teknologi dan menyempurnakannya, sedangkan Eduardo Saverin mendapatkaan tugas untuk mencari pendanaan. Namun, munculnya karakter Sean Parker menimbulkan konflik diantara keduanya. Tanpa diketahui Eduardo, Sean membuat keputusan bisnis khususnya pendanaan perusahaan. Sean mendapatkan investasi sebesar $500.000 dari seorang investor bernama Peter Thiel. Selain itu, besaran saham yang dimiliki Eduardo yang pada awalnya sebesar 34% dirubah menjadi 0.03%.

Selain Overlapping Authority, konflik ini juga memperlihatkan sumber konflik lain yakni Status yang Inkonsisten. Jones dan George menjelaskan bahwa status yang inkonsiten didefinisikan sebagai adanya perbedaan status dalam sebuah organisasi, adanya orang yang lebih dihormati daripada orang lain juga dapat menimbulkan konflik. Pada cerita the Social Network, konflik antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin diakibatkan adanya perbedaan penghormatan antara Sean Parker dengan Eduardo yang diberikan oleh Mark Zuckerberg. Sean lebih dihormati dan didengarkan oleh Mark karena Sean memiliki kemampuan persuasif yang baik dengan jam terbang bisnis yang panjang. Hal ini akhirnya membuat Eduardo merasa tidak dihargai oleh Mark.

BentukKonflik

InterpersonalConflict

Konflik yang terjadi hanya antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin. Peran Sean Parker hanya sebagai pengeruh konflik.

Sumber:

Contemporary Management bab 17

“Managing Conflict, Politics, and Negotiations

SumberKonflik

Overlapping Authority

Mark Zuckerberg dan Sean Parker mengambil alih tugas dan otoritas Eduardo Saverin dalam pengambilan keputusan pendanaan perusahaan. 

Status yang Inkonsisten

Mark Zuckerberg lebih menghormati Sean Parker, dibanding Eduardo Saverin. ( tidak sejajar dan beda perlakuan).

Tabel 1 Tabel Analisis konflik pada The Social Network

Sumber: Intrepretasi Penulis


Muara Konflik 1: Cognitive Biases dan Metode Pengambilan Keputusan

Setelah mengidentifikasi bentuk dan sumber konflik yang terjadi diantara pendiri Facebook yang digambarkan pada film the Social Network, pada bagian ini kita akan menilik lebih dalam sistematika pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Mark Zuckerberg dan Sean Parker serta bias kognitif yang muncul dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Pada bagian ini, penulis menggunakan buku Contemporary Management edisi 11 bab 7 tentang “ Decision Making, Learning and Creativuty untuk menjadi sumber analisis. 

Pada bab 7 tentang “Decision Making, learning and creativity”, Jones dan Goeorge mnjeladkan dengan sangat gamblang tentang bagaimana sistematika pembuatan keputusan dan bias kognitif yang muncul dalam setiap pengambilan keputusan. Setidaknya ada 3 model pengambilan keputusan yang dijelaskan keduanya, yakni programmed and non-programmed decision making, Classical model, dan the administrative model.

Gambar  7 Programmed dan Non-Programmed Decision Making

Sumber: Contemporary Management 11th edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis


Gambar  8 The Classical Model Desion Making

Sumber: Contemporary Management 11th edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis


Gambar  9 The Administrative model

Sumber: Contemporary Management 11th edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis

Selain mengenal model, sebelum menilik lebih dalam terkait pengambilan keputusan,  kita sebaiknya memahami bias bias yang muncul dalam pengambilan keputusan sehingga kita mampu melihat secara objektif anomali- anomali yang muncul dalam keputusan pendanaan yang dilakukan oleh Mark Zuckerberg dan Sean Parker sehingga menimbulkan konflik interpersonal dengan Eduardo Saverin. Jones dan Goeorge menggambarkan setidaknya ada 4 bias yang sering terjadi dalam pengambilan keputusan yakni , representativeness biases, Ilusssion control biases, Confirmation biases dan escalating coommitment. Secara jelas akan penulis akan menjelakan dengan illustrasi dibawah ini:

Gambar  10 Cognitive Biases in Decision Making

Sumber: Contemporary Management 11th edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis

Dalam film digambarkan konflik yang terjadi antara Mark Zuckerberg dan Eduardo severin adalah akibat dari keputusan yang diambil oleh Mark Zuckerberg dan Sean Parker secara sepihak dan bersifat overlapping authority. Selain itu, dibagian sebelumnya juga dijelaskan bahwa adanya status yang inkonsisten yang diperlihatkan oleh mark Zuckerberg terhadap Eduardo Severin. Pada bagian ini, akan berfokus pada pengambilan keputusan yang diambil oleh Mark Zuckerberg dan Sean Parker berkaitan dengan keputusan pendanaan.

Video  5 Pertengkaran antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin

Dalam pengambilan keputusan ini, Mark Zuckerberg dan Sean Parker menggunakan model  pengambilan keputusan yang tidak terprogram. Hal ini tergambar denagn tidak adanya pedoman atau alur pengambilan keputusan yang diambil, keputusan yang tercipta pun bersifat sepihak. Jones dan George menjelaskan bahwa pengambilan keputusan yang menggunakan model tidak terprogram biasanya berasal dari intuisi pengambil keputusan yang bersifat sepihak. Selain itu, bila dibandingkan dengan pengambilan keputusan yang terprogram biasanya ada pedoman dan alur hirarki pengambilan keputusan, sedangkan dalam kasus ini, Eduardo Saverin yang bertindak sebagai CFO dilangkahi otoritasnya sehingga pengambilan keputusan pendanaan tersebut tidak seatas izinnya.

Dalam pengambilan keputusan yang dibuat oleh Mark Zuckerberg dan Sean Parker setidaknya mencirikan salah satu bias yang terjadi dalam pengambilan keputusan yakni Illusion Control biases. Illussion Control Biases didefinisikan sebagai bias kognitif yang terjadi karena adanyakecenderungan melebih-lebihkan kapasitas seseorang untuk mengontrol aktivitas dan peristiwa. Para pemimpin perusahaan biasanya sangat rentan terhadap bias ini. Setelah berhasil mencapai puncak organisasi, mereka cenderung memiliki rasa yang berlebihan tentang nilai atas dirinya atau orang lain yang ia percayai. Pada kasus keputusan pendanaan Facebook yang digambarkan oleh The Social Network sangat terlihat bahwa Mark Zuckerberg terlalu percaya diri dan merasa bahwa dia dapat memutuskan segalanya. Hal ini juga terjadi dengan Sean Parker yang notabenenya bukan siapa siapa dalam jajaran manager Facebook tapi sangat dipercaya oleh Mark karena merasa Sean lebih tau segalanya dan dapat mengontol keadaan.

Selain adanya illusion Control biases, hubungan antara Mark Zuckerberg dan Sean Parker juga mengindikasikan adanya Groupthink. Gruopthink sendiri adalah kelompok pengambilan keputusan mencoba untuk sepakat atas asumsi-asumsi mereka dengan mengorbankan dan tidak memperhatikan informasi yang relevan dengan keputusan yang akan dibuat. Dalam hal ini, Mark Zuckerberg dan Sean Parker berperan sebagai Groupthink karena dalam pengambilan keputusan pendaan tersebut tidak melihat informasi dan keadaan yang mungkin terjadi dalam manajemen internal perusahaan, apakah akan menyebabkan konflik apa tidak.

Aspek yang ditinjau

Bentuk

Indikasi

Sumber:

Contemporary Management

Bab 7

Decision Making, learning and creativity

Model pengambilan keputusan

Non- Program Decision Making

Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi Sean Parker yang diamini Mark Zuckerberg. Tidak berdasarkan pedoman dan mengabaikan hirarki manajerial.

Cognitive Biases yang muncul

Illussion Control Biases

Mark Zuckerberg terlalu percaya diri akan keputusan yang dibuat. Mark Zuckerberg memandang Sean Parker mampu mengendalikan keadaan dan keputusannya yang paling benar

Faktor lain

Groupthink

Hubungan antara Mark Zuckerberg dan Sean Parker adalah hubunagn yang tidak sehat, Tindakan persuasive Sean parker terhadap Mark Zuckerberg tidak melihat informasi dan keadaan apabila dampak keputusan tersebut akan mengakibatkan konflik internal perusahaan terkhusus interpersonal conflict antara Eduardo dan Mark. 

Tabel 2 Analisis Pengambilan keputusan pendaan Facebook

Sumber: Interpretasi Penulis

Muara Konflik 2: Komunikasi Organisasi yang Inefektif

Salah satu kunci kesuksesan sebuah organisasi atau perusahaan dapat tercapai sesuai harapaan. Jones dan George menggambarkan betapa pentingnya komunikasi dalam sebuah organisasi. Keduanya berasumsi bahwa komunikasi memgusahakan adanya keterlibatan individe, komunikasi mengusahakan adanya kesepahaman bersama tercapai. Dari kedua gambaran tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa komunikasi erat kaitannya denagn hubungan antar manusia dan pembangunan kesepaham bersama, sehingga keterpacapaian tujuan organisasi sesuai yang diharapkan. 

Penulis menemukan anomaly-anomali dalam pola komunikasi yang tercipta antara Mark Zuckerberg yang berperan sebagai Chief Executive Officer (CEO) Facebook dan Eduardo Saverin Chief Financial Officer (CFO) Facebook yang tergambar dalam film the social network. Untuk memperdalam analisis pola komunikasi yang terjadi antara CEO dan CFO Facebook ini, penulis menggunakan buku Contemporary Management edisi 11, khususnya pada bab 16 yakni tentang “Promoting effective Communication”. Pada bab ini, Jones dan George menjelaskan tentang bagaimana pentingnya membangun komunikasi yang efektif, bagaimana proses komunikasi yang efektif terbangun, serta rintangan-rintangan yang harus dihadapi ketika membangun pola komunikasi yang efektif.

Dalam komunikasi Organisasi, dikenal beberapa pola komunikasi yang diimplementasikan yang memiliki tingkat kekayaan atau efektifitas informasi yang berbeda-beda. Jones dan George membagi pola komunikasi menjadi 4 pola dengan tingkat kekayaan / efektifitas informasi yang berbeda beda. Adapun 4 pola komunikasi tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar  11 Hubungan Pola Komunikasi Organisasi dan Kekayaan Informasi

Sumber: Contemporary Management 11th edition (Gareth R. Jones, 2020)

Ilustrasi: Penulis

Pada ilustrasi diatas memperlihatkan bagaimana kualitas kekayaan informasi yang tersedia dari setiap pola komunikasi. Pada kasus Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin, pola komunikasi yang digunakan oleh Mark Zuckerberg untuk menginformasikan pertemuan adalah menggunakan pola personally-adressed written communication. Hal ini terindikasi ketika Eduardo datang ke rapat karena mendapatkan undanngan via email yang dikirim oleh Mark selaku CEO. Sifat dari pola komunikasi personally addressed written communication yang terjalin antara Eduardo dan Mark adalah email atau media komunikasi yang digunakan ditujukan secara personal, dengan tujuan Eduardo dapat membaca dan memperhatikannya. 

Personally-adressed  written communication berada pada tingkat kekayaan informasi yang rendah. Hal ini diakibatkan oleh keterbatasan informasi yang digunakan serta adanya perbedaan intrepretasi antara pengirim dan penerima pesan. Selain itu, pihak penerima memiliki keterbatasan dalam memberikan feedback secara langsung kepada pihak pengirim sehingga meluasnya intrepretasi penerima informasi. 

Jones dan George juga memberikan penjelasan tentang poin penting seorang manager sebagai seorang pengirim pesan. Yang digarisbawahi dalam kasus ini adalah seorang pengirim pesan mestinya menghindari tindakan filtering. Filtering sendiri didefinisikan sebagai menahan sebagian pesan karena keyakinan keliru bahwa penerima tidak membutuhkan atau tidak menginginkan informasi tersebut. Hal ini terjadi pada kasus Mark Zuckerberg sebagai pengirim dan Eduardo sebagai penerima pesan. Mark Zuckerberg tidak memberikan gambaran jelas akan pertemuan yang harus dilakukan Eduardo Saverin sebagai CFO dan salah satu pemilik saham Facebook. Hal ini menjadi pemicu utama terjadinya konflik antara Eduardo dan Mark.

Aspek yang ditinjau

Tokoh

Implenentasi

Implikasi

Sumber: Contemporary Management Bab 16 Promoting effective Communication

Pola Komunikasi Organisasi

Mark Zuckerberg

Personally-adressed written communication

Memiliki tingkat kekayaan yang rendah. Menimbulkan keterbatasan informasi antara Mark dan Eduardo. Terciptanya intrepretasi pribadi yang terlalu jauh bagi penerima informasi (Eduardo)

Eduardo Saverin

Face-to-Face Communication

Ketika mengetahui keputusan pendanaan tersebut, Eduardo langsung meminta klarifikasi terhadap Mark atas keputusan tersebut.

Peran Manager sebagai Pengirim


Menghindari Tindakan filtering

Mark Zuckerberg melakukan filtering dengan asumsi bahwa Eduardo tidak perlu informasi tentang saham yang disebarkan. Sehingga terjadinya komunikasi yang tidak efektif diantara keduanya.

Tabel 3 Analisis pola komunikasi dan Peran Manager sebagai pengirim

Sumber: Interpretasi Penulis

Political Strategies For Exercising Power

Aspect of Political Strategies for Exercising Power

Penjelasan

Implementasi

Relying on objective information

Salah satu cara bagi manajer untuk mendapatkan dukungan dan mengatasi pertentangan adalah dengan mengandalkan informasi objektif yang mendukung inisiatif manajer

Pada pengambilan keputusan yang dibuat oleh Mark Zuckerberg tidak berdasarkan informasi objektif akan dampak yang ditimbulkan atas keputusan pendanaan yang dibuat.  Hal ini berdampak pada perbedaan intrepretasi yang diambil oleh semua pihak. 


Manajemen Konflik Mark Zuckerberg VS Eduardo Saverin

Pada Contemporary Management edisi 11 bab 17, menjelaskan bagaimana manajemen atau penyelesaian konflik Jones dan George menjelaskan ada beberapa metode manajemen konflik yang dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik. Beberapa diantranya adalah kompromi, kolaborasi, akomodasi, menghidari konflik dan kompetisi.  Dalam mnajemen konflik  yang terjadi antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin

Karakter

Model Manajemen Konflik

Implementasi

Eduardo Saverin

Kompromi

Pada kasus konflik yang terjadi antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin adalah adanya perbedaan cara pandang akan keputusan pendanaan. Kesalahpahaman terbesar dikarenakan Mark terlalu tergiur dengan tindakan persuasive Sean Parker. Kedua pihak pun memiliki tujuan yang sama yakni untuk membangun Facebook. Sehingga hal ini akan menjadi mudah untuk keduanya mencapai tingkat kesepakatan dan kompromi.

Mark Zuckerberg

Akomodasi

Selain dengan kompromi, akomodasi perlu dilakukan dalam menyelesaikan konflik diantara keduanya. Perlu digarisbawahi salah satu keputusan pendanaan yang dibuat sebelum konflik adalah menurunkan nilai saham yang dimiliki Eduardo Saverin menjadi 0.03 %. Salah satu tuntutan Eduardo adalah untuk mengembalikan nilai saham yang memang sudah menjadi miliknya. Dalam hal ini, Mark harus mengakomodasi permintaan Eduardo untuk mengembalikan nilai saham yang dimilikinya. Hal ini berdasar pada hak yang memang seharusnya dimiliki Eduardo, karena keputusan yang dibuat sebelumnya adalah keputusan secara sepihak.


Tabel 4 Model Manajemen Konflik Eduardo dan Mark Zuckerberg

Sumber: Interpretasi Penulis

Strategi yang Berfokus pada Individu 

Strategi berfokus pada Individu

Implikasi

Increasing awareness of the sources of conflict.

Konflik antara Eduardo Saverin dan Mark Zuckerberg berasal dari kesalahpahaman dan miss-informasi diantara keduanya terkait keputusan pendanaan. Mark Zuckerberg sebagai pihak yang membuat keputusan tidak memahami bahwa keputusan yang dibuat secara sepihak akan menimbulkan konflik antar pihak yang seharusnya andil dalam pembuatan keputusan tersebut. Kesadaran dalam memahami sumber konflik merupakan hal penting dalam menjaga stabilitas organisasi maupun perusahaan.

Increasing diversity awareness and skills

Pada konflik ini tercermin adanya perbedaan latar belakang otoritas dan kemampuan. Sebagai CEO, Mark Zuckerberg lebih andil dalam pengembangan teknologi, sedangakan Eduardo sebagai CFO lebih berfokus pada pendanaan, investasi dan keuangan perusahaan. Konflik diantaranya ditengarai oleh overlapping authority yang dilakukan oleh Mark pada keputusan pendanaan. 

Sehingga diperlukannya pemahaman tentang bagaimana memaksimalkan perbedaan dan skill yang dimiliki. Hal ini bisa memaksimalkan potensi serta meminimalisir konflik semacam ini. 



Solusi Konflik Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin

Setelah analisis yang mendalam terkait Konflik yang terjadi antara Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin, penulis mencoba memberikan solusi untuk kedua pihak yang berkonflik. Adapun solusi yang ditawarkan adalah sebagai berikut:

1. Bringing in an outside expert

Dalam pengambilan keputusan para expert berperan penting dalam pengembangan keputusan sehingga penilaian akan keputusan yang akan dibuat akan bersifat mendekati objektif.Dalam kasus pengambilan keputusan yang diambil oleh Mark Zuckerberg hanya berdasar persuasi yang dibuat oleh Sean Parker yang notabenenya ingin mendapatkan keuntungan pribadi. Penulis memberikan saran dalam setiap pengambilan keputusan penting perushaan ssebaiknya menggunakan peran Expert untuk memahami dampak yang terjadi atas semua keputusan penting perusahaan

2. Menggunakan Dialectical Inquiry

Pada bab 7 tentang Decision Making, learning and creativity, Jones dan George menjelaskan bahwa salah satu cara untuk menghindari bias dalam pengambilan keputusan salah satu caranya adalah dengan menggunakan sitem pengambilan keputusan secara berkelompok. Dari berbagai system pengambilan keputusan secara berkelompok ini, penulis menyarankan untuk menggunakan system Dialectical inquiry.

Video  6 Dialectical Inquiry

Sumber: Kanal Youtube Muhammad Safbihin

Pada proses Dialectical inquiry, para pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk mempresentasikan, mengkritisi dan memberikan tambahan bagi opsi-opsi keputusan yang akan diambil. Hal ini akan memudahkan para pengambil keputusan untuk menghindari bias dan bahaya dari Groupthink. Hal ini juga dapat memberikan rasa tanggungjawab untuk pihak atas keputusan yang diambil. Pada kasus konflik yang terjadi antara Mark dan Eduardo ditengarai oleh pengambilan keputusan sepihak dan banyabias yang muncul. Dengan menggunakan Dialectical Inquiry semua yang terjadi sebelumnya bisa di antisipasi sedini mungkin

3. Menggunakan Face-to-Face Communication dan Spoken Communication Electronically transmitted.

Pada konflik yang terjadi antara Eduardo dan Mark diakibatkan oleh pola komunikasi yang kurang baik. Hal ini tercermin dari sedikitnya informasi yang tersedia. Dibanding memggunakan Personally-adressed written communication, penulis menyarakan Eduardo dan Mark Zuckerberg menggunakan pola komunikasi Face-to-Face Communication dan Spoken Communication Electronically transmitted untuk informasi yang penting dan harus segera diputuskan. Hal ini dikarenakan sifat dari kedua pola tersebut yang mudah dan cepat mendapatkan feedback dari si penerima pesan. Selain itu ditinjau dari kualitas informasi yang didapat, keduanya memiliki tingkat akurasi sebesar 100% kaena mempersempit kesempatan si penerima pesan untuk menginterpretasikan pesan tersebut. Dengan keadaan tersebut, pemberi dan penerima pesan memiliki intrepretasi yang sama kan sebuah informasi.

Referensi 

Gareth R. Jones, J. M. G. (2020). Contemporary Management (Eleventh E). McGraw-Hill Education.

IMDb. (2010). The Social Network.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format