The Iron Lady (2011): Breaking the Glass Ceiling


1
1 point

SINOPSIS

Sejarah selalu mencatat kisah yang pertama. Sebagai seorang Perdana Menteri wanita pertama di Britania Raya, memecah langit-langit kaca (breaking the glass ceiling) adalah kiasan tepat untuk menggambarkan perjuangan Margaret Thatcher dalam meniti karir politik yang saat itu didominasi oleh laki-laki. Glass ceiling adalah sebuah metafora yang digunakan untuk mengilustrasi adanya penghalang tak terlihat yang mencegah suatu golongan demografi, biasanya perempuan, untuk dapat melampaui tingkat hierarki tertentu [1]. Diperankan dengan apik oleh aktris senior Meryl Streep, film ini mengisahkan kerja keras Margaret Thatcher dalam menjalankan tugasnya di Parlemen Inggris serta pengorbanannya sebagai seorang wanita berkeluarga. 

Film ini dibuka oleh sosok Margaret Thatcher tua yang kaget dengan harga mahal sebotol susu di sebuah minimarket. Setibanya di rumah, kejadian ini dia ceritakan kepada suaminya, Denis Thatcher, sambil menikmati sarapan pagi. Ternyata sosok Denis hanya ada dalam bayangan Margaret Thatcher yang mengalami demensia dan kehilangan ingatan parah di masa tuanya, sehingga dia tidak mengetahui bahwa suaminya sudah lama meninggal akibat kanker.

Dalam kilas balik, film ini memperlihatkan masa muda Margaret Roberts (maiden name dari Margaret Thatcher) yang bekerja di toko kelontong keluarganya di Grantham. Sering mendapat pandangan sinis dari para gadis sebayanya, Thatcher muda jarang bersolek dan terus fokus pada pendidikan sembari membantu bisnis orang tuanya. Thatcher sangat mengidolakan ayahnya, seorang walikota dan sering memberi pidato politik, namun memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ibunya, seorang ibu rumah tangga. Thatcher tidak pernah setuju dengan peran sosok perempuan yang menghabiskan waktunya di dapur dan mengurus anak-anak. Hal itulah yang mendorong Thatcher untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa hukum di Oxford.

Sebagai perempuan muda kelas menengah ke bawah, Margaret Thatcher mengawali karirnya dengan bergabung ke Partai Konservatif yang didominasi oleh kaum laki-laki kelas atas yang merasa superior. Latar belakang keluarga Margaret Thatcher yang bukan berasal dari keluarga politikus sering dipandang sebelah mata oleh para anggota partai. Terlebih lagi, bisnis keluarga Margaret Thatcher yang hanya sebatas toko kelontong kecil menjadi bahan tertawaan bagi para politikus Partai Konservatif. Namun, Margaret Thatcher tidak pernah patah semangat. Dia yakin bahwa dengan gelar mahasiswa hukum yang dia dapatkan dari Oxford, Margaret Thatcher akan memiliki kesempatan besar untuk mengejar impiannya terjun di kancah politik.

Pada suatu acara jamuan makan malam, Margaret Thatcher bertemu dengan salah satu pelaku bisnis yang juga aktivis Partai Konservatif, Denis Thatcher. Keberanian Margaret dalam menjawab komentar sinis dari para politikus partai membuat Denis tertarik. Margaret yang memiliki kepribadian keras dan sangat serius, pada akhirnya jatuh cinta kepada Denis yang humoris dan berhati lembut. Denis melamar Margaret, mereka-pun menikah, dan dikaruniai dua orang anak kembar, laki-laki (Mark Thatcher) dan perempuan (Carol Thatcher).

Meskipun Margaret Thatcher merupakan sosok yang kontroversial dalam mengambil keputusan, film ini mengajak penonton untuk melihat lebih dekat mengenai pilihan-pilihan sulit yang selalu dihadapi oleh Margaret Thatcher dalam jenjang karir politiknya sebagai seorang perempuan. Dimulai dengan awal perjalannya sebagai anggota Parlemen Inggris dari partai Konservatif di tahun 1959, film ini menggambarkan sosok Margaret Thatcher yang berat hati pergi ke gedung Parlemen dan meninggalkan kedua anaknya. Stigma dan pandangan negatif juga dihadapi oleh Margaret Thatcher sebagai perempuan dalam bekerja di dunia politik yang didominasi oleh kaum pria.

Pada awalnya, Margaret Thatcher ditunjuk sebagai Sekretaris Negara untuk bidang Pendidikan dan Sains selama tahun 1970 – 1975. Merasa bahwa pandangan dan pendapatnya sering dianggap remeh oleh anggota partainya, Thatcher-pun bersikeras untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Oposisi. Margaret Thatcher menang dalam pemilihan dan menjabat selama 4 tahun, sampai tahun 1979. Perjalanan karir politik Margaret Thatcher akhirnya mencapai puncak ketika dia berhasil terpilih menjadi Perdana Menteri Britania Raya selama 3 periode (11 tahun 6 bulan).

Selama menjabat sebagai Perdana Menteri, Margaret Thatcher banyak sekali melakukan kebijakan yang menggemparkan dunia politik Britania Raya. Mulai dari permasalahan pembubaran serikat buruh yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran, resesi ekonomi, serta adanya pertempuran di Pulau Falklands di tahun 1982. Keputusan untuk menenggelamkan kapal musuh menggunakan rudal merupakan salah satu kebijakan yang banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun pada akhirnya, Inggris berhasil memenangkan pertempuran yang membuat Margaret Thatcher dengan mudah menduduki kursi Perdana Menteri di periode kedua (tahun 1983).

Sebagai sosok yang keras dan berani, julukan “Iron Lady” atau “Wanita Besi” diberikan oleh seorang jurnalis Soviet kepada Margaret Thatcher karena gaya politik dan kepemimpinannya yang tanpa kompromi. Pada periode kedua jabatannya, Thatcher dihadapkan pada permasalahan mogok kerja penambang Inggris (1984 – 1985), dan pemboman di Grand Hotel, Brighton ketika dia dan suaminya hampir terbunuh. Banyak cuplikan video kejadian kerusuhan yang ditampilkan dalam film ini, yang menggambarkan konflik yang terjadi selama masa jabatan Thatcher.

Namun, pada akhir periode ketiga jabatannya di tahun 1990, Margaret Thatcher digambarkan sebagai seorang wanita tua angkuh yang memarahi jajaran kabinetnya karena menolak integrasi dengan Eropa. Pada saat itu, wakil perdana menteri, Geoffrey Howe, merasa dirinya dipermalukan di depan para anggota kabinet. Merasa direndahkan harga dirinya, wakil perdana menteri akhirnya mengundurkan diri. Kejadian itu dapat dikatakan menjadi titik balik bagi karir politik Margaret Thatcher yang menyebabkan dirinya kehilangan simpatisan dan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya habis. Thatcher yang berlinang air mata, menuruni tangga untuk menerima penghormatan dari para staf yang mengurus rumah tangga. Denis yang hadir di sisi Margaret Thatcher berusaha untuk menguatkan, sembari keluar dari 10 Downing Street, rumah dinas Margaret Thatcher selama menjabat sebagai Perdana Menteri.

Di masa tuanya, film ini menceritakan sosok Margaret Thatcher yang hidup dibayang-bayang masa lalunya dan merasa dikecewakan oleh para kolega terdekatnya. Namun dikisahkan bahwa keputusan terberat yang pernah diambil oleh Margaret Thatcher adalah menolak perjanjian damai saat peperangan di Pulau Falklands. Peristiwa tersebut membawa dampak yang luar biasa bagi Margaret Thatcher karena dia pun tidak bisa membayangkan rasa kehilangan bila anak laki-lakinya harus gugur di medan perang.

Film yang beralur campuran ini ditutup dengan adegan Margaret Thatcher yang mengemasi pakaian dan barang-barang milik suaminya, Denis Thatcher. Dia tahu betul bahwa Denis yang selama ini hadir dekat dengannya hanya ada dalam bayang. Denis telah tiada; dan Margaret tahu bahwa inilah waktu untuk melepas Denis Thatcher pergi. Denis beranjak menyusuri lorong kamar, meninggalkan Margaret Thatcher yang menangis. Margaret berkata bahwa dia berubah pikiran dan menyuruh Denis kembali, sebab dia belum siap kehilangan suami tercintanya. Namun Denis berkata, “Kamu akan baik-baik saja sendiri, pun selalu seperti itu”. Denis pun berbalik dan meninggalkan Margaret.


Pada artikel ini, penulis mencoba untuk menganalisa permasalahan dan konflik yang dihadapi oleh Margaret Thatcher melalui beberapa pendekatan Manajemen Bisnis [2], yaitu:

  1. Managing Conflict, Politics, and Negotiation
  2. The Nature of Managerial Decision Making (Administrative Model)
  3. Leadership (Fiedler’s Contingency Model)

Analisa Masalah 1 : Managing Conflict, Politics, and Negotiation

Analisa 1.1. Tipe Konflik

Terdapat empat tipe konflik dalam suatu organisasi: (1) Konflik interpersonal; (2) Konflik intragroup; (3) Konflik intergroup; dan (4) Konflik interorganisasi. Konflik interpersonal adalah konflik yang terjadi antara dua individu yang memiliki perbedaan pendapat. Konflik intragroup adalah konflik yang terjadi antara beberapa individu dalam satu kelompok, sementara konflik intergroup adalah konflik yang terjadi antara beberapa individu yang berbeda kelompok. Tipe konflik yang keempat adalah konflik interorganisasi, dimana permasalahan terjadi antar organisasi yang berbeda (misal antar perusahaan, antara bisnis dengan pemerintah, antara bisnis dengan konsumen, dll).

Tabel 1. Analisa Permasalahan Tipe Konflik

Tipe Konflik

Deskripsi Permasalahan

Interpersonal

Konflik ini terjadi antara Margaret Thatcher dengan Geoffrey Howe yang merupakan wakil perdana menteri saat Thatcher menjabat. Permasalahan ini muncul saat rapat kabinet, Thatcher merasa bahwa Geoffrey datang tanpa persiapan yang matang, sehingga Thatcher memarahi Geoffrey di depan para anggota kabinet. Merasa dirinya dipermalukan, Geoffrey mengundurkan diri dan justru mendukung lawan politik Thatcher yang pada akhirnya menggulingkan posisi Thatcher sebagai Perdana Menteri Inggris tahun 1990

Intragroup

Konflik ini terjadi antara Margaret Thatcher dengan sesama anggota partai Konservatif lain. Masalah ini timbul atas demo mogok kerja yang dilakukan serikat penambang dan keputusan partai Konservatif untuk menangani isu dengan kompromi. Namun, Thatcher bersikeras bahwa ini adalah waktu untuk negara mengerahkan angkatan bersenjata untuk melakukan tindak tegas, bukan melalui kompromi.

Intergroup

Konflik ini terjadi antara Margaret Thatcher dengan partai oposisi yang menolak adanya pembubaran serikat buruh, sehingga dapat menaikkan angka pengangguran. Thatcher tidak setuju dengan pendapat tersebut dengan alasan efektivitas biaya anggaran. Bahwa selama ini serikat buruh bukan justru mempermudah orang mendapat pekerjaan tetapi justru mempersulit. Apabila tidak efektif, maka Thatcher berpendapat untuk melakukan pembubaran supaya biaya anggaran negara untuk serikat tersebut bisa dihemat.

Interorganisasi

Konflik ini terjadi saat pertempuran di Pulau Falklands, ketika Argentina menyerang salah satu pulau milik Inggris. Presiden Peru sudah mengajukan beberapa proposal perjanjian damai kepada Britania Raya, namun Margaret Thatcher menolak perjanjian tersebut. Dia merasa bahwa peperangan tersebut dimulai oleh Argentina, jadi tidak masuk akal bagi Thatcher untuk melakukan perjanjian damai dengan para penjajah.


Analisa 1.2. Sumber Konflik

Konflik dapat ditimbulkan dari berbagai sumber, antara lain: (1) Perbedaan tujuan dan time horizon; (2) Otoritas yang tumpang tindih; (3) Pekerjaan yang saling terkait; (4) Perbedaan evaluasi atau sistem penghargaan; (5) Sumber daya yang terbatas; dan (6) Inkonsistensi status.

Tabel 2. Analisa Sumber Konflik (Permasalahan Perang Pulau Falklands)

Sumber Konflik

Margaret Thatcher

Anggota Parlemen

Different goals and time horizons

Tujuan utama Thatcher adalah untuk mempertahankan kedaulatan Inggris di Pulau Falklands ; time horizons yang dibutuhkan adalah secepatnya karena sedang dalam perang

Tujuan utama Menteri Dalam Negeri adalah untuk melindungi rakyat, sehingga dia terus menerus mengajukan proposal perjanjian damai yang diajukan oleh presiden Peru

Different evaluation systems

Thatcher mengevaluasi keputusan yang diambil dalam strategi perang Pulau Falklands adalah dengan menang atau tidaknya armada Inggris

Menteri Dalam Negeri mengevaluasi keputusan yang diambil selama perang berlangsung adalah dengan menjaga stabilitas negara secara menyeluruh

Scarce Resources

Thatcher mengharuskan semua pulau dalam yurisdiksi Britania Raya dijaga ketat oleh armada bersenjata Inggris

Menteri Pertahanan menyatakan bahwa terjadi penghematan biaya armada angkatan laut, dan Menteri Pertahanan memprediksi kemungkinan invasi Pulau Falklands sangat kecil


Analisa 1.3. Strategi Konflik Manajemen

Terdapat lima macam strategi konflik manajemen, yang terbagi menjadi penyelesaian konflik fungsional dan ineffective. Pada kategori penyelesaian konflik secara fungsional, manajer dapat menyelesaikan permasalahan dengan cara kompromi dan kolaborasi. Sementara secara yang ineffective, konflik manajemen dapat diselesaikan dengan cara akomodasi, avoidance, dan kompetisi.

Tabel 3. Analisa Strategi Konflik Manajemen

Strategi

Deskripsi Strategi Konflik Manajemen

Akomodasi

Strategi konflik ini dilakukan oleh wakil Perdana Menteri Geoffrey Howe yang pada akhirnya mengundurkan diri karena merasa direndahkan di rapat kabinet. Di akhir cerita, Howe justru membelot ke lawan politik Thatcher yang kemudian menggulingkan posisi Thatcher sebagai Perdana Menteri

Competition

Strategi konflik ini dilakukan oleh Thatcher dalam menyelesaikan perang di pulau Falklands. Kedua negara, Inggris dan Argentina, tidak memiliki minat untuk mencapai solusi terbaik dan tetap melanjutkan perah. Sampai pada akhirnya Argentina kalah dan Inggris berhasil mempertahankan yurisdiksi negaranya di Pulau Falklands


Analisa 1.4. Strategi Fokus Pada Individu

Terdapat 4 buah strategi penyelesaian konflik yang berfokus pada individu. Seorang pemimpin dapat melakukan: (1) peningkatan terhadap kesadaran mengenai sumber utama konflik; (2) peningkatan keberagaman di lingkungan kerja dan kemampuan; (3) pemberlakuan rotasi pekerjaan atau penugasan sementara; dan (4) pemindahan atau pemecatan permanen bila bawahan sudah tidak dianggap kompeten.

[ANALISA PERMASALAHAN]

Pada Film Iron Lady, hanya terdapat satu strategi penyelesaian konflik yang berfokus pada individu, yaitu pemecatan permanen ketika bawahan tidak dianggap kompeten. Lebih tepatnya permasalahan ini timbul akibat konflik interpersonal yang terjadi antara Margaret Thatcher dengan wakil perdana menterinya, Geoffrey Howe. Thatcher yang mengkritik Howe karena dianggap tidak siap dalam mengikuti rapat kabinet justru mendapat tanggapan tidak baik dari semua anggota parlemen lain. Merasa dirinya dipermalukan, pada akhirnya Howe memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai wakil perdana menteri.


Analisa 1.5. Strategi Fokus Pada Organisasi

Terdapat 2 buah strategi penyelesaian konflik yang berfokus pada organisasi. Seorang manajer dapat melakukan perubahan struktur organisasi atau kultur perusahaan, ataupun mengubah sumber permasalahan.

[ANALISA PERMASALAHAN] 

Pada Film Iron Lady, terdapat satu strategi penyelesaian konflik yang berfokus pada organisasi, yaitu mengklarifikasi rantai komando dan menetapkan kembali tugas dan tanggung jawab para menteri kabinet, melalui strategi altering the source of conflict. Ketika para menteri terus menerus mengusulkan penyelesaian perang Pulau Falklands dilakukan secara damai, Thatcher bersikeras dan menetapkan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan yurisdiksi Inggris di pulau tersebut, meskipun akan memakan banyak korban jiwa dan mengguncang stabilitas negara.


Analisa 1.6. Saran Terhadap Tipe Negosiasi

Negosiasi adalah teknik resolusi konflik dimana pihak yang bermasalah memiliki tingkat kekuasaan yang kira-kira sama. Selama negosiasi, para pihak yang berkonflik mencoba untuk menemukan solusi yang dapat diterima oleh mereka sendiri, dengan mempertimbangkan berbagai cara alternatif untuk mengalokasikan sumber daya satu sama lain. Terdapat dua jenis negosiasi yang paling sering digunakan dalam sebuah organisasi, yaitu negosiasi distributif dan tawar-menawar integratif. Pada dasarnya, seorang pemimpin harus sebisa mungkin menyelesaikan konflik dengan tawar-menawar integratif dan menghindari negosiasi distributif.

[ANALISA PERMASALAHAN]

Digambarkan sebagai pribadi yang keras, Thatcher justru digambarkan sering menyelesaikan konflik dengan negosiasi distributif, dimana lebih mengedepankan sikap kompetitif dan tidak mau berkompromi. Hal ini justru menyebabkan banyak orang, bahkan koleganya, merasa tidak dihargai pendapatnya. 

[SOLUSI DAN SARAN TERHADAP TIPE NEGOSIASI]

Seharusnya Thatcher lebih mengedepankan tawar-menawar integratif (integrative bargaining) daripada negosiasi distributif yang cenderung ditangani dengan persaingan. Terdapat dua tipe negosiasi yang sebetulnya bisa diimplementasikan Thatcher dalam menyelesaikan konflik peperangan di Falklands.

  1. Focusing on interests, not demands. Dalam penyelesaian konflik perang di Pulau Falklands, Thatcher selalu berfokus pada kepentingan bangsanya (interest), bukan tuntutan (demand) dari para menteri dan anggota kabinet untuk mempertahankan stabilitas negara. Prinsip Thatcher yang tidak ingin menyerahkan kedaulatan negara Inggris terhadap pulau Falklands kepada negara Argentina,

  2. Focusing on what is fair. Thatcher merasa bahwa perang di Pulau Falklands dimulai dengan invasi negara Argentina dan penyerangan terhadap armada laut Inggris. Dengan berfokus pada prinsip yang benar, meskipun pada akhirnya harus mengerahkan armada pertahanan negara, Thatcher merasa bahwa sudah menjadi se-adilnya bahwa Argentina yang mundur dari perang.


Analisa 1.7. Strategi Politik Untuk Mempertahankan Kekuatan

Dalam suatu politik organisasi, semua anggota perlu meningkatkan kekuatan dan menggunakan kekuasaan secara efektif untuk mengatasi perlawanan dari partai oposisi. Strategi politik dibutuhkan untuk meningkatkan kekuasaan dan menggunakan kekuasaan tersebut secara efektif untuk mendapatkan dukungan dari orang lain. Terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin untuk meningkatkan dan mempertahankan kekuasaan dalam politik organisasi: (1) Mengontrol ketidakpastian; (2) Membuat dirinya tidak tergantikan; (3) Memposisikan dirinya di posisi sentral; (4) Menciptakan sumber daya; dan (5) Membangun aliansi.

Tabel 4. Analisa Strategi Politik Untuk Mempertahankan Kekuasaan

Strategi

Deskripsi Strategi Margaret Thatcher

Controlling uncertainty

Pada saat resesi dan permasalahan dengan serikat buruh, Thatcher dengan tegas memimpin negara selama periode pertama dia menjabat Perdana Menteri. Berkat kemampuannya mengatur strategi dalam gejolak perekonomian yang tak menentu, pada akhirnya Thatcher dipilih kembali sebagai Perdana Menteri selama tiga periode berturut-turut

Making oneself irreplaceable

Dengan menjadi seorang Perdana Menteri, Thatcher membuat dirinya menjadi tak tergantikan dengan performa yang sangat baik dalam 3 periode kepemimpinannya

Being in a central position

Merasa tidak dianggap dan tidak didengar aspirasinya, Thatcher berusaha untuk memimpin partai oposisi dan pada akhirnya menjabat sebagai Perdana Menteri

Generating resources

Membawa Inggris pada pemulihan ekonomi dengan banyak pemangkasan anggaran pemerintah terhadap sektor-sektor yang tidak optimal; serta membawa Inggris pada economic boom yang berdampak baik bagi keuangan negara

Building Alliances

Menjalin hubungan bilateral yang baik dengan USA, melalui hubungan persahabatan dengan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan


Analisa Masalah 2: The Nature of Managerial Decision Making (Administrative Model)

Teori ini dicetuskan oleh James March dan Herbert Simon. Mereka beranggapan bahwa seorang manajer pada kenyataannya tidak mungkin memiliki akses ke semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan. Sehingga, March dan Simon mengembangkan suatu model administratif yang menjelaskan mengapa pengambilan keputusan selalu erat dengan ketidakpastian dan resiko.

Tabel 5. Pengambilan Keputusan Margaret Thatcher (Administrative Model)

Bounded Rationality

Dalam mengambil keputusan, Margaret Thatcher selalu menghadirkan para menteri dan staf ahli dalam bidangnya

Incomplete Information

Dalam memimpin rapat, Thatcher selalu memberi arahan bagi anggota kabinet untuk mempersiapkan segala informasi yang perlu disampaikan, sehingga resiko pengambilan keputusan yang salah akibat incomplete information dapat diminimalisasi

Risk and Uncertainty

Penyerangan yang dilakukan Argentina terhadap Pulau Falklands akibat minimnya armada angkatan laut Inggris, merupakan sesuatu yang tidak diduga oleh Perdana Menteri dan Jajaran Menteri Pertahanan Inggris

Ambiguous Information

Margaret Thatcher yakin akan terpilih kembali menjadi Perdana Menteri untuk periode 1990 - 1994. Namun ternyata para anggota kabinet yang berkoalisi justru mendukung calon lain

Time Constraints

Keputusan untuk menenggelamkan kapal perang Belgrano milik Argentina yang menyerang Pulau Falklands, Margaret Thatcher hanya memiliki waktu 48 jam sebelum kapal tersebut menyerang dan merebut yurisdiksi Inggris terhadap pulau tersebut

[ANALISA PERMASALAHAN]

Setiap orang pasti memiliki pengetahuan terbatas terhadap suatu ilmu, tak terkecuali Margaret Thatcher sang Perdana Menteri Inggris. Dalam mengambil keputusan kenegaraan, Thatcher selalu berunding dan menghadirkan para staf ahli bidang terkait. Hal ini dilakukan Thatcher karena dia sadar betul bahwa dia telah memposisikan orang di posisi yang tepat untuk menjadi penasehatnya.

Permasalahan pengambilan keputusan yang kedua menurut Administrative Model, berkaitan dengan incomplete information yang dihadapi oleh Margaret Thatcher. Setiap anggota kabinet dan menteri selalu dituntut oleh Thatcher untuk mempersiapkan dengan baik seluruh materi sebelum melakukan rapat. Hal ini diaplikasi untuk menghindari adanya informasi yang tidak sempurna sehingga terlewat dalam perundingan rapat, dan berujung pada pengambilan keputusan yang tidak tepat.

Adanya resiko dan ketidakpastian juga sering terjadi dalam kisah Iron Lady, terutama mengenai permasalahan penyerangan Pulau Falklands oleh negara Argentina. Akibat adanya penghematan biaya armada angkatan laut Inggris, Falklands mendapat pertahanan minim dari tentara. Menteri Pertahanan juga menyampaikan bahwa sangat kecil kemungkinan dan resiko bagi Pulau Falklands untuk diambil oleh negara lain. Adanya ketidakpastian dan resiko yang tidak ditangani dengan serius menjadi masalah besar dan menyebabkan salah satu peristiwa perang terparah bagi Inggris.

Pengambilan keputusan Margaret Thatcher untuk menenggelamkan kapal perang Argentina di Pulau Falklands merupakan salah satu pengambilan keputusan karena adanya time constraint. Thatcher yang saat itu bertanya kepada Kepala Tentara Inggris dan Menteri Pertahanan mengenai batas waktu yang diperlukan sebelum Argentina berhasil merebut Pulau Falklands, harus mengambil keputusan dalam waktu selambat-lambatnya 48 jam. Batasan waktu yang dimiliki oleh Thatcher merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh banyak pemimpin dalam proses pengambilan keputusan.

Kemudian pada permasalahan terakhir pengambilan keputusan, Thatcher menghadapi ambiguous information, di mana dia mengira bahwa semua anggota partai koalisinya masih memberikan dukungan kepada Thatcher untuk menjabat di periode keempat sebagai Perdana Menteri. Para anggota kabinet yang memberikan dukungan, justru berbalik kepada lawan politik Thatcher akibat hasutan dari Howe (wakil perdana menteri yang dipecat oleh Thatcher). Adanya informasi yang ambigu ini akhirnya menggulingkan Thatcher dari kursi parlemen.

[SOLUSI PERMASALAHAN]

Permasalahan utama yang dihadapi Thatcher dalam pengambilan keputusan adalah adanya cognitive biases berupa illusion of control. Bias kognitif ini terjadi akibat adanya anggapan bahwa dirinya sebagai Perdana Menteri mempunyai kuasa dan kemampuan superior dalam membuat kebijakan. Diperlukan suatu kesadaran pribadi dari Thatcher bahwa dirinya juga memiliki keterbatasan, sehingga dengan terbuka mau mempertimbangkan berbagai informasi yang disampaikan oleh anggota parlemen lain dan juga staf ahli kabinet.



Analisa Masalah 3: Leadership (Fiedler's Contingency Model)

Diperkenalkan pertama kali oleh Fred E. Fiedler, model ini menyatakan bahwa kepemimpinan yang efektif sangat bergantung pada karakteristik dari pemimpin tersebut, namun juga sangat dipengaruhi oleh situasi yang dihadapi.

Tabel 6. Gaya Kepemimpinan Thatcher menurut Fiedler’s Contingency Model

Leader Style

Task-oriented Leader (Pemimpin yang berorientasi pada tugas)

Leader-member relations

Tidak terlalu baik

Task structure

Sangat jelas

Position power

Coercive, Expert, dan Referent Power

[ANALISA PERMASALAHAN]

Dalam hal gaya kepemimpinan, Margaret Thatcher termasuk sebagai pemimpin yang berorientasi pada tugas, terutama yang berkaitan bahwa setiap bawahannya memiliki performa kerja yang baik, berintegritas tinggi, dan berfokus pada penyelesaian tugas. Meskipun dikenal sebagai pribadi yang keras, Thatcher juga merupakan pribadi yang hangat bagi kolega terdekatnya. Namun memang betul bahwa gaya kepemimpinan Thatcher yang berorientasi pada tugas, sehingga pencapaian kerja para koleganya merupakan perhatian dan tujuan utama Thatcher.

Dalam hal leader-member relation, Thatcher memiliki hubungan yang kurang baik dengan sesama koleganya. Dianggap sebagai wanita yang keras kepala dan suka mengatur, hubungan Thatcher dengan koleganya hanya sebatas hubungan politik dan tidak lebih. Loyalitas para koleganya sangat ditentukan dengan posisi politik Thatcher. Hal ini dibuktikan dengan hilangnya dukungan dari para anggota kabinet koalisi ketika Thatcher sudah tidak memiliki peluang menjabat sebagai Perdana Menteri, dimana mereka cenderung bersifat oportunis dan justru mendukung calon Perdana Menteri yang baru.

Di dalam parlemen Inggris, tentu saja masing-masing orang memiliki task structure yang sangat jelas. Terdapat batasan yang jelas antara atasan dan bawahan, dimana tidak ada ketimpang tindihan kekuasaan akibat delegasi tugas yang tidak jelas. Terlebih lagi, kekuatan Thatcher sebagai Perdana Menteri memiliki position power yang tinggi, baik dari segi penegakan hukum (coercive), kemampuan yang mumpuni (expert), dan disegani oleh setiap anggota parlemen (referent).

[SOLUSI PERMASALAHAN]

Gaya kepemimpinan Thatcher yang lugas membuat hubungannya dengan para koleganya menjadi tidak baik. Loyalitas para kolega terdekatnya pun juga ikut dipertanyakan, termasuk loyalitas wakil perdana menteri Howe. Geoffrey Howe yang sepanjang film selalu mendukung Thatcher, pada akhirnya berbalik melawan karena diperlakukan dengan tidak baik dalam suatu rapat kabinet. Howe yang sakit hati setelah mendapat kritik pedas dari Thatcher akhirnya mengundurkan diri dan memiliki hubungan yang tidak baik dengan Thatcher. Hal ini seharusnya bisa dicegah melalui penyampaian pendapat yang asertif, tegas namun tidak menyakiti hati. Seorang pemimpin hebat pasti memiliki orang-orang yang luar biasa di belakangnya. Bila saja Thatcher mampu memperbaiki hubungannya dengan para koleganya, sang “Wanita Besi” ini tak hanya bisa memecah langit-langit kaca, pun bisa menjadi sosok yang tak terkalahkan.


Artikel ini sudah dicek antiplagiarisme melalui www.duplichecker.com

Artikel ini ditulis oleh Veronica Swasti Paramitha Putri (JOG-MBA 78C / 470343)


Referensi

[1] Merriam-Webster Dictionary. “Glass Ceiling”. Merriam-Webster.com. Diakses pada 3 Juni 2021. Available at: https://www.merriam-webster.com/dictionary/glass/ceiling 

[2] Jones, Gareth R., and George, Jennifer M. 2016. Contemporary Management Ninth Edition. US: McGraw-Hill Education.


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format