Kolaborasi Pasukan Anti Superhero Menyelamatkan Dunia

Management konflik dan proses negosiasi yang tepat mampu mengubah anti superhero menjadi hero


1
1 point

Sinopsis Film Suicide Squad (2016)

Film Suicide Squad mengisahkan tentang sebuah kelompok pemerintah yang merencanakan sebuah misi rahasia. Kelompok pemerintah tersebut bernama Argus yang beranggotakan sekelompok penjahat paling berbahaya dan ditakuti. Sebenarnya kelompok tersebut dibentuk setelah kejadian kematian Superman dimana bumi sudah tidak aman lagi bagi umat manusia karena adanya serangan makhluk luar angkasa yang menyebabkan bencana dan kerusakan masif di bumi. Untuk mengatasi masalah tersebut agen mata-mata pemerintah bernama Amanda Waller berupaya mengumpulkan para penjahat yang mempunyai kekuatan khusus untuk dijadikan sebuah pasukan yang memiliki tugas menjalankan misi rahasia yang tergabung dalam Kelompok Argus. Agen Amanda Waller berusaha meyakinkan pejabat Washington D.C. untuk mengizinkan menyusun Task Force X tim yang terdiri dari penjahat berbahaya yang dipenjara di Belle Reve Barak yaitu Deadshot, Harley Quinn, Kapten Bumerang, El Diablo, Kiler Croc, dan yang terakhir adalah ahli purbakala Dr. June Moone, dia kerasukan arwah penyihir bernama Enchantress. Penyihir tersebut dapat dikendalikan karena jantungnya dibawa Amanda Waller. Pasukan tersebut akan dipimpin oleh Kolonel Rick Flag, seorang ahli teroris yang ditugasi mengawasi Dr. June Moone. 

Amanda Waller kemudian menyampaikan usulannya tersebut ke Pentagon, dia mendemokan kemampuan Enchantress. Akhirnya Pentagon menyetujui membuat Task Force X dibawah program Argus. Masalah pertama muncul ketika Enchantress tiba-tiba bisa keluar sendiri dari badan Dr. June Moone. Kemudian dia mendatangi Amanda Waller dan ingin merebut tas yang berisi jantungnya, namun hal tersebut gagal. Dia malah menemukan patung yang berisi arwah kakaknya yang bernama Incubus. Enchantress kemudian melepaskan Incubus dan mulailah menimbulkan kekacauan di Midway City dengan menghidupkan kembali pasukan-pasukan monster. Setelah itu, Enchantress mengembalikan kekuatannya yang dibantu oleh sang kakak.

Adegan dampak kerusakan dan kekacauan yang diakibatkan oleh Enchantress dan Incubus

Task Force X kemudian diaktifkan, mereka disuntik dengan alat pelacak dan peledak. Jika membangkang maka peledak yang tertanam akan diaktifkan. Mereka mempunyai misi untuk menyelamatkan HVT-1 di Midway City. Jika berhasil hukuman dikurangi, apabila gagal mereka mati. Saat akan berangkat satu lagi yang bergabung yaitu Katana seorang cewek ahli pedang yang bertugas melindungi Rick Flag. Ternyata orang penting yang akan diselamatkan adalah Amanda Waller sendiri. 

Singkat cerita Task Force X kecewa dan mempertanyakan cerita sebenarnya. Setelah mereka mengetahui cerita sebenarnya, kemudian Task Force X bertengkar dengan Rick Flag dan memikirkan untuk mengundurkan diri. Kolonel Rick Flag membujuk mereka kembali agar tetap menyelesaikan misi rahasia yaitu menghentikan Enchantress dan kakaknya yang sudah menimbulkan kekacauan di kota. Mereka menerima bujukan dari Rick dan akhirnya berhasil menyelesaikan misi dengan mengalahkan Enchantress dan kakaknya. Setelah itu mereka mendapatkan imbalan sesuai dengan kesepakatan awal yaitu keringanan hukuman dan fasilitas di penjara lainnya.

Pembentukan Pasukan Anti Superhero Task Force X

Berdasarkan cerita di Film Suicide Squad (2016) pembentukan pasukan anti superhero Task Force X diharapkan dapat menggantikan peran Superman yang telah mati. Mereka disiapkan untuk melindungi bumi dari ancaman serangan makhluk luar angkasa yang kekuatannya melebihi manusia normal. Awalnya tidak ada permasalahan di dalam pembentukan tim Task Force X tersebut. Masalah muncul ketika salah satu anggota tim Task Force X yang bernama Enchantress (penyihir) berkhianat dan ingin menguasai bumi dengan kekuatan sihirnya. Enchantress tidak sendiri dalam melakukan aksi kejahatannya. Dia dibantu oleh kakaknya, yang bernama Incubus, yang memiliki kekuatan lebih sakti daripada Enchantress. Melihat kejadian tersebut Amanda Waller panik dan segera mengumpulkan sisa anggota Task Force X yang bersedia membantunya untuk menghentikan Enchantress. Para anggota Task Force X bersedia membantu asalkan syarat atau kompensasi yang mereka ajukan harus dipenuhi oleh Amanda. Mereka menginginkan hal tersebut karena posisi mereka sedang berada di penjara dan tentu saja membutuhkan hal yang dapat memotivasi mereka dalam menjalankan misi. Berikut para penjahat yang direkrut oleh Amanda Waller untuk bergabung dengan anggota tim Task Force X.

Struktur Tim Task Force X

Amanda Waller disini berperan sebagai pemimpin tim Task Force X. Dia dibantu oleh Kolonel Rick Flag dan Katana (asisten Kolonel Rick Flag) ketika Task Force X sedang menjalankan aksinya di lapangan. Banyak konflik muncul ketika mereka sedang menuntaskan misi karena ada hal yang dirahasiakan oleh Amanda Waller dan Kolonel Rick Flag. Hal tersebut yang membuat anggota Task Force X marah dan kecewa.

Identifikasi dan Analisis Tipe dan Sumber Konflik

Poin yang akan dibahas dalam bab ini adalah hasil analisa sumber terjadinya konflik dan bagaimana tokoh-tokoh di dalam film tersebut mengelola konflik melalui macam-macam tipe negosiasi yang terdapat di dalam buku Contemporary Management (2020) oleh Gareth R. Jones dan Jennifer M.George. Hasil analisa tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

No

Poin Pembahasan

Diskripsi 

1

Tipe Konflik

Terdapat dua tipe konflik yang muncul didalam film, yaitu:

  • Interpersonal group

Pertentangan antara individu dalam kelompok Task Force X, terutama antara Kolonel Flag dengan anti superhero (para penjahat) di Task Force X (Deadshot, Harley Quinn, Boomerang Capt). Pertentangan terjadi ketika para penjahat merasa dibohongi karena adanya hal yang dirahasiakan oleh Amanda dan Kolonel Flag. Hal tersebut terjadi karena para penjahat merasakan adanya perbedaan tujuan misi. Tujuan awal misi adalah menyelamatkan orang penting HVT-1 dan ternyata misi berubah menjadi misi menghentikan Enchantress.

  • Intragroup Conflict

Konflik intragroup ini muncul ketika Pentagon tidak setuju dengan ide Amanda untuk membentuk tim yang berisi para penjahat terutama melibatkan penyihir Enchantress. Menurut Pentagon hal tersebut dapat membahayakan di kemudian hari karena para penjahat tersebut tetap memiliki insting untuk berbuat kejahatan lagi.

2

Sumber Konflik

Sumber konflik Utama di film adalah adanya perbedaan motivasi dan tujuan antara Amanda dan anggota Task Force X. Namun untuk detail penjelasannya sebagai berikut:

  • Different Goal and Time Horizons 

Ketidakselarasan tujuan yang ingin dicapai antara Amanda dan para penjahat inilah yang membuat selalu menimbulkan konflik diantara kedua kelompok tersebut.

  • Scarce Resources (Kelangkaan Sumberdaya)

Adanya kekurangan sumberdaya manusia yang memiliki kekuatan super terutama yang berasal dari orang-orang baik adalah sumber konflik kedua. Hal itulah yang memaksa Amanda harus melibatkan para penjahat dalam tim nya dalam melindungi bumi.

Adegan yang menceritakan dampak ketika Superman mati (kekurangan Sumberdaya)

Terdapat Bias Kognitif Dalam Keputusan Amanda 

Melihat apa yang dilakukan oleh Amanda dengan membentuk tim Task Forece X yang terdiri dari para penjahat sebenarnya merupakan langkah yang sudah tepat namun hal tersebut seharusnya dilakukan melalui melalui proses seleksi yang ketat agar tidak salah dalam memilih anggota tim. Dengan melibatkan Enchantress ke dalam tim untuk membantu menyelamatkan dunia merupakan kesalahan yang besar. Enchantress malah berkhianat untuk kepentingannya sendiri. Untuk menghidari kejadian tersebut seharusnya Amanda sudah menetapkan kriteria yang akan digunakan untuk menyeleksi para penjahat agar anggota yang terpilih benar-benar memiliki komitmen dan konsisten dalam menjalankan misi tim.

Keputusan yang diambil oleh Amanda dengan melibatkan para penjahat hanya berdasarkan pada satu informasi yang paling mudah didapatkan dan terbatas pada pemikirannya saja sehingga dia tidak mengenal latar belakang para penjahat yang diajaknya terutama Enchantress. Sesuai cerita di film Enchantress dan kakaknya ini merupakan penyihir yang paling jahat di jamannya yang ingin mengusai dunia. Keterbatasan informasi dan data yang digunakan untuk mengembil keputusan ini biasanya disebut bias kognitif. Pada pengambil keputusan biasanya cenderung menggunakan pendekatan heuristik dimana hanya mengandalkan rasionalitas praktis dalam menginterpretasikan suatu informasi. Sikap tersebut menyebabkan kesalahan sistematis dalam pengambilan keputusan serta dapat menimbulkan dampak yang buruk. Berdasarkan analisis, terdapat dua sumber bias kognitif yang memperngaruhi keputusan Amanda yaitu:

No

Sumber Bias Kognitif

Keterangan

1

Confirmation Bias

Amanda mengajak penjahat (Enchantress) yang belum dikenalnya dengan baik untuk bergabung menjadi tim Task Force X. Keputusan yang diambilnya hanya berdasarkan keyakinan atau intuisi saja. Amanda tidak mencari fakta dan data sebenarnya dari para penjahat yang diajaknya.

2

Illusion of Control

Para pejabat Pentagon sangat percaya kepada Amanda ketika dia diminta untuk membuktikan kekuatan Enchantress terutama ketika membawakan secara langsung dokumen rahasia Departemen Pertahanan Iran di depan meraka. Dengan pembuktian tersebut Pejabat Pentagon menyetujui usulan Amanda untuk melibatkan para penjahat ke dalam tim Task Force X. Dukungan penuh tersebut yang mungkin membuat Amanda sangat percaya diri atas kemampuan Enchantress dalam membantunya dalam menyelatmkan dunia. Perasaan seperti itu biasanya disebut illusion of control dan menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan. Keputusan diambil hanya berdasarkan rasa percaya diri yang berlebih dan sangat yakin pada kemampuan mereka dalam mengontrol sesuatu.

Motivasi dan model kepemimpinan yang dimiliki Amanda dan Kolonel Flag

Tidak ada perbedaan motivasi perjuangan Amanda dan Kolonel Flag, yaitu sama-sama termotivasi untuk menolong atau membantu orang lain. Motivasi jenis ini sering disebut Prosocially motivated behavior. Namun terdapat perbedaan untuk anggota Task Force X, yaitu mereka termotivasi untuk untuk mendapatkan imbalan materi ataupun terhindar dari hukuman. Ini menunjukkan bahwa adanya perilaku yang dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan hadiah atau menghindari hasil yang merugikan. Imbalan dapat memotivasi para penjahat untuk melakukan pekerjaanya dengan baik dan itu juga dapat membuat mereka tertarik untuk bergabung atau menetap pada suatu tim. Motivasi ini dikenal dengan extrisically motivated behavior.

Berikutnya akan dijelaskan tentang perbedaan model kepemimpinan Amanda dan Kolonel Flag dalam memimpin anggota Task Force X.

Poin Pembahasan

Amanda

Kolonel Flag

Model Kepemimpinan

Kepemimpinan Transaksional 

Amanda menerapkan kepemimpinan ini kepada anggota Task Force X untuk memotivasi mereka melalui pemberian imbalan atau penghargaan agar dapat memenuhi perintahnya. Apabila kinerja baik, maka akan diberi penghargaan dan apabila kinerja kurang baik atau buruk maka akan ditegur atau dihukum.


Servant Leadership

Di dalam film Kolonel Flag berperan sebagai pemimpin operasi yang melayani anggotanya (para penjahat) demi kepentingan bersama. Fokus utama pada servant leadership adalah memastikan bahwa kebutuhan anggota terpenuhi sehingga anggota dapat berkembang dengan baik.

Adegan yang menceritakan kepemimpinan Transaksional Amanda yang diberlakukan ke anggota Task Force X

Strategi Politik dan Tipe Negosiasi yang Digunakan Amanda dan Kolonel Flag

Setelah menguraikan tipe dan sumber konflik yang terjadi di dalam film kemudian akan dijelaskan perbandingan bagaimana cara Amanda dan Kolonel Flag menangani konflik.

No

Poin Pembahasan

Amanda

Kolonel Flag

1

Strategi Konflik Management


Compromise (Kompromi)

Amanda menyepakati syarat dan kompensasi yang diminta para penjahat agar mereka bersedia bergabung di tim Task Force X. 


Collaboration (Kolaborasi)

Strategi menangani konflik ini diperlihatkan oleh Kolonel Flag untuk meredam kemarahan para anggota Task Force X ketika mereka kecewa karena merasa ditipu oleh Amanda. Cara yang dilakukannya adalah dengan menceritakan persamaan kondisi yang sedang mereka alami, yaitu sama-sama ingin membahagiakan orang yang dicintai. Kemudian Kolonel Flag mengajak berkolaborasi dengan anggota Task Force X agar tujuan masing-masing dapat tercapai. Ajakan tersebut direspon dengan baik oleh para penjahat.


2

Strategi fokus pada individu dan organisasi


Changing an organization's structure or culture. 

Sumber konflik kekurangan superhero yang baik inilah yang membuat Amanda harus mengubah strateginya dalam menyusun tim yaitu dengan mengajak para penjahat bergabung. Amanda berfikir perlu mengubah strategi dalam menyusun tim.

Increasing awareness of the sources of conflict. 

Terkadang konflik muncul karena masalah komunikasi dan kesalahpahaman antarpribadi. Kolonel Flag menggunakan cara ini untuk mendekati para penjahat agar mereka dapat sukarela bersinergi menyelesaikan misi. 

3

Saran mengenai tipe negosiasi

Integrative Bargaining

Cara yang dilakukan Amanda adalah melakukan negosiasi dengan kompromi yaitu Take and Give antar pihak dan membuat konsesi sampai adanya kesepakatan.


Kolonel Flag dalam mengelola Konflik lebih cenderung dengan cara negosiasi dan bertindak sebagai arbitrator untuk Amanda. Dia memberikan saran / solusi yang fair untuk kedua belah pihak antara Amanda dan Para Penjahat.


Integrative Bargaining, Emphasizing superordinate goals, & Building Alliances 

Dalam menyelesaikan masalah Kolonel Flag tidak memandang konflik sebagai situasi menang atau kalah namun sebaliknya yaitu memandang konflik secara kooperatif sebagai situasi di mana kedua belah pihak bisa mendapatkan keuntungan.

4

Strategi politik untuk mempertahankan kekuatan


Bringing in an outsideexpert

Ketika membentuk tim, Amanda memasukkan seorang penyihir yang sangat sakti (Enchantress). Hal tersebut dilakukan agar Pentagon mendukung usulannya untuk membentuk tim yang beranggotakan para penjahat. Meskipun hal tersebut malah membuat backfire ke dirinya sendiri.


Kerena Kolonel Flag adalah bawahan Amanda sehingga dia tidak menerapkan strategi politik.

Adegan Kolonel Rick Flag bernegosiasi dengan anggota Task Force X untuk berkolaborasi mengehentikan Enchantress

Solusi Teknik Devil’s Advocacy Untuk Mengambil Keputusan

Upaya Amanda dalam menyesaikan masalah dengan mengaktifkan tim Task Force X untuk menghentikan Enchantress tenyata berhasil dilakukan. Namun karena ketidakhati-hatian Amanda dalam mengambil keputusan dengan mengajak dan melibatkan Enchantress dalam pembentukan tim menyebabkan adanya kerusakan yang masif dan banyak korban yang berjatuhan di Midway City. Sebenarnya Pentagon sudah mengingatkan akan bahayanya mengajak Enchantress dalam proyek pembentukan tim Task Force X karena dapat menjadi backfire untuk semuanya.

Melihat dampak yang dihasilkan dari kesalahan dalam mengambil keputusan tersebut cukup besar dan signifikan serta apabila waktu dapat diputar kembali, maka penulis merekomendasikan Teknik Devil’s Advocacy untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialami yaitu tentang kekurangan sumberdaya superhero. Pada dasarnya proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara individu atau berkelompok. Amanda seharusnya mempertimbangkan arahan dari Pentagon (kelompok) sehingga Amanda dapat menghilangkan bias kognitif dalam mengusulkan untuk melibatkan Enchantress. Apabila Amanda mendengarkan Pentagon kemungkinan dia juga akan memperoleh alternatif-alternatif informasi yang bersumber dari berbagai macam kompetensi dan latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh anggota kelompok. Namun keputusan dalam kelompok ini juga terdapat kelemahannya yaitu membutuhkan waktu yang lebih lama dan proses yang panjang. Hal tersebut terjadi karena adanya preferensi yang berbeda-beda dari setiap anggota kelompok.

Kembali ke Teknik Devil’s Advocacy untuk menyelesaikan masalah keterlibatan penjahat dalam tim. Teknik ini dipercaya dapat menetralkan adanya bias kognitif dalam pengambilan keputusan terutama keputusan kelompok. Jones, dkk (2020) mendifinisikan Teknik Devil advocacy sebagai Teknik dalam pengambilan keputusan yang dirancang untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dari keputusan tersebut sebelum diimplementasikan atau dengan kata lain untuk me-review dan memberikan masukan pemikiran kelompok/Group. Satu atau lebih orang dalam kelompok mengambil peran sebagai oposisi atas pendapat individu dalam suatu kelompok. Tujuan dari teknik devil advokasi adalah untuk cek & balance atas alternatif keputusan yang akan diambil dengan mengidentifikasi semua alasan. Sehingga diharapkan para pembuat keputusan dapat berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Solusi Model Transformational Leadership dan Servant Leadership untuk Anggota Task Force X

Menurut Gareth R. Jones dan Jennifer M.George dalam Contemporary Management (2020), Kepemimpinan adalah proses dimana seseorang memiliki kemampuan untuk memperngaruhi, menginspirasi, memotivasi, dan mengarahkan seseorangan/orang lain guna membantu tercapai tujuan kelompok atau organisasi. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu memberikan pengaruh terhadap anggotanya dalam mencapai target dan visi misi tim/kelompok yang dipimpinnya.

Dalam kasus ini terdapat dua solusi model kepemimpinan yang harus diterpakan ke anggota Task Force X yang terdiri dari para penjahat ini, yaitu:

Kepemimpinan transformasional yang dapat menyadarkan para penjahat akan pentingnya mencapai tujuan dari misi yang dijalankan. Kepemimpinan ini menitikberatkan pada bagaimana membuat para penjahat sadar akan pentingnya kontribusi dan kinerja mereka untuk tim dan betapa perlunya bagi mereka untuk melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin sehingga dapat mencapai target. 

Kemudian apabila para penjahat tersebut sudah memiliki motivasi yang baik dalam menjalankan misinya. Mereka hanya perlu diingatkan sesekali tentang pentingnya pekerjaan mereka bagi tim dan pentingkanya menyelesaikan pekerjaan semaksimal mungkin. Fokus utama model kepemimpinan ini adalah memastikan bahwa kebutuhan anggotanya terpenuhi sehingga dapat berkembang dengan baik dan terus menunjukkan kinerja terbaiknya untuk tim. Oleh karena itu model kepemimpinan yang tepat untuk anggota tim Task Force X adalah servant leadership dimana pemimpin memiliki keinginan kuat untuk bekerja demi kepentingan melayani bawahannya. Fokus utama model kepemimpinan ini adalah memastikan bahwa kebutuhan anggotanya terpenuhi sehingga dapat berkembang dengan baik dan terus menunjukkan kinerja terbaiknya untuk tim.

Solusi Kompromi dan Kolaborasi untuk Task Force X

Para penjahat tentu saja tidak bisa dipaksa untuk langsung menjalankan perintah Amanda. Mereka memerlukan timbal balik berupa imbalan atau kompensasi agar lebih termotivasi dalam menjalankan perintah. Oleh karena itu metode negosiasi awal yang tepat adalah kompromi. Dengan memberikan imbalan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, diharapkan anggota Task Force X dapat bekerja dengan maksimal. Kemudian apabila dalam perjalanan menyelesaikan misi terdapat konflik maka tipe negosiasi yang dapat digunakan adalah kolaborasi agar penyelesaian konflik lebih kearah pendekatan yang humanis tanpa kompensasi karena memiliki persamaan tujuan.

Yunarto Tri Wibowo_SEMBA 42C

Referensi :

Gareth R. Jones and Jennifer M. George. “Contemporary Management 11th edition (McGraw Hill Education, 2020) 

https://www.youtube.com/watch?v=kuBJ24cyt5w&t=122s


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win
Tito_Yunarto

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format