KRAKATOA : The Last Days (2006)

Sebuah Peringatan atau Kenangan ?


1
1 point


Indonesia sebagai negara yang berada di lintasan gunung api aktif terbanyak di dunia (Ring-Of Fire) memiliki lebih dari seratus gunung berapi aktif dan menempatkan nya menjadi negara terbanyak gunung api sekaligus menduduki peringkat pertama negara dengan jumlah korban jiwa terbanyak di dunia. Film Krakatoa, the last day, yang dirilis pada tahun 2006 oleh BBC, menceritakan bagaimana kondisi yang terjadi saat gunung Krakatau yang meletus di tahun 1883 dan memakan korban jiwa lebih dari 36.000 orang. Film ini menyertakan berbagai cerita tokoh-tokoh yang berbeda dari berbagai latar belakang yang ada dan menjadi saksi sejarah dari peristiwa letusan gunung Krakatau.


                                                       

Sekilas FIlm Krakatoa : The Last Days (2006)

Krakatoa : The Last Days adalah sebuah film yang bergenre doukumenter yang diperan utamakan  oleh Kevin McMonagle sebagai seorang geologi vulkanologi (pengamat ke gunung apian) berkebangsaan Belanda, yakni Rogier Diederik Marius Verbeek. Selain itu, film ini juga diperankan oleh Rupert Penry-Jones sebagai Willem Beijerinck dan Olivia Williams sebagai Johanna Beijerinck. Krakatoa menceritakan tentang sebuah peradaban masyarakat di kala gunung Krakatau, Selat Sunda meletus dengan hebatnya di tahun 1883. Williem Beijerinck merupakan pemimpin pengawas Bank Kapas, Hindia Belanda, yang bertugas di desa Katimbang, merasakan gempa bumi yang berulang sepanjang hari nya di wilayah tersebut. Sang istri, Johanna, mencoba memberikan nasihat dan peringatan kepada Williem akan bahaya yang mungkin dapat terjadi sewaktu-waktu. Saat itu Johanna mendapat firasat dari binatang yang gelisah, gempa bumi, suara letusan dan juga masukan-masukan serta komunikasi dari warga sekitar.

gambar 1. scene Johana sedang menasihati WIlliam


Verbeek merupakan vulkanolog kebangsaan Belanda yang sedang melakukan studi di wilayah Jawa Barat, dan berpusat di Buitenzorg. Salah satu hal yang sedang diamati oleh Verbeek adalah gunung Krakatau di Selat Sunda. Beberapa kali perhatian Verbeek terpusat di gunung Krakatau, karena letusan-letusan kecil nya yang semakin sering terjadi dan mengakibatkan gempa bumi serta asap yang membubung tinggi. Verbeek beranggapan bahwa karena gunungnya kecil, di kelilingi oleh lautan, sehingga tidak berpotensi untuk memberikan bahaya kepada warga sekitar gunung Krakatau. 

 gambar 2. scene Verbeek sedang mengamati gunung Krakatau

Kapten Lindeman merupakan nahkoda sekaligus pemilik kapal uap Loudon, yang mendapatkan bisnis baru berupa mengantarkan para turis yang mengunjungi Anyer, untuk dapat berkeliling di gunung Krakatau, sambil menikmati pemandangan dan berfoto bersama letusan-letusan kecil gunung Krakatau. Kapten Lindeman belum mengetahui potensi bahaya gunung Krakatau saat itu, dikarenakan gempa yang sering terjadi tidak berakibat buruk dan pandangan dari rekan bisnisnya bahwa usaha yang dijalankan ini sangat aman dan berpotensi menghasilkan keuntungan yang besar karena para turis akan tertarik.

gambar 3. scene kapten Lindeman sedang menerima tawaran bisnis kapal pesiar


Gempa dan Letusan dahsyat pun terjadi pada tanggal 26 Agustus 1883. Saat itu letusan yang dahsyat membubung hingga setinggi 24 km, hingga dapat dilihat langsung oleh Verbeek meskipun saat itu berada di Buitenzorg. Letusan tersebut mengakibatkan gempa bumi dan reruntuhan gunung jatuh ke samudra, sehingga langsung dapat mengakibatkan gelombang Tsunami yang dahsyat hingga setinggi 30 – 40 meter. Gelombang tsunami ini menghantam seluruh pesisir Katimbang dan Anyer dengan waktu yang sangat cepat. Banyak korban jiwa yang ditimbulkan, namun keluarga Williem selamat karena mengikatkan diri di pohon yang tinggi dan berlindung di dalam lemari lantai atas rumah nya. Seketika itu juga Verbeek dan Williem sadar akan kesalahannya yang beranggapan bahwa letusan dahsyat tidak akan terjadi. Saat itu kapten Lindeman yang tengah membawa para turis untuk menyberang pulau, berusaha untuk meyakinkan keselamatan para penumpang dan awaknya dengan mencoba untuk mempertahankan arah kapal dan menjaga keseimbangannya.


gambar 4. scene gunung Krakatau yang sedang meletus


Meskipun gelombang Tsunami berangsur surut, namun letusan gunung Krakatau tidak berhenti dan masih mengeluarkan asap, dentuman dan lahar. Oleh karenanya keluarga Williem mengungsi ke dataran yang lebih tinggi selama beberapa hari untuk menyelamatkan diri dari bahaya yang mungkin akan timbul. Letusan dahsyat terjadi lagi dan mengeluarkan awan panas hingga mencapai tempat pengungsian keluarga Williem di bukit. Dengan penuh luka akhirnya keluarga Williem berhasil melewati letusan bahaya tersebut, meskipun anak bungsu nya tidak dapat terselamatkan nyawanya. Akhirnya, kondisi gunung Krakatau berangsur normal kembali, dan warga masyarakat bahu membahu untuk membakar mayat korban letusan dan menyusun kembali kehidupan desa.


gambar 5. scene masyarakat membakar mayat korban letusan gunung Krakatau


 

Manajemen Konflik Para Tokoh Film Krakatoa : The Last Days

Menurut Gareth R. Jones dalam buku Contemporary Management chapter 17, terdapat konflik yang terjadi dalam film Krakatoa : The Last Days, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

A.  Jenis Konflik

  1. Interpersonal Conflict. Konflik ini terjadi antara Willem Beijerinck dan Johanna Beijerinck terhadap pengambilan keputusan akan bahaya letusan gunung Krakatau yang dapat mengancam keselamatan keluarga Willem. Johanna meminta agar Willem dapat mengikuti insting dan kearifan local yang telah memahami karakter dan gejala-gejala alam. Namun Willem mengindahkan pemahaman tersebut dan berpikir rasional bahwa posisi desa yang terpisahkan puluhan kilometer jaraknya dari gunung, akan membuat nya tetap aman.
  2. Interorganizational Conflict. Konflik ini terjadi antara Rogier Verbeek dan Johanna Beijerinck terhadap teori gejala alam sebelum letusan gunung berapa yang telah dipelajari Verbeek selama ini. Verbeek beranggapan bahwa gunung Krakatau belum saat nya meletus dan jikalau meletus tidak akan memberikan dampak yang sangat parah yang dapat mengancam keselamatan nyawa.


B.  Sumber Konflik

  1. Perbedaan Evaluasi

       Adanya perbedaan evaluasi merupakan sumber terjadinya konflik yang paling kritikal dalam film ini. Hal yang membedakan adalah sumber pertimbangan dalam pengambilan keputusan masing-masing tokoh yang terlibat didalamnya. Sumber yang dimaksud tersebut dapat berupa:

  • Teori tentang vulkanologi yang dapat diakui kebenarannya
  • Insting serta intuisi seseorang terhadap kejadian alam yang akan terjadi
  • Fakta nyata yang terjadi sebenarnya yang dapat diterima dengan rasional akal sehat

     2. Sumber Daya Yang Langka      

         Adanya perbedaan sumber daya yang sangat langka yang dimiliki oleh masing-masing pemeran tokoh, seperti perbedaan penangkapan intuisi seseorang dan respon terhadap bahaya yang dapat terjadi sewaktu waktu. Williem sebagai orang yang selalu menganggap remeh kejadian dan intuisi nyata, akan selalu berlawanan baik dengan Johana dan Verbeek. Sebaliknya Verbeek yang mengandalkan pengalaman nya di masa yang lalu, berusaha untuk menjadikan pengalaman yang berulang di setiap kejadian aktivitas vulkanologi yang terjadi. Minimnya teknologi yang berkembang saat itu baik untuk pengumpulan fakta dan data serta untuk berkomunikasi menjadi hal yang dapat memicu terjadi nya konflik di sepanjang alur film.

C.    Strategi Konflik Manajemen


gambar 6. Strategi Penyelesaian Konflik Manajemen


        Secara umum konflik terjadi disebabkan karena adanya perbedaan pendapat berdasarkan kondisi nyata yang ada dilapangan, kondisi kepekaan terhadap kearifan local serta perilaku-perilaku yang ditunjukkan oleh binatang dan kondisi berdasarkan pengalaman hidup atau teori-teori yang pernah dipelajari sebelumnya. Seandainya berbagai pandangan terhadap kondisi yang ada tersebut dapat dipersatukan, ada kemungkinan bahwa peringatan dini terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh Gunung Krakatau yang meletus, dapat memberikan peringatan kepada seluruh masyarakat untuk mengantisipasi nya dengan menjauhkan diri dari wilayah yang terkena potensi bahaya tersebut. Strategi manajemen konflik yang di alurkan oleh para pemain yang memiliki konflik (Williem, Johanna dan Verbeek) padasarnya menggunakan strategi kompromi dan kolaborasi.

      Compromise (Kompromi) adalah suatu kondisi ketika salah satu orang tidak berpaku terhadap tujuan/kehendak nya, tetapi juga mempertimbangkan tujuan/kehendak pihak lain dalam mencapai satu kesepakatan untuk dapat dilakukan bersama. Pada akhirnya antar tokoh berkompromi terhadap kondisi yang sedang terjadi dan mempertimbangkan pendapat dari masyarakat akan bahaya dari letusan gunung Krakatau.

         Collaboration (Kolaborasi) adalah suatu kondisi  ketika seluruh orang/pihak dapat mencapai tujuan/kehendak secara bersama sama dengan terlebih dahulu bersepakat untuk dapat mengambil pendekatan terhadap kepentingan seluruh pihak. Pada akhirnya antar tokoh saling berkoloborasi agar dapat melewati masa-masa yang berbahaya selama letusan gunung Krakatau.

Sepanjang setengah alur film Krakatoa ini, konflik terjadi karena masing-masing peran mempertahankan pendapatnya yang disesuaikan dengan karakter dan latar belakangnya.


D.  Strategi Fokus Penyelesaian Konflik di Individu dan Organisasi

     Memberikan perhatian kepada sumber konflik akan menjadi dasar dalam penyelesaian konflik yang dimungkin kan akan terjadi. Peningkatan status dan kondisi Gunung Krakatau merupakan hal yang dapat dijadikan focus perhatian. Bekerja dan berpikir bersama dalam menentukan status kewaspadaan yang selalu berkembang setiap harinya. Dalam hal ini pula peran vulkanolog dan juga petinggi masyarakat di sekitar Anyer dan Lampung sangatlah penting dalam menetukan langkah yang dapat segera diambil oleh masyarakat. Terjadi kondisi yang tidak sinkron antara ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Verbeek dan pengalaman nyata yang telah di jalani oleh penduduk sekitar menjadi hal yang krusial di film tersebut. Untuk itu fokus para pemeran film kepada gunung Krakatau akan menjadi strategi yang mendasar dalam penyelesaian konflik kedepannya.

     Seperti halnya dalam usaha untuk meningkatkan penerimaan terhadap keragaman dan kemampuan yang dimiliki oleh para pemeran akan menjadi langkah berikutnya dalam menyelesaikan konflik yang ada di dalam film Krakatoa. Keberagaman ilmu pengetahuan harus tetap dapat memperhatikan keberagaman budaya serta kearifan local setempat. Verbeek awalnya tidak mempercayai adanya latar belakang budaya dalam proses terjadinya letusan gunung Krakatau. Namun setelah diberikan peringatan yang disertai bukti dari seorang pelayan nya, barulah Verbeek mulai menyadari akan kesalahan dan kekurangan yang telah diteliti oleh nya selama ini. Verbeek berusaha untuk memperbaiki kesalahannya dengan menyelesaikan konflik horizontal yang telah terjadi.


Menciptakan Komunikasi Yang Efektif antar Tokoh Film Krakatoa : The Last Days


Gareth R. Jones dalam buku Contemporary Management chapter 16 menjelaskan akan penting nya Komunikasi yang baik untuk seluruh peran yang ada. Proses Komunikasi secara konsisten terbagi menjadi 2 fase yaitu :

  • Transmision Phase yakni fase tranmisi dimana informasi yang sedang diberikan kepada dua atau lebih individu atau kelompok
  • Feedback Phase yakni fase umpan balik dimana untuk memastikan pesan-pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan diterima oleh penerima pesan dengan baik.


gambar 7. Fase dalam Berkomunikasi


      Dalam film Krakatoa : The Last Day terdapat beberapa proses komunikasi yang secara umum dapat diambil contohnya sesuai dengan Fase-Fase Komunikasi. Yaitu komunikasi antara keluarga Beijerinck, komunikasi antara para peneliti di Buitenzorg dan komunikasi antara awak serta penumpang kapal uap Loudon. Berikut adalah rincian proses yang terjadi 


Phase

Warga Masyarakat

Penelitian Buitenzorg

Kapal Uap Loudon

Sender

Johanna 

Verbeek

Lindeman

Message

Peringatan bahaya akan gunung Krakatau yang akan meletus

Pentingnya pengumpulan teori dan karakter gunung Krakatau

Pentingnya menjaga agar kapal uap tetap stabil selama letusan gunung Krakatau

Encoding

Bahasa dan diskusi

Bahasa dan teori buku

Bahasa dan Perintah

Receiver

Willem

Masyarakat Anyer

Para Kru Kapal Uap dan Penumpang

Decoding

Mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan jauh dari pantai dapat mengurangi bahaya letusan 

Kawah Gunung Krakatau yang besar dapat menimbulkan Uap Panas dan Gelombang Tsunami

Muatan harus segera dipindah ke buritan kapal dan menjaga arah kapal agar tetap lurus dan seimbang

Verbal Communication

Pembicaraan Verbal

Pembicaraan Verbal

Pembicaraan Verbal

Noise

Pendapat pribadi yang berlawanan

Kurangnya informasi aktual

Para penumpang yang tidak mau dipindah

tabel 1. Perbandingan fase komunikasi antar tokoh


    Secara umum diantara ketiga contoh komunikasi tersebut diatas, komunikasi yang paling efektif adalah komunikasi yang dilakukan oleh Kapten Lindeman kepada seluruh kru kapal uap dan para penumpang nya. Beberapa hal yang sesuai dengan teori Garreth R. Jones tersebut adalah :

  1. Komunikasi dilakukan secara langsung dengan menggunakan teknik face-to-face communication. Pada saat kapten Lindeman berkomunikasi sekaligus memberikan perintah, tidak hanya menggunakan keuntungan dari komunikasi verbal, tetapi juga menginterprestasikan nya dengan non verbal komunikasi, seperti expresi wajah dan Bahasa tubuh sang kapten terhadap seluruh orang yang ada didalam kapal
  2. Komunikasi dilakukan secara transmisi terstruktur dengan menggunakan model Chain Network yang terarah. Kapten Lindeman secara jelas dan step-by-step memberikan perintah kepada awak kapal untuk dapat mengikuti arahannya, mulai dari memindahkan bobot kapal ke bagian buritan (bawah) kapal, menggeser arah kapal agar tegak lurus dengan datangnya ombak, serta memastikan agar kemudi tetap berjalan lurus kedepan.
  3. Komunikasi dilakukan secara umum dan disesuaikan terhadap latar belakang lawan bicara. Dalam hal ini kapten Lindeman betul-betul mengetahui karakter komunikasi yang harus dibangun berdasarkan status sosial, kedudukan dan jenis kelamin. Ketika berkomunikasi dengan para awak kapal, akan bersifat tegas dan perintah secara langsung, ketika berkomunikasi dengan penumpang akan lebih melakukan pendekatan emosional secara komprehensif. Terlebih pada saat melakukan komunikasi dan perintah kepada wanita dan orang tua, akan cenderung berkomunikasi secara lembut dan memberikan pengertian terlebih dahulu sebelum memberikan perintah.



Perencanaan dan Strategi Para Tokoh

Dalam buku Contemporary Management karangan Gareth R. Jones Chapter. 8, mengungkapkan sangat pentingnya seorang pemimpin (manager) dalam membuat perencanaan serta strategi dalam penentuan visi-misi nya, seperti dapat :

  • Mengidentifikasi tujuan dan langkah/tindakan yang harus diambil
  • Menentukan strategi terbaik yang akan diambil dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan
  • Memberikan pernyataan tegas terhadap setiap misi yang akan dijalankan yang sejalan dengan visi


gambar 8. Langkah dalam perencanaan


Steps in Planning

Film Krakatoa

Teori  Perencanaan

Determining Mission and Goals

Hingga gunung Krakatu meletus, belum diterapkan nya langkah-langkah (misi) yang harus dijalankan dan tujuan yang hendak dicapai tidak ditetapkan. Sehingga terkesan bahwa antar tokoh dalam film tersebut berjalan masing-masing mengikuti gagasannya tanpa memperdulikan reaksi alam dan potensi bahaya yang akan terjadi nanti nya

Dalam menghadapi letusan gunung Krakatau, seharusnya ditentukan terlebih dahulu potensi bahaya dan bagaimana cara penanggulangan nya. Langkah-langkah harus diambil secara tepat guna mengurangi ancaman serta menghadapi bahaya letusan dengan tenang dan terarah

Formulating Strategy

Verbeek dan Williem belum memiliki strategi apapun dalam menghadapi letusan gunung Krakatau, karena mereka meyakini bahwa belum cukup ada bahaya apapun karena jarak yang cukup jauh dari pemukiman, sehingga seandainya meletus pun tidak akan memberikan bahaya kepada masyarakat. Berbeda dengan kapten Lindeman yang memiliki strategi dalam menyelamatkan kapal, meskipun baru diketahui pada saat terjadi letusan.

Strategi yang diambil harus diformulasikan berdasarkan kondisi, situasi, demografi dan kontur alam yang dimiliki oleh wilayah sekitar letusan gunung Krakatau. Analisa terhadap kondisi yang terjadi saat ini berdasarkan ilmu pengetahuan akan menjadi sumber utama dalam menyusun strategi yang terbaik untuk dijalankan.

Implementing Strategy

Dalam mengimplementasikan strategi, belum digunakannya sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan seperti masyarakat, teknologi dan komunikasi yang terjalin di masyarakat. Sehingga hal ini berdampak buruk ketika letusan gunung Krakatau terjadi

Mengalokasikan teknologi menjadi sinyal dasar dalam letusan yang akan terjadi, membuat SOP-SOP yang dapat digunakan ketika letusan terjadi, dan menempatkan posisi dalam kehidupan bermasyarakat.

tabel 2. Perbandingan langkah perencanaan di film Krakatoa dengan teori perencanaan

Saran dan Solusi bagi Rogier Verbeek, Vulkanolog pada Jaman nya

Verbeek merupakan salah satu tokoh utama dalam fillm Krakatoa The Last Days yang memiliki banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam bidang kegunung-apian di dunia pada masanya tersebut. Komunikasi terhadap para warga sekitar sebagai penghuni pesisir pantai dirasa sangat kurang sekali, sehingga strategi-strategi yang di berikan terhadap mitigasi letusan gunung Krakatau sangat lah lemah. Disamping itu, penyelesaian manajemen konflik yang dilakukan masih berdasarkan emosi yang sesaat dan emosi pribadi yang dimilikinya, sehingga cenderung tidak mengindah kan tokoh lain yang memberi masukan dan berkomunikasi dengan Verbeek.

Didalam film tersebut untuk menghadapi konflik mitigasi bencana alam tersebut sebaiknya Verbeek juga  melakukan langkah-langkah berikut untuk dapat diperankan di film Krakatau :

1. Penyusunan tujuan, visi dan misi serta strategi yang harus diambil setelah melakukan mitigasi bahaya bencana gunung Krakatau. Ketika Verbeek sudah mengetahui akan gejala-gejala seismic gunung Krakatau, Verbeek harus menetapkan berbagai scenario bahaya letusan yang mungkin terjadi. Penetapan status juga akan situasi terkini letusan gunung api juga harus ditentukan. Sehingga tujuan yang hendak dicapai adalah mengurangi potensi bahaya yang mengancam jiwa. Misi yang diambil berdasarkan langkah-langkah yang harus diambil oleh masyarakat dalam menghadapi bencana letusan gunung Krakatau.

gambar 9. Fakta-fakta letusan gunung Krakatau

2. Menggunakan segala sumber daya yang ada untuk dapat menjalin komunikasi dengan baik antar penduduk setempat dengan respon yang sebaiknya diambil oleh Verbeek. Tidak lagi menggunakan komunikasi internal para peneliti saja, tetapi juga dengan seluruh masyarakat yang berada di sekitar lokasi. Pengumpulan fakta dan data dapat segera terkumpul dengan cepat jika masing-masing individu bekerjasama dalam mencapai tujuan.


gambar 10. Area komunikasi sumber dan sensor mitigasi bencana alam gunung Krakatau


3. Penyelesaian konflik manajemen dengan melakukan kompromi dan kolaborasi tidak hanya dengan masyarakat sekitar, tetapi dengan pihak-pihak yang dapat merespon bencana dengan baik, seperti pemerintah pada saat Hindia Belanda pada saat itu. Sehingga strategi-strategi yang diterapkan nantinya dapat lebih focus terhadap mitigasi dan pengurangan resiko bencana.

Namun, secara umum Verbeek telah melakukan segala daya dan upaya dengan baik untuk dapat membantu mempelajari dan melakukan mitigasi bencana pada saat terjadi nya letusan gunung Krakatau. Keterbatasan teknologi dan komunikasi pada saat itu menjadi salah satu penyebab kurang nya komunikasi dan pengetahuan gunung Krakatau pada saat itu.

Best Practice : Mitigasi Bencana Letusan Gunung Merapi

Indonesia sebagai negara dengan jumlah gunung api terbanyak di Dunia, 127 Gunung Api, memiliki kemungkinan dan potensi bahaya yang cukup tinggi akibat letusan dan produktivitas gunung api. Untuk memastikan bahwa konflik yang ada dapat diminimalisir sehubungan penting nya komunikasi dan perencanaan yang matang, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama dengan pihak-pihak yang terkait seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dibawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).


Sebagai contoh, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung yang paling aktif di dunia. Dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, hal-hal yang telah dilakukan dengan baik oleh pemerintah setempat menurut Gareth R. Jones dalam buku Contemporary Management adalah :


  • Mengurangi sumber-sumber konflik yang mungkin dapat terjadi seperti arah dan tujuan evakuasi serta kondisi darurat, ketimpangan ototritas pengambilan keputusan, status serta kondisi terakhir tingkat kewaspadaan gunung api serta perbedaan pandangan dan pendapat antar instansi yang ada. Untuk itu Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan kepercayaan kepada BPPTKG untuk dapat mengamati sekaligus menentukan dengan tegas status kewaspadaan gunung Merapi. Untuk selanjutnya informasi tersebut di gunakan oleh BNPB dalam mempersiapkan segala kemungkinan evakuasi dan bahaya yang akan terjadi.
  • Menciptakan wahana, perangkat atau system yang dapat memberikan informasi dan komunikasi dua arah baik dengan pemerintah maupun masyarakat luas. Jaringan dalam Teknologi Informasi sangat dimanfaatkan oleh BPPTKG dan BNPB, seperti media elektronik, internet (website, media sosial) serta sosialisasi kepada warga masyarakat secara face-to-face. contoh yang dapat diakses secara langsung https://merapi.bgl.esdm.go.id/
  • Berkoordinasi antar bagian yang bertanggungjawab dalam mitigasi bencana letusan gunung Merapi secara simultan, terencana dan penetapan strategi yang matang. Perencanaan mencakup mulai dari persiapan sarana dan prasarana sebelum dan sesudah letusan, strategi evakuasi dan pemercepatan pembangunan kembali yang terstruktur

catatan kaki.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para tokoh yang terlibat dalam kejadian letusan gunung Krakatau 1883, analisa tokoh yang ada dalam resensi ini hanya berdasarkan pembahasan penulis terhadap alur cerita film Krakatoa : The Last Days. Penghormatan dan penghargaan setingginya disampaikan kepada para pihak yang telah membantu para korban bencana. Semoga seluruh korban letusan gunung Krakatau dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Terima Kasih.

Priyonggo SP     SEMBA 42C     42P20076


Daftar Pustaka :

1. Jones R Gareth. 2020. "Contemporary Management" eleventh edition. McGraw Hill Education. New York : US.

2. https://www.youtube.com/watch?v=u2b_mO8zatc&list=PLtYm6Uuh_3Jq8aEFIAKTo9T_TbzrPnAmf

3. https://merapi.bgl.esdm.go.id/

4. https://www.bnpb.go.id/

5. https://nasional.kompas.com/


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
0
Win
Priyonggo

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format